
............
Amsterdam.
Dua hari kemudian.
Dion mengaktifkan ponselnya setelah empat hari Ia matikan.
Dia mengernyit karena mendapati beberapa notifikasi penarikan dana dari rekening yang Ia berikan kepada Dara.
"Rumah sakit internasional, sebanyak ini??" gumam nya pelan.
Lalu Ia membuka notifikasi satunya. Ia semakin bingung karena pemberitahuan itu dari bank, bahkan jumlahnya lumayan lebih banyak dari yang rumah sakit tadi.
Dion mencari nomor istrinya, Ia ingin menanyanyakan untuk apa Dara menggunakan uang sebanyak itu dalam satu hari pikirnya.
Dion menekan tombol panggil hingga terdengar suara...
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan. silahkan tunggu beberapa saat lagi." ucap Operator yang menjawab panggilan Dion.
Dion menghubungi berulang ulang namun hasilnya tetap sama. Dion mengepalkan tangan karena total tarikan itu senilai ratusan juta.
"Untuk apa uang itu Ra? kamu merampokku." Ujarnya tidak terima.
...*( Dion sinting, ucap Author )*...
Dion menelpon ibunya, menyuruh untuk mendatangi Dara ke Apartemen.Nyonya Diana yang dipintai tolong itu pun segera melaksanakan permintaan anakknya, karena ia juga ingin menjenguk mantu nya yang hamil besar itu.
.
.
Nyonya Diana tiba di Apartemen tempat anaknya tinggal selama beberapa bulan ini. beliau masih belum mengetahui apa yang menimpa Dara.
Nyonya Diana menekan liff untuk membawanya ke unit sang anak, hingga ia tiba dan segera menekan bel.
"ting.. tong. "
"ting.. tong."
"ting.. tong." tetap tidak ada dibukakan hingga beliau menekan sendiri barcode Apartemen itu.
Saat pintunya terbuka, Nyonya Diana kaget melihat Apartemen yang tampak kotor dan berantakan itu.
Beliau semakin masuk kedalam sembari memanggil - manggil Dara, hingga melihat darah kering yang bahkan terkesot kemana - mana.
..........
Sedangkan Dion yang tidak bisa menghubungi Dara. iseng - iseng membuka CCTV ruang tamu waktu terakhir ia meninggalkan istrinya. Ia ingin melihat apa yang Dara lakukan setelah sepeninggalnya pagi itu.
Mata Dion membulat dengan rahang jatuh. tubuhnya gemetaran melihat adegan demi adegan yang tersuguh dilayar ponselnya hingga lututnya melemah dan akhirnya terduduk dilantai karena tdk sanggup menopang berat badannya.
Dion semakin gemetaran, Iapun mempercepat video itu hingga selesai.
"Dara istriku." gumam Dion teringat adegan saat Dara tergelincir dan jatuh lalu mengesotkan tubuhnya mendekati soffa hingga Ia dibawa oleh satpam dan Bira.
Setelah menyaksikan video itu, tanpa membuang waktu Dion segera memesan tiket untuk kembali ke Tanah Air.
...........
Empat tahun berlalu.
Di sebuah perkampungan kecil yang berada di kalimantan tepatnya hulu sungai.
Angin sepoi - sepoi menyapu kulit putihnya. Rambutnya yang panjang hitam pekat itu Ia biarkan tergerai hingga terbawa angin yang berhembus.
Ya dia adalah Dara, DARA NUR SAFIRA. wanita beranak tiga itu tidak bisa menghilangkan kebiasaan saat hamil hingga terbawa sampai sekarang yaitu bersantai di balkon memperhatikan alam sekitar dan memandang langit malam.
Dara memulai hidup barunya dikampung halaman orang lain. Awalnya tidaklah mudah dimana Ia datang dengan dua anak bahkan keadaannya yang masih belum pulih.
Dara beruntung tinggal di kampung itu. penduduk asli menerimanya dengan tangan terbuka tanpa membedakan ras dan suku, bahkan wanita - wanita di daerah itu membantu proses penyembuhan Dara dengan obat - obatan tradisional mereka. Dara sangat terharu, bahkan untuk mengucapkan terima kasih saja rasanya tidak cukup mengingat besar juga jasa mereka untuk nya.
Bira jarang - jarang menemuinya karena jarak mereka terhalang lautan bahkan provinsi jadi Ia tdk bisa sering mengunjungi Dara.
Bira kembali ke tempat asalnya agar Dion tdk mengganggunya dengan mencari informasi tentang Dara.
.
.
