Love Us My Husband

Love Us My Husband
jari mungil.



............


"Ra. lo yang kuat ya?"Bira berucap tersendat. sungguh saat ini dia juga rapuh sama halnya dengan Dara.


"Ada apa Bi?? anak gue baik - baik aja kan? lo jangan nakut - nakutin gue. ayo ambilkan dede ya Bi pliss ."


Bira menggeleng lemah diiringi air mata yang ikut merembes.dia bahkan menunduk tidak mampu menatap mata Dara.


"Boy meninggalkan kita Ra,, anak kedua lo gak selamat." sahut Bira terisak.


Duaarrrrrr, Seperti tersambar petir di siang bolong. Dara tersentak mendengar ucapan Bira. Ia menatap Bira dengan sayu ." Bi lo ngomong apa? anak gue masih ada. dia belum nyapa miminya, ayo Bi jemput dede, atau kalau lo gak mau biar gue sendiri yang menemuinya." Ucap Dara lalu menaruh anaknya yang Ia timang tadi disamping. Dara bergerak tdk sabaran membuat Bira memekik.


"Ra jangan gerak - gerak,, Oke kita temui dia tapi lo tunggu disini dulu gue nemuin suster sebentar." Bira segera keluar untuk meminta bantuan memindahkan Dara ke kursi roda.


Dara linglung. dia mengangkat anaknya kembali lalu mengajak bayinya itu bicara."Mulut tante kamu jahat ya boy.tega sekali bicara seperti itu." Dara terisak pilu, Ia mencoba menepis praduga itu.


Bira datang dengan seorang suster. padahal Dara dilarang untuk bergerak dulu. tapi Dara ngotot ingin menemui anaknya, bahkan dia mengancam akan berlari jika mereka tdk mengijinkannya sehingga merea membiarkan wanita itu menemui anaknya .


.


.


Disinilah mereka berada. di ruang mayat yang terdapat seorang jenazah kecil tertutup kain, saking kecilnya jasad itu terlihat seperti boneka tidur.


Dara mengulurkan tangannya. di bergetar memegang tubuh mungil yang terbungkus kain itu. di bukanya penutup wajah hingga tampaklah wajah yang sama seperti kembarannya tadi. Namun bedanya bayinya ini sudah pucat bahkan tubuhnya sangat dingin membuat Dara segera merangkul anaknya.


Dara tidak kuasa menahan air mata. didekapnya bayinya kedada untuk menyalurkan segenap kehangatan dan kerinduan.


Dara berucap lirih di telinga anaknya.dia mencoba mencari keajaiban siapa tahu putranya itu mendengar.


"Sayang putra mimi. boy dengar Mimi kan sayang? ini mimi sayang, bunda kamu. buka matamu putra ku.. hiks .. hiks." Dara mengelus belakang putranya menempelkan bibir di pipi sang anak. "Mimi sudah datang, Mimi jemput kamu. ayo nak bangun kita temui saudaramu.. hiks.. Anakku, putraku yang tampan pelita hidup Mimi bangunlah. Mimi tdk mau kamu tinggalkan,, bangun nak mimi janji akan menyayangi kamu segenap jiwa raga mimi tapi mimi mohon cepat bangun. hiks.. kamu bahkan belum menyapa mimi bahkan mimi belum sempat menyusuimu." Dara terisak sangat pilu, dunianya seakan hancur. semesta menjadi saksi betapa rapuhnya hati seorang ibu, dimana di tinggalkan sebelum sempat menyambutnya ke dunia.


Bira merangkul bahu Dara, memberikan kekuatan kepada wanita itu.


Dara mengalihkan tatapannya ke Bira. dia menatapnya menghiba." Bi.. tolong panggilkan dokter Bi. tolong periksa anak gue, dia gak mau bangun Bi.. huaa ayo Bi panggilkan sekarang . Dokter.. Dokter..tolong anak saya Dokter, dia masih hidup.. " Dara berteriak histeris. Ia mengabaikan sakit dibekas jahitannya. Dara putus asa hidupnya hancur.


...........


