Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Pengejaran



“Kovf!” seru Lamia.


“Kau baik-baik saja?” tanya Kovf menghampirinya.


Belum sempat mereka bercakap-cakap lebih lanjut, Para Tetua sudah sepenuhnya sadar dan mulai menyerang. Pertempuran kembali berlangsung. Namun kini Lamia mendapat cukup bantuan utnuk mengalahkan mereka. Lamia kemudian  memapah Cassabella keluar dari medan pertempuran. Ia membawa gadis itu dan juga Mick yang masih tak sadarkan diri ke sudut yang aman.


“Tunggulah di sini. Dan… tolong jaga Mick,” kata Lamia sambil menatap Mick dengan cemas.


“Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir,” kata Cassabella menenangkan.


Lamia mengangguk perlahan dan bersiap pergi. Namun Cassabella menyambar lengannya dengan lembut.


“Mia... Aku… benar-benar minta maaf,” kata Cassabella tampak sangat menyesal. “Tolong… kalahkan adikku.”


“Percayalah padaku,” sahut Lamia.


“Aku selalu percaya padamu, Mia,” jawab Cassabella.


Untunglah Lamia membawa Cassabella dan Mick ke tempat itu karena pada saat hendak kembali ke medan pertempuran, ia melihat Balder menyelinap pergi melarikan diri. Secepat kilat Lamia berlari menyusulnya, namun Balder sudah terlalu jauh. Lamia hanya melihat Balder berkelebat menaiki lift menuju ke atap. Lamia segera menghampiri lift lain yang terdekat dan mengikuti Balder ke atap.


Lamia berlari secepat yang ia bisa melewati sejumlah Subbers dan banyak kendaraan lain yang terparkir di atap. Ia mencari dengan cermat sosok Balder yang mungkin menaiki salah satu kendaraan tersebut sampai akhirnya ia melihat lagi kelebatan jubah Balder tengah menyelinap memasuki subbers.


“Anak sialan itu mencoba melarikan diri ke luar angkasa,” gumam Lamia geram.


  Lamia pun segera melompat memasuki salah satu subbers yang ada di dekatnya. Sesuai harapannya, subbers itu terkunci. Tidak akan mudah membukanya, belum lagi Lamia juga harus mencari cara untuk menyalakannya begitu ia berhasil masuk. Beruntung Lamia cukup berpengalaman dengan kendaraan luar angkasa itu sehingga tak perlu waktu lama untuk menyabotase subbers tersebut agar dapat ia gunakan.


Balder sudah melesat beberapa menit sebelum Lamia. Tanpa buang-buang waktu Lamia segera menyusulnya begitu berhasil menyalakan mesin subbersnya. Dengan kecepatan hipersonik ia melesat ke angkasa yang sangat dirindukannya.


Hanya perlu waktu sepuluh menit sampai Lamia melihat pemandangan yang rasanya sudah lama sekali tak dilihatnya. Pangkalan Antariksa masih seperti terakhir ia tinggalkan. Kehampaannya, ketengangannya. Sejenak Lamia terpukau. Ia benar-benar merindukan tempat ini.


Bersama satu helaan nafas, akhirnya Lamia menepis rasa rindunya. Ia kembali berkonsentrasi mengejar Balder yang berjarak beberapa mil di depannya. Sesaat Lamia mengira Balder akan mendarat di Pangkalan Antariksa. Namun sepertinya ia mengurungkan niat itu karena mengetahui Lamia tengah mengejarnya.


Balder terus melaju melewati pangkalan Antariksa. Sedikitpun Lamia tak menghentikan pengejarannya meski gadis itu tahu, subbers tidak akan bisa terbang lebih jauh lagi. Kendaraan itu hanya bisa digunakan untuk mencapai Pangkalan Antariksa dan tidak disarankan untuk menerbangkannya lebih jauh dari itu.


Lamia tak mengacuhkannya. Ia tetap melaju mengejar Balder.


“Komandan Lamia?” tanya orang yang ada di layar transmisinya.


Lamia menoleh. Seorang laki-laki muda yang ia kenali sebagai bawahan Aeron tampak menatapnya kaget.


“Oh halo Jet. Bisakah aku minta tolong padamu untuk menghubungi Komandan Aeron dan melaporkan padanya tentang keadaanku?” kata Lamia kemudian.


Laki-laki muda itu tampak shock dan segera mengangguk gugup.


“Tentu saja akan kulaporkan pada Komandan Aeron bahwa anda akan kabur dengan subbers!” seru laki-laki itu kemudian.


Lamia mendengus kecil menanggapi.


“Baguslah. Cepat lakukan kalau begitu,” jawab Lamia ringan.


Gadis itu melepaskan tembakan ke arah Balder. Tembakannya mengenai sayap kanan Subbers yang dikendarai Balder dan membuatnya sedikit melambat. Tanpa membuang waktu lagi, Lamia mengunci koordinat Balder dan bersiap menembakkan peluru kendali.


Sayangnya, subbers yang ditunggangi Lamia ternyata telah melewati batas kemampuannya. Mendadak mesinnya mulai kacau dan tak terkendali. Di tengah keadaan genting itu Lamia sempat menerima transmisi dari Aeron.


“…mia… tunggu… nyelamat… mu,” kata Aeron terputus-putus karena sinyal yang buruk.


Lamia bahkan tak sempat menjawab transmisi tersebut. Alarm tanda bahaya sudah meraung-raung memperingatkan bahwa keadaan pesawat tidak dapat terselamatkan. Dalam kebingungan antara terus mengejar Balder atau menyelamatkan diri, mendadak sebuah ledakan terjadi di depan subbers Lamia.


Subbers yang ditunggangi Balder telah hancur berkeping-keping. Akhirnya Lamia memutuskan untuk menyelamatkan diri. Bagaimanapun ia tak ingin berakhir menjadi serpihan.


Dengan segera Lamia memencet tombol yang ada di pegangan kursi sebelah kanan. Serta merta sebuah kubah kaca keluar dari belakang dan melingkupi Lamia dan melindunginya seperti cangkang telur transparan. Detik berikutnya, atap Subbersnya terbuka dan melontarkan dirinya beserta kubah kaca tersebut keluar dari Subbers. Namun belum cukup jauh Lamia terlontar, Subbersnya terlanjur meledak.


Sebongkah besi terlempar ke arahnya dan membuat kubah kaca pelindungnya pecah. Begitu tergoncang, Lamia terus berpegangan pada kursi lontarnya. Bongkahan besi lainnya kembali terlempar ke arahnya, dan kini benda itu langsung menancap ke dadanya. Sontak Lamia merasakan nyeri luar biasa di bagian leher hingga dada. Ia mencoba bergerak tapi sesuatu menahan kepalanya. Detik berikutnya gadis itu pun kehilangan kesadaran.