Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Necromancy



“Apa maksudmu?” tanya Lamia tak paham.


Iblis? Lamia bahkan tidak bisa membayangkan iblis apa yang dimaksud Lao Fen di era sekarang. Enchanter mungkin punya kemampuan ether yang luar biasa, tapi untuk memanggil entitas di luar fisik seperti iblis, apa itu mungkin? Terlebih melalui sebuah buku?


“Necromancy adalah sebuah ilmu terlarang yang sudah sangat lama dilupakan. Terkubur dalam tumpukan buku-buku. Perkembangan teknologi telah membuat pengetahuan itu tidak lagi diingat. Namun dua puluh tahun yang lalu, seorang enchanter kami menemukan buku ini di reruntuhan perpustakaan kuno. Buku ini memberi pengetahuan kegelapan dimana siapapun yang mempelajarinya akan bisa memiliki kemampuan mengendalikan kematian, yang artinya adalah mengendalikan tubuh orang yang sudah mati.” Lao Fen memberi jeda pada penjelasannya, membiarkan Lamia mencerna kata demi kata yang telah ia paparkan.


Lamia terdiam selama beberapa saat. Namun ia sudah memahami arah pembicaraan Lao Fen, dan berhasil menduga apa yang terjadi kemudian.


“Apakah kerajaan mencoba mempelajari kemampuan terlarang itu?” tanya Lamia sekedar memastikan.


Lao Fen tersenyum mengangguk. “Salah seorang enchanter kami melakukan kesalahan dengan langsung memberikan buku itu pada Raja terdahulu, tanpa mempelajari sebelumnya. Saat itu kami terlalu antusias karena berpikir bahwa buku ini mungkin bisa menjadi cara untuk merebut Bumi kembali. Kemampuan mengendalikan orang mati tentu sangat berguna dalam melawan gaian. Namun ternyata kami salah. Necromancy membutuhkan pengorbanan yang sangat kejam. Untuk satu mayat yang dikendalikan, ilmu itu harus memakan korban satu manusia hidup sebagai bayarannya. Itu artinya kita membunuh seorang manusia sehat untuk dapat mengontrol seorang gaian. Bayaran yang sangat tidak sepadan.


“Enchanter Cydonia segera mengetahui hal tersebut dan mendesak Raja terdahulu untuk menghentikan penggunaan kemampuan necromancy. Namun sang Raja yang sudah terlanjur menguasainya menolak. Ia berkeras untuk tetap mempelajarinya. Pada saat-saat terakhir, enchanter terkuat kami berhasil mengalahkan Raja terdahulu dan membunuhnya dalam perang besar Cydonia. Namun sang Raja ternyata telah mewariskan kemampuan tersebut kepada putranya yang masih ada di dalam kandungan. Pangeran Balder,” tutup Lao Fen menyelesaikan penjelasannya.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Lamia kini menyadari segala hal ganjil yang melingkupi Balder. Semua misteri dan alasan Balder melakukan banyak hal bodoh kini tersingkap. Ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata hal yang disembunyikan Balder selama ini adalah kemampuan necromancy  yang terlarang. Itu artinya sejak peristiwa penyebaran virus di Asosiasi Alkemis yang membuat Mick kehilangan posisinya, semuanya sudah diatur oleh Balder. Hingga sekarang begitu banyak gaian yang berkeliaran di Martian, sudah pasti itu ulah Balder.


Lamia menggertakkan gigi dengan geram. Bagaimana bisa hal ini dibiarkan begitu saja. Kenapa fakta ini tidak pernah diketahuinya. Apakah Aeron dan Bella sudah mengetahuinya? Apakah mereka berdua turut serta dalam rencana yang membuat Lamia berada dalam posisi tersangka hanya untuk melindungi Balder yang merupakan penjahat sebenarnya? Lamia kembali mengingat kata-kata Balder saat mereka berada di Bumi.


“Kakakku mungkin lebih tahu alasannya, Komandan. Anda bisa langsung bertanya padanya. Itu juga kalau anda bisa selamat setelah sidang para Tetua.”


Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh Balder saat mereka berada di Horizon TZ dalam perjalanan kembali ke Mars.


“Lao Fen, sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada hal yang harus aku konfirmasi,” ujar Lamia kemudian buru-buru berdiri dari tempat duduknya.


