
Jauh di dalam Valles Marineris, sebuah penjara paling mengerikan di tata surya berdiri dalam kegelapan. Agathadaemon. Bukan tanpa sebab penjara itu menjadi tempat yang paling ditakuti oleh semua orang. Agathadaemon terkenal akan kegelapannya yang seakan tak berujung. Tak ada secercah cahaya pun yang menerangi tempat itu. Tak ada jalan keluar. Tak ada harapan. Barang siapa memasuki penjara itu, ia tak akan pernah keluar untuk selamanya. Hanya ada satu cara untuk dapat bertahan hidup, membunuh atau dibunuh.
Pagi itu seperti biasa, Misty Dahani, Komandan Prajurit Pelindung Martian, bersiap-siap melakukan tugas hariannya di Markas Besar Prajurit Pelindung Martian. Pasca kemenangan pasukan Cydonia atas Martian beberapa waktu yang lalu, Misty kini menetap di Terra Sabaea. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah jamur kecil yang tak jauh dari Markas Besar tempatnya bekerja. Misty tak punya keluarga. Kedua orang tuanya meninggal ketika melawan pasukan Martian yang menyerang Cydonia saat ia kecil. Sejak saat itu Vladmir Bakumin, mengangkatnya menjadi anak dan mendidiknya dengan begitu keras. Berkat tempaan dan ajaran ayah angkatnya tersebut, Misty kini menjadi perempuan kuat yang membawahi ribuan Prajurit Pelindung Martian.
Tugas utama Prajurit Pelindung Martian adalah menjaga kedamaian dan ketertiban di seluruh wilayah Martian. Berbeda dengan Pasukan Antariksa Martian yang harus melawan gaian, Prajurit Pelindung Martian lebih cenderung melawan penjahat-penjahat dari distrik yang ada di Martian. Mereka menangani kasus seperti pembunuhan, perampokan, dan sebagainya yang dilakukan warga sipil. Namun kasus-kasus tersebut tidak cukup banyak karena mayoritas penduduk Martian hidup sejahtera. Kasus yang paling sering terjadi adalah pelanggaran sihir terlarang dimana orang-orang yang ditangkap adalah orang-orang yang melakukan praktik sihir ilegal. Mereka rata-rata adalah alkemis atau penyihir yang sangat kuat namun memiliki jiwa yang kelam. Mereka adalah bagian orang yang paling jahat, picik dan berbahaya. Kekuatan sihir yang melimpah kadang memang dapat menenggelamkan jiwa manusia ke jurang kegelapan dan membawa kehancuran bagi umat manusia.
Penjahat-penjahat semacam itulah yang kemudian dikirim ke Agathadaemon. Beberapa akhirnya dieksekusi mati, namun sebagian besar hanya dibiarkan mendekam di sel tahanan, bukan karena mereka memang dijatuhi hukuman seumur hidup (semua penjahat di Agathadaemon adalah penjahat yang dijatuhi hukuman mati), namun karena mereka tidak dapat dibunuh! Ilmu sihir atau alkemi mereka terlalu tinggi sehingga mereka dapat membentengi diri dari segala percobaan pembunuhan atas diri mereka. Bahkan bila mereka diikat atau dibelenggu sekalipun, tak ada satupun senjata yang dapat melukai mereka. Karena alasan itulah akhirnya mereka ditelantarkan di dalam penjara Agathadaemon tanpa makanan maupun minuman. Konon kabarnya, untuk bertahan hidup di dalam Agathadaemon, para narapidana harus saling membunuh dan terpaksa memakan daging sesamanya!
Ping! Ping!
Suara bel rumah menyadarkan Misty dari lamunan singkatnya. Ia pun beranjak ke ruang tamu yang ada di bagian tengah rumahnya dan melongok ke layar di salah satu sisi lift transparan. Wajah manis seorang gadis muda berambut hijau tampak di layar tersebut. Misty tersenyum kecil dan memencet sebuah tombol berwarna merah.
“Masuklah Shira,” kata Misty.
Tak lama kemudian gadis berambut hijau tersebut masuk melalui lift transparan di ruang tamu Misty.
“Syukurlah kau belum berangkat,” kata Shira begitu keluar dari lift.
