Love Us My Husband

Love Us My Husband
Nasi liwet ikan teri



..........


"Surprise......"Buket bunga membentang dengan indahnya di hadapan Dara. ditambah dengan senyum lebar yang menghiasi wajah tampan Dion membuat bunga itu lebih berkali - kali lipat keindahannya. belum lagi sebelah tangan lelaki itu, menenteng Tote bag yang sangat besar entah apa Isinya Dara tidak tahu


Dara hanya tersenyum canggung mendapati hal seperi ini. wanita itu menghela anak rambutnya kesamping karena bingung harus bersikap seperti apa


"Kamu udah datang? kok aku gak denger apa - apa?"tanya Dara sungkan,"Ayo masuk," Iapun menggeser badannya agar Dion bisa masuk kedalam rumah


Dion mengerang miris dalam hati, sebab Dara belum juga menerima bunga pemberiannya. Laki - laki itu masuk terlebih dahulu, lalu di iringi Dara dibelakangnya..


Dion meletakan Tote bag dan bunga yang Ia bawa ke atas meja, lalu melepas kaus kaki dan melepas satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuhnya


Saat Dara ingin bicara, tiba - tiba Dion menariknya dan membawa wanita itu kedalam dekapannya. Dara berontak, lagi - lagi Dion menahan tubuhnya. hingga Dara hanya bisa terpaku merasakan Dada bidang sang suami melekat di kupingnya. dapat Ia dengar suara jantung lelaki itu mendentum dengan kuat, seolah tengah meronta ingin keluar dari tempatnya


"Mas mau apa? jangan kayak gini"


"Mas kangen kamu!! please biarkan seperti ini sebentar.."pinta Dion memelas, sembari memejamkan mata dan menghujani pucuk kepala Dara dengan kecupan


Mendengar ucapan Dion, Dara pun akhirnya merelakan tubuhnya untuk si peluk. lagipula iapun sangat rindu kepada lelaki itu, sekali - kali menekan ego tak masalah untuknya


Merasa terlalu lama, Dion pun merenggangkan tubuhnya dari sang Istri, hingga Dara bisa bernafas lega..


"Sayangku wangi banget," lagi - lagi Dara tersipu mendengar ucapan Dion untuknya


"Ckk Gombal !! mau mandi atau makan dulu?"tanya Dara dengan ramah


Dion menggeleng "kenyang, mandi aja.. oh ya sayang, ini kesukaan anak - anak.. Mas beli ini dulu sebelum terbang ke sini,,"Dion menyerahkan Tote bag yang berisi tiga kotak pizza berukuran jumbo dan berbagai jenis burger kesukaan anak - anaknya..


Dara membuka isinya satu persatu, membuat wanita itu ternganga melihat banyak sekali yang Dion belikan


"Mas serius beli sebanyak ini? ini mah, buat seminggu juga gak habis - habis,"omelnya sembari membawa makanan itu ke area tempatnya berjualan lalu memasukannya ke dalam kulkas minuman yang ada di pojok dekat rak roti


"Masa sih?? oh ya, mas juga punya sesuatu buat kamu.."pungkasnya lalu meraih sesuatu dari dalam saku. Dion menyerahkannya kepada Dara


"Ini apa?"


"Bukalah, Mas harap kamu menyukainya..."


Dara membuka kotak itu, Ia terkesima pada sebuah kalung berlian berbentuk bulan sabit itu. sungguh sangat cantik juga elegan, dengan ukuran yg begitu simple tak terlalu besar namun dibandrol harga yang bombastis


"Ini cantik sekali....."cicit Dara menimangnya penuh kehati - hatian


Dion meraih dari tangan Dara, tanpa embel - embel dan persetujuan dari Istrinya, Ia pasangan kalung itu di leher Dara


"Cantik sekali seperti orangnya, jangan dilepas! mas sangat suka melihatnya,"pinta Dion memohon


.


.


.


Dion merebahkan tubuhnya yang lelah itu didepan televisi yang beralaskan kasur berbulu


Perutnya yang kenyang dan rasa rindu yang telah terobati membuat lelaki itu bisa tidur dengan nyenyak


begitupun dengan Dara. Wanita itu telah kembali kedalam kamarnya setelah selesai menyerahkan selimut dan bantal bersih untuk digunakan suaminya tidur malam ini


Tak lupa bunga yang diberikan Dion telah tersimpan rapi dalam lemari. Wanita itu takut jikalau Bira tau, sahabatnya itu akan meledeknya tanpa ampun


...


