
........
Dara melepas kepergian suaminya yang akan menemui sang mantan dengan ekor mata nya.
"Apa keputusanku sudah benar dengan mengijinkan Mas Dion menemui wanita itu. ya tuhan sebenarnya aku tidak rela, tapi aku juga tdk ingin terlihat posesif kepadannya." gumam Dara.
Dara meninggalkan tempat itu, ia akan kembali kedalam saja. lagipula acara belum selesai jadi biar ia sendiri yg akan menunggu disana.
Tidak jauh dari arahnya,terdengar suara seseorang memanggilnya dengan pelan. Dara menoleh mencari sumber suara itu. ia tersenyum ternyata itu adalah sahabat yang setia menemani nya saat suka maupun duka.
"Hayy Bi,ayo sini." Dara melambai sahabatnya agar mendekati nya.
Bira yg mendapatkan respon sang sahabat segera mendekat dan memeluk pelan .
"Duhh ya ampun dari tadi gue cariin tau. mana disini gue gak punya kenalan.berasa kaya orang nyasar tau gak" ucap Bira
"Emang ia, sorry banget tadi gue habis dari kamar soalnya. Lo sama siapa Bi ?"
"Gue, Nih liat siapa di sebelah gue." tunjuk Bira disampingnya.
"Mana, gak ada."
"ya emang gak ada, ihh lu kan tau gue jomblo sejati. ehh Ra gue laper nih, tadi sebelum kesini gue udah mengosongkan tabung supaya muat menyimpan hidangan lezat dari hajatan lu." ujar Bira bercanda.
"Uhh kacian, ayo kita kesana ." tunjuk Dara, pada meja prasmanan yg tersusun hidangan menggugah selera baik makanan berat dan ringan serta aneka kue dan buah-buahan sebagai pelengkapnya.
Dara menemani Bira untuk mengisi perutnya. setelah kedatangan sang sahabat akhirnya Dara punya teman ngobrol juga. sedari tadi anggota keluarganya terlalu asik mengurusi acara dan mengobrol dengan orang lain termasuk suaminya.
Entah mengapa ia tdk begitu menikmati acara itu,bahkan ia merasa semua orang tengah mengabaikannya.
"Dah selesai gue, ayo Ra cari tempat duduk.
"Serius ! kata nya lapar, tapi kok dikit ngambilnya?." tanya Dara heran.
"Dikit apa nya! emang Lu fikir porsi makan gue kaya gimana?, ya kali harus penuh kaya kuli dong gue wkwkwkwk." sahut Bira, lalu berjalan ber-iringan dengan si tuan rumah itu dan memilih tempat duduk sedikit pojok.
"Kirain, padahal tadi mau gue ambilkan baskom malah. takutnya lo mau nambah tapi malu." timpal Dara. dan seketika mendapatkan sebuah timpukan di lengannya.
"Ya elah ni anak hobby banget deh ngeledekin gue. gue pecat jadi sahabat ntar." sahut Bira yg tengah asyik menyumpal makanan ke mulutnya.
"lagi makan jangan ngomong, nanti keselek tulang ayam terus susah nafas dibawa kerumah sakit lalu ji'un deh." kelakar Dara.
Bira melotot, ia tdk jadi mengeluarkan suara. takut apa yg dikatakan sahabatnya terjadi
"ya ampun teman lucknut, nyumpahin gue gak sempat nikah inimah." gumam Bira dalam hati.
.
Ditengah keramaian yg mendera di dalam mansion, lain lagi yg terjadi di taman belakang rumah. suasana panik, genting dan heboh sangat cepat menjalar keseluruh hadirin yg datang.
Dara yang mendengar suara gaduh dari para tamu undangan dibuat penasaran dengan apa yg terjadi. tanpa membuang waktu ia berjalan cepat keluar rumah, dengan digiringi Bira dibelakang nya.
"Pelan-pelan aja Ra, jangan kaya gitu juga kali jalannya." cegah Bira yang ngeri melihat Bumil kepo tingkat dewa itu.
"Ehhh lupa." sahut Dara.lalu memelankan langkahnya.
Dan betapa syok nya Dara melihat suaminya tengah mengangkat seorang wanita dalam dekapannya.bahkan lebih parahnya lagi kemeja yg dikenakan suaminya dilumuri darah.
"Mas Dion." cicit Dara.