“Aku sedang bersiap-siap. Jadi kenapa tiba-tiba kemari? Apa kau sedang libur?” tanya Misty sambil mengenakan sepatu bootnya.
“Tidak juga. Rumah sakit sedang cukup banyak pasien. Apa lagi tahun ini sepertinya musim dingin berlangsung lebih lama. Banyak sekali orang terserang hipotermia,” jawab Shira sambil menghela nafas.
“Kalau begitu kenapa kau malah jauh-jauh kemari dari Isidis Planatia?” tanya Misty heran.
“Kovf memanggilku,” jawab Shira singkat.
“Kovf? Untuk apa?” tanya Misty.
Shira mengangkat bahu ringan.
“Entahlah. Kurasa dia ingin aku tetap di sini dan tidak kembali ke Isidis. Kau tahu, sejak aku melakkuan Repeall pada Salem…” Shira berhenti sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kovf tidak mengijinkanku untuk kembali menjadi paramedis.”
“Aku menemukan naskah kuno saat belajar di Akademi Paramedis Isidis,” jawab Shira menghela nafas resah.
“Itu sihir terlarang, meskipun memang sebenarnya itu termasuk dalam ilmu Paramedis.”
“Aku terpaksa melakukannya. Kau tahu hanya sihir itu yang bisa menembus mantra Hommunculus. Bahkan peluru Lamia tak bisa melewatinya,” kata Shira.
Misty memandang Shira penuh kasih. Meski bukan saudara kandung, namun Misty menyayangi Shira seperti adiknya sendiri. Ia kemudian berjalan mendekati Shira dan duduk di depan gadis itu. Dengan lembut Misty merengkuh kedua tangan Shira dan menggengamnya.
“Aku tahu. Kakakmu itu memang sedikit terlalu khawatir. Dia benar-benar takut kau mempelajari lebih banyak hal berbahaya. Kau tahu sihir terlarang dianggap berbahaya bukan hanya karena kemampuan penghancurnya yang mengerikan, tapi sihir itu juga bisa merenggut jiwamu, merenggut kebaikan dalam dirimu dan membuatmu mejadi orang yang… kejam,” kata Misty sungguh-sungguh.
Shira tertunduk diam. Bukan hanya Kovf, Misty pun sebenarnya cukup khawatir dengan keadaan Shira. Selain karena ternyata Shira dapat melakukan sihir terlarang, juga karena ia telah kehilangan Salem, laki-laki yang dicintainya, dengan cara yang tragis.
“Baik, ayo kita buat kesepakatan. Aku akan membujuk Kovf untuk mengijinkanmu tetap menjadi paramedis di Isidis Planatia, tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak melakukan atau pun mempelajari sihir terlarang,” kata Misty kemudian.
Shira akhirnya tersenyum dan menatap Misty dengan penuh rasa terimakasih.
“Terimakasih Misty. Aku benar-benar bersyukur memilikimu sebagai saudara. Meski kita hanya saudara angkat, tapi kau sudah seperti kakakku sendiri,” kata Shira lalu memeluk Misty.
“Kalau begitu, kau pergilah dulu menemui Kovf. Aku harus ke Markas terlebih dahulu. Siang nanti mungkin aku akan ke Istana,” kata Misty kemudian.
Shira mengangguk singkat. Keduanya kemudian pergi meninggalkan rumah menuju tujuan masing-masing. Markas Besar Prajurit Martian terletak tak jauh dari rumahnya. Meski begitu Misty memilih menggunakan Scarab pribadinya. Transportasi utama di Terra Sabaea adalah melalui udara. Dan karena itulah kendaraan darat memang sangat jarang dijumpai.
Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Misty mencapai Markas Besar. Setumpuk pekerjaan sudah menantinya, seperti yang paling genting, laporan penggunaan sihir terlarang di Olympus Mons. Ketika memeriksa beberapa kasus melalui layar hologram besar di ruangan pribadinya, seorang prajurit mengetuk pintunya.
“Masuk,” kata Misty.
“Komandan, tim investigasi yang kita kirim ke Agathadaemon untuk melakukan penyidikan kepada Balder Wade dua hari yang lalu belum kembali hingga hari ini. Apakah kita harus mengirimkan orang lain atau menunggu mereka kembali?” kata prajurit itu.