
...........
Dion mencekal kembali tangan istrinya yang enggan menatapnya itu.dibalikannya perlahan tubuh Dara agar menghadapnya.
Ditatapnya manik mata sang istri hingga membuat Dara grogi..
"Apa liat-liat ?" seru Dara pelan agar tidak membangunkan penghuni yang tidur didalam.
Dion tersenyum tipis menanggapi istrinya yang dalam mode jutek itu .
"Kamu marah sama Mas??" tanya Dion seraya menyingkirkan anak rambut yg menghalangi wajah istrinya.
Dara jengah dengan pertanyaan Dion. bahkan dia malas untuk menggapinya. sebegitu tidak peka nya kah dia sebagai seorang suami.
"Kita duduk dulu yu sayang! jangan berdiri terus nanti kamu pegal." Ajak Dion membawa istrinya agar duduk leseh di teras.
Dara hanya membalas dengan anggukan. sebenarnya dia takut orang rumah akan tau permasalahan yg tengah dihadapinya.makannya tidak sekalipun dia mengajak Dion untuk bicara didalam.
Setelah mereka benar-benar duduk, Dion menceritakan seluruh yang dia habiskan hari ini. Mulai dari mengantar Mirra untuk mengunjungi makam orang tuanya, Hingga ia kembali dilarikan kerumah sakit karena terlalu shok hingga harus bermalam lagi di Rumah sakit agar memulihkan kondisinya.
Dara hanya mendengarkan tanpa ikut berkomentar. sudah terlalu sering ia memaklumi suaminya , kurang apa lagi coba ia telah merelakan suaminya merawat wanita lain. padahal dia juga butuh perhatian bukan hanya dipenuhi materi saja.
"Kita pulang ya sayang. Mas nggak tega lihat kamu tidur di lantai , kasihan anak kita tempat tidurnya tidak memadai. pulang ya sayang please Mas mohon.." Ucap Dion bersungguh-sungguh bahkan menangkupkan kedua tangannya.
"Baiklah kita pulang. kalau begitu aku masuk dulu, mau pamit sama Ibu sekalian membereskan tempat tidurku tadi." ucap Dara. lalu berdiri perlahan karena tubuhnya terasa berat jadi tidak mungkin bergerak sit-set.
"Hati-hati sayang." Dion membantu isyrinya berdiri." Mas bantu ya? biar cepat kelar ." sahut Dion menggiring dibelakang istrinya.
Dara melipat selimut sedangkan Dion merapikan kasur itu dan digulungnya memanjang. Lalu diangkat ke sofa serta ditumpuknya bantal diatasnya.
Setelah beres Dara mengetuk kamar orang tuanya.
"Tokk.. tok. ."
"Tok.. tokk.. " Suara pintu diketuk beberapa kali. Hingga...
"krieett" Pintu itu terbuka menampilkan Bu Fatmala yang keluar dengan rambut berantakan.
"Ada apa Ra??" tanya sang ibu sambil menggaruk kepala khas orang bangun tidur.
"Dara mau pulang Bu, Mas Dion jemput soalnya." sahut Dara lembut.
"Pulang?? Hmm ya sudah. kalau sudah mau pulang tutup aja ya pintunya, nanti saya kunci." sahut Ibu.
"Iyyaa bu !! kalau gitu Dara pamit ya. Assalamualaikum." tandas Dara, meraih lengan ibunya dan salim dengan takzim diikuti Dion setelahnya.
.
.
Mobil mereka meninggalkan pekarangan yang tidak terlalu luas itu.
Dion menggenggam tangan Dara dengan satu tangan kirinya. sepanjang jalan hanya ada keheningan. Bibir Dion sangat gatal ingin berucap, Namun lidahnya kelu bingung harus bicara apa.
"Sayang !!" seru Dion
"Hem, iyyaa." sahut Dara seadanya,bahkan dia tidak menoleh dan asik menatap luar jendela mobil.
"Bicara dong sayang, jangan diamin mas kaya gini. Mas minta maaf sama kamu kalau sudah buat kamu kecewa."
"Hmm." dehem Dara.
"gak gi ..." Ucapa Dion terpotong
"Kalau mau bicara tunggu sampai dirumah dulu ya Mas." aku mau memejamkan mata sebentar, Bolehkan ??" Pinta Dara pelan. karena saat ini ia sangat mengantuk.
Kendaraan mereka melaju membelah jalan yang lenggang itu karena hari sangat larut jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat.
Dara terlelap tidak lama setelah bicara tadi.
Dion menepikan mobilnya sebentar lalu membenarkan posisi kepala istrinya dengan memasangkan Hooded U Shape atau yang dikenal sebagai bantal leher agar Kepala Dara tidak bergerak kesana kemari.
"Manis sekali." gumam Dion mengecup singkat bibir istrinya, lalu kembali mengemudikan mobil itu.
