
Pelahan-lahan Mick membopong Lamia yang terus menggeliat beringas keluar dari Cydonia. Sesampainya di luat gadis itu bahkan tidak menjadi lebih baik. Karena tak ada yang bisa dilakukan pada Lamia, Mick tetap membiarkannya terikat. Bahkan ia sekalipun tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Ia hanya bisa merasa kalut sambil menatap Lamia yang terus menggeliat kesetanan. Setelah beberapa saat, gerakan Lamia semakin melemah hingga akhirnya gadis itu terkulai tak berdaya dalam ikatannya.
“Mick....” desah Lamia lemah.
Mick segera bangkit mendekati Lamia dengan bersemangat. Meski begitu hatinya tetap was-was.
“Mick ini aku... Lepaskan... ikatan bodoh ini,” pinta Lamia mengangkat wajahnya untuk menatap Mick dengan tatapan memohon.
“Ah! Syukurlah kau kembali, Mia!” seru Mick lega dan segera memeluk Lamia.
“Mick... aku senang kau mengkhawatirkanku. Tapi aku sungguh berterimakasih bila kau mau melepaskan ikatanku dulu,” kata Lamia yang sudah tak kuat bergerak lagi.
“Tentu saja. Aku hanya terlalu senang. Kupikir kau berubah menjadi gaian. Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Mick sambil melepaskan ikatan Lamia.
“Entahlah. Awalnya perasaanku terasa aneh. Lalu telingaku berdengung keras dan kepalaku seperti ditekan begitu kuat hingga rasanya sakit sekali. Lalu aku mendengar suara asing yang menyuruhku menuju Utopia Planatia untuk membunuh. Bunuh semuanya, kata suara itu,” terang Lamia. Ia mengusap-usap lenganya yang lebam oleh ikatan ether. Dalam beberapa detik lebam itu sudah hilang dan kulitnya kembali mulus. Lamia yang sudah mulai terbiasa akan keadaan tubuhnya itu hanya menatapnya acuh.
“Membunuh? Utopia Planatia?” tanya Mick keheranan.
Serta merta Lamia dan Mick menyadari bahaya yang menimpa tempat pengungsian warga Cydonia tersebut. Serentak mereka menoleh ke arah hutan di seberang Tartarus Montes, di sisi lain dataran tandus. Dan benar saja, tampak asap abu-abu gelap membumbung ke langit.
“Astaga! Mick, kita harus segera kesana!” seru Lamia yang dijawab dengan anggukan oleh Mick.
Mereka tengah berlari menuju Seabreacher yang mereka bawa dari Syrtis Major Planum ketika tiba-tiba sebuah gempa bumi hebat melanda tempat itu.
“Apa yang terjadi?!” seru Lamia yang mulai kehilangan keseimbangan.
“Entahlah!” jawab Mick sambil berpegangan pada batu besar di dekatnya.
Gempa bumi itu tak kunjung berhenti dan malah semakin kuat. Suara gemuruh menyusul dan terasa sangat dekat. Bebatuan mulai runtuh dari atas bukit dan hampir menimpa Mick dan Lamia. Tiba-tiba suara gemuruh itu semakin cepat mendekat dan diikuti oleh letusan Elysium Mons yang berada di sisi lain Tartarus Montes.
“Sepertinya sesuatu terjadi di Cydonia,” kata Mick ditengah gemuruh itu.
“Apa yang harus kita lakukan? Kita harus ke Utopia atau Cydonia lebih dulu?” tanya Lamia.
“Kurasa kita harus ke tempat yang lebih dekat,” usul Mick.
Lamia mengangguk setuju. Keduanya kemudian berjalan sempoyongan memasuki gua labirin menuju Cydonia. Dinding gua bergoyang hebat. Bebatuan dari langit-langit berjatuhan dan membuat Lamia dan Mick kepayahan. Beberapa jalan tertutup reruntuhan dan membuat keduanya harus berjalan memutar. Letusan Elysium Mons kembali terdengar. Lamia hanya dapat berdoa dalam hati agar tak terjadi hal buruk di dalam sana.
Setelah susah payah berjalan selama beberapa waktu, akhirnya mereka berhasil mencapai Gerbang Kemurnian. Untunglah gerbang itu masih ada dan belum hancur oleh bebatuan yang runtuh. Meski begitu, Lamia yakin sepenuhnya bahwa memang ada sihir khusus yang berfungsi untk melindungi gerbang itu dari kehancuran. Tanpa membuang waktu, Lamia dan Mick segera melewati gerbang itu menuju Cydonia.
