Love Us My Husband

Love Us My Husband
Menyusul



.........


Zain mendekati laki-laki yg mengenakan topi disamping rak makanan. sedari tadi matanya juga ikut memindai karena beberapa kali mendapati tingkah mencurigakan orang itu.


"Paman ngikutin kita?" tanya nya santai.kebetulan Dara dan adiknya sedang ada di pojokan.


Laki-laki bertopi itu itu berdehem pelan lalu tersenyum ramah agar Zain tidak curiga."Kamu jangan gr bocah! paman mau ambil ini." alasannya sembari memngambil dua bungkus kacang-kacangan.


Zain memicing, kedua alisnya berkedut hampir menyatu. Instingnya mengatakan bahwa ada niat terselubung dari laki-laki didepannya ini.


Arga menepuk jidat melihat ulah anak buah nya yang teledor."Ya tuhan orang itu, sama anak kecil saja hampir ketahuan."gerutu Arga dari kejauhan


Sedangkan Dara yg tidak mendapati Zain disamping nya menjadi panik, dia berseru pelan memanggil sang anak dan Bira.


"Bi, Zain mana?" Ujarnya panik. menggandeng lengan Zelin agar tidak terpisah.


Bira menoleh ke sekeliling lalu berjalan perlahan melihat ke sudut dimana terdapat Zain yg tengah berdiri tegak memperhatikan laki-laki tadi menjauh.


Bira menghembuskan nafas lega karena keponakannya tidak kemana-mana.


"Zain sini!" seru Bira seraya melambaikan tangan nya.


Bocah itu berbalik lalu mendekati tante nya. senyum mengembang diwajah ia perlihatkan agar wanita hampir dewasa itu tidak curiga.


"Jangan jauh-jauh dari tante ya!! kasian Mimi mu cariin tadi." pungkas Bira mengusap rambut Zain.


"Maaf tante!" sahutnya pelan.


"Ya sudah ikut tante."Bira menggiring bahu Zain hingga sampai ke tempat dimana keberadaan wanita yang berstatus ibunya bocah laki-laki itu.


........


Sementara di kampung tempat tinggal Dara.


Tidak henti-hentinya Dion berjalan maju mundur dengan satu jari ia letakan di mulut, bahkan kuku nya juga mendaptkan imbas karena laki-laki itu terus menggigit nya. jika saja ia berjalan kaki, mungkin saja sudah menghabiskan berkilo-kilo perjalanan.


"Apa sebaiknya kita susul saja mereka, Tuan?" Ujar sang pilot mencoba memberikan solusi. Jika saja tuan nya itu mau diam, dia juga tidak akan ikut pusing. dimana sisi Arogan nya selama ini? sehingga saat ini Tuannya justru bersikap konyol bahkan terlihat aneh.


Dion berhenti sebentar. menoleh sekilas lalu melihat jam di pergelangan tangannya."Kita tunggu saja."sahutnya Datar, kembali berjalan di tempat.


Awan hitam yang sempat menaungi langit pagi tadi berganti dengan terik nya matahari di siang hari.


Apalagi disaat jam seperti ini, panasnya Matahari mampu membakar kulit siapa saja yang ada diluar ruangan.


Laki-laki seperti Dion yang terbiasa di ruangan ber-AC tentu saja terkejut karena untuk pertama kalinya ia berlama-lama di luar ruangan dan merasakan secara langsung seperti apa berjemur itu.


Dion menyapu peluh yang membasahi dahi serta kemeja yang di pakainya.


"Disini panas sekali. apa selama ini kalian betah tinggal disini Cintaku?"gumam Dion.


.........


Caffe (terletak dipusat perbelanjaan kota)


.


.


Dara tersedak minuman sehingga air yang ada didalam mulutnya sedikit tersembur.


Buru-buru wanita itu mengeluarkan tisu yang sering dibawa nya jika sedang berada di luar.


"Mimi gak apa?"tanya si kembar mendekati ibu mereka, dengan Zelin memijat tengkuk ibunya dan Zain membantu menggosokan mulut Dara.


Dara terharu dengan perhatian kedua buah hati nya. Andai saja Zayn masih hidup mungkin juga akan bersikap sama seperti kedua saudaranya.


Bira sungguh terharu dengan perhatian yang diberikan kedua bocah itu kepada ibu mereka.


