Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Melight Ringdale



Lamia segera memberi tanda pada pasukannya untuk keluar dari persembunyian dan mulai melawan secara langsung sebelum para enchanter air itu sempat mengirim pesan bahaya ke markas mereka di Syrtis Major Planum. Tak lama pecahlah perang ether yang dipenuhi lecutan-lecutan cahaya berbagai warna dari berbagai penjuru.


Lamia dengan lincah menghindar dari beberapa serangan yang mengarah padanya. Ia menggunakan twingun-nya untuk melucuti tongkat-tongkat para enchanter air yang dilihatnya. Mick, disamping itu, melemparkan beberapa bom asap yang kemudian mengeluarkan gas keunguan yang aneh dan seketika membuat beberapa orang yang terkena gas itu lemas lalu pingsan. Gas aneh itu kemudian menghilang sama cepatnya dengan saat ia muncul.


“Mick, bukankah itu agak berbahaya. Bagaimana kalau asapmu sampai mengenai pasukan kita?” tanya Lamia di sela-sela pertarungannya.


“Tenang saja, aku sudah merancang bom itu agar asapnya hanya bereaksi pada orang-orang yang memiliki kandungan air yang tunggi dalam ether nya. Jadi pasukan kita tidak akan terkena dampaknya,” jelas Mick.


Lamia mengangkat alis.


“Kau selalu bisa mengejutkanku, Mick.” komentar Lamia kemudian.


Setelah beberapa saat pertarungan itu mulai menampakkan tanda-tanda akan berakhir. Beberapa pasukan Lamia terluka, namun lebih banyak pasukan penyihir air yang berhasil dilumpuhkan. Selain karena mereka sudah mengerahkan banyak tenaga untuk memadamkan hutan, penyihir air tidak lebih kuat daripada pasukan Lamia bila berada jauh dari perairan. Akhirnya penyihir air terakhir sudah dilumpuhkan – diikat dengangelembung ether yang cukup kuat –. Mereka semua tak sadarkan diri, danmenurut Lamia, sebagian besar karena terkena bom asap milik Mick.


“Kita bawa mereka ke Syrtis Major Planum sebagai sandera,” kata Lamia kemudian yang segera membuat pasukannya bergerak mengumpulkan para ‘tawanan’ ke dalam sebuah tabir ether yang menyerupai gelembung. Pemadangan itu membuat Lamia kembali teringat saat dirinya sendiri menjadi ‘tawanan’ di istana Martian. Rasanya sudah lama sekali waktu berlalu.


Setelah selesai membungkus para tawanan, rombongan Lamia pun mulai terbang menuju Syrtis Major Planum menggunakan Seabreacher milik para penyihir air. Syrtis Major Planum adalah sebuah desa semi kota yang merupakan pemukiman berpenduduk sekitar tiga ratus ribu jiwa. Pemukiman itu dibangun ditengah-tengah bendungan besar yang menyerupai danau raksasa.


Air yang menggenangi Syrtis Major Planum tersebut berasal dari aliran gletser dari Planum Boreum – kutub Utara di Mars – yang menghangat dalam perjalanannya hingga ke bendungan besar itu.


Satu-satunya akses untuk memasuki Syrtis Major Planum adalah dengan menyeberangi bendungan menggunakan Seabreacher, sebuah moda transportasi yang dapat terbang di udara sekaligus menyelam atau berlayar di air. Daerah tersebut lebih menyerupai pulau kecil di tengah danau raksasa.


Ketika Seabreacher yang ditumpangi Lamia sampai di Syrtis Major Planum, tak ada satupun orang yang curiga. Di udara begitu banyak orang yang lalu lalang beterbangan datang dan pergi membuat Seabreacher yang digunakan Lamia tampak normal.


Lamia segera mengarahkan kendaraan itu ke sebuah bangunan yang paling besar dan mendaratkannya di landasan bertuliskan ‘Pusat Kendali’. Lamiasegera mengenali bangunan tersebut sebagai tempat pemimpin Syrtis Major Planum, Melight Ringdale, berada.


Pendaratan mereka tampaknya tak dipedulikan oleh siapapun. Beberapa orang yang berada di landasan itu acuh dan memilih menyelesaikan urusan mereka sendiri. Namun, begitu pintu dibuka, keluarlah para penyihir air yang pingsan dan melayang-layang dengan aneka posisi yang sedikit tak lazim.


