
Rasa kagum Lamia tak berlangsung lama karena detik berikutnya, burung elang keemasan miliknya telah bertubrukan dengan inti energi sasarannya. Ledakan besar terjadi dan Lamia terhempas ke udara. Dengan gesit Lamia melompati bebatuan yang juga terhempas ke atas. Sudut matanya menangkap lesatan cahaya keemasan itu mulai menghancurkan batu-batu besar yang mulai berjatuhan lalu melesat naik. Dengan bertumpu pada batu-batu itu Lamia berusaha mendekati dasar lubang itu untuk menyelamatkan Kovf dan yang lainnya.
Serpihan-serpihan cahaya putih melingkupi dasar lubang itu. Lamia mengibaskan debu-debu putih itu untuk mencari Kovf. Di kakinya berserak bebatuan putih bercahaya yang sangat banyak. Tampaknya burung emasnya berhasil menghancurkannya. Tak lama mencari, Lamia menemukan sosok yang Kovf yang terbaring tak bergerak.
“Kovf!” seru Lamia menghampiri Kovf yang sekarat. Tubuhnya dipenuhi luka bakar yang cukup parah.
“Kovf! Sadarlah!” seru Lamia. Namun Kovf bergeming. Gerak nafasnya yang tak beraturan sedikit melegakan Lamia. Setidaknya Kovf masih hidup.
Di samping Kovf, tergeletak Lao Fen yang mengerang pelan.
“Lao Fen!” seru Lamia menghampirinya.
“Kau berhasil Lamia.... kau sudah menghancurkan inti batu Ephestus sekaligus menetralkannya...,” kata Lao Fen lemah.
“Sudahlah. Yang terpenting, aku harus menyelamatkan kalian terlebih dahulu,” kata Lamia yang kemudian membopong Lao Fen sambil merangkak naik menuju permukaan dengan bantuan tangga yang menempel di dinding lubang.
Keadaan di atas tak kalah kacaunya. Meski gempa telah berhenti dan suara gemuruh tak terdengar lagi, namun banyak orang terluka. Beruntung luapan magma dari Elysium Mons tidak mengarah ke tempat mereka, namun ke sisi luar Tartarus Montes. Setidaknya mereka tidak perlu hangus terpanggang oleh aliran lava Elysium Mons.
“Mick, bantu aku mengangkat Kovf dan yang lainnya di bawah sana,” kata Lamia tersenggal.
“Mia! Apa yang terjadi? Aku melihat cahaya putih dari dalam sana lalu seekor burung emas melesat naik ke langit lalu mengilang. Tak lama setelah itu gempa dan gemuruh Elysium Mons berhenti,” kata Mick.
“Panjang ceritanya, Mick. Sebaiknya kita menolong orang-orang yang terluka dulu,” jawab Lamia.
“Baiklah, aku akan mengumpulkan orang-orang yang tidak terluka terlalu parah dan masih cukup kuat untuk membantu,” ujar Mick.
Proses evakuasi memakan waktu yang cukup lama mengingat lebih banyak korban yang terluka parah daripada yang sehat. Terutama karena mereka semua telah bekerja keras dalam waktu yang lama sehingga tenaga mereka terkuras habis. Beberapa orang tak dapat diselamatkan, dan Lamia benar-benar berduka untuk itu. Keadaan Ament cukup kritis karena tubuhnya tertimpa bongkahan batu besar yang runtuh dan ia pun tak sadarkan diri. Salem berulang kali berteriak meminta para medis untuk menolong kakaknya yang sekarat. Separuh tubuh Ament bahkan sudah hancur tertimpa longsoran batu. Lamia tak dapat menyembunyikan kesedihannya melihat keadaan Salem yang terus melolong memanggil nama kakaknya. Namun tindakan itu sia-sia belaka. Ament tak dapat diselamatkan.
Lamia berusaha keras menahan air matanya. Ia tak pernah menyangka ia dapat begitu emosional menghadapi kematian. Lamia telah berubah. Hatinya tak lagi sekeras batu. Mungkin karena selama hidupnya, baru kali ini ia benar-benar merasa menjadi bagian dari sebuah perjuangan.
“Sudahlah... ini bukan salahmu,” kata Mick sambil merangkul Lamia lalu membawanya menjauh.
