Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Mimpi



Lamia terbangun di sebuah hutan yang sangat lebat. Pepohonan tumbuh begitu rapat seolah tak membiarkan siapapun mengintip dari celah-celahnya. Hanya ada secercah cahaya yang berhasil menelusup dari atas pohon besar yang tampak sudah sangat tua.


Hal pertama yang dirasakan Lamia adalah rasa terbakar di dada dan lehernya. Lamia terbatuk, tapi rasa sesak itu tak mau hilang. Bahkan ia tak mampu bernafas. Lamia meringkuk penuh penderitaan. Rasa panas di leher itu mulai merambat ke kepalanya dan membuat pandangannya kabur. Ia harus bernafas!


Mendadak Lamia melihat ada seseorang berjalan ke arahnya. Ia tak dapat melihat wajah orang itu. Hanya ujung rambutnya yang berwarna merah muda ikal tergerai hingga menyentuh tanah yang dapat dilihat Lamia. Orang itu kemudian berlutut di dekat Lamia dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


“Bangunlah,” kata orang itu yang ternyata seorang perempuan.


Sehembus angin sepoi menerpa wajah Lamia dan membuatnya merasa begitu nyaman. Rasa terbakar di tubuhnya berangsung membaik. Lamia memejamkan mata untuk menikmati sensasi tersebut. Tiba-tiba Lamia terbatuk. Ia dapat menghirup udara kembali.


“Mia! Mia!” suara yang sagat dikenal Lamia memanggil gadis itu dengan begitu panik.


Lamia membuka mata. Ia tidak lagi berada di sebuah hutan melainkan di dalam ruangan yang dikenalinya sebagai ruang kendali Horizon tipe AK – pesawat luar angkasa Martian –. Seorang pemuda berambut perak berlutut di depannya.


“Mia! Kumohon bangunlah,” kata pemuda itu. Lamia mengerjap.


“Mick?” kata Lamia.


“Syukurlah!” seru Mick yang langsung meraih Lamia dalam pelukannya.


“Apa yang terjadi?” tanya Lamia serak.


“Sebuah besi menancap di leher dan dadamu. Sepertinya sedikit mengenai batang otakmu dan membuatmu tak sadarkan diri. Kami menemukanmu melayang-layang di dekat bangkai Subbers 405,” jelas sebuah suara lain yang ternyata milik Aeron. Pemuda itu pun turut berlutut di depan Lamia.


“Kukira aku akan kehilanganmu. Untunglah kau bisa langsung memulihkan diri ketika besi itu dicabut dari tubuhmu,” kata Mick sembari melepaskan pelukannya.


“Pantas rasanya sesak sekali,” kata Lamia bangkit berdiri. Itu artinya yang dialaminya saat tak sadarkan diri tadi adalah mimpi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia bermimpi.


“Kau juga sudah baikan, Mick,” kata Lamia pada Mick.


“Begitulah. Kovf dan yang lainnya menyelamatkanku dan berhasil membunuh Sembilan Tetua Kerajaan yang sudah menjadi gaian,” kata Mick.


“Ya aku tahu,” sahut Lamia. “Lalu para gaian yang menyerang kota?”


“Semua berhasil dikalahkan. Aku memanggil bantuan dari Pasukan Antariksa wilayah dua dan empat,” jawab Aeron.


“Syukurlah. Tapi aku tak berhasil menangkap Balder. Kurasa…” Lamia tidak menyelesaikan kalimatnya karena di depannya, ia melihat seorang anak laki-laki berambut hitam diikat dan dikurung dalam tabir ether.


“Halo, Lamia. Aku senang kau selamat,” kata anak laki-laki itu.


“Balder,” desah Lamia geram. Ia kemudian mencabut pistolnya dan bersiap menembak kepala anak itu.


“Jangan bunuh dia!”


Aeron dan Mick berteriak bersamaan sambil mencegah Lamia menembak Balder.


“Apa maksud kalian? Dia seorang penjahat!” seru Lamia tak percaya akan tingkah kedua sahabatnya.


“Aku tahu. Ratu sudah mengatakan semuanya. Tapi kita tidak bisa langsung membunuhnya. Setidaknya kita dapat mengintrogasinya tentang rencananya sebenarny, termasuk meneliti tentang kemampuannya,” kata Aeron.


“Rencana Balder? Tentu saja dia ingin menguasai planet ini untuk dirinya sendiri,” kata Lamia benar-benar putus asa.


“Bukan itu saja. Kita juga harus tahu bagaimana cara Balder mempengaruhi gaian lain. Banyak penelitian yang dapat kita lakukan terhadapnya,” kini Mick mencoba menerangkan.


