Love Us My Husband

Love Us My Husband
Visual




Zain dan Zelin sepasang anak kembar yang Dara lahirkan sebelum waktu nya. Namun kedua bocah itu mampu bertahan disaat kondisi sang ibu tidak baik-baik saja.


~Nama Zain/Zayn, Dara ambil dari bahasa arab yang berarti perhiasan yang berharga. Seperti perhiasan itu lah Dara menggambarkan sosok sang anak laki-lakinya, dimana Ia menjaganya segenap jiwa dan raga. Setiap waktu hanya ada kasih sayang yang selalu ia curahkan untuk menggambarkan betapa ia sangat bersyukur di anugrahi putra yang tampan, dan sebisa mungkin ia penuhi segala kebutuhannya.


Sedangkan untuk Nama Zelin sendiri, ia ambil dari pribahasa berharap putri cantiknya itu mempunyai kepribadian ekspresif, mudah berbicara, bersosialisasi, seni, dan menikmati hidup dan tentunya Solehah. Nama itu lahir dari pengalaman hidupnya dimana ia akan mempersembahkan yang terbaik untuk sang anak agar putri tunggalnya itu dapat hidup dengan layak.



Dara Nur safira yang biasa di sebut Dara, ialah ibu muda berusia 22 tahun, Istri dari Dion Morgana. Dara adalah wanita tunggal dari lima bersaudara. Namun hidup wanita cantik itu tidak seberuntung putri-putri lainnya, dimana dalam keluarga ia dianggap hanya beban, bahkan kisah cintanya tidak semulus jalan tol. Dara meninggalkan kehidupannya yang dulu bersama kedua buah hatinya.



Dion Morgana yang kerap di sapa Dion Ialah pengusaha muda yang tdk diragukan lagi kehebatannya. Kharismatik, ketampanan, bahkan kaya raya adalah pelengkap diri lelaki itu. di usia ke 27 tahun dia sudah dikenal diberbagai penjuru berkat skil dalam berbisnis yang jarang dapat dilakukan orang lain. Namun sayangnya dalam kasus percintaan ia adalah lelaki yg paling tolol, sehingga berulang kali melakukan kesalahan tanpa berfikir akibat nya.


...[][]~Mohon maaf jika kalian tdk menyukai visualnya. ...


...kalian bebas berfantasi ya hehehe ❤️❤️❤️❤️~[][]...


.........


Seketika Dion mengangkat pandangannya. dimana sedari tadi ia hanya fokus dengan makanan didepannya


"Makasih sayang." Dion segera menyambar tisue pemberian sang istri. sungguh saat ini ia ingin berteriak sekencang-kencangnya saking terharu dengan perhatian sang istri.


"Ahh, iya." sahut Dara salah tingkah lalu menyugar helaian rambut yang menutupi sebagian wajah.


Wanita itu meneruskan acara makannya sembari menyembunyikan warna merah yang sudah pasti terpatri di wajahnya.


"Apa yang aku lakukan?ah ya ampun malu sekali." batin Dara


Setelah mereka semua selesai, Dion pun bergegas berdiri ingin membayar pesanan mereka.


"Tunggu sebentar sayang. Mas mau bayar ini dulu." ucap Dion tersenyum manis, lalu melangkahkan kaki jenjang nan menggoda nya menjauhi Dara.


Dara hanya mengangguk, ia mendekati kedua bocah itu untuk membetulkan penampilan sang anak.


"Dah kenyang anak Mimi?" tanya Dara dengan lembut, meraih tisue lagi untuk menggosok bibir kedua buah hatinya yang berminyak.


"Alhamdulilah udah Mi. mimi nanti beli pentol pedas buat tante Bira ya." pinta Zelin. ia teringat dengan sang tante, karena sudah menjanjikan akan membeli sesuatu untuk dibawa pulang.


Bira sempat membisikan permintaannya karena kedua bocah itu memaksa sebagai ganti telah membawa sang sahabat. karena mereka merasa bersalah telah membawa sang ibu, dan meninggalkan tantenya sendiri di rumah.


"Pentol pedas! oh, ok nanti kita belikan. tapi nanti, kalau beli sekarang takutnya pesanan tantemu jadi dingin."


