
Dua hari berlalu sejak insiden penyerangan oleh Pasukan Martian. Untuk beberapa saat keadaan mulai tenang. Tampaknya kerajaan menyadari bahwa mereka tidak cukup kuat untuk melawan pasukan Cydonia dan sekutunya, setidaknya untuk saat ini. Meski begitu Lamia tahu, kerajaan tengah mempersiapkan rencana untuk mengalahkan mereka.
Melight dan para enchanter air telah kembali ke tempat mereka begitu pertarungan selesai. Mereka pun kini menghadapi ancaman yang sama dengan orang-orang di Lembah Borealis. Mereka telah dianggap memberontak dan harus dihancurkan. Meski begitu Melight tampak tenang, ia berkata bahwa kerajaan tidak akan bisa melawan mereka di Syrtis Major Planum. Setidaknya untuk beberapa saat mereka akan aman.
Mick mulai bertanya-tanya tentang hubungan masa lalu antara Lamia dan Melight. Melihat bagaimana Melight begitu berusaha menyelamatkan Lamia, membuat Mick yakin bahwa hutang laki-laki itu pada Lamia cukup besar. Dan Mick menjadi kesal karena hal sebesar itu tidak pernah diceritakan oleh Lamia kepadanya.
“Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan pada Melight sampai dia sangat menurutimu seperti itu?” tanya Mick setelah tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.
Lamia mendengus geli melihat sahabatnya itu kesal. Selama ini Mick yang punya banyak rahasia. Tapi kali ini Lamia juga memiliki sesuatu yang tidak diketahui Mick. Hal itu membuat Lamia sedikit terhibur.
“Kau ingat kalau dia junior kita di Akademi dulu? Meski usia kita dengan Melight tidak jauh berbeda, namun karena kita lulus lebih cepat, Melight menjadi junior yang empat tahun di bawahku. Saat lulus akademi dulu dia sempat menjadi kadet di pangkalan, namun dia gagal pada tes penerbangan. Pesawatnya nyaris meledak mencium tanah saat latihan di Planum Borealis. Kebetulan aku berhasil menyelamatkannya di waktu yang tepat,” kata Lamia yang akhirnya menyerah melihat wajah memelas Mick.
Mick tampak ber-oh lega mendengar penjelasan Lamia. Setelah itu ia tidak lagi bertanya-tanya. Keadaan menjadi lebih tenang setelah itu.
Sementara itu Tuan Kokabura bersama rakyatnya bahu membahu membangun kembali kota mereka. Jembatan emas yang menjadi kebanggaan mereka rusak parah – terutama akibat pertarungan Hydra dan Sekhmeth – meski tak sampai terputus.Pada akhirnya Tuan Kokabura mengetahui jati diri Lamia. Namun tidak seperti yang diduga Lamia – dan juga Misty – ternyata Tuan Kokabura tetap menyambut ramah gadis itu.
“Aku selalu senang menerima gadis-gadis muda yang cantik dan penuh semangat,” kata Tuan Kokabura membuat gerakan seperti ingin merangkul Lamia. Mick buru-buru merangkul Lamia sambil mengatakan terimakasih. Tampaknya hal itu sedikit mengganggu Tuan Kokabura, namun ia tidak mengatakan apa-apa dan kembali menggoda Misty.
Daniel, di sisi lain, segera beraksi memantrai daerah tersebut dari semua penjuru dengan mantra pertahanan berlapis-lapis. Ia bahkan tidak membiarkan sebutir debu dari luar dapat masuk ke dalam area perlindungannya.
Sementara itu, di puncak tertinggi undakan tebing itu, Lamia duduk sendirian, mengamati orang-orang di bawah sana yang bahu membahu membangun kota. Lamia sendiri telah seharian membantu Tuan Kokabura membangun kembali bengkelnya. Tapi sepertinya tak banyak yang bisa dilakukan Lamia dalam hal semacam itu.
Tuan Kokabura dan beberapa pegawainya jauh lebih lincah dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Akhirnya, setelah melihat Lamia yang sekedar membuang-buang tenaganya tanpa progres yang berarti, Tuan Kokabura menyuruhnya beristirahat. Hal serupa sepertinya dialami hampir sebagian besar pendatang dari Cydonia. Mereka pun tak bisa berbuat banyak untuk membantu para pandai besibekerja membangun kota itu.
Senja seharusnya sudah datang dan gurat oranye yang sangat disukai Lamia mungkin mulai muncul. Namun karena angin dingin Planum Borealis di atas sana terus berhembus seakan tak akan pernah berhenti, kilauan senja tidak pernah bisa dilihat di Lembah Borealis. Bahkan saat tinggal di pangkalan, matahari senja yang keemasan masih bisa dinikmati Lamia. Dan kehangatannya sekalu bisa menenangkan hatinya yang kadang gelisah.
