
..........
Dara merogoh ponsel di tas nya. dia terperangah, ternyata jam menunjukan pukul dua. itu artinya dua jam lagi suaminya pulang dari kantor. padahal Dara tidak tahu saja, kalau suaminya sudah pulang bahkan tengah menunggu kedatangannya.
Dara bergegas berdiri membawa paper bag itu dan meninggalkan taman secepatnya. Dara berjalan kaki lagi karena malas memesan taxi atau ojek, biarlah sekali-kali berjalan agar memudahkan untuk persalinannya yang tidak sampai dua bulan lagi pikir Dara.
...........
Hampir satu jam Dara berjalan hingga tiba di Apartemen mereka. Dara menekan barcode agar dapat memasukinya, Saat membuka pintu dan berhasil menutupnya Dara dikejutkan dengan suara bariton seseorang.
"Dari mana kamu??" bentak Dion dari sofa ruang tamu.
Dara terjingkat kaget, hampir saja Ia menjatuhkan paper bag yang dibawanya.
"Mas sudah pulang??" Dara mendekati Dion, ingin meraih tangan suaminya namun Dion menepis hingga tangan Dara mengambang ke samping.
"Aku tanya Dari mana kamu Dara...?"Suara Dion semakin meninggi hingga membuat Dara takut.
"Aku.. aku.. dari " Dara terbata - bata. karena ia trauma dengan teriakan yang menggelegar . apalagi Dion meneriakinya sama persis seperti sang ayah yang dulu sering menyiksanya.
"Siapa lelaki itu.." Dion mencengkram rahang Dara hingga membuat Dara tertengadah.
"Siapa maksud ka..mu Mas??" mata Dara membola diiringi luruhnya air mata.
"Apa begini kelakuanmu dibelakang ku Ha..?" Dion semakin mencengkram dagu Dara hingga membuat paper bag yang dipegang wanita itu tergorok di lantai.
"Kamu ngomong apa? aku gak ngerti."
Prang ....
Dion membanting pot bunga yang ada diatas meja itu. hingga pecahannya berhambur dimana - mana.
Dion kembali mencengkram Dara, hingga membuatnya semakin tersudut kedinding." Apa begini laki-laki itu memegangmu." Dion mempraktekan adegan Dara dan lelaki itu di taman tadi, hingga membuat Dara melotot karena Dion mengetahui semuanya.
"Mas aku bisa jelasin ,, semua yang kamu lihat itu hanya salah faham, kami tidak mempunyai hubungan apa-apa." Dara memegang tangan Dion yang tengah menekan dagu nya itu.
"Salah faham. jangan - jangan selama ini kalian bermain dibelakang ku..? apa saja yang sudah kalian lakukan, Apa dia pernah memegang ini, atau ini ,atau ini." Dion menunjuk dan menekan satu persatu bagian penting dari tubuh Dara, hingga membuat Dara sangat jiji. begitu hina nya kah pikiran Dion tentangnya.
Dara mendorong Dion sekuat tenaga hingga Dion mundur beberapa langkah kebelakang.
Dara mengacungkan tunjuk." Apa maksud kamu bicara seperti itu Mas. jangan menuduhku tanpa alasan yang jelas, kamu seharusnya sadar diri siapa yang bermain dengan pernikahan. seharusnya kamu sadar kalau selama ini kamulah yang patut dicurigai, aku dari kantormu mas dan melihat kalian merayakan harimu bersama mereka.. bersama wanita itu !!" Ucap Dara tak kalah nyaring.
Dion tersenyum sinis." Jadi kamu ingin membalasku begitu. atau selama ini kamu telah memberikan tubuhmu untuknya sebagai pelarian ?? hahh ternyata kamu tidak lebih baik dari Mirra, dasar wanita Murahan." tunjuk Dion tepat di wajah Dara.
"Brengsek.."
" plakkkk.." Dara menampar Dion dengan keras hingga membuat wajah Dion terputar kesamping dan membuat sudut bibirnya berdarah.
Dion menggosok sudut bibirnya, lalu menatap Dara dengan tatapan remeh.
"Biar ku beritahu bagaimana brengseknya Dion Morgana ha .. ha.. ha.." tanpa aba-aba, Dion mengangkat Dara seperti karung goni. Dara yang masih terpaku dibuat panik, karena Dion membahayakan anak mereka dengan mengangkat nya tanpa perasaan.
