Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Perbatasan



Pagi datang dengan cepat. Semalaman Lamia menghabiskan waktunya di balkon luar kamarnya. Ia membawa beberapa buku menarik dari perpustakaan untuk dibacanya hingga matahari terbit. Lamia sudah selesai mandi dan bersiap-siap pergi saat Mick masih terlelap di tempat tidur berkelambu ungu.


“Mick, aku pergi,” ujar Lamia berpamitan. Mick hanya mengerang pelan menanggapi.


Lamia enggan membangunkan Mick. Gadis itu kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan sahabatnya yang masih tidur nyenyak. Sepertinya sudah berhari-hari Mick tidak tidur dengan cukup.


Perjalanan Lamia membawa gadis itu ke barak Prajurit Cydonia. Misty menyambut Lamia dengan gembira, namun para prajuritnya kelihatan tertekan saat melihat Lamia muncul.


“Lamia, lama tak melihatmu. Katanya kemarin kau berlatih sendirian di sini. Kenapa tak mencariku? Aku bisa menemanimu,” ucap Misty menyapa Lamia.


“Aku hanya ingin menggerakkan tubuhku. Aku sudah terlalu lama istirahat. Hari ini aku juga berencana untuk ikut ke perbatasan bersamamu,” ujar Lamia.


Mata Misty membulat antusias. “Begitukah? Senang sekali kau mau ikut membasmi gaian. Kami bisa belajar banyak dari ahlinya,” tukas Misty riang.


Lamia tersenyum kecil. “Senang bisa membantu,” ucapnya.


“Kalau begitu kita berangkat sekarang,” kata Misty. Ia lalu memberi komando pada prajuritnya untuk bergerak.


Tak lebih dari satu kompi pasukan berangkat bersama Lamia dan Misty. Mereka mengitari kak Elysium Mons lantas berpencar menjadi dua tim. Misty sengaja membawa Lamia dalam timnya untuk sekaligus memberi gambaran area mereka. Tim lainnya yang bergerak ke sisi barat dipimpin oleh seorang pemuda bertubuh tinggi yang merupakan orang kepercayaan Misty.


“Ngomong-ngomong, aku sudah dengar tentang pembicaraanmu dengan Kofv kemarin, Lamia,” kata Misty tiba-tiba.


“Kabar cepat beredar ya di sini,” celetuk Lamia sambil tersenyum simpul.


“Bukan begitu. Hanya saja, karena aku bertanggung jawab untuk masalah keamanan dan peperangan, Kofv meminta saranku tentang idemu,” jelas Misty.


Lamia mengangkat kedua alisnya karena terkejut. “Kofv meminta saranmu? Apa itu artinya dia mempertimbangkan rencanaku?”


Misti tertawa kecil menanggapi.  “Kofv memang seperti itu. Dia lumayan temperamen kalau sudah menyangkut rakyatnya. Padahal sebenarnya dia mungkin tertarik.”


Lamia benar-benar tidak memahami Kofv. Apa dia orang yang keras di luar tapi lembut di dalam? Membayangkannya saja membuat Lamia bergidik.


“Aku bilang pada Kofv agar mengadakan pertemuan bersama tujuh dewan untuk mendiskusikan rencanamu. Setidaknya kalau banyak orang yang terlibat, kita bisa mengambil suara mayoritas. Sebenarnya aku juga penasaran dengan rencanamu,” lanjut Misty sambil mengedip ke arah Lamia.


“Ternyata masih ada yang mendukungku di sini selain Lao Fen,” komentar Lamia tersenyum.


“Tentu saja. Kupikir sebagai sesama prajurit, aku bisa belajar banyak dari pengalamanmu, Lamia,” ujar Misty.


“Aku tidak sehebat itu, Mist,” balas Lamia mendengus.


“Wah, karena kau memanggilku begitu, bolehkah aku juga memanggilmu Mia?”


Lamia mengangguk kecil. “Tentu saja,” jawab Lamia.


Lamia memang sangat selektif akan siapa saja yang dekat dengannya. Tapi sejak awal berada di Cydonia, Lamia ternyata cocok dengan Misty. Mungkin karena latar belakang militer mereka yang sama.


“Kita sudah sampai,” kata Misty.


Rombongan mereka kini berdiri di sebuah tebing curam. Di hadapan mereka, tanah kering penuh retakan membentang luas. Di tengah area kosong tersebutlah Lamia menyaksikan mimpi buruk yang sebenarnya.


Puluhan, bahkan mungkin ratusan gaian berjalan gontai tanpa arah. Mereka tidak buas, dan hanya bergerak tanpa tujuan. Wajah dan tubuh mereka penuh darah dan compang-camping.


“Kenapa ada gaian sebanyak ini di sini?” tanya Lamia, lebih kepada dirinya sendiri.


