
..........
Dion pulang dengan pikiran kalut,bahkan mengemudikan mobil uring-uringan
Dion mengemudikan mobil dengan sedikit kencang.tidak butuh waktu lama kendaraan itu sampai ke tempat yg dia tuju.
seperti biasa Dara akan menunggu suaminya pulang dengan memantau dari Balkon kamar mereka.
Dara tersenyum akhirnya kendaraan yang ia tunggu-tunggu itu datang juga.
"Mari kita sambut pipi sayang." ucapnya seraya mengelus perut dan bercermin sebentar untuk melihat penampilannya agar terlihat lebih rapi saat menyambut suaminya.
....
"Mas, sudah pulang sini aku bantu lepas Dasinya."ucap Dara.lalu melepaskan ikatan di leher suaminya itu.
Dion hanya menatap Dara datar,membuat Dara salah tingkah.
"kenapa Mas menatapku seperti itu, apa ada yang salah?" sambung Dara,lalu meraba pipi dan rambutnya takut saja ada yang aneh.
Dion menarik nafas pelan dan menghembuskannya perlahan.lalu menggandeng bahu istrinya agar mereka duduk di sofa.
setelah mendaratkan bokongnya Dion menatap Dara dengan intens.
"sayang aku mau cerita sesuatu sama kamu." ucap Dion. membuat perasaan Dara jadi tidak enak. karena setiap mendengar suaminya bicara seperti itu pasti ada hal yang penting.
"Bicaralah Mas,aku akan mendengarkan." sahut Dara menggeser sedikit pantatnya agar tidak terlalu nempel dengan Dion.
"ini menyangkut keadaan Mirra dan kedua orang tuanya."cicit Dion pelan
Degg..
"Mirra, ada apa dengannya." sahut Dara datar berubah ekspresi dari gugup menjadi pias.
Dion sudah melihat perubahan dari istrinya itu, namun pembahasan ini sangat penting karena bersangkutan dengan keberlangsungan hidup seseorang.apalagi mereka juga tidak mempunyai pilihan lain
"Pagi tadi kita dapat kabar bahwa kedua orang tuanya kecelakaan dan naasnya mereka meninggal di tempat."
"Inalilahiwainailahirajiun, lalu apa keluarga mereka tahu."ucap Dara seraya menutup mulut dengan kedua tangannya
"Ya, mereka sudah tahu. bahkan keluarganya mempercayakan kami untuk menangani pemakaman mereka karena mereka jauh dibelahan benua sana.mau datang pun tidak akan sempat, jadi kami kebumikan hari ini juga. makanya Mas lelah rasanya harus bolak balik dari kantor kerumah sakit."
"Apa tidak ada sanak saudara mereka disini Mas,, ya tuhan malang sekali nasib Mirra disaat ia terbaring lemah tetapi tuhan mengambil orang tuanya bersamaan.
Dion menggeleng." kami tidak tau, yang kami ketahui hanya sepupu mereka tinggal di swiss. itupun mengabari mereka menggunakan ponsel almarhum.
"Lalu bagaimana dengan Mirra? siapa yg akan menjaganya selama dia sakit." tanya Dara dengan lirih, sebenarnya dia tau tidak mungkin suaminya membiarkan mantannya itu kesusahan.
Dion menatap lekat netra Dara lalu menggenggam kedua tangan istrinya itu dan menyuarakan niatnya."itu yg mau aku bahas. Mas minta ijin sama kamu mau bawa Mirra berobat keluar negri. karena jika menunggu lagi keselamatannya semakin terancam." sahut Dion hati-hati.
Nafas Dara tercekat dikerongkongan mendengar ucapan suaminya." ke luar negri ,dimana?" cicit Dara
"Amsterdam Belanda. apa sayang tidak keberatan??"
Dara melepas tautan tangan mereka, ia menyeka titik air diekor matanya.Lalu memutar posisi tubuh dan menghadap lurus ke depan.
Dion menggeleng,lalu menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal karena bingung harus beralasan apa lagi
"Gak bisa yang,itupun sudah kami bahas sewaktu dirumah sakit tadi. Mirra hanya mengenal kami disini..lagipula setelah tiba disana mungkin mas tidak akan lama karena akan ada keluarganya yg menyusulnya.