"Lepaskan Mas.. ahh perutku.." Dion seolah tuli dengan teriakan Dara. Dara memberontak bahkan memukul mukul belakang Dion. baginya pukulan Dara tidak berasa apa-apa. apalagi emosi tengah menyulut di benaknya membuatnya abai dari berbagai sisi.
Dion membanting Dara diatas kasur empuk itu, hingga membuat tubuh Dara terpelanting. Dion seolah lupa bahwa sang istri tengah mengandung buah cinta yang mereka nantikan kelahirannya.
Dion menatap Dara dengan tatapan lapar. dipikirannya saat ini bagaimana cara memberi pelajaran untuk wanita yang berani bermain dibelakangnya itu. Dion melepas satu persatu kain yang melekat ditubuhnya hingga membuat tubuhnya polos alias telanjang bulat.
Dara beringsut mundur kepojok , sungguh Dara takut Dion akan menyakitinya yang berimbas pada sang janin.
"Mas mau apa.."
"Jangan takut sayang.. mas hanya ingin bersenang - senang !! ayo mendekat . bukankah kamu suka seperti ini, kamu tang saja berapapun yang kamu minta akan aku kasih." Sahut Dion dengan mata berkabut.
"Jangan Mas...aaa " pekik Dara kerena Dion tiba - tiba menarik kakinya hingga membuat tubuhnya maju mendekati sang suami.
Dion melepas paksa baju yang menempel di tubuh Dara. Dara memohon untuk Dion tidak menyentuhnya dalam keadaan emosi. berulang kali Dara menangkupkan kedua tangan didada meminta sang suami tidak melanjutkan kegiatannya.
Tapi apalah Daya. sekuat apapun Dara berontak dan melawan tetaplah Ia seorang wanita yang tidak kan mampu menandingi tenaga lak-laki. apalagi lawannya seorang yang tengah emosi membuat tenaga orang itu semakin kuat. Dara sudah pasrah tidak ada gunanya Ia melawan, Dara membiarkan Dion menyentuhnya. Daan Naas mengapa ia terbawa suasana hingga ******* Dara membuat Dion semakin terbakar.
Dion menyambar bibir Dara, mengesapnya dalam dan mengeksplor setiap bagian inci didalamnya.
Dara merintih kesakitan, Dion menghujam Dara dengan ritme yang tidak biasa. sore itu menjadi percintaan yang bersejarah dimana Dion memperlakukannya seperti ******. setelah puas Dion melemparinya dengan uang. bahkan setelahnya Ia pergi tanpa mandi dulu, Dara tidak tau suaminya pergi kemana . jangankan untuk bertanya membuka matapun Dara sudah tak sanggup hingga ia tertidur karena kelelahan.
.
.
Hari sudah gelap mungkin sekarang pukul tujuh malam. Dara terbangun dari tidurnya karena merasakan dingin yang membuat tulangnya ngilu.
Dara menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia terisak kembali mengingat nasib nya yang selalu menyedihkan.
"Sekarang apa lagi ya tuhan? tidak bisakan aku bahagia seperti orang-orang. aku ingin menyerah , rasanya hidupku tidak berguna." isak pilu keluar dari Bibir Dara. hingga membuat pergerakan diperutnya, memberitahukan bahwa ada nyawa yang harus Ia lahirkan.
"Ahhh anak mimi, maafkan mimi sayang. mimi tdk akan bicara seperti itu lagi. Ucap Dara parau menampar dadanya yang terasa sesak.
Dara memegang bagian tubuhnya yang membiru. Tubuh Dara lebam dimana mana, karena Dion bukan hanya menggagahinya tapi juga memberikan stempel bibir disetiap inci di tubuhnya, tidak terkecuali di area pribadinya sekalipun.
Dara memunguti pakaian nya yang berserakan di lantai. Dara merintih karena area intinya perih, mungkin luka karena Dion menggeseknya dengan sangat brutal.
.............
Hay readers kesayangan. jangan lupa like,vote and subscribe ya.. pliss dukung ya.. plis.. pliss.. 🙏🙏😅😅😘😘😘