
Kerajaan juga terpaksa harus gigit jari karena pandai besi terbaik mereka di Lembah Borealis memilih untuk membuat senjata bagi musuhnya. Belum lagi paramedis di Isidis Planatia yang sudah menyebar di Syrtis Major Planum dan banyak di Borealis. Utopia Planatia sudah tak dapat diandalkan. Daerah itu kini menjadi tanggung jawab Melight untuk sementara waktu.
Martian benar-benar lumpuh. Beberapa kali pasukan kerajaan mencoba menyerang dua titik vital pejuang Cydonia yaitu di Lembah Borealis dan di Syrtis Major Planum. Namun semua itu sia-sia. Sepanjang sungai Phillias dijaga oleh penyihir air terbaik dan membuat pemerintah pun tak bisa menyergap mereka. Di sisi lain hal itu membuat hubungan dua kota itu sangat lancar karena tak ada gangguan dari kerajaan.
Meski begitu, Lamia tahu ia tak boleh lengah. Masih ada kota-kota lain yang cukup berbahaya dan harus diwaspadai yakni Chryse Planatia, tempat akademi Sihir terbesar di Martian, yang dihuni oleh berbagai enchanter hebat. Dan Arabia Terra, kota akademi Alkimia. Kedua kota itu ditinggali oleh orang-orang yang cukup berbahaya, meski Lamia sedikit sangsi orang-orang itu mau memihak kerajaan.
Para enchanter dan alkemis independen – sebutan untuk orang-orang yang tidak bekerja untuk kerajaan – di kedua kota itu biasanya tidak suka terlibat urusan lain selain urusan mereka sendiri. Mereka biasanya sibuk menambang batu sihir atau membuat berbagai ramuan untuk dijual di kota-kota lain.
Tak akan mudah untuk membujuk mereka memihak kerajaan dan berperang melawan pasukan Cydonia. Tapi sekali lagi Lamia tak boleh lengah. Ia harus segera menumbangkan kekuasaan Balder dan para tetua yang sudah dia kendalikanitu sebelum mereka berhasil merekrut pasukan dari kota lain.
Pagi itu Lamia menjadwalkan pertemuan dengan Kovf dan yang lainnya. Bersama-sama mereka semua berkumpul di Balai Besar di sisi jembatan yang merupakan daerah tempat tinggal. Lamia, Mick, Kovf, Misty, Lao Fen dan Tuan Kokabura sendiri sudah berada di Balai Besar.
Shira beberapa kali absen mengikuti rapat. Sejak ia menghabisi nyawa laki-laki yang dicintainya, Shira sama sekali tidak dapat diajak bicara. Sehari-hari ia hanya mengurung diri di dalam kamar dan menolak mengatakan apapun.
Hal itu sangat mengganggu Kovf maupun Lamia. Meski begitu waktu terus bergulir. Mereka tidak bisa terus meratap. Karena itu setelah Tuan Kokabura mengatakan penempaan batu Ephestus sudah sudah hampir selesai, Lamia merasa harus memastikan kembali rencana mereka. Dan meskipun Mick berkali-kali menyangsikan, Lamia tetap berkeras untuk meminimalisir korban.
“Jadi kurang dari seminggu lagi senjata-senjata akan siap digunakan?” tanya Kovf pada tuan Kokabura.
Tuan Kokabura mengangguk.
“Aku juga memproduksi beberapa pesawat tempur hipersonik sejenis Subbers dan ratusan Scarab yang sudah kumodifikasi dengan tambahan batu Ephestus pada bagian senjatanya,” jelas Tuan Kokabura. “Ah, dan juga aku membuat banyak modifikasi Seabreacher dengan kantung-kantung air yang pasti sangat berguna bagi para enchanter air,” lanjut Tuan Kokabura bangga.
“Sempurna. Secara garis besar kita sudah siap untuk menyerbu Terra Sabaea,” komentar Kovf menanggapi.
“Baiklah, sesuai dengan rencana kita sebelumnya, pasukan dari Borealis akan menyerang dari sisi utara. Lembah ini berbatasan langsung dengan Terra Sabaea dan kedatangan kita pasti sudah ditunggu oleh pasukan Martian di perbatasan.
"Kusangka pertahanan mereka tidak akan terlalu kuat karena mereka tidak dilatih untuk pertempuran terbuka. Yang harus kita waspadai adalah pasukan antariksa Martian. Aku sepenuhnya yakin kerajaan akan mengirim mereka untuk menyerang kita begitu kita keluar dari mulut lembah ini,” terang Lamia panjang lebar.
