Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Balder Wade



“Kemari,” bisik Mick menyuruh Lamia bersembunyi di balik pintu besi.


Lamia menurut. Ruangan penobatan terkunci. Tapi dari dalam sana terdengar suara-suara percakapan yang cukup keras.


“Kita tidak bisa melewati pintu ini,” bisik Lamia, menatap hologram yang tidak akan pernah mengijinkan wajahnya masuk ke ruangan manapun di istana.


“Tentu saja kita bisa,” kata Mick menegak ramuan yang dibawanya.


“Lokiluk? Astaga tidak lagi,” kata Lamia putus asa.


“Ayolah. Ini satu-satunya cara,” kata Mick menyodorkan sebotol ramuan yang sama kepada Lamia.


Lamia meminum ramuan itu. Sensasi yang pernah ia rasakan setahun yang lalu ketika masih dalam pelarian kembali dirasakannya. Dalam waktu beberapa menit ia sudah berubah menjadi perempuan berdada montok persis seperti dulu.


“Jadi ini bagian tubuh orang yang sama dengan yang pernah kau gunakan dulu, Mick?” tanya Lamia yang melihat Mick juga berubah menjadi petugas jaga yang menyelamatkannya saat menunggu hasil pengadilan.


“Kau yakin ini akan berhasil?” tanya Lamia was-was.


“Berdoa saja,” jawab Mick yang kemudian memasang wajah barunya ke depan alat scan hologram di sisi kiri pintu.


Begitu selesai memindai, secara otomatis nama dan jabatan si empunya wajah tertera di layar kecil di atas mesin scan (Dean Pierre **. – Pengawas Lapangan). Pintu pun bergeser terbuka nyaris tanpa suara. Ruangan Penobatan begitu luasnya sehingga, kedatangan Lamia dan Mick sepertinya tidak terlalu menarik perhatian. Dan karena kehadiran mereka tidak disadari siapapun, keduanya akhirnya memilih mengendap-endap masuk dan bersembunyi di salah satu sisi tribun penonton.


Di tengah ruangan, Lamia melihat Cassabella Wade tengah bersujud menghadap ke meja panjang melengkung di ujung ruangan. Di meja itu duduk sembilan orang laki-laki dan perempuan yang dikenali Lamia sebagai Sembilan Tetua Kerajaan. Ansgar Sturluson, orang yang paling tua dan merupakan pimpinan Sembilan Tetua Kerajaan.


Dia duduk di tengah meja dengan janggut putih panjang yang tersisir rapih. Di sisi kanannya, Snorri Ferguson, yang berambut ikal keperakan dengan kacamata tebal di atas hidungnya. Ophelia Reihn duduk di sebelahnya dengan wajah dinginnya yang biasa. Lamia sering beradu mulut dengan perempuan paruh baya itu.


 Kemudian di ujung kanan meja, duduk Hector Barbose. Di sisi kiri Ansgar Sturluson, berderet Clare Theresa, Deneve Yurika, Eugene, Luigi, dan Theodore. Lamia bertanya-tanya apa yang mereka semua lakukan di sini, padahal di luar pertempuran tengah terjadi. Dan bukankah mereka seharusnya sudah berubah menjadi gaian karena Balder telah mengubahnya?


“Saya mohon untuk mempertimbangkan keputusan Tetua Ansgar. Pangeran Balder masih terlalu muda untuk menerima tahta,” kata Cassabella masih bersujud di hadapan Ansgar Sturluson.


“Yang Mulia Ratu Cassabella Wade, Kesembilan Tetua Kerajaan telah memutuskan untuk melakukan penobatan kepada Pangeran Balder saat ini juga. Akibat dari kelalaianmu dan tindakanmu yang lemah, Martian hampir kehilangan kekuasaannya karena para pemberontak,” kata Ansgar Sturluson menggelegar.


“Pangeran Balder Wade, silakan maju kedepan untuk menerima pemindahan kekuasaan dari Yang Mulia Ratu Cassabella Wade,” panggil Ophelia Reihn.


Dari ujung ruangan yang lain, Balder Wade berjalan maju lalu bersujud di sebelah kakaknya. Lamia benar-benar terguncang mendengar dan melihat apa yang terjadi di depannya. Balder Wade? Menjadi Raja?


“Mick, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi!” bisik Lamia panik.


“Kenapa mereka melakukan penobatan di saat seperti ini?” tanya Mick bingung.