Keadaan Kovf sudah membaik, meski ia belum juga sadarkan diri. Lao Fen yang sudah pulih sepenuhnya mulai membantu menolong orang-orang yang tertimpa reruntuhan.
“Kematian bukan hal yang bisa dihindari, Lamia. Itu adalah garis Takdir. Apa yang terjadi di tempat ini pun sudah tertulis. Jangan terlalu menyalahkan dirimu,” kata Lao Fen berusaha menenangkan Lamia yang masih tertunduk lesu.
“Lao Fen, yang kau bicarakan di bawah tadi... batu Ephestus? Apa itu?” tanya Lamia kemudian, teringat akan kata-kata Lao Fen saat berada di dasar lubang.
“Tapi... aku menghancurkannya begitu saja. Apakah kekuatannya akan menghilang?” tanya Lamia khawatir.
“Tidak. Yang kau lakukan sangat tepat. Tembakanmu memecah batu besar itu menjadikan kekuatannya ikut terpecah. Meski begitu ia tetap memiliki kemampuan yang cukup besar untuk kita gunakan. Dan dengan demikian akan lebih mudah mengangkutnya keluar dan mulai melebur batu-batu itu menjadi senjata ataupun benda lain,” jelas Lao Fen.
“Syukurlah kalau begitu,” kata Lamia lega.
“Mia, kurasa kita harus segera pergi,” kata Mick menyela pembicaraan Lamia dan Lao Fen. “Utopia Planatia,” sambung Mick mengingatkan.
Lamia kembali teringat kejadian di mulut gua labirin. Ia pun mengangguk dan mengikuti Mick meninggalkan Cydonia.
...***...
“Apa mungkin pemerintah sudah menyadari pergerakan kita?” tanya Lamia dalam perjalanan menuju Utopia Planatia. Mick menggeleng.
“Kurasa tidak. Bila memang pemerintah menyerang Utopia Planatia, lantas apa maksud reaksimu tadi? Kurasa itu bukan sekedar firasat,” kata Mick sembari mengemudikan Seabreacher yang terbang dengan kekuatan penuh.
“Aku benar-benar kehilangan akal tadi. Tubuhku seperti bergerak sendiri untuk mengikuti perintah dalam kepalaku,” balas Lamia menjelaskan.
“Menurutku itu adalah ulah gaian...” kata Mick tak yakin.
“Gaian? Bagaimana bisa?”
“Wabah itu. kurasa pemerintah berlum berhasil mengatasi penyebaran virus tetrodoksin di Martian. Kemungkinan terbesar disebabkan oleh adanya sesorang yang mengendalikan para monster itu dari jauh. Ia juga yang mungkin membuat strategi untuk memperbanyak jumlah secara diam-diam,” jelas Mick.
“Balder Wade...” desah Lamia penuh kebencian.
“Pertanyaannya adalah bagaimana ia bisa mengetahui tentang pengungsian kita di Utopia Planatia. Aku yakin sekali serangan ini bukan kebetulan. Ada orang yang memberi perintah untuk melakukan penyerangan ini. Dan orang itu pasti memberi perintah secara luas karena bahkan bisa mempengaruhimu yang hanya setengah gaian. Mungkin ia memanggil semua gaian yang ada di seluruh pelosok Martian,” Mick kembali menerangkan.
“Apa mungkin gerakan kita dimata-matai oleh gaian?” tanya Lamia hati-hati.
“Kurasa begitu. Tapi mengapa orang itu tidak langsung saja melaporkan pada pemerintah dan malah langsung menyerang kita dengan pasukan gaian?” Mick balas bertanya.
“Jawabannya mudah, pertama karena ia tidak akan bisa menjelaskan bagaimana ia bisa mengetahui pergerakan kita. Tidak mungkin mengatakan bahwa narasumbernya seorang gaian. Kedua karena bila ia menularkan virus tetrodoksin pada penduduk Cydonia, Balder akan mendapat banyak pasukan tanpa menimbulkan kecurigaan pemerintah. Bagaimanapun para penduduk Cydonia tidak tercatat dalam data kependudukan Martian, sehingga pemerintah tidak akan menerima laporan kehilangan orang dalam jumlah banyak,” jelas Lamia menerangkan logikanya.