Love Us My Husband

Love Us My Husband
Melokonis



.........


Dara berucap syukur saat ada yang memanggilnya


Akhirnya untuk sementara ia terbebas dari pertanyaan yang bagaimana cara menjelaskannya. dan yang membingungkan adalah, bagaimana kedua anaknya tiba-tiba menanyakan hal itu.


"Untuk sementara aman." batin nya.


Tanpa membuang waktu, wanita beranak tiga itu pun bergegas turun ke bawah.


Saat berhasil menuruni tangga, Dara terkejut karena bertepatan saat itu pintu kamar mandi terbuka.


"Astaghfirullah."gumamnya sembari menggosok dada


Dion hanya cengir - cengir di iringi senyum mengembang, membuat wanita yang berstatuskan wanita tercinta dan ibu dari anak-anaknya itu menggerutu sebal.


.


.


Setelah urusan transaksi jual beli selesai, Dara berniat kembali ke atas. Namun baru akan menaiki tangga, Dion menahan tangan kanan nya.


"Sayang." seru Dion masam


Dara enggan menyahut, bahkan tidak terpengaruh dengan keberadaan suaminya itu.


"Sayang, dimana anak-anak?"tanya nya.


Dion berencana mengajak anaknya jalan-jalan. dan dia berharap Dara mengizinkannya


"Di atas." jawab Dara datar


"Aku boleh kan main sama mereka?" pinta Dion lagi


"Gak." sahut Dara spontan


"Please, kasih aku kesempatan buat bahagia-in mereka."


"Apa sihh? tanpa anda anak-anak saya sudah bahagia. lagipula saya sudah memenuhi kebutuhan mereka, jadi tidak membutuhkan belas kasih dari orang lain lagi


Dara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dion. bahkan saking memaksa membuat pergelangan tangannya memerah.


"Aww,, lepasin gak!! sakit tau."


"Dah tau sakit, makannya jangan ditarik-tarik gitu." Dion melonggarkan sedikit pegangannya sembari menormalkan jantung yang sempat pedih oleh kata-kata sang istri yang berhasil melukainya


"Aduhh tolong lepasin, jadi orang jangan suka maksa dong."


"Aku mau ketemu anak-anak. atau jangan-jangan kamu sengaja larang aku ketemu mereka supaya kita bebas berduaan? Oh kalo gitu ikut aku, kita cari tempat penginapan buat bikin adik untuk mereka."ucapnya tengil


"Ya Tuhanku." pekik Dara tidak habis pikir. dia mencubit pinggang Dion dengan kencang, dengan menggunakan sebelah tangannya yang nganggur.


Enak sekali mau membuatkan adik untuk Zain dan Zelin. Hanya dengan mendengarnya saja membuat urat tulang Dara terasa dingin juga ngilu. dan apa itu? Dion selalu saja menahan tangan nya sehingga membuat kontak fisik diantara mereka selalu terjadi.


"Aww.. aww sakit sayang."


Perseteruaan itu terdengar sampai di telinga si kembar dan Bira. mereka bertiga bergegas turun takut saja terjadi adegan kekerasan


"Mimi!"


"Dara!!" seru Bira dan kembar bersamaan. membuat Dara menghembuskan nafas gusar


Dion tetap di posisi nya tanpa melepaskan pegangan dari sang istri.


Zain dan Zelin langsung melintas melewati Bira. kedua bocah itu segera memeluk sang ibu dan mencoba menyingkirkan Dion dari ibunya.


"Kenapa paman memegang tangan Mimi Zain?" tanya Zain melotot, melepas paksa tangan ayahnya.


Dion buru-buru melepaskan tautannya. Kedua bola matanya memerah melihat perpaduan wajah kedua anaknya dari dekat, bahkan sangat dekat sekali.


"Mimi gak papa kan? gak ada yang sakit kan? sini Zain liat." tanya Zain sedih sembari menggosok tangan sang ibu


"Ayo kak, kita bawa mimi naik." ajak sang adik dengan merdu


Bira hanya jadi penonton tanpa tau harus berbuat apa. lagipula dia rasa tidak berhak terlalu mencampiri urusan sang sahabat, apalagi ini tentang rumah tangga yang sudah tidak sehat dari bertahun-tahun lalu.


Kedua bocah itu menuntun ibunya agar segera naik.


Namun...


