
...…...
Setelah selesai memasukan barang belanjaan ke dalam bagasi Mobil. terlihat ketiga jiwa kesayangan Dion telah duduk manis, menanti dirinya agar membawa mereka pulang.
Sepanjang perjalanan pulang. Zain dan Zelin tak henti - hentinya bercanda, entah apa yang kedua bocah itu bahas. terdengar pekikan kecil, serta raungan kecil dan tawa renyah yang terdengar melalui kursi belakang. Mungkinkah mereka sedang main cubit - cubitan atau main tonjok? Dara dan Dion tidak tau, enggan menggangu mereka selagi kedua bocah itu anteng tidak menangis
Dara tidak ambil pusing. Wanita itu memejamkan mata, guna mengurangi rasa mual akibat bau Ac yang begitu ia tidak suka. sedangkan Dion sendiri, berusaha mencairkan suasana dengan berdehem bahkan berpura - pura batuk demi menggait perhatian Dara.
Namun semua itu tidak berhasil, karena Dara tak terpancing sama sekali. wanita itu tau, Dion hanya iseng dan sedang mencari perhatiannya. biarlah dia sibuk dengan keisengannya pikir Dara.
Dion mengulurkan tangannya untuk mengambil telapak tangan Dara. Namun bukannya tangan yang dia dapat, Dara justru menghadiahkan pelototan mata tanda ia tidak suka.
"Bisa gak sih jangan aneh - aneh..?" Cicit Dara sangat pelan, nyaris tak terdengar
Seketika Dion kicep melihat perubahan raut muka Dara. Dion sadar, istrinya itu tengah kesal.
Cinta yang begitu besar, membuat laki - laki itu sangat lemah terhadap wanitanya. Dion bersumpah, seumur hidup tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama dan berjanji akan menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan bertahun - tahun lalu.
"Sayang kenapa..? apa kamu pusing..? pasang dengan benar bantal lehernya itu, supaya tidurannya enak." titah Dion bawel, seolah Dara hanyalah seorang anak kecil.
"Hmm.."
"Hmm.. hmm.. Kamu keliatan pucat loh,"
"Aku cuma gak tahan bau AC doang. kenapa sih kaya orang kebakaran jenggot gitu?" sungut Dara pelan,tanpa membuka mata.
Sungguh ia mabuk kepayang bukan karena Cinta, tapi bau AC mobil yang berputar-putar di hidungnya membuat Ia sangat tersiksa.
kebiasaan tidak menyukai bau AC mobil dimulai sewaktu Ia mengandung anaknya dan itu juga berlaku sampai sekarang
Dion mengernyitkan kening. dan tanpa pikir panjang, AC itu ia matikan. Ia turunkan sedikit kaca, agar bau dalam mobil bisa keluar.
.
.
.
Setelah melewati perjalan lumayan panjang. Akhirnya mereka sampai di kampung tempat tinggal Istri dan anaknya selama ini.
Dion melihat ke samping, tampak Dara sangat pulas dalam tidurnya. Dion hanya tersenyum manis, tanpa ada niatan untuk membangunkan wanita pujaannya itu.
Dion menoleh kebelakang lagi. Tanpa sadar ia senyum Pepsodent melihat anak - anaknya itu. Tampak kedua buah hatinya juga sudah tidur, dengan badan selonjor dan kepala saling berlawanan. posisi kedua bocah itu begitu konyol. Tubuh Zelin menghadap ke timur,sedangkan Zain menghadap ke barat.
"Sayang.." panggilnya, namun tidak mendapat respon dari sang Istri
"sayang.. bangun, kita sudah sampai." Bisik Dion dengan menempelkan bibir ke telinga Dara. membuat wanita itu seketika terjaga karena merasakan nafas dan benda kenyal tengah menggodanya.
Keempat mata mereka saling bersiborok seolah tengah terhipnotis dengan pesona masing - masing.
Perlahan Dion memajukan bibirnya berniat mengecup sang Istri, Namun Dara buru - buru membuang pandangan ke depan membuat niatan Dion pupus bersamaan rasa kecut di dada.
"Sudah sampai ya? maaf aku ketiduran.."
Dara segera melepas selbelt yg mengikat tubuhnya tanpa menghiraukan tatapan sendu Dion padanya.
Dara tidak tau apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, tapi yang pasti Dara sangat canggung berada dalam posisi ini. dia hanya ingin segera keluar agar segera bebas menghirup udara segar.
Dion pun menyusul keluar, membuka pintu belakang untuk menggendong bocah bongsor itu. tidak mungkin ia biarkan Dara mengganggu tidur kedua anaknya.
