Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Revolusi



Pertemuan kedua untuk membahas rencana revolusi pun dimulai. Seperti sebelumnya, ketujuh Dewan terbagi menjadi dua suara: Lao Fen, Misty, Shira  berada di pihak Lamia; sementara Kofv, Daniel dan Ament masih belum bisa diyakinkan. Salem kembali absen. Mick bilang Salem masih berkutat di laboratorium, belum menyerah akan usahanya menanggulangi master pengendali mayat. Meski begitu Lamia separuh yakin, Salem hanya beralasan untuk menghindar dari dari pertemuan itu.


Pada akhirnya, meski Lamia sudah mendapat dukungan dari Bella, namun tanggapan Kofv tetap sedingin sebelumnya. Shira mencoba membujuk kakaknya, tapi Kofv sangat keras kepala bila menyangkut rakyatnya. Lamia tidak bisa menyalahkan dia tentu saja. Tanggung jawab terhadap ratusan nyawa memang tidak mudah.


Menjelang senja, akhirnya pertemuan mereka kembali berakhir tanpa solusi berarti. Lamia sebenarnya hanya perlu memenangkan satu suara saja untuk dapat segera mengeksekusi rencananya. Tapi ketiga orang itu punya alasan bagus yang membuat Lamia tidak bisa memaksa mereka.


“Sudah lama aku ingin melihat Valles Borealis,” sebuah suara tiba-tiba hadir dari belakang Lamia saat ia sedang berjalan kembali ke barak.


“Ament,” sapa Lamia yang menemukan Ament Komara berjalan menjajarinya melewati petak-petak sawah penduduk.


Matahari sore yang tampak keemasan, mulai tenggelam di balik Tartarus Montes. Pucuk-pucuk padi yang menguning berkilauan ditimpa cahaya tersebut. Suasana Cydonia memang sangat menentramkan, dengan pemandangan langka yang tidak ada duanya di seantero Martian sekalipun.


“Untuk Kofv dan Daniel, dan mungkin yang lain juga, tempat ini memang seperti surga. Disamping anomali ether yang kadang mengganggu, tidak ada hal lain yang terlalu buruk. Lihatlah kelimpahan sumber daya ini. Perlindungan Elysium Mons dan Tartarus Monthes sudah cukup membuat semua orang disini merasa aman. Meski begitu, bagi seorang blacksmith sepertiku, tempat ini tak ubahnya peradaban kuno,” keluh Ament tiba-tiba.


Lamia menghela napas pelan, sudah mengerti maksud dan tujuan Ament berkata seperti itu.


“Kuduga hubunganmu dekat dengan Kofv,” komentar Lamia menebak.


Ament terlihat menengadahkan kepalanya, melihat langit sore yang bersemu merah.


“Dia sudah seperti keluarga bagiku dan Salem. Kofv, Shira dan Salem tumbuh bersama sejak kecil. Aku sendiri yang menyaksikan mereka tumbuh menjadi dewasa. Orang tuaku meninggal sejak Salem masih kecil. Sementara Kofv dan Shira kehilangan ayah mereka dalam perang besar. Karena usiaku yang jauh lebih tua dari mereka, maka aku yang selalu menjaga mereka bertiga. Mereka sudah menganggapku seperti ayah mereka,” kata Ament menjelaskan.


Lamia mengangguk-angguk mengerti. Hubungan sedekat itu memang rumit untuk diurai. Posisi Ament cukup sulit karena bila dia memilih untuk setuju menjalankan rencana revolusi, artinya dia harus mengecewakan Kofv yang bertindak sebagai kepala pemerintahan. Karena Ament mengerti beban yang harus ditanggung oleh Kofv, maka Ament tidak bisa sembarangan berpihak ke Lamia, meskipun sebenarnya dia ingin melakukannya.


“Bila kita memang bisa memenangi pertempuran dengan Kerajaan seperti yang kau bilang, maka Kofv akan menjadi pimpinan Martian. Bukan hanya Cydonia yang kecil dan terbelakang seperti ini. Sebenarnya visi itu yang mendorongku untuk berpihak padamu, Lamia,” ujar Ament sembari tersenyum menatap Lamia.


“Tentu saja, Ament. Apapun yang terjadi, melindungi Kofv adalah prioritas utama. Aku tahu dia akan menjadi pimpinan yang lebih baik daripada keturunan kerajaan yang sekarang. Kofv sangat menyayangi rakyatnya. Karena itu aku pastikan dia akan berhasil menduduki tahta Martian,” sambung Lamia yakin.


