Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Kematian Salem



“Aku tak menyangka kau petarung yang hebat, Lao Fen,” kata Lamia yang mengurungkan niatnya untuk keluar dari Flashwing.


“Ah, kau terlalu memuji, Lamia. Salem ada di utara kota, kurang lebih 300 meter lagi dari sini,” kata Lao Fen memberi petunjuk.


“Naiklah,” ajak Lamia.


“Tidak. Aku akan membereskan bagian sini. Kalian pergilah. Kovf sudah di sana,” kata Lao Fen.


“Baiklah,” kata Lamia lalu mengikuti arah yang ditunjuk Lao Fen.


Tak lama berselang, Lamia melihat medan pertempuran kecil para enchanter dengan pasukan Martian. Kebanyakan enchanter itu adalah enchanter air yang tentunya adalah anak buah Melight. Mereka menggunakan air sungai sebagai senjata mereka yang sesekali dibekukan hingga membentuk pedang es yang sangat runcing dan dilemparkan ke arah pasukan Martian.


Ada pula yang membuatnya menjadi gelombang besar yang menarik beberapa pasukan Martian sekaligus hingga terjatuh ke sungai lalu tenggelam. Di antara enchanter air itu, Lamia melihat Kovf dengan tongkatnya yang bertatahkan batu zamrud hijau cemerlang di ujungnya. Zamrud itu menyala terang setiap kali Kovf merapal mantra yang membuat sulur-sulur berdaun hijau keluar dari dalam tanah dan mencekik pasukan Martian.


Lamia, Daniel dan Shira segera bergabung dengan pertarungan tersebut. Peluru Othus dan Cerberus melesat ke segala arah dengan kecepatan yang sulit dihindari. Meski begitu, sebisa mungkin Lamia tidak menyerang bagian vital dari lawannya. Ia hanya melumpuhkan mereka alih-alih membunuhnya. Lamia benar-benar tidak terbiasa membunuh manusia, apapun alasannya.


“Sebaiknya kau segera ke tempat Salem. Ia ada di belakang pasukan Matian. Aku akan membuka jalan untukmu. Tolong kau hentikan dia,” kata Kovf ketika Lamia berada dalam jarak dengarnya.


Lamia mengangguk singkat. Detik berikutnya Kovf merapal mantra yang lebih panjang. Batu zamrud di tongkatnya pun menyala lebih terang. Setelah beberapa saat, tanah tempat mereka mulai bergetar. Perlahan namun pasti, sulur-sulur tanaman mulai merambat dalam diam, nyaris tanpa disadari siapapun selain Kovf dan Lamia. Sulur-sulur itu meliliti beberapa orang pasukan Martian di hadapan Lamia dan menarik mereka menjauh, agar Lamia dapat melewatinya.


“Pergilah!” perintah Kovf.


Lamia pun berlari pergi.


“Tunggu!” teriak Shira yang berlari mengikuti Lamia. Keduanya pun menerobos barisan pasukan yang sibuk berkutat dengan sulur-sulur milik Kovf.


Tak berapa lama kemudian, Lamia melihat Salem berlutut di atas sebuah lingkaran sihir. Namun lingkaran sihir milik Salem sedikit berbeda dengan yang dibuat Mick. Lingkaran sihir Salem menyala dengan warna putih kebiruan dan memiliki huruf yang berbeda dari lingkaran sihir Mick. Lamia tahu, Salem tidak bisa beranjak dari lingkaran sihir itu untuk mempertahankan agar makhluk yang dipanggilnya tetap berada di sana. Karena itu, Lamia segera melepas tembakannya ke arah Salem. Namun ternyata hal itu sia-sia. Salem dikelilingi lapisan pelindung yang otomatis muncul di sekeliling lingkaran sihirnya.


“Salem hentikan semua ini! Apa sebenarnya maumu?” seru Lamia.


“Salem kenapa kau melakukan semua ini?” rintih Shira getir.


“Maafkan aku Shira. Tapi aku harus membalas dendam kakakku. Perempuan itu telah membunuhnya,” sergah Salem memandang Lamia penuh kebencian.


“Aku?” tanya Lamia bingung.


“Kalau kau tak datang ke Cydonia, semua ini tak akan terjadi! Kau yang memaksa kami untuk menghancurkan Cydonia. Dan jangan kira aku tak tahu, kau-lah orang yang menyuruh para gaian itu menyerang pengungsi Cydonia di Utopia Planatia! Kau adalah gaian! Kau menjebak kami semua!” kata Salem dengan mata berkilat penuh emosi.


“Apa yang kau bicarakan? Aku bukan…”


“Hentikan omong kosongmu! Aku tahu kau menipu kami!” seru Salem semakin berang.