"Sayang masuk saja duluan, biar anak - anak suamimu ini yang gendong." titahnya
Dara memutar bola mata dengan malas." Omongan kamu itu sangat asing di telinga ku. bisa gak sih, gak usah pake embel - embel kata suami. kaya keluarga harmonis saja."
"Oh tidak bisa!! karena aku mau kamu terbiasa dengan semua itu. lagipula kamu masih Istriku dan sampai kapanpun akan selalu jadi Istriku. kecuali aku sudah tidak ada di dunia ini, baru kamu bisa bebas dariku bahkan berhenti mendengar suaraku," Sahutnya cengengesan sembari mengangkat perlahan tubuh Zain dan Zelin bersamaan.
Merasa ada yang mengangkat Tubuh mereka. kedua bocah itu reflek mengalungkan tangan ke leher sang Ayah.
"Apa tidak ada lagi pembahasan yang lebih bermanfaat tanpa mengungkit kematian."batin Dara dengan sedih. sungguh sebenci apapun Ia dengan sang Suami, tdk rela juga rasa nya kalau mereka harus terpisah karena kematian
"Ayo!! kenapa melamun? tunjukan padaku kemana membawa anak - anak.." seru Dion dengan lembut
"Tapi barang - barang,"
"Nanti biar Mas yang bawa semuanya. ayo sayang, kasian mereka loh."
"Hmm ya udah," Dara buru - buru membuka pintu dengan kunci cadangan.
Setelah pintu sukses dibuka, tanpa canggung Dion membawa kedua anaknya untuk naik ke lantai atas karena Ia yakin disanalah tempat tidur Istri dan anaknya.
Dara hanya mengekor tanpa tau harus berbuat apa.
sedangkan Bira sudah pasti sudah ngorok di sebuah kamar yang terdapat di pojok lantai atas itu.
"Disana,"tunjuk Dara pada sebuah Ranjang yang Lumayan besar yang terlihat rapi
tampak diatasnya terdapat dua buah guling yang Dara buat dengan tangannya sendiri.
"Goodnight sayang semoga mimpi indah," gumam Dion sambil mencium kedua bocah itu bergantian.
Dara menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu dengan hati yang begitu merintih. bagaimana perhatian sang suami kepada anak mereka? bagaimana kelembutan perkataan sang suami kepada anak mereka? bagaimana tatapan sang suami kepada anak mereka?
Sungguh air mata Dara menetes dibuatnya. Namun sekuat tenaga ia tahan, agar tidak terisak di hadapan lelaki itu.
.
.
Selesai memasukan semua barang yang mereka beli, Dion berniat kembali ke dalam Mobil untuk beristirahat.
Baru beberapa langkah ia keluar dari pintu terdengar suara wanita yang amat sangat di cintainya memanggil
"Mas Dion tunggu,"membuat langkah Dion terhenti, seolah kakinya itu rem yang sangat cakram bila di tarik
"Kamu boleh tidur didalam,"ucap Dara dengan pandangan teduh
Senyum dibibir Dion terukir sempurna. Ia segera membalik badan tegapnya
"Serius? apa sayang gak marah aku tidur sama kalian?"tanyanya girang
Ia pikir Dara menyuruhnya tidur seranjang, tepatnya mereka berempat seperti impiannya selama ini
"Bukan itu maksudku. didepan televisi ada kasur yang sering anak - anak pake buat tiduran. kamu bisa pake itu, daripada di dalam mobil susah gerak. aku tau kamu gak nyaman tidur disana," Dara menjeda ucapannya
"nanti aku ambil selimut sama bantalnya dalam lemari," pungkas Dara tanpa rasa bersalah. dengan diajak masuk pun harusnya sudah bersyukur kata Author
Senyum mengembang yang awalnya mengukir bibir Dion perlahan luntur. Namun apa daya angan tinggal angan, mau bermimpi setinggi langit pun bila tuhan tidak izinkan mana mungkin bisa jadi kenyataan.
"Gak perlu sayang, Mas di mobil saja. Nanti kamu re...." belum selesai Dion bicara Dara lebih dulu menyela
"Kamu emang gak pernah mau Nurutin apa kata aku ya Mas, gak pernah mau berubah. katanya mau jadi ayah siaga buat mereka tapi permintaanku secuil inipun kamu gak mau," Alibi Dara membuat Dion langsung kalang kabut takut sang Istri salah paham
Malam itu Dion tidur dengan lelap. kesepian yang bertahun tahun menyelimutinya sudah terobati dengan berkumpulnya Ia dan Istri serta anak - anaknya. Aroma tubuh Dara menempel di selimut yang di pakainya membuat tidur si pangeran tampan itu semakin Damai.
Meskipun sempat terjadi perdebatan kecil, namun semua itu bukan tanpa alasan. karena tujuan Dara adalah, agar ayah dari anak - anaknya tidak sakit (hanya itu)
.........