Ingatan tentang masa lalu selalu berputar di otaknya bagaikan kaset rusak.
Dara merindukan keluarganya, dia ingin pulang tapi Ia takut.
Dara selalu terbayang kenangannya dengan Dion. tidak dipungkiri Ia masih mencintai suaminya itu karena hanya membenci saja tdk akan cukup menghapus perasaannya.
"Apa aku salah mencintaimu Mas? sehingga kamu selalu memperlakukan aku seenaknya. kamu bahkan tega melempari aku uang setelah bercinta. aku membenci mu Mas Dion! karena perbuatanmu aku kehilangan satu putraku."
"Mimi.." panggil gadis kecilnya, seraya mengucek mata khas bangun tidur. lalu mendekati Dara dan memeluk kaki sang ibu.
Dara terjingkat kaget mendengar suara anaknya. dia menoleh dan segera berlutut mensejajarkan tinggi mereka.
"Zelin mimi kenapa bangun? kamu butuh sesuatu sayang?" Ucapnya kepada anaknya sembari mengelus rambutnya dan menyugarnya kebelakang.
"Zelin mau pipis."
"Pipis !! ya sudah ayo. mimi gendong aja ya." Dara segera mengangkat anaknya takut saja sang anak terkencing di celana.
Dara menuruni tangga rumahnya. ya wc mereka terletak di lantai bawah. didalam rumah itu terdapat warung sembako karena Dara butuh untuk menghidupi kedua anaknya tanpa harus bekerja diluar.
Setelah selesai mereka kembali ke atas. Dara meletakan tubuh bongsor bocah empat tahun itu. dikecupnya dahi si putri dan beralih mengecup dahi sang putra, lalu ikut merebahkan tubuhnya hingga mereka pun terlelap dengan damai.
..........
Jakarta.
Tidak jauh berbeda. Lelaki dengan bahu kokoh itu memandang hiruk piruk kota jakarta dari balkon Apartemen di temani sebatang rokok yang bertengger di sela jarinya.
Kejadian beberapa tahun silam membuat hidupnya tidak berwarna lagi. dia selalu menyendiri bahkan sekarang bertingkah arogan dan dingin.
Tidak ada yang berani mendekatinya, bahkan untuk meyapa saja orang lain harus menyiapkan mental kalau tidak bisa beku atau pulang dalam keadaan menangis.
Dion menjadi seseorang tanpa ekspresi. senyum diwajahnya menghilang setelah mengetahui keadaan istrinya dan kehilangan satu putranya. apalagi istri yang amat dicintainya itu pergi meninggalkannya dengan membawa kedua anaknya.
Dion kembali kedalam kamarnya. dia mengistirahatkan tubuhnya, Dion memandangi foto besar yang berukuran lebar satu meter, dengan panjang dua meter yang terpajang di dinding kamarnya itu. ada dua buah foto yang terpajang disana yaitu gambar istrinya yang sedang hamil dan gambar usg triplets.
Dion menyapu air yg mengalir di ekor matanya itu. dia sangat merindukan istrinya.
Sudah kesana kemari Ia mencari sang istri, bahkan meminta kepolisian untuk membantunya. Namun semesta seakan tidak mendukungnya hingga sampai saat ini dia masih belum menemukan istrinya itu. tentu saja polisi atau dirinya sulit menemukan Dara karena Dara belum mengganti kewargaan bahkan selalu sembunyi di rumahnya. warga kampung pun ikut menyembunyikan informasi Dara dari khalayak luar. Apalagi tempat yang Dara tinggali minim sinyal dan jauh dari dunia serba modern.
"Dimana kamu sayang?kenapa sampai saat ini kamu belum kembali,harus kemana lagi mas mencarimu? bahkan kementrian luar negri sudah mas jambangi tapi masih belum menemukannmu. mas minta maaf sayang, mas tau kamu pasti membenciku. untuk anak - anakku kalian sehatlah diluar sana. tunggu pipi, pipi akan menemukan kalian dan menebus seluruh dosa yang pipi lakukan. pipi menyayangi kalian,pipi tdk akan menyia - nyiakan kalian lagi."
Dion mengambil lingrie yang pernah ia belikan untuk Dara, tapi sayang ia lupa mengeluarkannya sehingga Dara belum sempat memakainya. lalu Dion menuju walk in closet untuk mengambil baju yang sering dipakai istrinya saat hamil. dia membawanya keatas kasur lalu didekap ke pelukan seolah itu adalah istrinya dan memejamkan mata hingga benar - benar tertidur.
..........