...
flashback
"Mau ngomong apa?" tanya Dion seraya ikut duduk disamping Mirra.
Mirra tersenyum, wajah berseri yang ia tampilkan saat pertama datang tadi berubah menjadi pucat pasi bahkan sedikit kekuningan, dengan keringat dingin yg membasahi tubuhnya.
"Gak sabar banget, santai dulu lah." sahut Mirra dengan pandangan lurus ke depan.
"Hmm baiklah ."
"Apa kamu gk mau tau selama dua hari aku kemana.?" tanya Mirra tiba-tiba.
Dion menoleh sebentar lalu kembali ke posisi semula.
"Memang nya kemana? kebetulan aku lupa karena gk sempat memperhatikan yg lain." sahut Dion apa adanya. karena memang ia tengah disibukan dengan persiapan acara dan urusan kantor yang ia pantau sesekali saja.
"Hmm ternyata gak ada hal yg lebih penting dari urusan kantor dan istrimu ya."
"Maksud kamu?" tanya Dion heran.
"Maksud aku tiada hal yg lebih penting dibanding istri kamu.
"Tentu. karena istriku berhak menerima seluruh waktu dan perhatianku." sahut Dion sedikit terpancing, karena Mirra menyinggung nya.
"Haha !! iya iya deh aku mengerti. tapi ada hal lain yg mau aku bahas sama kamu.
sebenarnya aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ku sekarang. kamu tau kan selama bekerja diperusahaan mu aku sering pusing bahkan hampir pingsan.
Dion mengernyit. iapun menyadirinya namun dulu enggan untuk bertanya.
"Memangnya ada apa dengan semua itu, aku fikir kamu hanya masuk angin atau telat makan saja."
"Saat ini aku sedang menjalankan pengobatan, dan sebelum aku berangkat makanya menemui kamu sebentar disini. meskipun aku tau kamu gk bakal peduli, dan mengenai surat pengunduran diri sudah aku siapkan dan akan aku kirim kirim ke bagian HRD besok pagi." sahut Mirra sumbang meratapi penyakit ganas yg menggerogoti tubuhnya.
Penyakit yg ia dapat akibat terlalu sering mengkonsumsi minuman Ber-Alkohol dalam jumlah banyak bahkan ia mampu menghabiskan 2 dus minuman keras itu, ditambah lagi dengan kurangnya tidur , nafsu makan hilang bahkan hampir berhari-hari tdk mau mandi dikarenakan frustasi harus putus dari sang pujaan.
"Pengobatan !! kamu sakit apa?" tanya Dion mulai cemas, apalgi wanita didepannya ini memang terlihat kurus kering.
Mirra menoleh, ia meraih tangan Dion. ditepuknya berulang-ulang
"Jangan khawatir dengan keadaan ku, aku hanya sakit biasa dan mungkin Dokter bisa menyembuhkannya." ucap Mirra dengan suara yang mulai parau.
Nafasnya mulai tidak beraturan. pengaruh cemas membuat tekanan darahnya naik.
Dion yg menyadari hal ganjil itu,dibuat panik. Ia sigap menggenggam tangan Mirra
"Gak kamu ngomong dulu apa sebabnya. ayo jujur sama aku kamu sakit apa, jangan buat aku khawatir sama keadaan kamu. jawab Mirra ayo..?"
"Mirra............" teriak Dion seraya menangkap tubuh ringkih Mirra yang memuntahkan Darah lumayan banyak sehingga ia tdk mampu menjaga kesadaran dan akhirnya tumbang disebelah Dion.
"Heyy Mirra !! Are you okay. tolong .. tolong siapkan Mobil segera." perintah Dion pada siapapun yg melintas di sekitar mereka.
flashback off
.........
Suasana yg awalnya lenggang dan tenang dibuat panik. bahkan tidak sedikit tamu undangan kembali kerumah masing-masing sebab tuan rumah menghentikan acara itu . bahkan baik Dion dan kedua mertuanya pergi tanpa pamitan dulu kepadannya.
"Ya ampun Ra suami lo, mertua lo !" tunjuk Bira kepada kuda Besi yg menampung mereka pergi dari halaman itu.
"Gak apa Bi, mungkin mereka panik. ayyo temani gue kedalam sebentar. masih ada orang tua gue kok."
.
.
Apalagi pak gunawan ayahnya Dara, terlihat sekali sedang menahan amarah kepada kelurga Morgana yg mempermalukan Putrinya dengan meninggalkan mereka tanpa pamit.