"Zain, Zelin. Ini pipi Sayang, ayah kalian." ucap Dion menghentikan langkah mereka yang akan pergi itu


Dara membuang muka, menghalau air mata yang merombak keluar. sungguh dia tidak sanggup menyaksikan situasi mengharukan seperti ini.


Sejujurnya dari hati yang paling dalam. Dara belum siap kalau Dion memberitahukan kebenaran nya secepat ini. terbesit rasa kecewa karena Dion tidak punya rasa sabar, selalu saja melakukan hal dengan terburu-buru


"Please jangan nangis!! jangan nangis.." batin Bira dalam hati, memerintahkan kepada dirinya sendiri untuk tetap Strong menyaksikan haru biru antara Ayah dan anak itu. berulang kali dia mengedipkan mata agar tidak terbawa suasana


"Maaf pipi, aku sama adik tau kalau pipi ayah kami. tapi kita gak mau buat mimi sedih lagi, kita tau ternyata pipi yang sudah buat mimi zain sedih, makannya mimi suka duduk di balkon terus. Maafin Zain udah nakal ya pipi." batin Zain


"Pipi siapa? Maaf paman! tapi kita tidak kenal dengan paman."sahut Zain datar


"Ia Zelin juga, kita kan cuma punya mimi." pungkas Zelin lagi


"Benarkan tante?" tanya Zelin kepada Bira, bermaksud meminta pembelaan.


"Hahh? ehh ia. (Duh ngapa sih nih bocah pake nanyain gue. tadi mereka sendiri yang bilang kalo ayahnya itu pipi mereka. Ternyata nih bocah berdua pandai ekting juga)." Bira membatin


"Sini yuuu sama Pipi.. Pipi kangen loh sama kalian." bujuk Dion sembari membentangkan tangannya lebar-lebar dan mengabaikan rasa malu di hadapan kedua wanita hampir dewasa itu.


"Gak mau. Paman itu orang jahat, makanya ganggu Mimi terus dari kemarin. Ayoo kak cepat bawa mimi, Ayo tante bantu Zelin pegang mimi." ucap Zelin begitu menghawatirkan ibunya. Hingga mereka berlalu meninggalkan Dion dengan wajah yang begitu memperihatinkan.


Dara hanya mendengarkan percakapan antara ayah dan anak itu, tanpa niatan menyela. biarlah tunggu mereka sampai di atas, baru ia akan meluruskan hal ini agar anak-anaknya tidak memumpuk kebencian sepertinya. Cukup ia saja yang menolak Dion, anaknya jangan.


........


Setelah sampai di atas. Dara mendudukan kedua bocah itu di kasur


Dara mengusap pundak kedua anaknya dengan sayang, Menyalurkan cinta kasih yang ia punya


"Mimi mau tanya, tapi Zain sama Zelin harus jujur ya. Mau gak jujur sama Mimi?" ucap Dara


Kedua bocah itu mengangguk."Ia mimi, kita janji."


"Kalian sudah tahu atau belum kalau paman yang tadi ayah kalian? kan sebelumnya kalian ada nanya itu Ayah alias pipi kalian."


"Maaf Mimi. Zain sama adik udah tau, tapi kita gak mau buat mimi sedih lagi." Zain menunduk menyembunyikan mata berkaca nya.


"Ya Allah anakku sayang." Dara langsung memeluk kedua anaknya


"Sayang dengarkan Mimi ya!! dia Pipi kalian loh, jadi gak boleh ngomong kaya tadi. Mimi gak pernah loh ngajarin anak-anak mimi berbuat nakal, Minta maaf sama Pipi ya. Zain sama Zelin gak mau kan jadi anak durhaka? Anak Mimi tau gak rasanya tidak dihargai? nah begitu pula perasaan Pipi. Ayo sayang temui Pipi, minta maaf padanya." Pinta Dara.


Jujur dia tidak tega setelah mendengar sendiri penolakan dari mulut kedua anaknya untuk sang ayah.


..........


...Mau seburuk apapun Ayah atau Ibu kita, tetaplah mereka Orang Tua yang harus kita jaga dan kasihi...


...kita tidak berhak menghakimi bahkan membencinya. Karena tugas kita sebagai anak harus menghormatinya, karena mereka layak mendapatkannya...


...Jangan pernah berfikir untuk mengabaikan, Cintailah mereka selagi masih bernafas. Karena masa yang paling berharga adalah waktu, dimana bila berlalu kita tidak akan mampu memutarnya kembali....