Lamia menarik nafas berat. Dadanya terasa begitu sesak dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia gelisah. Teringat kembali dalam benaknya bagaimana Salem menyebutya ‘perempuan itu’ dengan nada jijik yang memuakkan.
Kini kerongkongannya mulai terasa nyeri, seakan menahan ledakan emosi yang bersarang di dadanya sejak dua hari yang lalu. Ia benar-benar ingin menangis sekarang. Namun entah kenapa rasanya air matanya telah kering. Ia hanya merasa begitu tak berguna. Ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar dengan idenya melawan kerajaan dan mempertaruhkan keselamatan ribuan orang.
“Benar dan salah bukanlah hak kita untuk memutuskan,” kata sebuah suara yang sekonyong-konyong berada di belakang Lamia.
Lamia menoleh dan melihat Lao Fen duduk di sebelahnya sambil menyibakkan jubah putih panjangnya dengan gerakan lembut. Sebuah obi merah melilit jubah itu pada bagian perutnya dan membuat laki-laki itu tampak semakin jangkung, namun terkesan anggun.
“Aku tahu kau merasa tidak nyaman dengan insiden ini. Tapi percayalah ini bukan salahmu,” kata Lao Fen.
“Lamia, kebanyakan orang hanya melihat dengan mata. Tapi tanpa mata, manusia bisa melihat dengan hati. Lebih banyak hal yang bisa kau lihat dengan hati,” kata Lao Fen.
“Andai aku pun bisa melihat dengan hati, mungkin kalian masih bisa hidup tentram di Cydonia. Dan Tuan Kokabura tetap bisa bekerja di bengkelnya dengan aman. Juga Melight dan para enchanter air itu,” kata Lamia mengeluh.
“Kau salah. Kau sudah melihat dengan hatimu. Hanya saja kau tidak yakin dengan apa yang kau lihat,” kata Lao Fen seolah-olah tahu apa yang selama ini dipikirkan Lamia.
“Benarkah? Lalu kenapa semua hal tidak berjalan sesuai rencanaku?” tanya Lamia akhirnya.
“Kadang sesuatu berjalan tidak semestinya ketika hampir mencapai akhir. Semua ini pasti berlalu. Dan hal baik akan segera datang,” kata Lao Fen kemudian. Lamia merenungi kata-kata Lao Fen. Memang bukan saatnya ia meratap dan berhenti di sini. Tapi sekali lagi keraguan menyerang hatinya.
“Tapi apakah perjuanganku sepadan dengan ratusan nyawa yang harus dikorbankan?” tanya Lamia lagi.
“Pertama, ini bukan hanya perjuanganmu Lamia. Ini adalah perjuangan kita. Bahkan sebelum kau lahir, hal yang kau perjuangkan inilah yang membuat orang-orang memilih mengasingkan diri ke Cydonia. Semangat kami sudah meredup hingga akhirnya kau datang dan mengingatkan lagi kepada kami akan apa yang harus kita perjuangkan,” jelas Lao Fen sungguh-sungguh.
“Kedua, apakah hal ini sepadan? Kurasa baik aku maupun kau tidak memiliki kewenangan untuk menilainya. Yang harus kau yakini adalah, tujuanmu sendiri. Bila tujuanmu adalah untuk kepentingan banyak orang, kurasa – mungkin – hal ini sepadan,” lanjut Lao Fen tersenyum.
Lamia kembali menarik nafas. Kini aliran udara terasa lebih ringan memasuki paru-parunya. Lamia pun tersenyum. Kata-kata Lao Fen telah mengembalikan rasa percaya dirinya.
“Terimakasih Lao Fen,” bisik Lamia pelan.
“Sama-sama,” kata Lao Fen yang ternyata bisa mendengar Lamia.
Orang ini bukan saja bisa melihat tanpa mata, bahkan bisa mendengar suara sekecil apapun, pikir Lamia.
“Kuanggap itu pujian,” kata Lao Fen sambil terkekeh.
Sejak saat itu Lamia berusaha sangat keras untuk tidak banyak berpikir ketika berada di dekat Lao Fen.
...***...
Akhirnya hampir sebulan berlalu dan perang dingin antara Kerajaan Martian dan pihak Cydonia beserta sekutunya berlangsung. Dalam waktu yang terbilang singkat itu, Martian benar-benar kewalahan. Fakta bahwa Syrtis Major Planum berada di pihak Cydonia, membuat kerajaan, untuk sementara waktu, harus mencari sendiri sumber pengairan bagi warganya.
Lamia sebenarnya tidak tega harus melakukan pemutusan distribusi air ke wilayah Terra Sabaea – mengingat di sana banyak orang yang tidak bersalah yang terpaksa mengalami kekeringan – namun Kovf terus-terusan mengatakan pada Lamia bahwa itulah gunanya mereka bekerja sama dengan para enchanter air.
Kovf jugalah yang selalu menekan Melight untuk melakukan hal itu. Lamia benar-benar tak menyangka Kovf memiliki sisi kejam yang begitu mengerikan.