"Yeyyy,, Terima kasih Mimi.


saaa.. yaang mimi!!" kedua bocah itu berabutan memeluk sang ibu


"Ha ha ha,, iya iya mimi juga sayang kalian. sudah, ayo kita siap-siap kata nya banyak yang mau dibeli Pipi kalian.


Dion datang dengan semangat, namun jauh dalam lubuk hati nya, ia mengeluarkan sumpah serapah sebab perutnya memang sulit di ajak berkompromi. rasa menusuk-menusuk di ulu hatinya membuat lelaki itu sedikit ngos-ngosan.


Memang beberapa hari terakhir Dion selalu telat makan, mungkin itu sebab nya Asam lambung lelaki itu kambuh dan membuat nya sedikit tersiksa. Apalagi barusan ia makan dengan brutal, padahal saat itu perut nya tdk boleh dikejutkan dengan makanan berat.


"Ayo sayang. Zain, Zelin sini pegangan sama Pipi." pinta Dion.


Mereka pun berbelanja dengan riang nya. Dara hanya terkekeh melihat betapa antusiasnya kedua bocah itu. Dion sangat memanjakan putra putrinya hingga apapun yg dipegang kedua bocah itu langsung masuk dalam troli belanjaan mereka.


"Zelin. jangan banyak-banyak, nanti gak dipake. terus abang juga ngapain beli begituan?" Omel Dara pelan


"Biarkan sayang,, lagipula aku mampu kok bayar semuanya. bahkan kalau kalian mau aku bisa memindahkan seluruh isinya kerumah kita."


Dara mendelik tidak suka." Jangan aneh-aneh dehh!! daripada buang-buang duit lebih baik kamu sumbangkan buat warga kampung sana, yang pasti ada manfaatnya." sahut Dara judes


"Ha ha ha,, ampun sayang bercanda kok. duh tambah manis kalo lagi judes gini." rayu Dion dengan menerbitkan tawa renyah.


"Ckk.." Dara pun berlalu


Saat Dara lengah, Dion pun menekan perutnya sebentar. dia celinguk-celinguk mencari kursi sebab ingin mengistirahatkan lambung nya yg bermasalah.


...Kalau kentut nya tdk keluar jangan harap rasa sakit itu akan hilang 😁😁😁...


.


.


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Hari yang awalnya terang benderang mendadak gelap diiringi mendung dan berangin ribut.


Hujan deras mendera kota itu, membuat mereka sulit untuk pulang. Sebenarnya tdk masalah karena mereka menggunakan mobil juga. namun jarak pandang akan berkurang sehingga membuat Dion enggan, takut membahayakan istri dan anak-anaknya.


Sembari menunggu hujan sedikit reda, Dion kembali memboyong anak istrinya untuk beristirahat di tempat yang mereka datangi pertama tadi.


Hembusan angin memasuki ruangan itu. ditambah AC yg menyala semakin membuat Dara kedinginan.


Dion yg menyadari sang istri sedang tdk baik-baik saja pun berinisiatif membelikan sesuatu. sebab ingin Merangkul atau memeluk pun sudah pasti tidak mungkin, karena bisa saja Dara menghadiahinya dengan cubitan maut.


Dua gelas kopi susu hangat dan susu coklat tersaji dengan manja didepan mereka.


"Silahkan dinikmati." ucap pelayan wanita dengan ramah, Mendelik sebentar kearah Dion seakan tebar pesona.


"Terima kasih." Sahut Dara beserta kedua anaknya, sedangkan Dion tdk ikut menimpali sama sekali.


Sebenarnya Dara menyadari gelagat wanita itu, hanya saja ia tdk ingin ambil pusing


~


~


Setelah hujan mereda, mereka pun bergegas untuk pulang. banyak nya barang belanjaan membuat Dion sedikit kesulitan membawa semua nya.


"Sini aku bantu." pinta Dara, segera mengambil belanjaan itu sebagian. Walau bagaimanapun dia iba melihat Dion yg kesusahan


"Jangan Sayang!" Dion mengambil kembali apa yang dipegang Dara


"Mas bisa sendiri. kalian jalan saja duluan, lagi pula ini semua berat. Oh ya, nanti mas pinjam troli saja, agar mudah membawa semuanya ke mobil. Ya sudah kalian tunggu di mobil ya."


"Hmm baiklah." ucap Dara.


Tidak ada pilihan lain, sebab betul juga ucapan Dion. jika ada cara yg mudah, untuk apa harus susah-susah.


.........