
Cassabella menutup kedua telinganya tak ingin mendengar lebih banyak. Gadis itu berteriak histeris dan tenggelam dalam kenyataan yang menyakitkan. Lamia, di sisi lain sama sekali tak punya waktu untuk menghibur Cassabella.
Ia dan Mick terdesak oleh serangan Sembilan Tetua Kerajaan. Bagaimanapun bukan tanpa sebab Sembilan orang itu diangkat menjadi Tetua Kerajaan. Mereka memiliki kekuatan di atas rata-rata.
Lamia hendak menggunakan jurus ‘Peluru Penghakiman’ namun setiap ia baru selesai mengucapkan satu kalimat, satu atau beberapa Tetua sudah melancarkan serangan. Sekali waktu rusuknya remuk karena sebuah kursi besi besar yang disihir oleh Ophelia Reihn menggilasnya hidup-hidup.
Berkali-kali perut dan punggungnya robek oleh tembakan dan cakaran serta tusukan benda tajam. Tubuhnya memang bisa memulihkan diri namun belum sepenuhnya tulangnya tersambung, serangan demi serangan beruntun mengarah padanya.
Di waktu yang sama, ia harus melindungi bagian vital tubuhnya – kepala dan jantung – dan melindungi Mick dari serangan fatal. Bagaimanapun Mick tidak memiliki kemampuan penyembuhan diri.
Untunglah Mick termasuk orang yang memiliki kemampuan pertahanan yang hebat. Beberapa kali ia menggunakan bom asap untuk menipu lawannya dan memberikan waktu untuk melancarkan serangan kejutan.
Setelah beberapa waktu melelahkan, Lamia mulai menyadari, para Tetua itu tidak hanya terlalu agresif, mereka juga tidak terluka sama sekali meski ia yakin beberapa pelurunya berhasil mengenai tubuh mereka. Akhirnya Lamia mencoba memastikan kekhawatirannya, ia memilih untuk fokus menyerang Ophelia Reihn – Lamia paling bermasalah dengannya – dan tidak mempedulikan serangan lainnya.
Tembakan pertama Lamia mengenai bahu kiri Ophelia yang harus dibayar dengan sambaran bola api Theodore di punggung Lamia. Serangan kedua, tembakan di lambung Ophelia. Kedua luka tembakan itu menutup dengan cepat, sama sekali bukan karena kemampuan yang mungkin dimiliki manusia.
“Balder Wade….” geram Lamia penuh amarah.
Serta merta Lamia mengalihkan serangannya ke arah Balder yang berdiri di dekat Bella. Dengan gagang pistolnya, Lamia melesakkan pukulan tepat ke hidung Balder dan membuat pemuda itu jatuh terjungkal ke belakang.
“Apa yang telah kau lakukan?” kata Lamia yang mendarat di atas tubuh Balder sambil mengacungkan ujung pistolnya ke kepala anak itu.
“Tak ada. Hanya balas dendam kecil,” jawab Balder ringan.
“Kau...” Lamia mendelik marah. Ia berniat menarik pelatuk pistolnya untuk menghancurkan kepala Balder ketika tiba-tiba telinganya berdengung hebat. Kepalanya terasa nyeri luar biasa dan membuatnya terhuyung dan jatuh ke belakang
“Kau tidak akan bisa melukaiku, Lamia,” kata Balder mulai berdiri lalu mengibaskan debu dari pakaiannya.
“Kau tahu kenapa? Karena kauadalah setengah gaian. Kau tidak bisa menandingiku. Aku seorangnecromancer. Kekuatanku jauh lebih besar darimu. Aku punya kemampuan mengendalikan gaian,” kata Balder tampak bengis.
“Kau! Kau yang mengirim gaian menyerang Utopia Planatia!” teriak Lamia penuh amarah. Kepalanya masih berdenyut-denyut dan kini pandangannya mulai berkunang-kunang.
“Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku? Aku bahkan tak menyangka bisa mempengaruhimu dengan kekuatanku itu. Mungkin karena kau setengah gaian.”
“Kau melihat semuanya?”
“Aku punya banyak pasukan gaian di sini. Beberapa diantaranya bertugas memata-mataimu.” kata Balder tertawa dengan begitu puas. “Kau benar mencurigaiku. Aku memang sudah merencanakan semuanya sejak kalian menyelamatkanku di bumi.
"Tapi berkat kakakku... ah bukan... sebenarnya berkat dirimu, orang-orang tidak mencurigaiku. Semuanya perhatian dan kecurigaan jatuh padamu, Lamia. Setelah kau melarikan diri, semakin mudah untukku merekrut banyak orang tanpa dicurigai.”
“Kapan kau menginfeksi para tetua?” tanya Lamia.
“Oh, kalau mereka belum lama, baru beberapa jam yang lalu mereka berubah, sebelumnya aku mengurung mereka di penjara bawah tanah. Tentu saja dengan mengerahkan pasukan gaianku yang lain.
