
............
Di saat Dion beserta keluarga dan rekan-rekannya merayakan pesta untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Namun berbeda dengan seorang wanita hamil yang tengah berjalan gontai dipinggir trotoar itu.
Dara menyeret kakinya menjauhi kantor sang suami. air matanya tidak berhenti keluar ,, Dara sesekali menyekanya agar tidak terlalu mencolok. Ia takut dilihat orang yang berlalu lalang , karena bagaimanapun pasti orang akan memperhatikan
Setelah merasa cukup jauh, Dara mencari tempat untuknya beristirahat. dan tidak jauh dari nya ada sebuah taman diseberang jalan.
Dara menyeberanginya, lalu mendatangi sebuah kursi yang terletak dibawah pohon itu.
Taman itu tampak sedikit sepi. mungkin karena tengah hari jadi orang malas untuk keluar. hanya terlihat beberapa anak-anak yang sedang bermain bola dan bermain sepatu Roda.
Dara menatap lurus jalan raya, pikirannya sedang kalut saat ini. Dia sengaja tidak langsung pulang ke apartemen sebab perlu merileks kan pikiran dan mencari angin sejenak.
Dara membuka tutup kue buatannya, dilihatnya beberapa lilin yang ia susun tadi roboh. Dara membetulkannya kembali dan menaruhnya perlahan agar tidak berguncang.
Hampir satu jam Dara duduk ditempat itu. kakinya enggan untuk melangkah, ia terlalu nyaman dengan posisinya sekarang. beban pikiran yang dipikulnya tadi berkurang . teralih dengan riuh tawa anak-anak dan bising kendaraan.
"Haii kakak cantik!! boleh aku duduk disini." Seru anak perempuan kira-kira berusia delapan tahun itu.
Dara menoleh sembari tersenyum." Iyya silahkan Cantik." Sahut Dara
"Wahh kakak sedang hamil yaa??"
"Hmm seperti yang kamu lihat. ada tiga bayi didalam sini." tunjuk Dara dengan menenteng tiga tunjuk didepan perut nya.
"Wahh banyak sekali !! memangnya mereka muat disana?" Ucapnya polos bahkan tidak percaya.
"Entahlah kakak tidak tau. hmm kamu sama siapa?"
"Sama kakak." Sahut bocah itu.
"Kakak!!! kemana kakakmu? kenapa kamu sendirian? " tanya Dara heran.
Anak itu itu menunjuk sebuah mini market yang ada diseberang." Kakak sedang beli minum, kebetulan aku haus habis main sepatu roda." Sahutnya.
"Ohh. Berani juga ya kamu ditinggal sendiri." Ucap Dara sengaja mencari topik pembicaraan.
"Tentu. karena aku kan pemberani." mengangkat tangan menunjukan otot kecilnya.
"Hahaha .. iya..iya percaya." Dara geli melihat tingkah gadis itu yang terkesan pamer sekaligus polos.
"Nahh itu kakak..." menunjuk seorang laki - laki yang berusaha menyeberangi jalan dengan menenteng dua botol minuman.
"Ouh itu kakakmu,, aku fikir dia juga seorang perempuan." Ucap Dara ikut menajamkan penglihatannya.
Laki - laki itu mendekati mereka. dapat Dara lihat sepertinya mereka bukan orang sembarangan. terlihat dari gaya, postur tubuh, bahkan pakaian yang mereka pakai terlihat bermerk. apalagi laki - laki itu juga tidak kalah ganteng dan tinggi seperti suaminya, bisa jadi mereka seumuran.
"Kakak sini." panggil bocah itu melambai-lambai.
Laki-laki tadi mendekat dan menghampiri mereka. dia menatap Dara sekilas lalu membuang pandangan menjadi menghadap sang adik.
"Nihh minum kamu."
"Kakak cuma beli dua??" Ucap bocah itu.
"Iya kenapa?"
"Lalu untuk kakak ini tidak ada." seru bocah itu menunjuk Dara disampingnya.
"Tidak ada." jawabnya cuek lalu meneguk minuman itu.
"Ehh gak papa, kakak sedang tidak haus." sahut Data tidak enak. ada-ada saja bocah ini pikirnya.
"Cepat diminum supaya cepat pulang." Ajak laki - laki itu terdengar dingin.
"Iya ini lagi minum." gerutu bocah itu mencebikan bibir. lalu meneguk minuman itu, bahkan suaranya tegukannya saja jelas terdengar sehingga membuat Dara tiba-tiba Dahaga.
"Ayo pulang .. terlalu lama kita disini nanti dicari Mommy."
"Baiklah, kakak cantik aku pulang dulu ya semoga bertemu lagi." Ucapnya seraya memberi finger love untuk Dara.