Dara terdiam saat ini pikirannya buntu dengan semua yg terjadi.
Dara juga tidak ingin menjadi wanita yang egois. ia tidak mungkin membiarkan seseorang sekarat hanya karena menjaga perasaannya. di sisi lain ia takut suaminya tidak akan pulang tapi disisi lain jiwa manusiawinya tergerak untuk membantu sesama apalagi sekarang wanita itu menjadi seorang yatim piatu.
Setelah berfikir panjang dan tenang Dara menggapai bahu suaminya, ia belai perlahan dan menepuk nya pelan. Dara tersenyum menyembunyikan kesedihannya.
"Pergilah Mas, bantu dia jika menurutmu itu yang terbaik.aku hanya bisa mendoakan semoga segala penyakitnya segera diangkat dan kamu bisa kembali kepada kami."Ucap Dara tulus.
"Kamu serius gak keberatan?
"Hemm,bagaimana lagi. jika tidak di ijinkan apa kamu akan menurutiku?" sahut Dara memancing, mencoba mendengar jawaban suaminya.
Dion terdiam,seperti yang Dara duga bahwa suaminya tidak akan menurutinya. Dara tersenyum sumbang
"sudah tidak perlu dijawab.aku sudah tau jawabannya."
"Maaf bukan begitu sayang hanya saja .." ucapan Dion terpotong karena Dara menyela.
"Gak papa, pergilah. kapan kalian akan berangkat?" tanya Dara berusaha tegar.
Dion menoleh tidak enak."Malam ini,jam 23:00." sahutnya hati-hati.
Dara kaget mendengar jawaban Dion." malam ini,jadi Mas sudah pesan penerbangan sebelum bicara sama aku?" tanya Dara parau.
"Maaf sayang! aku buru-buru mengambil keputusan."
Dara mendengus kasar." kalau tahu seperti itu untuk apa harus minta ijin,lebih baik tidak usah bertanya jika seperti itu ujung-ujungnya."gumam Dara sedikit kecewa dengan sikap Dion yang terkesan seenaknya itu.
"ya sudah,kalau begitu mas mandi,aku akan membantu kamu mempersiapkan keperluan.berapa lama mas akan pergi??" ucap Dara lirih
"Mas belum tau sayang, siapkan seperlunya saja. oh ya, apa selama ku tinggal mau nginap dimansion atau ditempat orang tuamu?" tanya Dion seraya melepas baju dan celananya lalu menaruh ke keranjang pakaian kotor.
Dara menoleh dan menggeleng."tidak mas,aku disini saja.lagipula Masih ada Bira yang akan sering kesini, gak apakan bila ku ajak Bira menginap ..?"
"Oh bagus kalau begitu,jadi kamu tidak akan kesepian.ya sudah mas mandi dulu.. emuahhh" Dion mengecup singkat bibir istrinya lalu menghilang dibalik pintu..
...
Dara melambai kepergian suaminya dari balkon kamar,meskipun ia tahu bahwa suaminya tidak akan melihat atau mendengarnya.Dara menatap nanar taxi yg membawa suaminya itu menjauh. ya Dion hanya menggunakan taxi karena akan repot jika ia membawa mobil sendiri.
Dara masih setia ditempatnya,hingga dinginnya malam semakin terasa.entah mengapa kakinya terasa berat ingin kembali ke dalam. dia menengadah keatas,terlihat langit begitu cerah ditemani bulan dan bintang yang menghiasi.air mata yang ditahannya selama beberapa jam tadi akhirnya keluar tanpa bisa di cegah.Dara berlutut menyembunyikan isakan tangisnya bahkan hidungnya kembang kempis.
"Kenapa rasanya sangat rindu,padahal baru sebentar kamu pergi Mas, hiks aku rindu Mas.."isak Dara,lalu berjalan kembali ke kamar.
Dara mengambil baju suaminya untuk dipeluk,wangi parfum yg biasa digunakan suaminya bahkan masih tercium dipenjuru kamar itu.
...........