“Aku tak peduli apa alasannya, yang jelas kita harus menghentikannya!” seru Lamia yang kemudian melompat dari persembunyiannya dan berteriak.


“HENTIKAN!” teriak Lamia sekeras-kerasnya.


Ansgar Sturluson yang tengah membacakan sumpah penobatan yang mengandung sihir langsung menghentikan ucapannya. Semua orang yang ada di sana menatap Lamia dengan tatapan bingung. Selama sepersekian detik waktu terasa berhenti sampai akhirnya Ansgar Sturluson memecahkan kesunyian itu.


“Siapa kau?” tanya Ansgar Sturluson.


“Itu tidak penting sekarang. Anda harus menghentikan penobatan Balder, maksudku Pangeran Balder. Ia tidak pantas menjadi Raja,” kata Lamia yang mulai berlari menuju tengah ruangan diikuti Mick.


“Apa maksudmu tidak pantas? Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan disini?” Ansgar Sturluson kembali bertanya.


Kini Lamia berdiri di samping Cassabella dan Balder. Cassabella meliriknya dengan tatapan bingung, sementara Balder melihatnya dengan tatapan membunuh.


“Tetua, segera selesaikan sumpah penobatan tersebut. Saya khawatir orang ini adalah mata-mata,” kata Balder.


Ketika Balder mengatakannya, telinga Lamia berdengung hebat dan kepalanya seperti ditimpa sesuatu yang sangat berat. Sesaat ia merasa sangat ingin menuruti kata-kata Balder.  Lamia buru-buru mengembalikan kesadarannya. Ia kemudian melakukan tindakan preventif, dengan menembakkan pistolnya ke arah Ansgar Sturluson. Pria tua itu menangkis serangan Lamia dengan tangannya.


Peluru emas Lamia pun terpelanting ke arah lain dan tidak mengenai sasarannya. Namun Naskah sumpah Penobatan yang terserempet peluru itu terkoyak dan terbakar pelahan-lahan. Ansgar Sturluson menatap Lamia dengan berang.


“Kau berani menantang kami?” tanya Ansgar Sturluson dengan mata berkilat-kilat aneh. Dengan satu jentikan jari, Naskah Sumpah Penobatan kembali utuh.


“Memang itu tujuanku kemari,” sahut Lamia yang perlahan-lahan kembali ke wujudnya yang asli.


“Lamia?” kata Cassabella tampak penuh syukur.


“Lamia Linkheart,” desis Balder penuh kebencian. “Serang dia!” seru Balder berdiri dan menunjuk Lamia.


Seakan menuruti perintah Balder, Kesembilan Tetua Kerajaan melompat terbang melewati meja panjang mereka dan menyergap Lamia. Mick dengan cekatan melompat ke depan Lamia dan berhasil melukai empat orang yang berusaha menyerang gadis itu. Lamia sendiri dengan gerakan tercepatnya, hanya berhasil menembakkan tiga peluru yang membuat targetnya terpental sejauh lima meter.


Sementara itu Ansgar Sturluson dan Snorri Ferguson yang luput dari serangan, sukses melukai Lamia dan Mick. Lamia menderita luka bakar serius akibat lecutan mantra sihir Ansgar sementara Mick mendapat luka cakaran besar di dadanya.


“Tetua, kumohon hentikan,” rintih Cassabella. “Mengapa anda bertindak seagresif ini? Kita tidak perlu…”


“Diamlah, Kak. Aku muak dengan kepura-puraanmu. Berhentilah hidup di dunia rekaanmu sendiri,” sambar Balder mendelik pada Cassabella.


“Balder apa maksudmu?” tanya Cassabella tampak shock.


“Kau tahu semuanya. Tapi kau selalu berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kau selalu menutup mata atas semua kejadian buruk yang terjadi di depanmu. Itulah kenapa para Tetua busuk ini memanfaatkanmu. Mereka mengangkatmu sebagai ratu dan menjadikanmu boneka yang selalu mereka kendalikan,” kata Balder.


“Pangeran Balder! Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau berani menyebut Para Tetua…”


“Ya, aku berani, Kak! Mereka ini yang menjebakku untuk ke bumi! Mereka tidak ingin aku naik tahta! Mereka lebih menyukaimu karena kau lebih mudah dikendalikan,” sergah Balder memotong kata-kata Cassabella. “Semua ini salahmu. Kau yang membuatku menjadi seperti ini.”