
............
Sedangkan di dalam mimpi. anak kedua Dara sedang berlutut di samping pusara nya. dia mengenakan kain putih yang sangat berkilau dengan memegang seuntai bungai matahari. wajah polos tak berdosa itu berbicara kepada ibunya yang tengah berdiri di luar pagar pemakaman, seakan menjadi tempat pembatas antara dua alam.
"Mimi adek rindu. kapan mimi akan menjenguk ade? lihatlah mi Zayn punya bunga untuk Mimi. mengapa Mimi tidak pernah mengunjungi adek??
Apa mimi tau, adek iri melihat teman - teman ade dikunjungi ibu mereka.hanya adek sendiri yang belum pernah Mimi kunjungi." Ucapnya sembari menatap Dara dari kejauhan.
Dara memegangi dadanya yang terasa perih.dia mendekati pembatas itu, tetapi seakan sesuatu tengah menahnya membuatnya tertarik.
"Clakkkk." Dara membuka matanya lebar - lebar dengan nafas yang mangap - mangap.
"Hahh.. hahh.." Dara bergegas duduk dan bersandar. dia menelungkupkan wajah disela paha.
Air matanya mengalir perlahan merasakan sebuah hantaman yang sangat dahsyat. la mengalami panggilan itu untuk yang kesekian kalinya.
"Zayn rindu mimi kah sayang? maafkan mimi yang belum bisa mengunjungi mu putraku.. hiks, nanti ada saat nya mimi datang. Zayn istirahat yang tenang ya sayang! mimi akan selalu menyayangi kamu. Zayn tetaplah pelita hati mimi,jadi Zayn jangan khawatir karena mimi takkan melupakanmu." Ucap Dara lirih dengan isak yang sangat pelan.
Dara menggosok pipinya, dia beranjak menuruni kasur dan segera membangunkan dua anaknya. karena waktu subuh telah tiba dan mereka harus melaksanakan kewajiban sebagai umat.
"Zain, Zelin bangun yu Nak. sudah subuh nanti keburu siang." Ucap Dara membelai satu - persatu kepala anaknya.
Kedua anak Dara sangat patuh kepada ibu mereka. Usia mereka memang sangat kecil tetapi kedua bocah itu hampir tidak pernah merepotkan. jika Dara sudah berbicara kedua anaknya akan segera bergegas melakukan perintah ibu mereka.
..........
Pagi tiba, di Kota jakarta.
Karel Corpration.
.
.
"Selamat Pagi Tuan." ucap mereka serempak.
Dion melenggang masuk tanpa membalas sapaan karyawan nya.
Dia memasuki ruangan dan segera duduk di kursi kebesarannya.
Dion memasang kaca mata dan membuka laptop miliknya.
Tidak berapa lama terdengar suara pintu dibuka membuat Dion berhenti sejenak dari proses mengetiknya. dia memicing dari ekor mata tanpa harus mengangkat kepala.
"Yon aku membawakan sarapan untukmu." Mirra datang dengan menenteng rantang makanan yang ia buat sendiri.
Dion tidak terpengaruh sama sekali dengan keberadaan Mirra, lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Mirra sebal dicueki Dion. membuatnya nekat mendekati dan berani duduk di pangkuan laki - laki itu.
Dion menggeram murka hingga berdiri mendadak membuat Mirra terjungkal dengan kerasnya di lantai.
"Awww!!! Yon kamu apa - apaan sihh??" pekik Mirra tidak terima. karena saat ini tulang bokongnya sangat sakit seperti terjatuh dari beberapa bangunan saja.
Dion tidak menggubris sama sekali, Ia bahkan menghunusnya dengan tatapan membunuh. lalu Dion meraih ganggang telepon.
"Apa saja yang kalian kerjakan. sudah saya peringatkan jangan pernah mengijinkan siapapun memasuki ruangan saya." bentak Dion kepada seseorang di telpon.
Dion kembali duduk,mengabaikan wajah menyedihkan wanita itu.
Hingga datang dua orang petugas keamanan untuk membawa Mirra keluar.
"Jangan pegang - pegang. saya bisa sendiri." pekik Mirra menarik kasar tangannya, lalu keluar ruangan itu sembari menghentakan kaki di lantai marmer itu.