Ament kembali tersenyum, lantas menarik napas panjang yang ringan.


“Kalau begitu aku akan mempercayakan keluargaku padamu, Lamia. Kofv, Shira dan Salem. Mereka adalah orang-orang yang berharga bagiku.”


Lamia mengangguk pelan sambil tersenyum. “Terimakasih sudah mempercayaiku Ament,” ucap Lamia tulus.


“Selain itu aku juga benar-benar ingin melihat Valles Borealis dengan mata kepalaku sendiri, setidaknya sekali sebelum aku mati. Tempat itu adalah surganya para blacksmith. Kabarnya teknologi di sana adalah yang tercanggih di Martian. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan semacam itu?” kelakar Ament dengan tawa terbahaknya yang khas.


 


 


Pertemuan selanjutnya diadakan setelah makan malam pada hari selanjutnya. Ketujuh dewan termasuk Kofv harus menyelesaikan urusan pemerinahan mereka di siang hari, sehingga diputuskanlah rapat ketiga dilakukan di malam hari.


Setelah semuanya berkumpul – meski lagi-lagi Salem tidak muncul –, Lamia pun memulai rapat jajak pendapat. Lima orang tidak mengubah suaranya, namun saat beralih pada giliran Ament, suasana rapat pun berubah.


“Ament, apa kau tidak memikirkan anak dan istrimu? Mereka akan kehilangan tempat tinggal. Dan mengungsi di Utopia Planatia tanpamu? Kau harus menggali batu itu di sini, dengan segala resiko yang mungkin bisa menbuatmu kehilangan nyawa,” kata Kofv tampak terkejut dengan perubahan keputusan Ament.


Ament tampak kalem menghadapinya.


“Aku tahu, Kofv. Tapi itu adalah harga yang harus dibayar untuk kita mendapatkan kebebasan. Mimpi ayahmu, leluhurmu, dan keselamatan orang-orang di luar sana ada di tangan kita, Kofv. Dan untuk mencapai semua itu, aku rela mengorbankan apapun, termasuk nyawaku,” ujar Ament meyakinkan.


Kofv mendesah marah. Ia tampak agak terguncang karena tidak menyangka di antara semua orang, justru Ament lah yang memutuskan untuk meninggalkan pihaknya. Dengan raut wajah frustasi, Kofv melepas kacamatanya kemudian menaruhnya di atas meja. Ia lalu menarik napas dengan berat, tanpa mengatakan apa-apa. Suasana ruangan menjadi begitu hening selama beberapa saat.


“Kalian semua tahu, pertaruhan seperti apa yang kita hadapi saat ini. Salah satu atau beberapa, atau bahkan kita semua bisa mati. Apa perjuangan seperti itu benar-benar layak dilakukan?” tanya Kofv kemudian.


“Perang ini bukan lagi milik kita, Kofv. Kita melakukannya demi seluruh umat manusia. Kelangsungan spesies kita di planet ini.” Misty menjawab pertama.


“A… aku sudah pernah melihat…gaian dengan mata kepalaku sendiri, kak. Virus itu… sangat mengerikan. Aku tidak ingin lagi ada orang yang terinfeksi dan menjadi… makhluk mengerikan seperti itu,” ucap Shira patah-patah. Ia tidak ingin membuat kakaknya lebih marah dari sekarang.


“Aku tidak takut untuk berjuang, yang lebih menakutkan itu bila kita berdiam diri,” ujar Lao Fen tenang.


“Kalau aku…” kata Ament tampak berpikir sejenak. “Aku ingin melihat Valles Borealis,” lanjutnya lalu tersenyum simpul.


Kofv kembali menghela napas panjang. Ia mengambil jeda selama beberapa saat untuk terus merenungkan keputusan yang akan dia ambil. Ini bukan keputusan mudah, namun Kofv tidak bisa mengelak lagi. Sebagian besar anggota dewan sudah setuju dengan rencana itu, dan Kofv harus mengikuti suara terbanyak.


“Baiklah kalau begitu. Kalau kalian sudah yakin dengan keputusan ini, aku tidak bisa menghalanginya. Mari kita berjuang bersama-sama dan melakukan yang terbaik,” kata Kofv kemudian. 


...***...