Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Ephestus



Tiga hari lamanya Lamia mengurung diri di perpustakaan kastel. Ia menggali segala informasi yang berkaitan dengan seluk beluk Kerajaan. Umumnya penyelidikan semacam itu tidak akan memakan waktu lama, namun mengingat tidak ada teknologi apapun yang berfungsi di Cydonia, Lamia harus menggunakan cara kuno dalam mencari informasi: membaca buku.


Bertumpuk-tumpuk buku tentang sejarah Martian sudah dia pelajari. Menariknya, data-data dalam buku-buku itu justru tidak banyak ditemukan dalam sejarah modern yang dicatat saat ini. Kisah-kisah awal peradaban di Mars, dan bagaimana awal mula manusia membangkitkan energi ether justru lengkap tercatat dalam buku-buku tua ini.


Semakin lama membaca, Lamia semakin tertarik dengan pengetahuan yang baru didapatnya itu. Leluhur Cydonia rupanya merupakan para peneliti Bumi yang mendarat di Mars untuk membangun peradaban paling awal yang kemudian disebut Martian. Mereka adalah orang-orang terakhir yang selamat dari wabah virus Tetrodoksin dua ratus tahun yang lalu.


Salah satu nama yang paling banyak disebut adalah peneliti senior bernama Zora Hurston. Perempuan itu juga yang kemudian menemukan teknik membangkitkan kemampuan ether untuk menopang kehidupan manusia hingga kini. Lamia sudah membaca puluhan jurnal ilmiah yang diterbitkan olehnya. Bahkan salah satu jurnal menyebutkan bahwa Zora Hurston merupakan enchanter pertama di Martian.


“Kau membaca bagian paling menarik, Lamia,” sebuah suara terdengar menelusup dalam kesadaran Lamia. Lamia menoleh, melihat Lao Fen berjalan mendekat. Laki-laki itu kemudian mengayunkan tangan kirinya dan menangkap sebuah buku tebal dengan sampul biru, gambaran lautan kosmik.


“Ada cukup bukti bahwa peneliti masa lalu telah mengembangkan beberapa bentuk kontrol gravitasi yang tidak dapat dijelaskan oleh fisika konvensional. Mekanika kuantum bergantung pada konsep yang disebut pertukaran partikel untuk menjelaskan empat gaya: gravitasi, elektromagnetisme, nuklir kuat dan nuklir lemah. Pada akhirnya muncul hipotesis akan adanya energi ether yang secara virtual memenuhi alam semesta. Ether adalah elemen kelima, yang mengontrol keempat gaya tersebut.


“Ether tidak bersumber dari manusia, namun berada di seluruh alam semesta. Pengetahuan itu adalah dasar munculnya jenis-jenis kekuatan baru, seperti enchanter. Zora Hurston adalah peneliti yang telah berjasa mewariskan kemampuan untuk mengontrol ether oleh manusia. Pada dasarnya semua manusia era ini merupakan enchanter karena kemampuan mereka dalam mengendalikan ether.


“Namun orang yang benar-benar disebut enchanter akhirnya hanya orang-orang yang mampu menampung banyak energi ether dalam tubuhnya. Seperti pada kasusmu. Tubuhmu mungkin bukan merupakan wadah yang besar untuk energi ether. Namun sirkulasi energi dalam tubuhmu jauh lebih cepat melampaui para enchanter. Oleh karena itu kau menjadi seorang gunslinger yang mampu meregenerasi secara terus menerus energi ether dalam tubuh,” jelas Lao Fen kemudian duduk di hadapan Lamia.


“Kau selalu punya wawasan yang luas Lao Fen. Apa kau sudah membaca seluruh buku di perpustakaan ini?” tanya Lamia. Perpustakaan kastel itu cukup luas dengan jutaan buku dan jurnal-jurnal masa lalu. Lamia benar-benar takjub bila Lao Fen memang sudah menguasai seluruh pengetahuan tersebut. Berapa usia Lao Fen jika harus membaca semua buku itu? Bahkan kalau Lamia membacanya setiap hari pun ia mungkin tidak akan bisa menyelesaikannya hingga akhir hayat.


“Membaca mungkin bukan kata yang tepat. Dengan mata tertutup, aku bisa melihat lebih banyak. Tapi tentu saja tidak semua pengetahuan itu sudah aku pelajari. Masih ada begitu banyak misteri semesta yang tidak kuketahui,” jawab Lao Fen tersenyum. “Dan usiaku memang tidak setua itu, Lamia,” tambahnya.


Lamia tersenyum simpul menanggapi, namun ia kembali menghela napas panjang.


