
Lamia melangkahkan kakinya menuju arena latihan di dekat barak prajurit Cydonia. Ia tidak melihat Misty atau para prajuritnya di sekitar. Mungkin mereka tengah berjaga di perbatasan terluar Elysium Mons. Lamia menahan keinginannya untuk menyusul Misty menghadapi gaian yang mungkin muncul. Saat sedang marah Lamia selalu bernafsu untuk menembak sesuatu. Semacam pelampiasan. Tapi saat ini ia harus puas dengan boneka-boneka target yang berjajar di arena latihan barak.
Arena luar ruangan itu beralaskan tanah kering yang berdebu. Sejumlah boneka target yang terbuat dari tumpukan batang kayu yang dibentuk sedemikian rupa, tersebar di lapangan seluas 30 mil. Begitu sampai di arena, Lamia segera mencabut kedua pistolnya dan mulai melakukan beragam maneuver untuk menembaki titik vital boneka-boneka itu. Gerakannya yang lincah dan gesit sama sekali tidak berubah. Dalam waktu sigkat Lamia sudah dua kali menyisir arena tersebut. Masing-masing boneka kayu mendapatkan dua lubang di kepala, hasil tembakan Lamia.
Lao Fen duduk di pinggir arena, seolah menyaksikan Lamia melakukan manuver-manuvernya yang luar biasa. Ia menunggu dengan tenang hingga emosi Lamia mereda. Tak berapa lama tiba-tiba seorang prajurit muda mendatangi mereka karena mendengar suara desingan peluru ether. Lao Fen menyuruh prajurit muda itu membiarkan Lamia dan hanya minta dibuatkan secangkir teh hijau untuk dia nikmati sembari menunggu.
Setengah jam berlalu hingga akhirnya Lamia menyudahi latihannya. Tanpa ada tanda-tanda kelelahan, Lamia berjalan keluar arena lalu mendekati Lao Fen. Pria itu tengah menghirup cangkir teh yang masih mengepul.
“Aku siap untuk bicara sekarang. Ada apa?” tanya Lamia kemudian duduk di sebelah Lao Fen.
Seorang prajurit muda datang tergopoh-gopoh membawa satu cangkir teh hijau baru untuk Lamia. Lamia memgangguk pelan untuk berterimakasih.
“Aku hanya ingin melihatmu beraksi, Lamia. Sambil menikmati jalan-jalan pagi. Sudah lama aku tidak datang kemari,” kata Lao Fen tenang.
Lamia mendengus pelan lalu turut menghirup teh hijaunya yang mengepul. Aroma teh itu sangat nikmat dan menenangkan.
“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di sekitar sini? Hari ini aku punya banyak waktu luang,” kata Lao Fen.
Lamia toh memang tidak harus melakukan apapun, jadi dia setuju untuk mengikuti Lao Fen. Mereka beranjak dari barak dan menuju ke utara. Tidak banyak rumah penduduk yang mereka lewati. Barak itu berada di kaki Elysium Mons, jauh dari pemukiman tempat tinggal. Hanya ada satu dua rumah kayu reot yang kosong, entah untuk apa.
Jalanan menanjak dilalui Lamia dan Lao Fen. Beberapa pohon tumbuh secara menakjubkan di sekitar sana. Meskipun tidak setinggi dan selebat pepohonan di Utopia Planatia, namun menyaksikan dataran Mars yang ditumbuhi pohon memang cukup langka. Setelah berjalan dalam diam selama beberapa menit – Lao Fen memimpin di depan – mereka berhenti di sebuah tebing landai dengan jurang terjal di bawahnya. Sebuah sungai mengalir tenang di dasar jurang, mengeluarkan bunyi gemericik samar-samar.
“Cydonia hanyalah kota kecil jika dibandingkan dengan Martian,” kata Lao Fen membuka percakapan.
Lamia mengedarkan pandangannya. Dari atas tebing, terlihat hamparan luas pemukiman Cydonia secara menyeluruh. Pemandangan itu membuat Lamia lebih mudah memetakan letak-letak bangunan di sana. Kastel tepat berada di tengah kota. Area sawah dan peternakan ada di sisi barat, sementara pusat perdagangan, semacam pasar, dan tempat penduduk bermukim ada di sisi timur. Benteng batu melingkari kota secara sempurna, kemudian pada lapis luar benteng itu berjajar gagah barisan Tartarus Monthes. Lamia tercenung sesaat ketika melihat pemandangan luar biasa itu.
