Love Us My Husband

Love Us My Husband
Tisu



...💧💧💧...


Dion merasakan mual hebat yang membuatnya seketika pucat seperti tidak di aliri darah. perutnya sungguh tidak bisa diajak kompromi saat ini.


Dion melihat kembali jam yang bertengger manja di tangannya.


"Ya Tuhan, lama-lama menahan lapar gini bisa buat aku pingsan juga."batinnya sembari menggosok peluh di dahi.


........


...Dalam hal ini, tidak dapat di simpulkan apakah Dara juga berdosa dengan membiarkan lelaki yang masih suaminya itu kelaparan....


...Padahal jelas-jelas pagi tadi dia mengetahui bahwa Dion hanya memakan roti untuk mengganjal perutnya....


........


Dion kembali mengajak bocah itu bercanda, sehingga rasa lapar ter-alihkan.


Dara diam-diam memperhatikan segala aktivitas yang dilakukan Dion dan anak-anaknya.


Dara ikut tersenyum melihat betapa bahagianya Zain dan Zelin bersama sang Ayah.


"Mimi tidak pernah menyaksikan tawa lepas dari wajah kalian sayang. Apakah ini yang kalian mau?"gumam nya. Dara tersenyum lagi saat suara tawa sang anak kembali terdengar. entah apa yang Dion bicarakan sehingga anaknya tergelak seperti itu.


"Haa gimana? bisa kan bantu Pipi ngomong ke mimi?" bisik Dion


Mereka mengangguk bersamaan, membuat mata Dion berbinar terang.


"Ok lets go!!!"


Mereka pun masuk beriringan sehingga membuat Dara kelabakan melarikan diri. dapat Dion lihat ada siluet bayangan dari pilar kayu sebelum Dara benar-benar sampai di lantai atas.


"Kepo juga ternyata." kekeh Dion menunggu dari anak tangga dan membiarkan dua anak kesayangannya memanggil ibu mereka untuk bicara.


Tidak berapa lama, Dara pun turun dengan di apit kedua bocah itu. Dara pasrah karena anaknya begitu memaksa hingga akhirnya wanita itu setuju untuk mengikuti permintaan mereka.


"Ada apa?" tanya Dara sopan.


Dion kembali terkesima melihat istrinya itu. entah mengapa daster rumahan yang membalut tubuh Dara terlihat **** di mata Dion.


Memang pakaian sehari-hari wanita itu hanya daster Manohara dress. Namun aura mahal dalam diri wanita itu, justru membuat pakaian murah menjadi terlihat elegan dan menggoda.


Belum lagi rambut yang dia sanggul asal dengan anak rambut di samping kedua pipi nya semakin membuat wanita itu tampak manis, bahkan terlihat seperti ABG saja karena tidak menunjukan seperti pernah melahirkan.


"Omg!! Ini punyaku, itu punyaku." batin Dion rebutan.


"Mas mau-" ucap Dion terbata


Dara menautkan kedua alisnya karena bingung.


"Mau apa?" tanya Dara sopan. ingin sewot pun tidak bisa, sebab ada Zain dan Zelin di samping-nya.


"Mimi,, Pipi ngajak Zelin juga abang buat beli burger, beli mainan, beli baju, beli buku lagi" Jawab Zelin, seraya menunjukan wajah berbinar.


"Apakah benar?" Dara beralih meminta penjelasan


"Ekhhmm!! ya. Apa kamu keberatan?"


"Bukannya anda tau tempat itu sangat jauh? di perjalanan saja sudah menghabiskan berjam-jam." pungkas Dara mengode tanda ia keberatan. sejujurnya dia tidak mempermasalahkan Dion membawa anaknya jalan-jalan. Namun ia takut Dion akan membawa si kembar pergi dari-nya.


Dion paham maksud dari wanita tercinta nya itu." Menurutku nggak juga. kita kan pakai mobil jadi sampe nya pasti cepet. dan lagi kamu gak usah khawatir, aku pastikan mereka aman dan tentunya aku kembalikan sama kamu." kata Dion tulus


"Tapikan-"


"Mimi ikut aja sama kita, biar tante Bira yang jaga warung. Iya kan dek?" usul Zain sembarangan


"Ekhem..." Bira berdehem kencang, menandakan dia mendengar ucapan bocah nakal itu.


"Hihiihii." Dion dan Zain ber-tos ria.


Dara hanya menggeleng melihat kekompakan antara ayah dan anak itu.


"Ya sudah. Tapi ingat, kalian harus hati-hati. dan untuk Anda!" Dara beralih kepada Dion." Saya pegang janji anda." Ucap Dara.