"Ayah." panggil Dara.
"Apa begini sikap keluarga kaya ini padamu Ra?" potong pak gunawan.
Dara menggeleng tanda ia tdk mengerti
"Apa maksud ayah?"
"Apa begini cara mereka memperlakukan kamu dirumah ini. saya fikir mereka orang yg pandai menghormati orang lain tapi ternyata sama saja.Huhh malu rasanya saya sudah hadir disini." ketus tuan Gunawan.
"Kenapa ayah bicara seperti itu, Mungkin mereka panik makannya acaranya di bubarkan. lagipula tamu yg datang kebanyakan rekan bisnis mereka. lalu jika ber-lanjut siapa yg akan melayani,sedangkan Dara tidak terlalu bisa berintraksi dengan orang-orang itu"
Ayah Dara terdiam,hanya saja ia jengkel melihat suami Dara yg pergi tanpa mendatangi anaknya dulu. walau bagaimana pun ia tetaplah seorang ayah yg tdk suka bahwa anaknya disakiti orang, selain ia dan istrinya.
"Kalau begitu lebih baik kami semua pulang. lagipula masih ada pelayan yg menemanimu disini. ucap Ayah Dara.
Dara menitikan air mata "kenapa buru-buru Yah,Bu..! tunggu lah sebentar lagi sampai mereka pulang." pinta Dara dengan menghiba.
sedangkan Bira yg disebelahnya akhirnya sadar bahkan melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa cerita yg sering ia dengar dari Dara bukan bualan semata. terbesit dihatinya ingin membawa Dara kedalam pelukan.
Ibu menyela " Ibu sama ayah mau istirahat Dara, badan kita lumayan capek juga. lagian abangmu pasti sudah pulang takutnya lapar, ibu tdk sempat masak dirumah tadi. gak usah Nangis kaya gitu juga,masa udah jadi emak-emak masih cengeng.lebih baik bantu ibu gih bungkusin makanan buat dibawa pulang." ajak sang ibu yg terdengar lebih lembut dari biasanya.
Akhirnya Dara setuju. ia meminta si mbo membantunya untuk menyiapkan apa saja yg akan dibawa ibunya pulang. berbagai macam menu sudah tersusun dirantang,tidak ketinggalan aneka kue juga ia kirimkan.
.
Dara mengantar orang tuanya sampai muka gerbang hingga tumpangan mereka hilang ditelan tikungan.
"Udah Ra jangan diliatin mulu. kasian anak lo dibawa berdiri terus, yang ada melahirkan mendadak Lo."
"Husshh ! jangan Ngomong gitu Bira, anak gue belum sampai umur tau.. yg ada lahir prematur nanti.dah ah yuk masuk, pegel gue. jangan bilang lo mau pulang juga !" Dara menyelidik.
"Kenapa? takut gue tinggal. ciee ada yg gak mau pisah dari gue kayak nya!."
"Dihh GR. pliss Onty jangan pulang dulu, temani ponakan dulu okay." ucap Dara seraya menirukan suara anak kecil.
Bira terkekeh,ia tdk jadi menyampaikan niatnya." Kasian juga, ya udah lah." gumam Bira dalam hati.
...***...
sementara dirumah sakit
.
Rombongan Morgana mengantar Mirra sampai ruang IGD,mereka harap-harap cemas menunggu.
"Apa Daddy sudah menelpon keluarganya?" tanya Dion.
"Sudah,mereka bilang akan segera kesini. apa yg terjadi? kenapa dia tiba-tiba ada sama kamu?" sahut tuan David,
karena teriakan anaknya ia jadi ikut panik dan membubarkan tamu undangan yg hadir.
"Ceritanya panjang Dadd, pliss jangan tanyain aku apa-apa dulu. aku pusing." ucap Dion seraya menyugar rambutnya ke belakang.
"Apa kamu sempat bertemu Dara sebelum kita kesini Nak?" tanya Nyonya Diana.
Dan mendengar pertanyaan ibunya Dion langsung menepuk jidat. ia sudah meninggalkan istrinya dirumah dalam keadaan khawatir." Ya tuhan. kenapa Mommy baru bilang sekarang, Dion lupa."
"Lupa !." pekik tuan David, jadi diantara kita semua tidak ada satupun yg berpamitan dengan istri serta mertua mu. ahh Dion masalah apa lagi ini."
