Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Sidang Dewan



Selama beberapa waktu, hari-hari Lamia dihabiskan untuk mengamati aktivitas gaian di perbatasan Elysium Mons. Lamia bergantian dengan Misty untuk melakukan tugas jaga. Mengingat dirinya tidak memiliki rasa kantuk, Lamia lebih sering berjaga di malam hari. Staminanya tetap terjaga meskipun ia banyak bergerak secara aktif.


Beberapa gaian terkadang bereaksi terhadap kehadiran manusia, namun lebih banyak dari mereka hanya berdiam diri dan berjalan gontai tanpa arah. Semakin sering Lamia mengamati gaian-gaian itu, semakin mengerti ia akan pola kemampuan si pengendali mayat. Sebanyak apapun gaian yang mampu dia kendalikan, Balder ternyata memiliki batas waktu pengendalian. Biasanya hanya sekitar lima sampai tujuh hari.


Gaian yang sudah berubah selama lebih dari lima hari akan dikirim pergi meninggalkan tempat itu untuk dapat dimusnahkan oleh Prajurit Martian. Mereka akan dibuat mengacau di daerah ramai namun dekat dengan pasukan keamanan. Mungkin karena alasan itulah Balder membutuhkan kambing hitam atas keberadaan gaian-gaiannya yang lepas kontrol.


Lamia menggeram marah setiap kali datang gaian baru. Berapa banyak manusia telah dikorbankan oleh Balder? Sampai kapan dia harus menahan diri dan bersembunyi di balik perlindungan Cydonia. Rasa marah itu menumpuk terus hari demi hari dan membuat Lamia semakin frustasi. Ia tidak menemukan cara lain untuk menghancurkan Balder selain dengan melakukan perang terbuka. Untuk itu dia harus segera mendapatkan persetujuan Kofv atas rencananya.


Meski berpikir seperti itu, tapi Kofv dan ketujuh anggota dewannya masih bungkam hingga hari ini. Mick sudah mengupayakan segala hal yang dia bisa lakukan untuk membujuk Kofv, maupun untuk menemukan jalan lain menghancurkan Balder. Sementara Lao Fen dan Misty pun terus mendesak Kofv segera melakukan pertemuan tujuh dewan untuk membahas hal tersebut.


Sejak saat pertengkarannya dengan Kofv, Lamia memilih untuk tinggal di barak dan menolak kembali ke istana. Selain karena tidak ingin berpapasan dengan Kofv, juga karena ia lebih nyaman bersiaga di barak bila terjadi keadaan berbahaya di perbatasan. Meski begitu, Lamia tetap berusaha menemui Kofv di sela-sela kesibukannya.


Lamia telah dua kali lagi menemui Kofv setelah hari dimana Kofv merendahkannya. Kedua pertemuan itu sebenarnya cukup kondusif, namun Kofv pada akhirnya selalu meminta Lamia untuk datang lagi karena ia harus buru-buru mengerjakan sesuatu. Lamia bahkan belum sempat menjabarkan rencananya secara mendetail. Entah sampai kapan Kofv akan menghindar.


Semakin lama mereka mengulur waktu, keadaan di luar sana sudah semakin kacau. Dan karena begitu lihainya Balder memainkan keadaan, kini rumor yang beredar hanya semakin memperburuk reputasi Lamia. Orang-orang dipancing agar terfokus pada keberadaan Lamia yang dianggap berbahaya, alih-alih menyadari bahwa penjahat sesungguhnya bersembunyi di istana.


Pada pagi hari ke delapan setelah Lamia bertugas di perbatasan, tiba-tiba Shira tergopoh-gopoh menyusulnya yang tengah menuruni bukit landai di belakang barak. Rambut hijau pendek Shira yang cemerlang sudah terlihat bahkan dari jarak jauh. Lamia menghampirinya yang terengah-engah mengatur napas.


“Ada apa, Shira?” tanya Lamia begitu mereka sudah cukup dekat.


“Lamia, kakak… maksudku Kofv mengundangmu ke kastel untuk ikut serta dalam rapat dewan hari ini,” ujar Shira masih tersengal.


Hari yang ditunggu-tunggu Lamia akhirnya tiba. Gadis itu pun bergegas menuju kastel dengan didampingi oleh Shira.


