Love Us My Husband

Love Us My Husband
Akhirnya sadar juga



............


Dua hari selepas operasi yg mereka lakukan. sepertinya belum memberikan tanda bahwa Mirra akan terbangun dari tidur panjangnya.


Padahal Dokter mengatakan kalau penyakit yang menggerogoti Mirra sudah ditangani. Hanya saja mereka perlu memastikan lagi saat Mirra membuka mata dan menanyakan apa yg dia rasakan.


Jika pun sembuh, tetap saja ia tidak boleh lagi melakukan pekerjaan berat. karena seseorang yg pernah menjalani operasi tidak kan mampu mengerjakan sesuatu yg berlebihan sehingga jika dipaksakan akan membuatnya tersiksa kembali. dan yang paling penting adalah harus merubah pola hidup tidak sehat yang dilakoninya beberapa bulan belakangan.


.


Dion mengayunkan tungkainya menyusuri koridor Rumah sakit itu, Jika berkurung diri di dalam terus yang ada akan membuat Dion jadi gila. sudah cukup dia mabuk jet lag, jadi tidak mau lagi mabuk bau obat-obatan.


Waktu senggang itu ia gunakan untuk menghirup udara bebas dan berkeliling menuju tempat wisata sekaligus mencarikan oleh-oleh yang akan ia bawa pulang dan di berikan kepada istrinya nanti.


Dion menyewa sebuah sepeda karena Amsterdam terkenal bukan hanya tentang kincir Angin Tulip nya saja. bahkan negara itu dijuluki penghasil sepeda terbanyak melebihi penduduknya. jadi jangan heran bila negara itu minim polusi karena udara disana tidak tercemar oleh kendaraan bermotor, jadi sangat jauh berbeda dengan jakarta.


Dion mengayuh sepeda yg akan membawanya ke toko perhiasan langganan sang ibu. memang beberapa kali ia sempat mengikuti orang tuanya berlibur mulai dari usia 15 tahun dan terakhir usia delapan belas tahun waktu merayakan kelulusan SMA, makanya Ia tidak asing lagi dengan negara itu.


..


"Excuse me!! please show me that jewelry.(permisi !! tolong perlihatkan perhiasan yang itu)." tunjuk Dion pada sepasang anting dan kalung yang berukuran sedang bahkan terkesan tipis namun terlihat elegan.


Petugas itu mengikuti arah tunjuk Dion dan mengeluarkan apa yg diingakan Customer ." Is this Mr? please see.


(yang inikah Mr ? silahkan dilihat). ucap petugas itu ramah seraya mengulurkan perhiasan itu.


"Do you want to give a gift to someone?.(apakah anda ingin memberikan hadiah untuk sesorang)."ucap petugas itu lagi


"Yes for my wife. do you guys have any suggestions or can the eyes be replaced with just latters (ya untuk istri saya. apakah kalian punya saran atau bisakah matanya diganti dengan huruf saja. ) "ucap Dion dengan tangan yang asik membolak balikan perhiasan itu.


"Yes, of course. what latter do we want to replaced ( ya tentu. mau huruf apa biar kita gantikan)." tanya petugas Ramah.


"Double D." sahut Dion


....


Dion singgah kembali ke butik yang menyediakan berbagai macam model baju.dan pilihan Dion jatuh kepada baju tidur warna cream untuk wanita hamil berbahan sutra tanpa lengan dengan sulaman tile di atas dadanya. panjangnya lebih sedikit dari lutut dan jika Dara yang memakai sudah pasti terlihat Uwow dan menggoda.


Tanpa malu dia menunjuk lagi dua pasang lingrie berbahan minim bahkan tembus pandang itu, untuk diberikan sehabis istrinya melahirkan nanti..


Petugas butik hanya geleng kepala dan tersenyum saja melihat antusias customer itu.


Setelah dirasa cukup Dion kembali mengayuhkan sepeda itu untuk kembali ke Rumah sakit,karena terlalu lama juga ia meninggalkan Mirra sendiri.


...........


