Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Perang Dimulai



“Sampaikan maafku padanya. Aku… benar-benar tak ingin melakukannya. Tapi…” Aeron kembali bicara sambungan komunikasi.


“Semua akan baik-baik saja Aeron. Lakukan tugasmu untuk melindungi Bella, karena kupastikan aku akan melindungi Lamia,” potong Mick.


“Baiklah kalau begitu. Kurasa aku tidak perlu khawatir,” kata Aeron.   


“Mungkin maksudmu tidak perlu merasa bersalah,” sindir Mick.


Namun hubungan komunikasi mereka sudah berakhir dan Aeron tidak sempat mendengar kalimat terakhir Mick. Tapi Mick tak peduli. Pada dasarnya ia tidak membenci Aeron. Hanya sikapnya yang selalu dibuat-buat membuat Mick sedikit muak.


Aeron selalu berpura-pura peduli pada Lamia padahal sebenarnya ia hanya memikirkan Cassabella. Dan kepura-puraan itu ditelan mentah-mentah oleh Lamia dan membuat Mick semakin jengkel.


 


“Mick,” panggil seseorang membuyarkan lamunan Mick. Pemuda itu menoleh dan melihat Lamia berdiri di belakangnya.


“Oh, hai, Mia. Maaf aku meninggalkan rapat kita sebelum selesai,” kata Mick.


Lamia menggeleng. Gadis itu lalu berjalan ke sisinya.


“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku semestinya tidak boleh terlalu emosional menerima kabar itu. Seharusnya aku memperhitungkan kemungkinan ini denngan lebih baik,” kata Lamia melempar pandangan ke arah jembatan.


“Pasti berat untukmu harus melawan Aeron,” komentar Mick berusaha menahan emosinya.


“Aku bohong kalau berkata ini mudah untukku. Tapi seberat apapun, aku akan melakukannya, Mick. Aku sudah bertekad untuk melindungi semua orang yang membantu kita. Karena itu aku tidak akan ragu-ragu,” kata Lamia mencoba meyakinkan.


“Kuharap kau mengingat kata-katamu ini ketika nanti sudah benar-benar berhadapan dengan Aeron dan pasukannya,” kata Mick sarkastik.


“Aku tahu kau kesal, Mick. Tapi bukan berarti kau bisa memperlakukanku seperti ini,” sergah Lamia yang mulai lelah membujuk Mick.


“Memangnya apa yang salah dengan caraku memperlakukanmu? Aku hanya belajar dari pengalaman. Bukannya kau memang selalu lemah bila menghadapi Aeron. Apapun yang dikatakan Aeron, kau selalu mengikutinya. Bahkan meski kau harus melakukan misi ke bumi yang kau benci, kau tetap melakukannya karena Aeron yang memintamu.


"Sekarang inilah akibatnya kau selalu mengikuti keinginan Aeron. Jadi apa aku salah kalau aku merasa perlu khawatir bila kini kau harus menghadapi pria itu?” kata Mick emosional.


Lamia melempar pandangannya ke seberang. Ia mengerti betul kemarahan Mick. Rasa marah yang sama seperti yang dirasakan Lamia ketika Aeron terus-terusan mengikuti perintah Cassabella.


“Percayalah padaku untuk kali ini Mick. Aku tidak akan goyah,” kata Lamia meyakinkan Mick. Pemuda itu hanya menghela nafas tak sabar.


...***...


 


Akhirnya hari yang ditentukan tiba. Saat itu tanggal 27 Vrishika[1] tahun 122 Darian. Dua hari lagi mereka akan memasuki tahun yang baru. Tapi sepertinya tidak ada waktu untuk melakukan countdown dengan perayaan besar-besaran seperti yang biasanya dilakukan oleh kerajaan.


Martian tengah mengalami masalah serius. Perang saudara melanda planet itu ditambah wabah tetrodoksin yang mulai menjangkiti membuat kerajaan sama sekali tidak sempat untuk mempersiapkan perayaan apapun.


Setelah semua persiapan selesai, ia dan pasukannya mulai berlayar menuju Utopia Planatia. Dengan berbagai resiko yang harus dihadapi, Lamia memilih melewati jalur hutan untuk menyergap perbatasan Terra Sabaea.


Selain karena Sungai Phillias aman bagi pasukan Lamia – mengingat pasukan enchanter air selalu berpatroli di sepanjan sungai – juga karena mereka tidak perlu terlalu cepat berhadapan dengan pasukan Aeron yang tengah siaga tepat di atas mereka. Setidaknya mereka bisa mencapai perbatasan dengan selamat.