“Buku-buku ini memang menarik, tapi aku belum bisa menemukan cara untuk menghancurkan Kerajaan. Martian berdiri atas konsensus tujuh distrik besar. Kalau kita kesampingkan Utopia Planatia, maka akan ada Isidis Planatia, Syrtis Major Planum, Valles Borealis, Arrabia Terra, Hesperia Planum, dan Noachis Terra.


“Keenam distrik itu sudah berada di bawah kendali Terra Sabaea. Dan meski aku berpikir untuk membawa mereka masuk ke kubu kita, namun aku tidak punya apapun yang bisa ditawarkan. Ditambah reputasiku dan reputasi Cydonia yang buruk di mata masyarakat,” kata Lamia melontarkan isu yang tengah digodognya dalam pikiran.


“Aku mempertimbangkan untuk menggunakan Utopia Planatia sebagai ancaman. Tapi lalu apa? Distrik itu bahkan tidak bisa dihancurkan tanpa memunahkan spesies kita. Dampaknya terlalu besar,” cerocos Lamia sambil masih berkalkulasi.


“Tidak ada perubahan yang tidak memakan korban, Lamia. Resiko selalu datang bersama setiap kesempatan” tukas Lao Fen.


Lamia menarik napas panjang sambil memejamkan mata, mencoba menelisik setiap kemungkinan yang bisa dia coba.


“Tapi itu tidak sepadan Lao Fen. Kalau aku mengusik Utopia Planatia, sama saja aku menghancurkan seluruh peradaban. Aku setidaknya harus membawa tiga distrik lain untuk bergabung. Aku hanya belum menemukan caranya,” ungkap Lamia.


“Ini mungkin bisa menjadi jalan keluar. Tapi aku ingin memperingatkanmu sebelumnya, tidak semua orang akan setuju dengan rencanamu. Justru mungkin akan lebih banyak orang yang akan menentang. Karena itu kau harus yakin pada dirimu sendiri dan siap menanggung apapun akibatnya nanti,” lanjut Lao Fen serius.


“Seperti yang kau bilang Lao Fen, setiap perubahan menuntut perngorbanan. Aku sudah tidak punya waktu untuk ragu. Aku tidak mau lagi hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Satu-satunya hal yang kuyakini saat ini adalah diriku sendiri,” kata Lamia tegas.


Gadis itu kemudian membuka buku pemberian Lao Fen. Barisan aksara kuno memenuhi dua halaman pertama buku. Pada halaman ketiga mulai muncul persamaan-persamaan kimia yang beberapa di antaranya dikenali Lamia sebagai rumus permutasi yang rumit. Halaman-halaman selanjutnya pun hanya berisi begitu banyak penelitian dan pemaparan mengenai percobaan pengembangan ether.


Lamia belum menemukan kaitan antara buku itu dengan rencana-rencanaya. Apa Lao Fen bermaksud menyuruhnya mengembangkan kemampuan ether untuk melawan Kerajaan? Perlu waktu ratusan tahun sampai Lamia bisa mengalahkan seluruh Pasukan Pelindung Martian. Belum juga kemungkinan dia harus mengalahkan Aeron dan dua komandan Antariksa Lainnya.


Tiba-tiba Lao Fen menyentuh buku yang tengah dibaca oleh Lamia, lantas menyibaknya hingga terbuka pada halaman yang berjudul Ephestus.


“Kata pengantar di depan tidak penting. Ini yang ingin kutunjukkan padamu, Lamia,” ujar Lao Fen.


Lamia membaca dalam hati.


...Penelitian mengenai pengembangan kekuatan ether kemudian membawa petunjuk akan adanya Kristal Ether terkuat di Mars. Kristal tersebut memancarkan energi yang sangat besar dan mampu melipatgandakan kemampuan manusia. Bahkan dalam keadaan dorman, Kristal itu sudah memproyeksikan energi yang sangat besar hingga menciptakan anomali pada wilayah sekitarnya. Bila manusia dapat mengolahnya, Kristal ini akan sangat membantu untuk memperkuat banyak aspek dalam kehidupan. Namun karena kekuatannya yang begitu besar, belum ada orang yang mampu menaklukkannya. Kristal itu disebut Ephestus, tertanam di perut Elysium Mons di wilayah Tartarus Montes....


 


“Lao Fen, kenapa kau memberitahuku tentang hal ini?” tanya Lamia tanpa bisa menyembunyikan antusiasmenya.


“Itu adalah jawaban yang kau butuhkan,” jawab Lao Fen.


“Tapi itu artinya aku harus menghancurkan Cydonia.”


“Kita sudah pernah dihancurkan satu kali.”


Lamia tersenyum kecut. Ia kembali dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kata-kata Lao Fen memang benar. Lamia harus benar-benar yakin pada dirinya sendiri sebelum menjalankan rencananya.  


...***...