“Kau benar, aku beberapa kali melihat pesawat tempur mereka berseliweran di atas kepala kita,” kata Tuan Kokabura.
“Kabarnya Komandan mereka sendiri turun tangan untuk memimpin pasukan menyerang kita,” sahut Kovf.
“Komandan siapa?” tanya Lamia mengingat Pasukan Martian memiliki empat Komandan termasuk dirinya sendiri.
“Aeron Kato,” tiba-tiba Mick menjawab sambil menatap Lamia tanpa ekspresi.
Rahang Lamia mengeras. Ia tahu suatu saat ia harus melawan Aeron. Terlepas dari bagaimana perasaannya dulu kepada Aeron, hal itu tidaklah mudah. Bagaimanapun Aeron adalah sahabatnya. Lamia sudah ratusan kali memikirkan kemungkinan ini. Balder pasti sengaja memerintahkan Aeron melawan pasukan Lamia, karena mereka tahu, selama ini Lamia selalu begitu lemah di hadapan Aeron.
“Benar. Pasukannyalah yang pertama-tama harus kita lewati,” kata Misty angkat suara.
“Haruskah...” Lamia masih mendesah putus asa. Mick masih menatap gadis itu tanpa ekspresi seakan menantikan suatu reaksi tak terduga darinya.
“Apa ada masalah dengan hal itu?” tanya Kovf kemudian.
Lamia tersentak oleh pertanyaan Kovf, lalu menggeleng keras.
“Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Lamia cepat-cepat. Namun di sudut matanya, Lamia melihat Lao Fen menghela nafas sambil menggeleng pelan, seakan pria itu bisa membaca pikirannya.
Ia memang bisa memaca pikiranku, pikir Lamia segera dan buru-buru membuang bayangan Aeron yang berputar-putar di benaknya, kawatir Lao Fen akan menceritakannya pada Kovf.
“Aku kebetulan cukup mengenal Komandan Aeron Kato dan teknik-teknik pertempurannya. Kurasa itu salah satu keuntungan kita. Mengingat aku sendiri berasal dari pasukan antariksa, aku juga tahu persis bagaimana pola serangan mereka. Mungkin kita... bisa... melewati mereka,” kata Lamia yang benar-benar terdengar tidak meyakinkan.
Mata Lamia mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak ingin melawan Aeron. Tapi apa yang harus ia lakukan.
Tampaknya kegelisahan Lamia dirasakan oleh Mick. Pemuda itu akhirnya memilih menyelinap pergi. Entah kenapa ia merasa marah pada Lamia. Tapi ternyata Misty menyadarinya lalu memanggilnya.
“Mick, kau mau kemana?” tanya Misty.
Sejenak Mick mematung. Tapi akhirnya ia kembali berjalan pergi.
“Maaf, aku harus ke toilet,” jawab Mick seadaanya. Namun Mick tetap tak kembali sampai pertemuan berakhir dan membuat Lamia merasa bersalah.
...***...
Mick berdiri di balkon penginapan – bahkan pandai besi di Borealis bisa membuat balkon di rumah jamur mereka! – sembari melihat pemandangan sungai yang begitu jernih di bawah sana. Angin dingin menerpa wajah Mick membuat rambut putih keperakannya tersibak. Meski tak segelisah Lamia, Mick sebenarnya cukup gugup harus melawan temannya sendiri, Aeron.
Selain karena Aeron sangat tangguh, pria itu juga sahabatnya sejak kecil. Meski terkesan tak akur, namun dalam banyak hal Aeron dan Mick selalu sepaham. Beberapa saat yang lalu, Aeron sendiri yang menghubunginya dan mengatakan bahwa pasukan antariksa Martian akan menyerang mereka di bawah pimpinannya.
“Para Tetua memberi perintah langsung padaku, Mick. Kau tahu aku tak bisa menolaknya. Aku harus melindungi Ratu,” kata Aeron melalui sambungan komunikasi pada Mick beberapa hari yang lalu.
Sedikitpun Mick tidak terkejut mendengar kabar itu. Ia sudah memperkirakan hal itu sebelumnya.
“Aku mengerti. Tapi kurasa Lamia akan sedikit terguncang,” jawab Mick kepada Aeron melalui sambungan pribadi tersebut.