Selusin kapal selam canggih milik Melight dikirim ke lembah itu beberapa hari yang lalu. Ribuan pasukan yang akan diberangkatkan beserta senjata dan kendaraan tempur mereka diangkut menuju Utopia Planatia. Tak butuh waktu lama bagi mereka mencapai titik yang ditentukan untuk berganti tumpangan.


Di tempat yang sudah dijanjikan, puluhan Subbers yang sudah dimodifikasi oleh Tuan Kokabura melesat menuju Terra Sabbaea. Ratusan pasukan Scarab diperintahkan untuk melalui jalur darat dengan bergerilnya menyusuri hutan hingga mencapai perbatasan Terra Sabaea.


Terlalu berbahaya bagi Scarab itu terbang sebelum mencapai kota. Selain karena kecepatanya kalah jauh dengan Subbers, juga karena Lamia mempersiapkan mereka sebagai serangan kejutan.


Lamia sendiri mengendari Subbers bersama Mick, memimpin ratusan pasukan tersebut yang melesat dengan kecepatan hipersonik menuju Terra Sabaea. Rombongan itu hampir mencapai perbatasan ketika ternyata pasukan Aeron datang dari arah utara dengan kecepatan yang sama dengan mereka.


“Itu pasukan Aeron,” kata Mick tenang.


“Kita berhasil memancing mereka datang kemari,” jawab Lamia. “Segera hubungi Misty, Mick,” lanjut Lamia.


Tanpa perlu diperintah dua kali, Mick segera menghubungi Misty yang masih berada di Lembah Borealis dan bersama Kovf serta Lao Fen. Mereka beserta pasukan lainnya akan diam-diam terbang menggunakan Scarab menuju Terra Sabaea dan menyerang mereka dari arah Utara.


Daniel akan berperan penting untuk membuat mantra pengalih sehingga perjalanan mereka tidak terdeteksi. Namun mantra itu sama sekali tidak berguna bila berhadapan dengan radar pesawat pasukan Aeron. Karena itulah Lamia memancing pasukan itu kemari.


Tanpa basa-basi Aeron menembakkan peluru kendali tepat ke pesawat Lamia. Lamia segera menghindar dengan gerakan memutar. Tapi peluru itu tetap mengejarnya.


“Serang, mereka!” perintah Lamia pada pasukannya sambil masih berputar-putar menghindari peluru kendali kiriman Aeron.


Seketika perang udara berlangsung. Peluru ditembakkan dari kedua arah. Peluru-peluru kendali berterbangan dan mengunci target. Pasukan Lamia sedikit kalah gesit. Bagaimana pun mereka melawan pasukan antariksa Martian. Pasukan itu dilatih khusus dan merupakan yang terhebat di planet itu.


Dalam sejarahnya hanya pasukan Gaia yang bisa melawan mereka. Untunglah Subbers pasukan Lamia adalah Subbers tanpa awak yang dikendalikan oleh Lamia dan Mick secara langsung dari Subbers mereka sendiri.


Itulah bentuk modifikasi Tuan Kokabura yang sangat berguna. Tampaknya pasukan Aeron tak menyadari hal itu sehingga mereka semua tertipu dan mengira pilot-pilot hebat yang mengendalikan berpuluh-puluh subbers itu.


Sementara Lamia masih sibuk dengan peluru yang mengejarnya, Aeron kembali mengunci koordinat pesawat Lamia dan bersiap-siap melesatkan tembakan keduanya.


“Orang itu sepertinya serius ingin menghabisiku,” kata Lamia yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan kejar-kejaran dengan peluru pertama Aeron.


Dengan anggun gadis itu menyelinap ke sisi pesawat musuhnya dan langsung menukik ketika misil yang mengejarnya mendeka. Ia berhasil menghindari serangan tersebut. Dengan suara ledakan keras, peluru itu menghantam pesawat yang semula dijajari oleh Lamia.


“Benar-benar berhati dingin, si Aeron itu,” kata Mick yang berusaha mengunci koordinat pesawat Aeron untuk membalas serangannya.


“Yap, kena kau,” kata Mick melepaskan peluru kendalinya begitu berhasil mengunci koordinat pesawat Aeron.


...***...


[1] Bulan ke-24 kalender Darian.