“Awalnya tidak sebanyak ini. Tapi mereka terus berdatangan dari utara, seolah memang tujuan mereka kesini. Padahal di sini tidak ada apa-apa selain tanah kosong yang gersang,” jelas Misty.


“Kupikir menurutku, mereka tidak mencari apa-apa di sini. Gaian-gaian ini sengaja ditempatkan di sini. Sepertinya tempat ini menjadi semacam lemari penyimpanan koleksi gaian,” gumam Lamia sambil masih merangkai pikirannya.


“Apa maksudmu, Mia?” tanya Misty bingung.


“Balder sudah membuat boneka gaian sebanyak ini untuk dia kendalikan, Mist. Dan dia tidak berniat untuk menyebarkan wabah Tetrodoksin. Dia semata-mata membuat pasukan gaian untuk dirinya sendiri,” terang Lamia.


“Dia membuat pasukan sebanyak ini? Untuk apa?” tanya Misty tak kalah terkejut.


“Satu-satunya cara mengetahuinya adalah dengan bertanya langsung padanya. Tapi masalah yang lebih besar adalah, sampai seberapa banyak gaian yang mampu dia kuasai? Seberapa besar kekuatan Balder hingga bisa membuat pasukan sebanyak ini.”


Misty menarik napas panjang. Ia tampak turut frustasi setelah mendengar penjelasan Lamia.


“Kurasa, sekarang aku mengerti kenapa kau sangat bernafsu menghancurkan kerajaan, Mia. Apapun rencanamu itu, aku akan menyetujuinya,” ungkap Misty yang masih menatap kerumunan gaian di bawah mereka.


Tiba-tiba salah satu gaian yang berdiri paling dekat dengan mereka menyadari kehadiran rombongan Lamia. Gaian itu lantas mulai mengganas dan mencakar-cakar dinding bukit. Misty segera mencabut pedang besarnya, bersiap menyerbu ke arah gaian itu.


“Tunggu, Mist, jangan bunuh mereka,” cegah Lamia.


“Apa maksudmu, Mia? Satu gaian itu akan mempengaruhi yang lain. Nantinya mereka akan berubah menjadi gelombang serangan besar yang mencoba mendatangi kita,” ujar Misty.


“Kalau kita membunuh mereka sembarangan, Balder mungkin akan tahu dan membuat gaian-gaian baru. Itu hanya akan menambah jumlah korban manusia.”


Sontak, Misty segera menurunkan pedang besarnya. “Benar juga yang kau bilang,” ucapnya.


“Sudah berapa banyak gaian yang kalian bunuh selama ini?” tanya Lamia.


“Setidaknya kami sudah menghancurkan ratusan gaian di bawah sini setiap hari,” ucap Misty dengan hati mencelos.


Lamia mengangguk paham. “Tak apa. Mulai sekarang kita biarkan saja dulu gaian-gaian ini. Kecuali mereka sudah terlalu dekat dengan perbatasan,” perintah Lamia.


“Kalian dengar itu? Kirimkan pesan yang sama pada regu di Barat!” seru Misty memerintah prajuritnya.


“Siap, Komandan!” salah satu prajurit muda berambut pirang berseru tegas. Ia lalu menghormat singkat kemudian berlari pergi, melaksanakan perintah Misty.


“Tempatkan regu penjaga di setiap titik perbatasan. Buat saja dua orang dalam setiap gilirannya. Mereka harus berjaga 24 jam secara bergantian. Lalu karena tidak ada sistem komunikasi di sini, gunakan sandi asap untuk memberitahukan keadaan darurat pada markas pusat,” kata Lamia melanjutkan perintahnya.


“Lalu, apakah kalian bisa menggunakan busur?” lanjut Lamia bertanya.


“Kami punya prajurit pemanah, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak,” jawab Misty.


“Menggunakan pedang besar memang menguntungkan bila kalian melawan sesama manusia. Tapi untuk melawan gaian, kita sebaiknya membuat jarak sejauh mungkin dengan mereka. Karena mereka bergerak dengan rangsangan stimulus tubuh manusia yang masih hidup. Semakin dekat jarak kita dengan mereka, maka akan menarik lebih banyak gaian,” terang Lamia sembari menembak gaian yang mencakari punggung bukit, semata-mata agar ia tidak mempengaruhi gaian yang lainnya.


“Pergi cari Ament, dan beri tahu dia untuk membuat busur dan anak panah sebanyak mungkin!” perintah Misty.


“Siap, Komandan!” salah seorang prajuritnya menghormat lantas melesat pergi melaksanan perintah Misty.


“Terimakasih, Mia. Bantuanmu sangat berarti,” ucap Misty kemudian.


“Bukan apa-apa, Mist. Ini memang pekerjaanku,” balas Lamia pendek. 


...***...