“Kovf... masih ada di dalam... sana....” rintih orang itu.
Jantung Lamia mencelos. Batu-batu itu menggelinding masuk ke dalam lubang. Bebatuan itu pasti menimbun Kovf dan yang lainnya. Semua ini gara-gara dia. Lamia-lah yang mengusulkan untuk menggali sedalam itu dan kini karena idenya itu Kovf, Lao Fen dan puluhan enchanter di tempat ini tewas. Belum lagi sesuatu terjadi di Utopia Planatia. Lamia hampir yakin sesuatu yang buruk juga tengah terjadi di sana.
Tanpa berpikir panjang, Lamia berlari menuju lubang raksasa itu. Tapi Mick segera mencegahnya.
“Lamia, itu terlalu berbahaya! Sebaiknya kita selamatkan orang-orang yang ada di sini dan membawa mereka keluar!” seru Mick.
Tapi Lamia berkeras. Ditepisnya cengkraman Mick lalu melompat ke dalam lubang sebelum Mick sempat mencegahnya. Tekanan udara semakin menipis ketika Lamia memasuki lubang itu. Sekali lagi luapan ether membuncah dari dalam dirinya hingga dadanya seperti terbakar. Lamia mengerjap beberapa kali, lalu ia mulai menyadari, di depannya, di dasar lubang itu, sebuah cahaya putih bersinar sangat terang hingga terasa menyilaukan mata. Bebatuan yang jatuh ke dalam lubang itu melayang-layang di atas cahaya putih seakan tertahan oleh sesuatu kekuatan besar. Lamia yakin kekuatan itu berasal dari benda bercahaya putih tersebut.
Dengan gesit Lamia melompat dari satu batu ke batu lain. Ia kemudian berdiri di atas salah satu batu besar yang berada paling dekat dengan cahaya tersebut. Selama beberapa saat Lamia mengawasi keadaan di bawahya. Namun cahaya itu sangat menyilaukan hingga membuat mata Lamia pedih. Meski begitu samar-samar ia melihat Kovf dan enchanter lain yang bersamanya tergeletak di dasar lubang. Sekali lagi hati Lamia mencelos. Ia kembali mengingat kata-kata Lao Fen padanya.
Percayalah pada kekuatanmu, Lamia. Kau adalah jiwa dari senjatamu.
Ramalan itu. Cahaya putih. Kehancuran.
Ingatan Lamia berpusar dan ia akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Lao Fen. Lamia mencabut Orthus dan Cerberus lalu mengarahkan keduanya untuk menembak inti dari cahaya tersebut. Lamia memusatkan pikirannya untuk merasakan aliranether yang merasuki tubuhnya. Dipejamkannya kedua matanya sembari mengatur nafas. Pelahan-lahan ia melihat dalam pikirannya helai helai cahaya keluar dari dalam tubuhnya menuju satu titik di dalam cahaya itu. Dengan mantap Lamia mengarahkan ujung kedua pistolnya ke titik tersebut. Dalam hati ia merasakan dengan sungguh-sungguh jiwanya sebagai jiwa dari senjatnya.
...Akulah jiwa dari senjataku....
...Lebih cepat dari cahaya....
...Lebih kuat dari baja....
...Jiwaku mencari keadilan...
...Kedamaian dalam kekacauan...
...Dengan semangatku,...
...Melesatlah!...
...Peluru Penghakiman!...
... ...
Orthus dan Cerberus bergetar hebat. Sekuat tenaga Lamia menahan getaran senjatanya dan tetap membidik tepat di tempat yang ia tuju. Selama sepersekian detik Lamia masih berusaha berkonsentrasi. Namun akhirnya ia menyadari, bila ia tak segera menarik pelatuknya, ia akan lekas kehabisan tenaga. Lamia pun merarik pelatuk Orthus dan Cerberus bersamaan. Kilatan cahaya keemasan berdesing dari kedua pistolnya. Cahaya keemasan itu berpilin selama beberapa saat kemudian menyatu membentuk seekor burung emas yang melesat dengan sangat cepat menembus cahaya putih di depannya. Lamia terpana melihat kemampuan barunya.