Dion menggendong tubuh Dara ala Bridal Style setelah sukses memarkirkan Mobilnya. Dion menekan liff untuk membawa mereka ke Unit nya.
Dara tidak terganggu sama sekali, bahkan ia tidak merasa diapa-apakan.
Pintu liff terbuka membuat Dion melangkah maju dan mendekati Unit nya.
Dion tidak menekan barcode karena ia kesulitan untuk menggapainya. Ia hanya menggunakan sensor wajah agar dapat membuka pintu itu.
"Tring.." pintu itu sukses terbuka.
Dion melenggang masuk kekamar, Merebahkan istrinya perlahan. diraihnya selimut untuk menutupi sebagian tubuh Dara, lalu di susulnya setelah melepas baju dan celananya.
............
Pagi tiba.
Kicau burung bersahut merdu. tetesan air masih terlihat dari dedaunan yg dibasahi oleh gerimis ujan sewaktu tadi.
Dua pasang insan masih bergelung di selimut tebal itu. baik Dara maupun Dion masih dalam mimpinya sebab Cuaca pagi itu sangat mendukung untuk mereka mencari kehangatan diantara dinginnya pagi hari.
Dara mengerjapkan mata terlebih dahulu karena merasakan benda berat menindihnya.
Ia geser tangan yang menggelungnya itu,dan didorongnya pelan Dada sang suami yang tengah menghimpitnya. ditatapnya wajah sang suami, yang terlihat begitu damai saat tidur.
"Kamu tampan Mas. pasti banyak wanita yg siap menggantikan posisi ku. apa aku bisa berharap kamu tidak membagi cintamu. bahkan aku tidak tau siapakah prioritasmu." Batin Dara dalam lamunan.
"Eeeng..." Dion menggeliat karena merasa sebuah sentuhan di rambunya. Dara reflek melepas tangan Nackal nya dari rambut sang suami.
"Selamat pagi sayang!! jam berapa ini??" Ucap Dion seraya menggosok matanya.
Dara melihat jam kecil di nakas."Setengah enam pagi Mas. dah ayo bangun, kamu lama gak ngantor loh. Kasian Daddy bila menangani perusahaan sendiri." terang Dara.
"Malas yang.. ayo tiduran lagi, Mas masih mau peluk kamu." Dion segera menarik tubuh Dara, hingga membuat wanita itu jatuh keatas dadanya.
"Aww,, Mas.." pekik Dara terkejut.
"Jangan teriak dikuping Mas sayang. memangnya kamu mau suamimu ini budeg." Racau Dion.
"Tau ah..!! Lepasin Mas, aku mau mandi lalu bikin sarapan." Sahut Dara memberontak.
"Jangan gerak-gerak sayang. nanti adik kecil Mas bangun."
"Iihh kebiasaan deh. pasti itu mulu ancamannya." Seru Dara, mencoba melepaskan belitan sang suami.
"Mas bilang jangan gerak-gerak bisa gak sii??. Mas cuma mau peluk sama ngomong sebentar.." Pinta Dion manja. karena ia paling tidak bisa melihat istrinya berlama-lama menghindar.
"Yaudah,, Mau ngomong apa? aku kasih waktu lima belas menit. Titiiikkk " titah Dara tidak mau di bantah.
"Ya.. atur kamu lah sayang, Sini makanya deket Mas jangan jauh-jauh. Hmm Mas minta maaf ya untuk kejadian yang kemarin! bukan maksud aku tidak menuruti permintaan kamu. tapi sayang tau sendiri kan? kalau kondisi Mirra masih memprihatinkan. aku tidak tega membiarkan dia terpuruk sendirian tanpa ada yang menemani. sayang Boleh pukul aku sepuasnya bila sudah tidak tahan dengan sikap Mas. tapi Mas mohon jangan mendiamkan Mas seperti kemarin apalagi sampai pergi dari Rumah.. Cinta Mas padamu lebih besar dari apapun, jadi jangan pernah meragukan cinta Mas apalagi berfikiran Mas mencintai wanita selain kamu." Ungkap Dion penuh Cinta dan kehangatan. terpancar dari bola matanya yang begitu mengasihi wanita didepannya ini.
"Mau semarah apapun aku padamu Mas,bahkan sekalipun kamu menduakan aku pantang bagiku untuk mengangkat tangan hanya untuk menyadarkan mu. sebagian wanita lebih memilih diam untuk menenangkan pikiran daripada marah-marah tidak jelas termasuk aku. kamu tau Mas?? aku sudah bersabar bahkan ikhlas kamu membagi perhatian untuk wanita masa lalumu itu, namun bukan berarti kamu bebas menemuinya kapan saja dan mengabaikan tanggung jawab mu kepadaku dan triplets." Ungkap Dara berderai air mata. teringat selama ditinggal suaminya keluar negri setiap malam susah tidur, tidak nafsu makan bahkan sempat diinfus karena kekurangan cairan akibat seringnya muntah.
.............