
Sudah hampir enam bulan berlalu sejak Lamia meninggalkan Pangkalan Antariksa. Sendirian ia berdiri di balairung yang menghadap ke arah danau Syrtis Major Planum. Ia tengah merenungi perjalanannya selama ini ketika kemudian Mick mendatanginya.
“Kau sedang apa?” tanya Mick membuyarkan lamunan Lamia.
“Ah... Hanya melamun,” jawab Lamia kembali menatap pemandangan danau dari kejauhan.
Mick berjalan mendekati Lamia lalu berdiri di samping gadis itu. Keduanya menghadap jendela besar di bangunan tertinggi di Syrtis Major Planum tersebut.
“Pemandangannya benar-benar indah dari atas sini,” komentar Mick kemudian.
Lamia masih terdiam dan tampak khusyuk menatap permukaan air yang berkilau keemasan ditimpa cahaya.
“Aku sudah mendapat kabar dari Misty. Dia berhasil menaklukkan Lembah Borealis meski harus kehilangan beberapa orangnya. Kabar baiknya orang-orang Lembah Borealis bersedia membantu kita. Dan kita pun berhasil membujuk Melight untuk berpihak pada kita. Kita sudah cukup mendapat banyak kekuatan,” kata Mick memecah keheningan.
Lamia akhirnya tampak sedikit terusik.
“Kau berkirim kabar dengan Misty?” tanya Lamia mengesampingkan fakta bahwa mereka sukses di dua tempat pertempuran.
“Tentu saja. Kita sudah berada di luar Cydonia. Alat komunikasi bisa digunakan lagi dengan normal,” jelas Mick ringan, seakan tak mengerti kegusaran yang tampak di nada suara Lamia.
“Kau cukup dekat dengan Misty, ya. Dia bahkan tahu banyak hal tentangmu yang tak kuketahui,” balas Lamia.
“Memangnya apa yang tidak kau ketahui tentangku?” tanya Mick sambil menahan tawa. Ia sadar Lamia mulai kesal dengan kedekatannya dengan Misty.
“Apa yang kau lakukan pada orang-orang di Utopia Planatia?”
Mick menatap Lamia dengan tatapan jadi-itu-yang-merisaukanmu lalu mulai menarik nafas panjang. Ia menimbang-nimbang apakah sebaiknya mengatakan yang sebenarnya pada Lamia atau tidak. Tapi akhirnya Mick memutuskan mengatakannya meski tahu reaksi gadis itu akan seperti apa.
“Homunculus,” jawab Mick singkat. Lamia tampak mengerutkan dahi tak paham.
“Itu yang kulakukan. Aku memanggil Homunculus, roh-roh purba yang hidup di dimensi lain, dan menggunakan mereka untuk menuruti keinginanku,” jelas Mick kemudian.
“Bukankah itu.... salah satu sihir... ilegal?” tanya Lamia tak yakin.
“Sebenarnya iya. Memanggil Homunculus membutuhkan pengorbanan darah dan jiwa. Semakin kuat makhluk yang dipanggil, semakin banyak jiwa dan darah yang harus dikorbankan. Mereka memakan jiwa manusia. Hal itulah yang membuat praktek Homunculus dihentikan.”
Lamia terkesiap menatap Mick.
“Jadi... kau membantai para ilmuan di Utopia Planatia itu?!”
Mick mengangguk singkat menjawab pertanyaan Lamia.
“Jangan lakukan hal itu lagi Mick. Kau hanya boleh membunuh gaian, bukan sesama manusia,” sergah Lamia gusar.
“Aku tidak bisa menggunakannya pada gaian. Mereka tidak punya jiwa. Bila aku memanggil Homunculus untuk melawan gaian, maka jiwaku yang akan terserap,” jawab Mick.
“Kalau begitu jangan pernah memanggil Homunculus lagi! Tidak seharusnya manusia saling membunuh!”
“Mia, kita menghadapi peperangan. Mau tak mau kita harus melawan kalau tak mau terbunuh.”
“Satu-satunya musuh yang akan kuhabisi hanya gaian.” Lamia tak mau mengalah. Mick hanya tersenyum sabar menghadapinya.
“Aku akan ke Isidis Planatia bersama Melight dan beberapa pasukannya besok pagi. Kuharap aku bisa membuat basis komando di sana.”