Dia jadi ingin menikah dan berniat memiliki anak seperti kedua anak Dara."Kenapa kalian sangat menggemaskan bocah nakal."Bira menggapit pipi Zelin dan Zain bergantian sehingga membuat si kembar itu mengaduh kesakitan.


Dara melotot melihat kedua anaknya mendapatkan KDRT meskipun itu hanya


candaan tapi rasanya pasti sakit.


"Bira!!" pekik Dara tidak terima buah hatinya kesakitan.


Bira nyengir kuda mendapatkan tatapan maut oleh wanita beranak tiga itu. buru-buru ia melepaskan tangannya dari pipi gembul kedua anak Dara.


"I'm sorry!! habisnya mereka menggemaskan." ucapnya menangkupkan kedua tangan dengan wajah yang menyebalkan.


.


.


Asap mengepul keluar dari ubun-ubun lelaki yang sedari tadi memantau mereka.


kepalan tangannya menguat hingga buku-bukunya tampak memutih. sekali lagi Ia dibuat geram oleh tingkah wanita bar-bar bernama Bira itu.


"Kurang ajar memang gadis itu! berani sekali dia menyakiti anak tuan kami. Kenapa juga Nyonya harus berteman dengan wanita jadi-jadian seperti itu? lihatlah tingkahnya? oh gayanya juga!" ucap Arga ngedumel di sebuah kursi yang ada di tengah ruangan, hanya saja bersekat dinding kaca sebagai pemisah.


Teringat jelas dalam ingatannya bagaimana dulu saat mencoba mengorek informasi dari Bira.


Bukannya jawaban? justru Bira menghadiahinya siraman air bekas ngepel lantai sehingga tubuhnya basah kuyup, dengan air kotor berpasir menempel di badannya. Alasan yang diberi wanita itu sangat simple hanya tergelincir dan tidak mampu di cegah ucapnya. bukan main bukan betapa sopannya dia sebagai perempuan?


........


Hari mulai petang.


Dion tersenyum manis menatap layar ponselnya. Arga mengarahkan kamera ponsel ke arah Dara beserta kedua anaknya.


Ponselnya ia dirikan dengan sebuah gelas mengapit sebagai peyangga. Jadi, tidak akan terlihat jika laki-laki itu sedang merekam kegiatan Dara.


Perubahan Dara dalam dirinya semakin membuat Dion terhipnotis. Apalagi wajah istri nya yang semakin cantik itu membuat dada Dion semakin bergetar. perasaannya semakin menggebu ingin segera bertemu


"Sayangku kamu cantik sekali!" puji Dion terpesona pada bibir mungil Dara dengan leher jenjang yang tampak sexy itu.


"Anakku sayang kalian sudah sebesar itu tapi pipi tidak pernah menyaksikan tumbuh kembang kalian."Dion mengusap layar ponselnya. Wajahnya datar tetapi hatinya menangis, melihat wajah anaknya yang begitu mirip dengannya.


Dion mengadahkan kepala nya ke atas demi menghalau air mata yang mendesak keluar.


"Mas tau Ra! akan sulit mendapatkan maaf mu. tapi mas janji akan berjuang mendapatkan kalian kembali, apapun cara nya. Putra-putri ku jangan ikut membenci pipi ya!! karena pipi sudah hancur bersamaan perginya kalian dan saudaramu." batin Dion.


Dion menghembuskan nafas nya, lalu teringat sesuatu.


"Apakah ada tanda-tanda mereka akan pulang?" tanya nya dari seberang telepon.


"Masih belum di ketahui tuan! bahkan istri anda belum membahasnya dengan wanita itu."sahut Arga dengan menekan earphone yang menempel di telinga kiri nya.


"Hmm. kalau begitu kami akan menyusul kesana, kabari terus perkembangannya."


"Baik tuan!" vc itupun di matikan.


Tidak berapa lama. setelah urusan sementara selesai dengan penduduk, Dion beserta sang pilot mulai terbang menuju dimana keberadaan anak istrinya.


Tidak butuh waktu lama, bahkan hanya memakan waktu lima belas menitan saja mereka telah sampai di letak keberadaan Dara saat ini.


Mereka sedikit kebingungan dimana akan memarkirkan helikopter itu. lalu terlintas sebuah ide dalam benak Dion." Turunkan tangga darurat, biar saya turun menggunakan itu saja."pinta nya mutlak.


..... ...