Lao Fen kembali tersenyum sambil mengangguk. “Pergilah. Aku sudah mengatakan apa yang menjadi bagianku,” jawab Lao Fen.


“Terimakasih Lao Fen,” ucap Lamia lantas melesat keluar.


...***...


Lamia berjalan menuju lorong bawah tanah, tempat laboratorium Salem berada. Shira pernah membawa Lamia kesana di hari-hari awal dia berada di kastel. Shira menunjukkan seluruh bagian kastel dan terutama laboratorium itu yang sepertinya merupakan tempat favorit Shira. Belakangan Lamia mengetahui bahwa Shira dan Salem adalah sepasang kekasih. Keduanya sudah lama dekat dan sudah berencana untuk hidup bersama.


Sungguh nasib yang baik untuk Shira, karena kini Lamia harus menghadapi kemungkinan bahwa orang yang dia cintai telah mengkhianatinya dan menempatkan dia menjadi tersangka penyebar virus di Martian. Lamia sungguh tidak tahu harus bereaksi seperti apa jika asumsinya tentang Aeron memang benar. Entah kenapa intuisinya berkata demikian. Ia tidak akan mempermasalahkan sikap Bella karena toh hubungan mereka tidak terlalu baik sejak kecil. Tapi Aeron? Apakah waktu yang mereka habiskan bersama selama ini tidak ada artinya bagi Aeron, dan Lamia hanya sekedar alat baginya untuk melindungi Bella?


Kemarahan Lamia sudah memuncak. Ia menghambur ke dalam laboratorium bawah tanah yang lembab. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun penuh berisi rak-rak kayu panjang yang memenuhi seluruh lantai. Di rak-rak itu berjajar ratusan tabung atau toples berisi benda-benda aneh dengan warna-warna beragam. Ada benda menyerupai daun telinga manusia – atau mungkin memang benar-benar daun telinga –, ada juga yang berisi kepala hewan-hewan yang tidak dikenali Lamia – hewan bertelinga runcing dengan taring-taring kecil yang tampak mengancam –.  Semakin masuk ke dalam Lamia kini menemukan puluhan kuali berbagai ukuran yang terpajang di rak-rak kayu yang lebih besar. Cairan-cairan yang tampak lengket memenuhi beberapa kuali. Ada beberapa kuali yang mengeluarkan asap mencurigakan berwarna gelap dan terang.


Lamia akhirnya menemukan Mick duduk di sebuah meja bulat besar di tengah ruangan. Meja itu penuh dengan kertas bergambar pola-pola transmutasi dan lambang-lambang alkimia lainnya, berserak berantakan. Pada tengah meja bulat itu terdapat lubang yang di dalamnya dipasang sebuah pendiangan dengan bara api yang menyala. Sebuah kuali besar diletakkan di atas pendiangan itu. Salem Komara yang berdiri di sebelah Mick tengah mengaduk-aduk apapun isi kuali itu. Lamia tidak terlalu tertarik. Ada hal mendesak lain yang ingin dia diskusikan dengan Mick.


Sahabatnya itu tengah sibuk mencatat sesuatu di selembar kertas  kumal. Tampaknya kertas itu sudah diremas beberapa kali lantas dibuka kembali untuk sekedar memperbaiki kesalahan tulis. Mick mengenakan kacamata bulat yang jarang dia gunakan kecuali saat ia benar-benar telah terlalu lama bekerja dan membuat matanya kelelahan.


“Mick, ada yang perlu kubicarakan denganmu,” ucap Lamia begitu sudah berada dalam jarak dengar Mick.


Mick dan Salem segera menoleh ke arah datangnya suara. Keduanya tampak terkejut dengan kedatangan Lamia. Saking fokusnya, mereka bahkan tidak menyadari kalau ada orang lain yang muncul di hadapan mereka.


“Ada apa Mia? Tidak biasanya kau mencariku saat bekerja,” jawab Mick yang kemudian bangkit berdiri dan melepas kacamatanya lantas berjalan menuju Lamia.


“Lao Fen memberitahuku suatu hal yang mengejutkan,” jawab Lamia serius.


Air muka Mick berubah tajam.


“Salem, aku harus pergi sebentar. Tolong urus sisanya,” kata Mick pada rekannya. Salem mengangguk menyetujui.


“Ayo kita bicara di tempat lain,” lanjut Mick kemudian membawa Lamia keluar.


...***...