“Yah, aku yakin Melight akan sangat membantumu di sana. Dia memiliki pengaruh yang kuat untukdapat mempengaruhi orang-orang Isidis Planatia.”
“Jadi, apa ada kabar dari Kovf?”
Mick menggeleng pelan.
“Di hari yang sama saat kita berangkat ke Syrtis Major Planum, Salem juga kembali ke Cydonia. Tapi hingga hari ini belum ada transmisi dari mereka, jadi mungkin ia masih berada di Cydonia.”
“Aku harap semua baik-baik saja di sana.”
“Aku harap juga begitu.”
...***...
Seperti yang sudah diduga Mick, Isidis Planatia dengan mudah memihak pada pasukan Cydonia. Melight memang memiliki andil yang cukup besar untuk meyakinkan para Profesor Isidis Planatia yang paling berpengaruh di daerah tersebut. Belum ada kabar apapun dari Kovf maupun Salem, dan hal itu sedikit mengganggu Lamia. Akhirnya Lamia dan Mick memutuskan untuk terbang ke Cydonia dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana, serta menyerahkan tanggung jawab komando kepada Samuel dan Misty. Mereka menuggu beberapa hari hingga datangnya Malam Purnama Kembar, saat pintu masuk Cydonia terbuka.
Perjalanan udara memang jauh lebih cepat daripada perjalanan darat. Tidak sampai setengah hari Lamia dan Mick sudah mencapai pintu masuk Cydonia di Tartarus Montes. Lamia menorehkan darahnya tepat di pintu masuk untuk membuka gua labirin. Begitu memasuki setapak, tekanan udara meningkat drastis hingga membuat mereka sulit bernafas. Paru-paru seperti terbakar dan badan mereka lemas seketika.
“Beginikah kekuatan Cydonia sebenarnya?” tanya Lamia tersenggal.
“Luapan ether tak bisa ditanggung oleh tubuh kita,” jawab Mick yang juga terengah-engah.
Susah payah mereka berjalan menembus gua labirin hingga setelah beberapa saat, mereka pun berhasil mencapai Gerbang Kebenaran. Tanpa membuang waktu keduanya segera melewati gerbang kebenaran. Tubuh mereka terasa semakin sulit digerakkan ketika benar-benar memasuki Cydonia. Selama beberapa saat pandangan Lamia kabur karena rasa pening yang luar biasa menyerang kepalanya.
Setelah mampu menguasai diri, Lamia kembali disambut oleh keterkejutannya ketika melihat kondisi kota itu. Cydonia bahkan tak lagi berwujud kota. Semua bangunan dan hutan bahkan air terjun sudah menghilang tak berwujud. Cydonia kini hanya berupa lubang besar yang dasarnya bahkan tak tampak, menyisakan kegelapan yang misterius. Kota itu seakan akan terhisap ke dalam bumi hingga hilang tak berbekas. Lamia segera menghampiri beberapa orang yang tampak berjaga di pinggir-pinggir lubang. Teryata Salem dan Ament ada di sana.
“Dimana Kovf?” tanya Lamia pada mereka.
“Di dalam sana,” jawab Salem itu sambil menunjuk ke dalam lubang.
“Bagaimana caraku masuk ke dalam?” tanya Lamia lagi.
“Lebih baik kau menunggu di sini. Terlalu berbahaya masuk ke sana. Kami bergantian masuk ke dalam sana. Tunggulah beberapa jam hingga giliran kami masuk dan Kovf naik ke atas sini,” jawab Salem lagi.
Lamia menuruti kata-kata Salem. Lagi pula rasanya tubuhnya sudah begitu kepayahan menahan luapan energinya sendiri. Ia dan Mick duduk bersandar pada punggung batu besar di dekat lubang raksasa tersebut. Hawa panas yang sepertinya keluar dari lubang itu melingkupi Lamia dan membuat keringatnya terus keluar. Rasa sesak di dadanya pun tak kunjung hilang malah semakin kuat. Lamia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan di dalam sana. Memang hanya penyihir-penyihir hebat yang bisa mengimbangi kekuatan manna yang begini kuat.
“Belum ada perkembangan kah?” tanya Mick pada Salem.
Salem menggeleng pelan.
“Bagaimana dengan kalian?” kata Salem balas bertanya.
“Syrtis Major Planum, Isidis Planatia dan Lembah Boreum sudah di tangan kita. Tinggal menunggu kalian untuk mempersiapkan senjata kita,” jawab Mick.
...***...