"Maaf sayang. tapi Mimi dirumah aja ya menemani tante Bira. Kasihan loh kalau Tante di tinggal sendiri, nanti dia nangis terus mints pulang ke kampung nya gimana?"


"Ehh buset nama gue di bawa-bawa." gerutu Bira


"Yahh!! Mimi ikut ya, plis Mimi." Mohon mereka berdua.


Dion enggan ikut perbicangan antara Istri dan anaknya. Sebagai pihak ke tiga , dia pun berharap Dara setuju ikut bersama mereka. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini pikirnya.


Kepala Dara tiba-tiba berdenyut mendengar rengekan sang anak."Ya sudah, tapi Mimi temui tante mu dulu." putus Dara lalu bergegas ke atas untuk menemui Bira.


.


.


"Yhaa ellaa Ra.. Ra!! Berangkat aja napa. gue bukan bocah yang harus lo jaga dua puluh empat jam. Lagian lo gak mau apa liat anak lo seneng? Untuk sejenak lupakan dehh kesel lo itu, buat kebahagian anak lo juga. Kapan lagi mereka ngerasain punya keluarga utuh?" pungkas Bira


"Ya udah. Tapi lo hati-hati ya di rumah. kalo gue pulangnya telat, tutup aja warungnya terus kunci semua pintunya." perintah Dara. sejujurnya dia memang benar-benar menghawatirkan sang sahabat kalau sendirian di rumah. Namun bagaimana lagi? apa yg Bira katakan benar juga. demi kebahagian putra-putrinya, dia rela mengesampingkan ego nya.


Dara sudah siap. dia menenteng dua pasang jaket beserta topi untuk Zain dan Zelin.


Dara melihat sekilas penampilan Dion." Sepertinya dia tidak punya baju ganti makanya dari kemarin baju nya itu-itu aja. Kasihan juga." batin Dara prihatin."Ahh sudahlah."


Dion meraih Air mineral di samping kursi lalu menengguknya. setidaknya selama perjalan dia masih mempunyai tenaga untuk mencapai tujuan.


Sebelum berangkat, tidak lupa lelaki itu memanjatkan Do'a untuk keselamatan mereka selama perjalanan.


Tangan Dion gemetaran sebab lapar. dia menjalankan Mobil itu perlahan hingga menghilang dari tikungan.


Suasana di dalam mobil begitu hidup karena di isi oleh suara cempreng anak-anaknya.


Sesekali Dara ikut menyahut karena ada beberapa pertanyaan yang wajib dijawab demi mengasah otak sang Anak.


.........


~Beberapa waktu kemudian


Mereka telah sampai di Pusat perbelanjaan kota. sebelum belanja perlengkapan yang dibutuhkan, mereka lebih dulu mengisi energi dengan memesan berbagai menu lezat yang ada di resto tersebut.


Saat seluruh makanan sudah tersaji di atas meja. Mereka pun mengambil bagiannya masing-masing


Yang paling mencolok di antara mereka adalah, cara makan Dion terlihat tidak sabaran. Lelaki itu menyuap makanan dengan brutal seperti tidak makan satu minggu.


Belum lagi tangan yang bergetar itu, membuat beberapa isi piring terjatuh di atas meja.


"Pipi, kenapa Pipi mamam berantakan? kasihan loh nanti nasi nya nangis." kata Zelin


"Adik!! lagi makan gak boleh ngomong, nanti keselek loh." tegur Zain pelan


Dion pun segera memelankan cara makannya."Ohh iyaya, nasi-nya banyak yang jatuh." beo Dion


Semua pemandangan itu tak luput dari pengamatan Dara.


"Apa jangan-jangan dia memang kelaparan makanya bersikap seperti itu. Ya allah aku baru sadar kalau ini hampir sore, pantesan dia kelaparan. Maaf kan Dara ya Mas, sudah mengabaikan kamu berlebihan begini." batin Dara berkaca-kaca, reflek mengulurkan tisu untuk Dion.


Dulu ia pun pernah berada di posisi Dion. tepatnya saat masih tinggal bersama orang tuanya.


Dimana pagi hari tidak sempat sarapan, di bekali dua ribu rupiah untuk jajan. Setiap pagi menjelang siang menahan lapar karena tidak punya uang uang cukup untuk membeli Indomie.


.........


...[][][] Dukung karya Author ya [][][][]...


...Jika suka, berikan Like nya ya kawan-kawan ✌️✌️😁😁🤭🤭...


...Jika sudi berikan Vote nya juga 🙏🙏😁😁😁...


...Terima kasih...


...🙏🙏🙏🙏...


...[][][][][][]...