“Aku optimis dengan hasil rapat dewan hari ini, Lamia. Kurasa usulmu akan diterima. Tiga dari tujuh dewan setuju dengan rencanamu, termasuk aku. Dua orang akan mempertimbangkannya setelah mendengar rencamu secara keseluruhan. Hanya Kofv dan Salem yang menentang secara serius,” ucap Shira yang berjalan di sisinya.


Lamia sudah mengenal tujuh anggota dewan Cydonia. Tanpa diduga, ternyata Shira adalah penanggungjawab bidang medis di sana. Pekerjaannya sementara digantikan oleh Salem saat Shira melanjutkan pendidikan paramedis di Isidis Planatia. Selain Misty, Lao Fen, dua bersaudara Komara; Salem dan Ament, satu orang terakhir bernama Daniel Sanford. Orang-orang lebih banyak memanggilnya Dan. Dan adalah seorang pemuda yang mungkin sedikit lebih tua dari Lamia, bertanggungjawab untuk kebutuhan pangan di Cydonia. Lamia banyak bertemu Dan di peternakan dan di area kebun.


“Jadi dua orang yang masih ragu itu Ament dan Daniel,” tanggap Lamia kemudian.


Tentu saja begitu. Selain di Cydonia, keajaiban semacam itu tidak mungkin terjadi. Hewan ternak dan sumber daya alam melimpah akan turut musnah setelah kota ini dihancurkan. Kekuatan terpendam yang membuat segala makhluk hidup bertahan di Cydonia adalah energi Kristal Ephestus. Setelah Kristal itu ditambang, tanah Cydonia tak ada ubahnya dengan kondisi daerah lain di Martian. Kering, tanpa unsur hara di dalamnya.


“Aku tidak menyangka Salem akan menolaknya. Kupikir dia dekat dengan Mick,” komentar Lamia kemudian.


“Maafkan aku, Lamia. Aku gagal membujuk Salem. Bahkan Mick tidak berhasil meyakinkannya. Karena itulah dia bekerja begitu keras untuk menemukan cara lain yang lebih eh… ramah lingkungan,” ujar Shira kelihatan menyesal.


Lamia tersenyum menanggapi. “Bukan salahmu Shira. Salem juga tidak bersalah. Ini memang keputusan yang berat. Aku pun merasa tak nyaman karena memintanya kepada kalian. Sayangnya aku tidak punya cara lain untuk melakukannya. Balder benar-benar harus dihentikan,” kata Lamia.


“Aku mengerti,” jawab Shira tersenyum tipis.


Tak berapa lama kemudian, keduanya telah mencapai kastil. Mereka berpapasan dengan Mick dan Misty yang berjalan bersama di koridor utama. Salem tidak terlihat bersama Mick. Lamia berharap Salem tidak absen. Ia ingin agar semua orang mendengar rencananya dan mendiskusikannya bersama. Dia juga perlu masukan dan pendapat dari semua anggota dewan termasuk Salem.


Sayangnya harapan Lamia sepertinya tidak terwujud. Begitu sampai di ruang pertemuan, Lamia tidak melihat Salem sama sekali. Di depan meja kayu oval besar itu, hanya duduk Kofv, Lao Fen, Daniel serta Ament. Mereka sudah tampak menunggu kedatangan Lamia dengan ekspresi beragam.


“Dimana Salem?” tanya Ament kalem.


Mick hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan tersebut.


“Ck, dasar anak keras kepala,” ucap Ament sambil berdecih. “Kuharap hal yang akan kau sampaikan hari ini cukup masuk akal, Nona muda,” lanjut Ament kemudian.


Pria paruh baya itu menatap Lamia dengan ekspresi serius. Lamia merasakan tekanan dari kata-kata dan tatapan Ament. Meski begitu, Lamia tidak gentar. Rencananya sudah matang. Ia harus menyampaikannya, setidaknya agar orang-orang ini paham seberapa genting situasi di luar sana.


“Aku tidak akan mengecewakanmu, Ament. Ini bukan pertaruhan yang mudah, bahkan untukku sekalipun,” jawab Lamia tegas.


Lao Fen tampak tersenyum puas mendengar jawaban Lamia, sementara Ament hanya mendengus tak senang. Kofv di lain pihak, hanya menatap Lamia dengan ekspresi yang sulit ditebak. Di balik kacamata perseginya, mata hijau Kofv terus memperhatikan Lamia, seperti seekor elang yang mengamati buruannya. Lamia balas menatap Kofv dengan berani. Ia sudah tidak punya apapun lagi yang dia takutkan sekarang. 


...***...