Beberapa orang mulai menyadari keadaan tak beres itu dan mulai bersikap waspada lalumemanggil teman-temannya. Hanya dalam waktu beberapa menit, Lamia dan rombongannya sudah disergap puluhan enchanter dengan tongkat terangkat, siap menyerang. Lamia dengan tenang menyeruak dari antara pasukannya dan maju ke hadapan mereka.


“Jangan melemparkan satu mantra pun bila kalian ingin teman-teman kalian ini selamat. Mereka hanya pingsan dan kami tak akan ragu membunuh mereka tepat ketika kalian merapal mantra dan mencoba menyerang kami,” kata Lamia tenang.


“Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan di sini?” tanya salah seorang enchanter. 


“Kami bisa jadi teman atau musuh. Kami bisa tetap tenang atau mulai menghancurkan. Tergantung bagaimana kalian menanggapi tawaran kami. Saat ini kami hanya ingin bertemu dengan pimpinan kalian dan bicara langsung padanya. Kami sungguh tak berharap membuat kekacauan di sini seandainya kalian bisa bekerja sama,” jawab Lamia masih cukup tenang.


“Kau pikir kau bisa melawan kami semua?” sergah penyihir lain yang berjubah merah.


“Sudah kukatakan aku tak ingin melawan siapapun. Aku hanya ingin bicara. Bila kalian melakukan tindakan provokatif maka teman-teman kalian ini yang akan menerima akibatnya. Kalian pun tahu kami tidak akan menang melawan kalian.


“Karena itu kami hanya akan membunuh teman kalian yang sudah berhasil kami tangkap. Tapi aku yakin kalian tidak akan pernah mengkhianati kehormatan kalian dengan mengorbankan nyawa teman kalian sendiri untuk membunuh musuh yang bahkan tidak memiliki kesempatan menang,” kata Lamia memancing.


Setelah berdiskusi selama beberapa saat, akhirnya kumpulan enchanter air itu memutuskan untuk memanggil sang pimpinan. Tak berapa lama berselang, seorang pria berjubahbiru muda keluar dari dalam bangunan. Dia pria yang tampaknya seusia dengan Lamia. Pria itu memiliki rambut emas yang berkilauan indah dan tergerai sepanjang bahu.


“Lama tak bertemu, Melight,” sapa Lamia santai.


Melight tampak mengernyitkan dahi dengan bingung. Ia tidak yakin bahwa Lamia adalah orang yang dikenalnya. Akan tetapi suara Lamia yang tidak berubah mengonfirmasi keraguan Melight.


“Lamia Linkheart?” tanya Melight memastikan.


“Bagaimana kabarmu?”


“Manusia gila mana yang melakukan hal semacam ini di pagi hari yang terang. Bahkan setelah skandal luar biasa yang sudah kau lakukan. Bagaimana bisa kau begitu percaya diri berpikir bahwa kami tidak akan membinasakanmu?” sergah Melight.


“Karena kau punya hutang besar padaku, Melight. Ini saat yang tepat untuk menagihnya,” jawab Lamia tersenyum senang.


Melight berdecak pelan. “Bagaimana aku tahu kalau kau tidak terinfeksi?”


“Mudah saja. Gaian tidak mendatangi air,” ucap Lamia.


Melight tampak berpikir sejenak.


“Lepaskan anak buahku,” kata Melight kemudian berbalik masuk ke dalam bangunan.


Lamia mengangguk memberi kode pada pasukannya untuk melepaskan para enchanter air yang pingsan. Mereka pun mematuhi Lamia dan melepaskan gelembung ether. Para enchanter lainnya membantu kawan-kawan mereka yang ambruk di lantai, sementara Lamia dan Mick mengikuti Melight masuk ke dalam bangunan Pusat Kendali.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Melight sambil bejalan di lorong serha putih dengan pintu otomatis yang canggih.


“Apa kau pernah dengar tentang Cydonia, Melight?” tanya Lamia.


Langkah Melight terhenti. Pria itu lantas berbalik menatap Lamia dengan tatapan terkejutnya lagi.


“Jangan menyeretku ke dalam tindakan berbahaya, Lamia,” geram Melight.


“Memangnya aku pernah mengurusi hal-hal yang sederhana,” jawab Lamia sambil mengangkat bahu.


Melight tampak menarik napas panjang sambil memegang keningnya.


“Haruskah kau lakukan ini padaku?” gumam Melight letih.


“Tentu saja. Aku tidak bisa membiarkanmu menganggung hutang nyawa padaku,” jawab Lamia ringan. 


...***...