Lao Fen membiarkan Lamia menikmati pemandangan itu dalam diam. Angin berhembus ringan membuat helaian rambut Lao Fen dan Lamia melambai-lambai. Udara lebih dingin dan lebih tipis di atas sini. Meski begitu cuaca begitu cerah dan segar.
“Kota ini memang indah dan damai,” komentar Lamia beberapa saat kemudian.
“Itu karena ia terlalu pengecut untuk keluar dari sini,” balas Lamia sinis.
“Perubahan memang tidak mudah diterima, Lamia. Aku yakin kau sendiri pernah mengalaminya.”
Lamia tak bisa mengelak. Lao Fen selalu punya celah untuk membalikkan kata-katanya.
“Aku sudah berusaha semampuku, Lao Fen,” desah Lamia.
“Meski begitu, kata-katamu benar, Lamia. Kita tidak seharusnya bersembunyi di balik kekuatan Kristal Ephestus. Aku sendiri telah mengalami pertempuran Cydonia di masa lalu. Saat itu aku masih muda dan penuh ambisi. Aku ingat perasaan itu. Ketika seluruh penduduk Cydonia berjuang bersama membela nilai-nilai yang mereka yakini. Kebenaran yang selalu disembunyikan kerajaan. Peperangan yang kami lakukan dulu, bukan semata-mata tentang harga diri. Kami memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Tetapi nasib tidak memihak kami. Sebagian besar dari kami gugur, menyisakan orang-orang putus asa yang hanya bisa meratapi kekalahan. Nyala api perjuangan kami padam, dan semakin lama tinggal di tempat ini, kami semakin kehilangan motivasi untuk melanjutkan perjuangan leluhur kami,” kata Lao Fen panjang lebar.
Lamia menarik napas panjang. “Aku tidak bisa memaksa orang yang keras kepala.”
“Kofv harus menjadi pimpinan Cydonia sejak usianya masih sangat muda. Dan karena itu ia sedikit keras kepala. Ia dituntut untuk selalu mengesampingkan keinginan dan kebutuhannya untuk kepentingan orang banyak. Seluruh penduduk percaya dan bergantung pada Kofv,” ujar Lao Fen.
Tanpa diberi tahu pun Lamia sudah paham bagaimana beratnya beban Kofv. Dengan usia yang begitu muda, sudah harus bertanggung jawab atas hidup ratusan orang di tempat ini. Meski begitu, kata-kata Lao Fen cukup mempengaruhi Lamia. Sepertinya Lamia memang terlalu temperamental saat menghadapi Kofv tadi. Seharusnya Lamia mempertimbangkan juga posisi Kofv sebagai orang nomor satu di Cydonia.
“Kofv memang sangat bertanggung jawab dengan tugasnya, Lamia. Sifat kalian mirip, kalau boleh kubilang. Kalian sama-sama berdedikasi dengan pekerjaan kalian. Kalian juga punya integritas dan rasa keadilan yang tinggi. Kualitas-kualitas yang sama itu menurutku bisa menjadi peluang untuk membujuk Kofv,” lanjut Lao Fen.
Lamia tertawa kecil. Tawa pertamanya hari itu. Ia tak menyangka kalau Lao Fen akan menyandingkannya dengan Kofv. Tapi sekali lagi, setelah mendengar kata-kata Lao Fen itu, Lamia pun juga menyadari, memang sifat Kofv agak mirip dengannya. Keras kepala karena memikirkan keselamatan orang lain. Sama seperti Lamia yang pernah menolak misi ke Bumi karena memikirkan rekan-rekannya yang akan berubah menjadi gaian. Begitu juga Kofv pasti menolak rencana Lamia karena ingin melindungi para penduduk Cydonia. Setelah memikirkan hal itu, Lamia mulai bersimpati pada Kofv.
“Apa yang harus kulakukan, Lao Fen?” tanya Lamia kemudian.
“Biarkan hatimu yang menuntun, Lamia. Pada saatnya nanti, kau pasti bisa meyakinkan Kofv dengan caramu sendiri. Karena jika bukan kau, tidak aka nada orang yang bisa mengubah keputusannya,” jawab Lao Fen sembari tersenyum lembut.
...***...