Love Us My Husband

Love Us My Husband
Lapar lagi



.........


"Mimi, Zain dan adik mau minta maaf sama Pipi, kita janji gak nakal lagi. Hiks.." ucap mereka sembari menangis, lalu menghambur ke pelukan ibunya.


Setelah selesai menumpahkan air mata, mereka pun bergegas turun


"Pelan-pelan jalannya sayang." Kata Dara memperingatkan.


"Siap Mimi!"


Terlihat Dion sedang duduk di tangga dengan menggigit kuku. Berulang kali pria itu menyeka air yang meleleh disudut mata. Tidak ada isak tangis yang keluar, hanya saja hatinya perih mendengar penolakan baik Dara maupun anaknya.


Setelah di tinggal sendiri ia bertarung dengan perasaan nya, dia merutuki kebodohan di masa lalu yang membuatnya menyesal di kemudian hari.


Hancur nya hati lelaki itu tidak dapat di gambarkan dengan apapun. sebagai seorang lelaki pantang untuk menangis, namun saat ini semua itu tidak berlaku padanya. Karena ada kala-nya seseorang menangis bukan karena cengeng.


.


.


"Ra, lo serius ngizinin anak lo ketemu Ayahnya?"


Bira mendekati Dara, ikut duduk di samping wanita itu.


Dara menoleh."Lalu gue harus apa? menurut lo gue egois gak sih Bi?" tanya Dara dengan mengusap wajahnya


"Egois dalam hal apa nih?" sahutnya. sebenarnya Bira pun bingung. permasalahan rumah tangga ternyata serumit ini, membuat wanita jadi-jadian ucap Arga itu takut untuk menikah.


"Apa gue berlebihan dengan menyembunyikan tentang ayah mereka? mereka sudah tau, tapi tetap diam. Mereka bilang takut buat gue sedih. Hem gue jahat ya Bi? udah buat seorang ayah merindukan anaknya, dan udah buat anak merindukan sosok ayahnya. Hikss.. Lo liat gak tadi? Mata mereka? anak gue nangis, padahal sebelumnya mereka bersikap biasa-biasa aja.. Tapi ternyata?" Dara nerucap serak


Bira merangkul pundak Ibu muda berusia 22 tahun itu." Menurut gue, lo itu gak salah Ra. wajar kalau lo pergi hingga sejauh ini, karena kecewa yang lo dapat dari suami lo itu. Kalau gue jadi elo pun mungkin akan melakukan hal yang sama. berhenti menyalahkan diri sendiri, karena apa yang lo lakuin juga ada sebab nya." kata Bira jujur


Bira pun teringat dengan cerita mereka tadi malam." Sorry kalau gue lancang. Apa suami lo setuju untuk berpisah Ra?" tanya Bira hati-hati


Dara menggeleng." Enggak! dia bilang lebih baik di benci daripada harus pisah. jujur gue bingung banget Bi. di satu sisi gue jelas-jelas benci, tapi di sisi lain gue gak tega melihat perjuangan dia buat ketemu sama anak-anaknya.


"Hati-hati loh!! benci dan Cinta itu beda tipis."pungkas Bira


"Menurut gue nihh ya!! Gak ada salahnya buat dia deket sama anaknya. kalau lo gak bisa terima dia ya gak papa, asalkan dia boleh bersama anaknya gue rasa udah cukup." sambungnya.


"Bersama gimana? yang ada dia bawa anak gue dong?" ucap Dara sewot


"Ehh Ralat, ralat! maksud gue, Lo jangan ngelarang dia buat ketemu anaknya gitu."


.


.


.


...Di sisi lain~...


keadaan Mirra juga memperihatinkan. Banyaknya alat penunjang kehidupan yang menempel ditubuhnya, membuat siapapun yang melihat pastikan bergidik ngeri. wanita itu dirujuk ke Rumah sakit yang ada di luar negri. Kali ini paman dan Bibinya membawa wanita itu terbang ke negara dimana mereka tinggal, yaitu Swiss.


Kekayaan peninggalan Almarhum orang tuanya pun semakin lama semakin menipis karena sering digunakan untuk berfoya-foya. Sedangkan wanita itu tidak pernah menjalankan bisnis sang ayah. Kerjaannya hanya bolak balik kantor Dion, mengganggu lelaki ber-anak tiga itu sehingga bisnis ayahnya pun gulung tikar.