“Mick, itu terlalu berbahaya. Bagaimana bila ia punya akal licik lain yang…”


“Tenanglah, Mia. Kini semua orang tahu dia pengendali gaian. Ia akan dikurung di Agathadaemon dan mungkin hanya harus menjawab beberapa pertanyaan. Setelah itu hukuman mati pasti dilaksanakan baginya,” kata Mick kemudian.


Lamia mendengus keras menanggapi.


“Terserahlah!” kata Lamia kemudian.


Selama perjalanan, Lamia mengetahui bahwa ia telah mengalami ‘mati suri’ kurang lebih 30 menit sebelum akhirnya Mick dan Aeron menyelamatkannya. Mereka juga menemukan Balder terapung-apung tak jauh dari tempat Lamia ditemukan. Ternyata beberapa menit sebelum ledakan di subbers Balder terjadi, ia sempat menyelamatkan diri dengan kursi pelontar. Hanya saja Lamia tidak begitu memperhatikannya.


Keadaan Martian berangsur membaik. Serbuan gaian membuat pasukan Cydonia dan prajurit Martian pun bersatu melawannya. Selain itu, berkat perintah Ratu Cassabella, akhirnya prajurit Martian ditarik mundur dan hal tersebut membawa kemenangan bagi pihak Cydonia dan sekutunya. Seperti yang dijelaskan Mick, Sembilan Tetua Kerajaan berhasil dikalahkan oleh Kovf dan teman-teman Lamia yang lain.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di Pangkalan Antariksa. Aeron disambut oleh Pasukan Antariksa dengan meriah. Begitu pula dengan Lamia. Ternyata kemenangan pihak Cydonia telah tersiar di berbagai penjuru Martian termasuk di Pangkalan Antariksa. Ratu Cassabella Wade sendiri yang mengumumkan pernyataan kekalahan dan juga membersihkan nama baik Lamia.


Dengan amat menyesal sang Ratu memberitahukan kenyataan tentang Pangeran Balder dan Sembilan Tetua Kerajaan yang telah berubah menjadi gaian. Atas dasar itulah akhirnya Ratu memutuskan untuk turun tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada Kovf Bakumin selaku pimpinan Cydonia.


Lamia bernafas lega mendengar kabar tersebut. Ia setengah tak percaya bahwa perjuangan mereka akhirnya berhasil. Dengan hati yang mantap, Lamia pun kembali ke istana bersama Mick, Aeron, Balder serta beberapa pasukan pengawal.


...***...


Hari selanjutnya terasa lebih ringan bagi Lamia. Meski keadaan kota cukup kacau, namun rasanya kedamaian akan mulai mengisi hari-hari di Martian. Mick dan Lamia kembali mengunjungi Asklepius. Phoebe menyambut mereka penuh sukacita. Kovf dan rekan-rekannya dari Cydonia untuk sementara berada di Istana yang sebenarnya sudah separuh hancur.


Tuan Kokabura beserta seluruh kru pandai besinya telah mulai melakukan pekerjaan mereka membangun kembali Terra Sabaea beserta Istana Martian. Para gaian telah dibasmi habis. Kovf telah memerintahkan pasukannya untuk mencari para gaian yang mungkin melarikan diri dan bersembunyi di seluruh pelosok Martian.


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Setelah lewat satu bulan – tepat pada tanggal 3 bulan Dhanus tahun 123 Darian – hari penobatan Kovf akan dilaksanakan. Lamia turut hadir bersama Mick dan kawan-kawannya yang lain. Penobatan tentu saja tidak dapat dilakukan tanpa adanya Sembilan Tetua karena memang seperti itulah peraturan yang dibuat sejak peradaban Martian dimulai.


Ratu Cassabella, sebelum menyerahkan tampuk kekuasaan, diharuskan mengangkat Sembilan Tetua tersebut. Mereka yang diangkat antara lain: Lao Fen, Daniel Brown, Melight Ringdale, Kokabura Knot, Katia Poriskova, yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Asosiasi Penyihir Chryse Planatia, Ilena Merlinda, salah satu Alkemis terkemuka Martian, Jonas Bell, mantan Ketua Ilmuan di Terra Meridiani, Abhiya Asagna, mantan Kepala Akademi Paramedis Isidis Planitia, dan terakhir Mai Sumiko, yang sebelumnya menggantikan Lamia sebagai Komandan Kedua Pasukan Antariksa Martian. Kesembilan orang tersebut dilantik sehari sebelum penobatan Kovf berlangsung.