Suara peralatan masak saling beradu dari arah dapur. Aroma masakan yang menggoda selera menguar memenuhi seisi ruangan, sehingga Dion yang masih tertidur pulas pun terbangun


Dion berguling kesamping. Ia menggeliatkan pinggangnya yang amat kaku itu"Ya tuhan pinggangku rasanya mau encok...."Lalu beranjak duduk, menghapus sesuatu di area matanya


"Jam berapa sekarang.. Wangi banget, lagi.. sepertinya Itu Istriku? susul ah"gumam Dion dengan senyum nakal. tak lupa ke kamar mandi dulu untuk membasah - basahi wajahnya dengan air agar tidak terlihat kusut akibat muka bantalnya


Dion berjalan pelan menelusuri area dapur. Terlihat lengan Dara tengah mengayun wajan yang berisikan ayam goreng.


Dara melenggang ke meja di sampingnya lalu membuka Magicom dan mengaduk Nasi liwet ikan teri yang hampir matang.


Aroma masakan yang dibuatnya mengusik cacing yang masih tertidur di perut Dion. hingga tak berapa lama tiba - tiba perutnya terasa lapar, dan Cacing itu berdemo ria minta diberikan hak-nya


"Lama banget gak buat ini. kalau gak salah sudah bertahun - tahun yang lalu deh... mereka pasti suka.. eemm wangi banget!! uhh ya ampun cobain dikit ah.. ya ampun enak banget!! tinggal bikin sambel,tapi sambal apa ya yang cocok? ahh sambal goreng hati campur pete mantap banget pasti... bentar liat kulkas dulu, semoga masih cukup bahan - bahannya.. Yee ada!! kangkung juga ada, tumis juga deh.. bikin jus buah cocok nihh.. ada berapa orang ya? satu, dua, tiga, empat, lima .."Dara berseru heboh sendiri, tanpa menyadari sepasang mata tengah memperhatikan tingkah lakunya sedari tadi


"Gemes banget istri gue...."


Sedangkan Bira sahabat karib Dara jangan ditanya dimana keberadaanya, sebab wanita itu pantang bangun pagi bila tidak ada keperluan yang mendesak


Setelah puas mengamati pergerakan wanitanya, Iapun mendekat lalu memeluk Dara dari belakang


"Astaghfirullah," pekik Dara hingga reflek menyikut perut Dion


"Awwhh... ssss.. sayang sadis banget ihh" rengek Dion membelai tulang Dadanya yang terhantam keras oleh siku sang Istri


"Ngagetin!! lagian kenapa sih tiba - tiba meluk begitu? kurang kerjaan banget. untung cuma kena tangan aku, coba kalo tiba - tiba aku ambil pisau gimana??" omel Dara dengan nafas naik turun akibat terkejut. jujur Ia sebal dengan tingkah Dion yang suka tiba - tiba, lalu wanita itu melanjutkan acara masak - masaknya tanpa menghiraukan Dion yang lebay seolah sekarat di belakangnya


.


.


.


Kabar keinginan Dara untuk pulang ke kampung halamannya telah sampai ke telinga Dion. lelaki itupun tidak menyia - nyiakan kesempatan yang tuhan berikan kepada nya untuk memperbaiki rajutan pernikahannya dengan sang Istri


Dan satu hal yang Dara tidak tahu, bahwa makam anak keduanya telah dipindahkan ke tempat yang layak bukan lagi makam umum bagi orang - orang yang tidak punya identitas


.


.


.


"Ra, ikut. Lo liat gak dia kayak mau makan orang. lagian lo tau gue cuma sendiri, gimana kalau dia apa - apain gue....hiihhhhh,," Bira bergidik dan merengek karena membayangkan hal - hal ngeri. Ia takut di apa - apai oleh Asisten pribadi Dion itu. Iapun tak henti - hentinya menahan lengan Dara, membuat Ibu dengan dua orang anak itu pusing mendengar rengekannya


"Setan ni cewe,," gerutu Arga tak terima melihat tatapan Bira seolah menganggapnya seorang lelaki bajingan


Dion yang tak tahan mendengar rengekan sahabat istrinya itu akhirnya membuka suara


"Jangan seperti koala yang selalu ingin menempel pada pohon. tidak bisakah bersikap dewasa barang sehari saja. Sekali lagi ku dengar kau merengek seperti itu, ku suruh dia," menunjuk Arga


"melempar kau ke laut.."


Mendengar ancaman suami sahabatnya, Bira pun reflek melepas pegangannya pada Dara. nyali Bira pun menyusut seperti kerupuk goreng yang tercelup kedalam air.


"Iya!!! janji jemput gue.. kalau gak"Bira menjeda Ucapannya


"Gue sumpahi lo gak bisa balikan ama sahabat gue,," ancamnya dengan mata melotot, hingga Dion yang mendengarnya mengeraskan genggaman tangan seperti ingin menonjok wajah gadis itu


...................