...**...
Di tengah perdebatan mereka. Pihak dari orang tua Mirra hadir dengan rasa khawatir. Mereka mendatangi rombongan Dion dan memberondong mereka dengan pertanyaan.
"Bagaimana keadaan anak saya? kenapa dia bisa ada disini. bukannya sebelum berangkat dia masih baik-baik saja. ayo jawab saya bagaimana keadaan anak saya. hiks hiks
lihatlah karena ulah kamu anak saya jadi seperti sekarang. lihat karena ulah kamu anak saya kehilangan harapan hidupnya, karena kamu anak saja jadi suka mabuk-mabukan,karena kamu anak saya tdk mau makan, karena kamu hidup anak saya berantakan." tunjuk Nyonya Violet kepada Dion.
"Mom jangan buat keributan. ini rumah sakit, biarkan dokter menangani anak kita dulu. plisss tenang okay." bujuk tuan adam ayahnya Mirra dengan menggosok bahu istrinya.
Pihak Morgana hanya mendengarkan saja tudingan nyonya Violet. mereka baru mengetahui kenyataan itu. mereka fikir selama ini keadaan Mirra baik-baik saja.
Tidak lama lampu yg menyala diatas pintu itu padam, dan pintunya dibuka oleh seorang Dokter dan Suster yg menangani.
pihak Mirra dan Dion mendekati dokter itu
"yang mana keluarga pasien?" tanya sang dokter.
"Kami Dok! bagaiman keadaan anak saya." tanya tuan Adam dan nyonya Violet.
"Mari, kita bicarakan diruangan saya." ajak dokter itu
"Stop! apa kami boleh ikut, kami juga menghawatirkan keadaannya." terang nyonya Diana.
"bagaimana nyonya." tanya sang dokter kepada keluarga pasien.
"Baiklah." sahut nyonya Violet.
.
Mereka tiba diruang dokter itu Dan memilih tempat duduk masing-masing.
Dokter menyerahkan hasil Medis Mirra kepada Orang Tuanya.
"Maaf kami sudah berusaha semampu kami tapi anak kalian terlanjur kritis dan saat ini mengalami koma. jika tidak segera ambil tindakan bisa-bisa nyawa taruhannya. apa selama ini kalian sudah tahu dengan penyakit yg dialaminya.?" tanya Dokter itu.
"Apa! anak saya koma." pekik Nyonya Violet dan tuan Adam bersamaan" tangis nyonya Violet pecah mendengar anak nya terbaring tdk berdaya.
"Sakit apa Dok, kami tidak mengetahuinya.tolong lakukan yg terbaik untuknya. kami siapa membayar berapa pun asal dia sembuh." pinta Nyonya violet.
Dokter itu bingung." kenapa kalian bisa sampai tidak mengetahui penyakitnya? Mohon Maaf jika kabar yg saya sampaikan ini membuat kalian terkejut. bahwa Nona Mirra mengidap Hepatitis B, bahkan sudah Akut. saya sarankan agar membawanya berobat keluar negri seperti belanda Misalnya karena fasilitas kesehatan disana jauh lebih baik. bagaimana Nyonya?" tanya Dokter itu agar ia segera membuat surat rujukan.
"Baiklah Dokter Lakukan apapun yg terbaik. kapan kami bisa membawanya?" Tuan Adam menyela.
"Lebih cepat lebih baik. dan kami akan segera menyiapkan evakuasi medis Untuk membantu pasien selama perjalan berlangsung." terang Dokter.
"kenapa anak saya bisa koma dokter?" tanya Nyonya violet. karena beliau tdk puas dengan penjelasan Dokter tadi."
"baiklah akan saya jelaskan kembali. begini Nyonya, koma terjadi akibat kerusakan salah satu bagian otak baik sementara maupun permanen. penyebab kerusakan ini sangat beragam seperti stroke misalnya, cedera berat dikepala, infeksi, atau tumor. Nah faktor pendorong hingga anak nyonya koma ialah terjadinya infeksi dalam organ tubuhnya.
.
.
Blaaa .... blaaaa....blaaa kepanjangan penjelasannya. skip saja ya!!
..........
Mohon maaf jika ada penjelasan yg tidak sesuai ya karena othor mengandalkan mak gugel.dan maaf jika ada typo dalam percakapan.
boleh kokk kalian komen agar saya segera memperbaikinya.