"Bawa makanan itu." Ucap Dion tegas kepada dua Petugas keamanan tadi.
..........
Kalimantan.
"Waaa .. liat kak, es krim nya enak." Zelin menunjuk tv yang menayangkan dua orang bertukar es krim itu.
"Waaa!! nanti minta mimi buat beli ya." Ucap zain berbisik di telinga sang adik. lalu mereka berdua cekikikan dengan tingkah mereka sendiri.
Tidak tahu saja mereka iklan yang mereka lihat itu adalah produk makanan yang baru diluncurkan Ayah mereka.
Dion mengibarkan sayapnya ke berbagai bidang industri. seperti pembangunan, pabrik makanan, bahkan industri jasa.
...**...
...Note: Untuk usia Zain dan Zelin sudah lancar dalam berbicara ya. sebagian anak sebelum mencapai usia empat tahun sudah lancar bicara dan tidak cadel lagi termasuk seperti anak author. bila sebagian pendapat beda mohon maaf karena author hanya melihat dari kehidupan sekeliling 🙏🙏....
...**...
"Ehh ngomong apa sihh ini? kok bisik - bisik. mimi gak diajak nih." Ucap Dara lalu ikut duduk dilantai seraya menyerahkan dua buah piring yang berisi nasi dan lauk pauk untuk anak - anaknya.
"Mi kaka bilang minta es krim sama mimi." sahut Zelin keceplosan.
"Zelin." seru Zain.
"Es krim. ya sudah makan dulu, mimi sudah buatkan makanan kesukaan kalian.lihatlah disini ada lele untuk membantu tumbuh kembang anakku, dan disini ada sayuran yang tinggi akan serat.ayo makan sayang." Ucap Dara kepada anak - anaknya.
Kedua bocah itu segera meringsek mengambil piring itu. mereka makan sangat lahap,memang tidak bisa dipungkiri masakan Dara sangat lezat.
.
.
Dara panggil sesorang dari luar membuat telinga Dara siaga satu. dia segera keluar karena mengenali suara itu.
"Bira." Pekik Dara senang, dia langsung memeluk sang sahabat yang beberapa bulan tidak bertemu itu.
"Aduhh,lo berat Ra.masuk dulu ya pusing mabuk kapal and taxi" Ucap Bira bercanda.
"Ckkk gk estetik amat lo. orang lama gak ketemu juga.. " Dara menggandeng sahabatnya membantu mengangkat barang bawaan Bira.
"Keponakan gue mana??"
"Lagi Mam dia, lo diantar siapa kesini?"
"Elahh ni anak gue bilang naik taxi tadi. btw gue laper nihh." Bira berceloteh malu
"Hahaha,, ya sudah tunggu didepan tv biar gue bawa makanan kesitu." Dara menunjuk dimana kedua anaknya berada.
..........
"Lo gak mau balik Ra??" Ucap Bira serius.mereka saat ini tengah berdiri di balkon pada malam hari.
Dara menoleh, dia bimbang ingin menjawab apa.
"Entahlah.. disatu sisi gue sudah nyaman disini, di sisi lain gue mau pulang, rindu keluarga gue ." Sahutnya sedih. apalagi mengingat mimpi itu semakin membuat Dara dilema.
"Yakin rindu keluarga doang..?" Bira menyelidik.
Dara menoleh,menghembuskan nafas berat." Gue selalu dimimpiin Zayn Bi.. dia bilang rindu gue. Gue harus apa Bi?? gue gk siap balik ke jakarta.
"Ra.." Bira mendekati wanita itu,dia merangkul bahu sang sahabat menenangkan Dara agar tidak bersedih.
"Lo gak mau tau keadaan orang tua lo he??"
"Orang tua gue kenapa??" Tanya Dara cemas.
Bira mengedikan bahu karena dia juga tidak tahu,Ia hanya bicara asal saja.
"Gak tau." sahutnya .
"Bira lo kebiasaan deh. tapi lo seriuskan mau lama - lama disini." Dara menatap lekat sang sahabat.karena Ia sangat senang bila sang sahabat mau berlama - lama ditempatnya.
"Dua rius malah. bete gue disana soalnya suami sama anak buah suami lo neror gue mulu." ucapnya sebal.
"Maksud lo Mas Dion ketempat lo gitu." tanya Dara panik.
..........