Langkah kaki jenjang Dion membuatnya cepat sampai ke dalam ruangan Mirra. dan alangkah terkejutnya dia melihat wanita yang beberapa hari tertidur panjang itu sudah membuka mata bahkan bersandar dengan bantal sebagai penyangga punggungnya, dan disampingnya sudah ada sepupu dari orang tua Mirra.


Dion mengucap salam sebelum ikut duduk disamping brankar itu.


Dua orang yang tengah menemani Mirra menoleh kepada anak muda yang sudah mereka ketahui identitas dan perannya selama beberapa hari itu. lalu mereka mempersilahkan Dion untuk duduk.


.........


.........


"Kapan tuan dan nyonya sampai? "tanya Dion sopan. setelah sukses mendaratkan bokongnya dikursi yang terbuat dari besi itu.


" Dari dua jam yang lalu. " sahut mereka tak kalah ramah.


"Apakah Mirra sudah sadar dari tadi. maaf saya keluar dulu, jadi tdk tahu kapan dia sadar." ucap Dion lagi, menatap ke arah Mirra yang terlihat masih pucat serta melamun itu.


Paman dan bibi Mirra menyahut bersamaan tetapi yang lebih banyak bicara ialah pamannya." kami juga tidak tahu. waktu kita masuk memang dia sudah sadar tapi ya begitu, lihatlah ." tunjuk pamannya kepada Mirra yang seperti orang linglung tidak ada tanda kehidupan di matanya.


"Kalau begitu saya dan istri saya mau keluar dulu. kalian silahkan bicara berdua, siapa tau dia mau merespon ucapan kamu. karena kami sudah berusaha mengajaknya bicara tapi tidak ada sahutan sama sekali." jelas Paman ikut terpukul melihat keponakannya dalam keadaan seperti itu.


"Baiklah tuan." sahut Dion. lalu dua orang tua tadi keluar bersamaan hilangnya mereka dari balik pintu.


..


Dion Merubah posisi duduknya menjadi kehadapan Mirra,karena kepala wanita itu miring ke kiri.


Dion meraih tangan Mirra lalu digenggamnya lembut.


"Mirr .. kamu denger aku kan." ucap Dion pelan agar tidak membuat wanita itu terkejut.


Masih belum ada respon, bahkan Dion melambai-lambai kan tangannya didepan mata Mirra tetapi tetap sama tidak ada respon yg dia berikan.


"Kamu marah sama aku!." pancing Dion.


Dan benar saja,Mirra mau menggerakan matanya,lalu menyorot Dion sehingga memenuhi kornea matanya.


"Marah kenapa..!!" tanya Mirra terdengar berbisik


Dion tersenyum dan membelai rambut Mirra." Marah karena aku tidak disamping kamu saat membuka mata. apa kamu butuh sesuatu biar aku ambilkan seperti air putih misalnya." Tawar Dion.


Mirra mengangguk karena dia memang haus. dan secepat kilat Dion beranjak menuju nakas mengulurkan air mineral beserta sedotan yang sudah tersedia.


"Mami sama Papi ku kemana,dari tadi aku perhatikan mereka tidak muncul." tanya Mirra tiba-tiba.


Dion bingung harus menjawab apa. jika Mirra tahu kenyataan tentang orang tuanya, Apakah dia akan bisa menerima.


"Sudah jangan banyak tanya dulu.kamu baru sembuh,istirahat lah sebentar." sahut Dion mencari alasan, agar Mirra tidak bertanya lagi.


Mirra menuruti kata-kata Dion, dia memejamkan mata. dan tidak berapa lama sudah terlelap karena memang kondisinya belum stabil.


Dion menghembuskan nafas,karena saat ini dia selamat. Lalu Dion merogoh ponselnya menekan nomor sang istri, dan membawa sedikit jauh agar tidak mengganggu istirahat wanita tadi..


Dion menunggu agar telepon itu tersambung, dia ingin mengatakan bahwa akan menunda kepulangannya kira-kira satu minggu agar Mirra benar-benar pulih.


.............