Pagi yang cerah itu mendadak mendung dan gerimis. seakan dunia menemani kesakitan Dara dengan selimut awan hitamnya.


Bira setia disamping Dara, hanya dia seorang yang selalu menemani Dara baik suka maupun duka. Dara tidak punya tempat untuk mengadu, Dara tidak punya tempat untuk pulang.


"Ra. kita balik ke rumah sakit yu. hari gelap banget ini." ajak Bira sedikit panik.karena cuaca benar - benar buruk. apalagi disitu hanya tertinggal mereka berdua, membuatnya geli.


Dara menggeleng, Ia tetap pada posisinya." Ibu macam apa gue yang tega ninggalin anaknya sendiri? nanti anak gue nangis nyariin gue, nanti dia haus, dia pasti kedinginan." Ucap Dara serak.


"Ra.. plis jangan gini. anak lo sudah tenang, lo harus bangkit." Bira menggosok bahu wanita itu.


"Gue masih mau disini Bi, anak gue butuh gue. kalau lo mau pulang silahkan."


"Ra sadar. anak lo bukan hanya ini, masih ada yang lain. mereka juga butuh ibunya. lo gak bisa kek gini terus, sedih boleh terpuruk jangan. masih ada Zain dan Zelin yang menanti ibu mereka."Bira tetap membujuk wanita itu hingga Dara benar - benar tersadar. dia langsung memeluk Bira meminta maaf dengan kebodohannya. dan mereka pun segera kembali, tetapi sebelum itu Dara berulang - ulang menciumi nisan kecil milik anaknya.


..........


Rumah sakit internasional.


Dara mengecek ponselnya takut saja Dion ada menghubunginya.


Dara tersenyum masam, tdk mendapati notifikasi apapun. lalu Ia menyimpannya kembali.


Dara merogoh dompet dan menyerahkan black card milik nya kepada Bira.


Ternyata rumah sakit tidak mempersulit operasi Dara, meskipun mereka belum membayar administrasinya. mungkin sebab saat itu kondisi Dara memang sangat urgen makanya langsung dirujuk tanpa embel - embel yang lain dulu.


"Ahhh Dara!! What this is???" Bira memekik menerima kartu sakti itu.


"Sekali lagi gue minta tolong ya, bayarkan administrasi gue pake ini. lo tenang aja, isinya banyak kok.hmm Satu lagi tolong lo tarik isinya sebagian dan ini password nya" Ucap Dara menyerahkan beberapa syarat untuk melakukan penarikan itu.


"Oh my good Ra, lo punya kartu beginian. Ckkk.. ckk.." Bira membolak balikan kartu itu.


"Kira - kira isinya berapa ya Ra? hmm kenapa gak sekalian kita kuras aja isinya." sambung Bira menghasut ibu beranak tiga itu. Ya Bira sudah tahu apa yang terjadi kepada Dara. wanita itu telah mengatakan seluruhnya kepada sang sahabat mulai dari permasalahan waktu ulang tahun Dion hingga suaminya pergi lagi . pihak orang tua tidak ada yg mengetahui persalinan Dara, karena mereka juga tdk terlalu perduli. jadi untuk apa heboh memberitahukan.


Dara tidak menanggapi celotehan sahabatnya itu. Ia menatap kedua anaknya lalu membela pipi mereka.


Sekali lagi Dara dibuat menangis teringat anaknya yang tidak mampu bertahan hidup karena insiden yang terjadi di Apartemen mereka.


"kamu akan menyesal karena menyia - nyiakan kami mas, kamu akan menyesal karena mempertaruhkan anakmu hanya demi wanita masa lalumu itu .


aku bersumpah tidak akan pernah muncul kehadapan kamu lagi. jangan harap kau bisa melihat putra - putri ku ini.


kejarlah Cintamu yang belum usai itu. aku menyerah, seandainya aku tau akan begini lebih baik aku menjauh sebelum anakku menjadi taruhannya. aku membencimu Mas Dion, sangat membencimu.


Selamat tinggal mas Dion, mimpi buruk ini akan ku ingat seumur hidupku." batin Dara.


...........