“Ramuan itu bahkan belum pernah dicoba. Hanya kau satu-satunya orang yang menggunakannya setelah digigit gaian. Bagaimana aku bisa menjamin ramuan itu bekerja seperti seharusnya?” sahut Salem.


“Aku benar-benar tidak percaya kau bisa mengatakan hal semacam ini. Kalau memang kau tidak percaya padaku, kenapa baru sekarang kau mengatakannya. Kenapa tidak dari dulu kau mengusirku dari Cydonia?” sembur Lamia yang mulai terbawa emosi.


“Itu memang salahku. Aku salah karena memilih menghargai Mick yang selalu melindungimu daripada rakyatku sendiri, Cydonia. Karena itu untuk menebus kesalahanku, kau akan mati hari ini. Kau harus mati,” kata Salem dipenuhi kebencian.


“Hentikan semua ini Salem!” teriak Shira tiba-tiba. “Kumohon hentikan. Lamia tidak bersalah. Kematian kakakmu adalah kecelakaan. Jangan melakukan hal bodoh hanya karena terbawa emosi. Kau membahayakan semua orang termasuk orang-orang Cydonia,” lanjutnya setengah merintih.


“Aku tidak bisa, Shira. Kalau memang aku harus membunuh semua orang yang ada di sini agar bisa membunuh perempuan licik ini, aku akan melakukannya,” kata Salem hilang akal.


“Apa kau gila?! Kau mau membunuh kami semua?!” teriak Shira marah.


“Aku tak peduli. Bahkan bila aku harus mati pun, aku tak peduli,” jawab Salem tak tergoyahkan.


“Kalau begitu aku yang akan menghentikanmu,” kata Shira ditelan kemarahan.


“Kau tak bisa menghentikanku,” balas Salem.


“Kau tahu aku punya kemampuan untuk menghentikanmu, Salem,” kata Shira mulai mengancam, berharap laki-laki yang dicintainya itu berubah pikiran.


“Aku tahu kau punya kemampuan untuk melakukannya, tapi kau tidak punya keberanian. Kau tidak akan melakukannya terhadapku,” kata Salem.


Shira tampak tercekat. Sekuat tenaga ia menahan air matanya kembali mengalir. Ia tahu Salem tak akan berubah pikiran. Salem yang ada di hadapannya kini bukan lagi Salem yang ia kenal. Laki-laki itu tidak akan menghentikan niatnya untuk menghancurkan segalanya di tempat ini. Shira tahu ia harus bertindak. Hanya Shira yang bisa melakukannya.


“Baiklah. Akan kulakukan,” kata Shira dengan bulir-bulir air mata merembes dan mengalir pelahan di pipinya.


Shira kemudian mengangkat kedua tangannya keatas. Dengan mata terpejam, ia kemudian membisikkan mantra yang hanya samar-samar didengar Lamia. Tak lama kemudian – Lamia memperhatikan – gelang manik-manik di tangan Shira mulai berpendar. Saat berikutnya, sekonyong-konyong dari tubuh Shira keluar aliran udara yang begitu keras yang berhembus menuju Salem dengan kekuatan yang cukup besar. Sekuat tenaga Salem menahan hempasan angin itu. Ia tetap bertahan pada posisinya di tengah lingkaran sihir buatannya.


Tapi Shira tak menyerah. Ia telah membuka kedua matanya dan dengan tatapan tajam ia melihat Salem yang balas menatapnya. Saat berikutnya Shira menarik kedua tangannya dengan gerakan yang begitu dramatis. Serta merta aliran udara yang menyerang Salem ikut tertarik kembali menuju Shira. Saat itulah Lamia melihat hal yang paling mengerikan sepanjang hidupnya.


Seperti sebuah jeruk yang diperas hingga tak tersisa lagi air di dalamnya, begitu pula yang terjadi pada Salem. Pria itu pelahan terangkat ke atas dan tanpa bisa melawan ia menguap. Seluruh kandungan air di tubuhnya menghilang entah kemana dan ia berubah menjadi tengkorak berbalut kulit yang kering. Selama beberapa saat Shira terus melakukan hal tersebut, hingga akhirnya ia tak tahan lagi lalu menghentikan serangannya dan tangisnya mulai meledak.


“Maafkan aku…. Maaf…” kata Shira berulang-ulang sambil terisak.


Lamia menghampiri Shira dan memeluk gadis itu. Baik Hydra maupun Sekhmeth kini sudah menghilang. Pasukan Martian pun sudah dikalahkan. Kekacauan perlahan mereda. Di kejauhan, Lamia melihat Kovf dan Lao Fen berjalan menuju ke arahnya. Mendadak Lamia merasa sedikit merindukan masa lalunya.


...***...