"Ya semoga bertemu lagi." sahut Dara ikut berdiri. bankan senyumnya sangat manis membuat laki-laki yang bersama bocah itu berdebar.
Lalu mereka membalikan badan. tiba - tiba " buukkk.. Awwww." pekik Dara karena sebuah bola bersarang tepat diwajahnya.
Kedua orang tadi membalikan badan dan terkejut melihat wajah Dara kotor karena bola yang mengenai Dara basah dan berpasir.
"Heyyy anak nakal jangan lari kalian..." pekik laki laki itu, sehingga membuat anak-anak itu lari terbirit karena takut.
"Aduh mataku..." Dara meraba - raba mencari tempat duduk.
"Anda tidak apa Nona..??" tanya lelaki itu khawatir.
"Ya tidak apa, hanya kelilipan saja." Sahut Dara sembari mengucek kedua mata. karena saat ini matanya benar - benar tidak bisa dibuka.
"Kakak, apakah sakit?? " bocah itu menyela memegangi pipi Dara dan membersihkan wajahnya.
"Tidak cantik. hanya sakit dikit."
"Jangan dikucek Nona, nanti iritasi. Yola tunggu kakak dimobil." perintah laki - laki itu pada sang adik.
"Iya kak."
"Mari saya bantu." Ucapnya mendekati Dara bahkan ikut duduk didepannya.
"Maaf tidak perlu, saya bisa sendiri." sahut Dara masih mengucek matanya, karena rasanya sungguh mengganjal bahkan sakit.
"Jangan membantah Nona. jangan di kucek terus yang ada nanti bola mata anda terluka." Serunya tidak mengindahkan penolakan Dara.
Tiba tiba laki - laki itu memegang pipi Dara dan membuka sedikit mata Dara, lalu ditiupnya beberapa kali. " fyuhh.. fyuhh.. fyuhh .. fyuhh ..." hembusan nafas berbau lemon lelaki itu menerpa indra penciuman Dara. membuat Dara gugup karena posisi mereka begitu intim.
Bukan hanya Dara yang gugup. bahkan jantung laki - laki itu berdebar kencang, mungkin saja berontak ingin keluar dari dadanya..
"Cukup tuan." Seru Dara mundur kebelakang sembari menormalkan penglihatannya.
"Bagaimana, apa sudah mendingan??" tanyanya menghilangkan kecanggungan itu.
"Hmm alhamdulillah lumayan, terima kasih." Ucap Dara tulus dibarengi senyum yang lagi-lagi begitu manis menurut lelaki itu.
Sedangkan dari seberang jalan tepatnya sebuah mobil mewah ada dua pasang mata yang memperhatikan interaksi Dara dan lelaki itu. orang lain pasti mengira mereka sepasang kekasih atau mungkin suami istri sehingga menebar keromantisan didepan umum.
Dion mengepalkan tangan hingga buku-buku nya memutih. bahkan urat - urat menonjol dari leher Dion membuktikan ia tengah menahan amarah yang begitu dahsyat dan siap untuk mengancurkan sesuatu dengan tangannya.
Ya Dion dan Mirra melintasi kawasan itu. berhubung ia ingin pulang, sekalian mengantar Mirra kerumahnya. tidak sengaja matanya menangkap siluet Dara yang memekik.karena posisi tempat Dara duduk terlihat lapang dan tampak sangat jelas dari jalanan.
"Aku tidak menyangka istrimu ternyata..." Ucapan Mirra terhenti karena Dion menggebrak stir lalu menjalankan mobil itu.
..
"Sekali lagi terima kasih tuan untuk bantuannya."
"Tidak masalah. apa anda mau pulang biar sekalian saya antar." tawar laki-laki itu berharap Dara setuju. ahh apa yang dia pikirkan,bukankah sudah jelas Dara seorang wanita hamil sudah pasti mempunyai suami.
"Tidak tuan terima kasih. saya bisa pulang sendiri." tolak Dara sopan.
"Baikalah. bolehkan kita berkenalan? saya Marvel." ucapnya mengulurkan tangan meminta Dara untuk menyambut
Dara menanggapi dengan tersenyum lalu menerima uluran tangan itu." Dara." cicitnya pelan seraya melepas jabatan mereka.
"Senang berkenalan denganmu Dara. semoga kita bertemu lagi, kalau begitu saya pamit dulu. kasihan adikku lama menunggu." Ucap lelaki itu merona bahkan bicara tanpa bernafas saking grogi dan bahagianya.
"Silahkan Marvel, hati-hati dijalan." Dara tersenyum mengembang. untuk pertama kalinya ia dekat dengan laki-laki selain suaminya.
...............