
.........
"Keterlaluan."ucap Dara berderai air mata. dia merasa seperti ****** sehingga selalu diperlakukan seperti itu.
Sebuah tamparan bersarang di pipi Dion, membuat laki-laki itu tersadar dari aksi gila nya.
Tidak ada Niat seperti nafsu ingin membawa ke jalur yang lebih ekstrim. dia hanya ingin bibir sang istri, melahap sari-sari manis yang ada di dalamnya.
Dara melihat telapak tangannya yang memerah. jujur saja rasanya panas akibat terlalu kencang menampar sang suami.
Dara pernah berucap bahwa tidak akan mengangkat tangannya hanya untuk menyadarkan Dion, tetapi kali ini dia juga ingkar.
"Pukul lah sayang, jika itu membuatmu puas. Tapi aku mohon, jangan meninggalkanku lagi.. Tolong maafkan aku. sudah cukup, selama ini aku hampir mati dibelenggu rasa bersalah juga kerinduan."
Dion setia memegangi pinggang ramping milik Dara, tanpa berniat melepaskannya.
Dara menggeleng kuat "Tidak mudah !! aku kehilangan separuh jiwa, tidak mudah untukku memaafkanmu.. aku hancur!!" Isak Dara dengan tangis yang pelan.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa dimaafkan? katakan?" lirih Dion
"Pergi, dengan tidak muncul lagi maka aku akan memaafkan mu." jawab Dara dengan mendorong Dion, agar menjauh dari posisi intim mereka.
"Tidak!! kumohon jangan itu."
"Hanya itu! karena aku tidak sudi menerima lelaki yang terang-terangan mengesampingkan anak istrinya demi wanita lain. Aku sangat membencimu, dengar aku membencimu!!! Terlalu sering untukku tersisihkan oleh orang-orang yang ku sayangi, namun apa yang ku dapat? hanya luka, dan tersiksa batin saja. Sekarang buka pintunya, biarkan aku keluar."
"Jangan Memintaku pergi Ra, kamu harus tau kalau aku sangat mencintai kalian. Ijinkan Mas menebus dosa selama ini."
Lelehan air mata menganak sungai di wajah Dion. Sakit sungguh sakit rasanya mendengar ucapan kebencian yang terlontar dari seseorang yang amat ia cintai.
Benci Dara, bukan suatu dendam kesumbat yang ingin dia balaskan. Wanita sepertinya terlalu sering disakiti, dari kecil hingga beranjak dewasa hanya air mata yang selalu menemaninya.
Dara sudah lama meng- ikhlaskan kepergian putra nya. Namun rasa sakit itu masih ada, dimana dia merintih memanggil-manggil berharap ada seseorang yang menolong di saat dia terkapar. Semua itu tidak akan mungkin terlupakan, karena kenangan buruk itu masih sering menghantuinya.
Dia tahu, Tuhan saja maha pengampun. tapi dia hanya Manusia biasa yang tidak sempurna, yang imannya cetek. dia bukan tidak bisa memaafkan, tapi hati nya menolak mentah-mentah kehadiran lelaki itu. Cinta saja tidak cukup dalam sebuah hubungan, melainkan harus diimbangi dengan kepercayaan dan komitmen. Namun komitmen dalam diri Dion tidak ada, sehingga berulang-ulang lelaki itu oleng oleh sang mantan.
"Benci lah aku sepuas hatimu, tapi jangan harap aku akan menjauhi kalian. Kedua anakku tidak boleh kehilangan sosok ayahnya. Akan aku katakan bahwa aku ayah mereka."
"Jangan ganggu mereka." pinta Dara tegas
"Mereka juga anak-anakku." sela Dion tak kalah tegas
.
.
.
.
Lebih dari setengah jam, belum kelar juga perdebatan antara Dara dan Dion. jiwa anak-anak mencari keberadaan ibunya muncul dari benak kedua bocah itu.
"Tante, kenapa Mimi lama?"tanya Zelin sembari memainkan gambar di baju Zain, karena bocah cantik itu sedang rebahan dipangkuan sang kakak.