Mirra kembali membawa dirinya dengan Minum-minuman keras. Gaya hidup tidak sehat kembali ia lakoni setelah merasa perjuangan dalam menggait Dion tidak berhasil. Mungkin dia ingin segera Mati,


sehingga tidak kapok.


.........


"ktipak.. ktipak.. ktipuk"


"Ktipak.. ktipak.. ktipuk" Suara langkah kaki saling beriringan membuat Dion memutar kepalanya menghadap ke atas tangga.


Jantung lelaki itu berdebar dengan tubuh yang bergetar melihat kedua anaknya berjalan mendekatinya.


"Pipi!"


"Pipi!"


"Kakak!! Zelin dulu." pinta sang Adik mendayu-dayu


"Enggak, Kakak dulu." Ucap Zain tak mau kalah


Hingga kedua bocah itu menyerbu ayahnya dengan tidak sabaran


Bibir Dion kelu tidak dapat berkata - kata. dia hanya mampu merangkul tanpa bisa berucap." Anakku." cicitnya hampir tak terdengar


Ingatan Dion melalang buana disaat kehamilan Dara. dimana setiap hari pria itu tidak pernah lupa untuk menyapa si janin, mengajaknya bicara. memanggil-manggil Triplets dengan gaya khas-nya. Setiap ucapan yang dilontarkannya mendapat respon oleh sang anak.


Dan sekarang dia mampu mendengar secara langsung seperti anaknya


memanggil.


"Pipi!!"


"pipi!!"


"Maafin Zain juga adik ya! hiks kita gak mau jadi anak durhaka, hiks kata mimi kita gak boleh ngomong kaya tadi, hiks maafin kita pipi. Hiks kita sayang pipi." ucap mereka serempak.


"Kita sayang Pipi, jangan tinggalin kita lagi." sambungnya dengan memeluk erat


Dion menghirup aroma menenangkan dari ubun-ubun kedua anaknya. dia menyesal tidak menemani Dara saat melahirkan, dia menyesal tidak menyaksikan tumbuh kembang anaknya, dia menyesal tidak menyaksikan bagaimana anaknya belajar bicara. Dia sangat menyesal karena disaat putra-putri belajar berjalan, dia tidak pernah ada di sisi anaknya.


"Hem, Pipi janji gak akan ninggalin kalian. Pipi sangat.. sangat sayang kalian berdua. Maafkan pipi juga ya karena baru datang sekarang." kata Dion. lalu menggedong kedua bocah itu sedikit menjauhi tangga


Kedua bocah itu begitu nyaman disisi ayahnya. Entah mengapa tidak ada rasa takut sama sekali.


Mereka berfikir bahwa Zain dan Zelin sulit menerima orang baru ternyata keliru. tidak ada sedikitpun kecanggungan antara Ayah dan Anak itu. Mungkinkah mereka merasa nyaman sebab sewaktu di rahim sang ibu, ayahnya selalu mengajak mereka bicara sehingga waktu yang memisahkan mereka bertahun-tahun tidak mempengaruhinya.


Tidak ada yang mustahil di dunia ini. jika tuhan sudah berkehendak, mau sekeras apapun Dara mencoba memisahkan jalinan kasih itu tetap ada bahkan nyata.


Zelin membelai pipi Dion. Mata bulatnya tidak berkedip memperhatikan setiap jengkal pahatan menawan milik sang Ayah.


Zelin merasa bangga karena ayahnya begitu Tampan. Bibir mungil itu berhasil memberi sebuah kecupan di pipi Dion, Membuat sang empu tersenyum manis (Sanga Manis, seperti gulali).


"Permintaan maaf Zelin buat Pipi." seloroh Zelin


"Zain juga! Cupp.." Zain ikut-ikutan gaya sang adik


Dion membawa kedua anaknya duduk di teras depan.


Perbincangan hangat antara Ayah dan anak itu berlangsung lama. tak terasa waktu menunjukan pukul 13:00. Perut Dion kembali melilit disebabkan oleh lapar yang mendera. Roti yang dia makan pagi tadi pun telah habis di cerna oleh lambung. Jangan ditanya mengapa lapar lagi? karena memang jumlah makanan yang masuk tadi hanya sedikit, itupun porsinya seukuran perut Zain.


.........