Lamia mengerti sekarang. Jadi selama ini para tetua hanya dikurung ketika masih menjadi manusia. Mereka mungkin tidak bisa melawan karena ancaman Balder yang akan menginfeksi mereka jika melarikan diri. Selain itu, Bella juga ditawan. Itu pasti mempersulit keadaan.
“Oke, sudah cukup ngobrolnya. Aku harus menyelesaikan penobatanku. Kau diam saja di sana. Aku akan membereskanmu setelah ini,” lanjut Balder berbalik memunggunginya.
Tak lama kemudian Theodore dan Luigi menyergap Lamia. Mereka menyeret gadis itu dan melemparkannya ke pinggir aula. Lamia melihat Mick tak sadarkan diri di sebelahnya. Ia ingin menjangkau pemuda itu namun tubuhnya terasa begitu lemas. Kepalanya terasa sangatpusing dan pandangannya kabur.
“Ayo kita hentikan semua ini, Balder,” kata sebuah suara tiba-tiba. Ternyata suara itu milik Cassabella. Ia mulai bangkit dari keterpurukannya dan berdiri menghadapi Balder dengan berani.
Sekejap Balder tampak mematung memandang Cassabella yang berdiri menantangnya. Tapi tak lama kemudian wajah pucat Balder mulai tersenyum mengejek.
“Wah… wah… aku tak menyangka kau akhirnya punya keberanian,” ejek Balder berjalan mengitari Cassabella.
“Kau benar. Aku… aku... terlalu takut menghadapi kenyataan. Aku selalu melarikan diri,” kata Cassabella terbata-bata. Kedua matanya yang sembab masih meneteskan air mata kesedihan. Dengan tubuh gemetar Cassabella melanjutkan kalimatnya.
“Aku tahu… kau bukan lagi adikku Balder… tapi aku…” Cassabella kembali terisak. “Ini semua salahku,” rintihnya.
Balder tampak mengangguk-angguk sambil masih berjalan mondar-mandir.
“Kau tahu, Kak, kenapa aku masih membiarkanmu hidup? Aku ingin lihat sejauh mana kau bisa menipu pikiranmu setelah semua kenyataan dipaparkan dihadapanmu,” Balder mulai tertawa berderai-derai. “Aku sangat membencimu, kau tahu? Manusia munafik sepertimu!” seru Balder kemudian menampar kakaknya begitu keras hingga gadis itu terhempas ke lantai.
“Ayo kita mulai penobatannya,” kata Balder memerintahkan para Tetua yang sudah diubahnya menjadi gaian.
Seekor burung emas melesat langsung ke arah Balder. Namun anak itu berhasil menghidar di saat yang tepat. Burung emas itu tak mau menyerah. Dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat, burung emas itu berbalik mengejar targetnya.
Balder kembali mencoba menghindar tapi burung emas itu berhasil mengenai bahunya dan membuat tangan kanannya terpisah dari tubuhnya. Si burung emas itu pun memudar setelah mengenai Balder.
“Aku bukan gaian yang bisa kau pengaruhi, dasar sialan. Aku manusia,” kata Lamia terengah-engah. Tubuhnya masih terkapar di lantai, tapi kedua tangannya terulur ke arah Balder lengkap dengan pistol yang siap ditembakkan.
“Aku benar-benar tidak akan mengampunimu,” geram Balder. Ia kemudian bersiap melemparkan mantra sihir untuk membunuh Lamia.
Balder sudah hampir selesai dengan mantranya ketika tiba-tiba sebuah nyanyian merdu melantun di ruangan itu. Suara nyanyian itu begitu indah dan magis. Entah kenapa nyanyian itu membuat Lamia begitu terbuai dan mengantuk. Tapi sebelum Lamia jatuh tertidur seseorang mengangkat tubuhnya dengan lembut dan menyadarkan Lamia.
Gadis itu mendongak dan melihat Cassabella yang tengah bernyanyi dengan suara lembut. Lamia mengusap kepalanya yang masih terasa berat. Ia tak lagi merasa pusing, dan pandangannya mulai jelas. Cassabella sedang menyanyikan lagu manipulasi. Ini adalah kekuatan sang Ratu.
Sihir manipulasi dengan suaranya. Kekuatan ini bisa mempengaruhi semua orang yang mendengarkan suaranya, membuat mereka linglung dan bingung. Sepertinya Bella ingin memanipulasi Balder sambil menolong Lamia.
Cassabella terus bernyanyi, membuai semua orang di ruangan itu. Ia kemudian menyuruh Lamia – melalui bahasa tubuh – untuk memanfaatkan kesempatan itu dan mengalahkan Balder serta Para Tetua. Lamia baru akan menembakkan ‘Peluru Penghakiman’ ketika pintu ruangan itu dibuka paksa mengakibatkan ledakan keras yang mengejutkan.
Cassabella yang begitu kaget dengan serangan tak terduga itu otomatis berteriak dan menghentikan nyanyiannya. Ternyata Kovf dan teman-teman Lamia yang lain yang menyerbu masuk ke dalam ruangan itu. Dan dari cara pintu masuk itu hancur, sepertinya Misty yang mendapat tugas membuka paksa.