Bira menghentikan aktifitas dari ponselnya. menatap kedua bocah yang akur itu dengan senyuman
"Mimi kalian sedang ngborol dengan paman tadi. Hmm,, apa tadi kalian ada dengar sesuatu?"tanya Bira hati-hati
Zain dan Zelin langsung menangkap maksud dari pertanyaan tante nya. Lalu mereka kompak menggeleng, menghindari pertanyaan berlebih dari Bira.
"Baguslah."gumam Bira mengusap surai hitam kedua bocah itu bergantian
.
.
.
Dara kalah telak saat Dion mengancam akan mengambil salah satu anak nya malalui Ranah Hukum dengan mengandalkan kekuasan serta kekayaan yang ia miliki. Meskipun Dion bukan terkaya nomor 1 se-Asia atau sedunia. Namun dia mampu berdiri sejajar dengan pengusaha-pengusaha kaya yang ada di negeri ini. Membeli hukum sangat kecil baginya
Ceklek..
Brak..
Pintu mobil Dara dorong dengan kencang saking kesal-nya. tidak peduli mau retak atau tidak, bukan miliknya juga pikirnya.
Dion hanya terkekeh teringat jurus akhir yang ia andalkan agar Dara tidak berkutik.
"Maaf sayang, aku tidak berniat sekalipun mengambil mereka darimu. semua ku lakukan semata untuk mempertahankan agar kalian tetap di sisi ku, itu saja. Bodoh sekali jika aku tega mengambil salah satu anak kita darimu."batin Dion.
"Hahh gerah sekali."gerutu Dion memainkan jarinya untuk membuka kancing-kancing kemeja yang melekat di tubuhnya. lalu dia berfikir untuk menyusul Dara, menumpang mandi dirumah istrinya itu.
Dion mengayunkan tungkai kaki nya dengan lebar. tidak butuh waktu lama, lelaki itu berhasil menyusul Dara membuat wanita itu mendelik tidak suka.
"Ya ampun, apalagi ini."dengusnya setengah berlari memasuki rumah, dan secepat itu juga Dion mengikutinya sampai ke dalam.
"Sayang, boleh pinjam kamar mandinya?"rengek Dion tidak tau malu seraya melepaskan kemeja nya.
"Di sana." tunjuk Dara dengan malas, lalu berlalu cepat untuk naik ke lantai atas.
Setelah sampai di atas. Kedua bocah itu menghambur ke pelukan ibu nya, membuat Dara hampir terjungkal menahan terjangan sang anak
"Mimiiii.."seru mereka manja.
Dara terharu melihat bagaimana kedua anaknya menyambutnya, padahal tidak sampai satu jam dia tidak didekat sang buah hati.
Lalu bagaimana bila salah satu anaknya diambil, apakah dia akan sanggup terpisah?
"Uuhh sayang, manja banget.."Dara duduk di lantai dengan membawa Zain dan Zelin
"Udah selesai Ra?"
"Enggak! yang ada malah runyam. dahlah nanti aja kita bahas." Dara beralih pada kedua anaknya. dia ingin bertanya sekaligus mengatakan sesuatu kepada buah hati nya, tidak tahu apakah mereka mengerti atau tidak
"Zain, kamu tau gak sosok ayah itu seperti apa?" tanya Dara pelan, agar Dion tidak nguping
...(kurang kerjaan kali kau pikir Dara yon)...
"Ayah? itu kaya Daddy nya Ehsan kan Mi?"
"Betul." sahut Dara singkat
"Ayah itu...." Zain berfikir sejenak, merancang kata-kata yang sering dia dengar saat menonton di televisi bagaimana menggambarkan sosok seorang ayah.
Anak-anak sepertinya dalam masa pertumbuhan, dimana segala sesuatu yang menurutnya penting selalu ter-rekam dalam ingatannya.
"Ayah itu Pahlawan, ayah itu kerja buat jajan anak-anaknya, ayah itu bicaranya dikit tapi baik, Apalagi ya??"ucapnya mengetuk-ngetukan telunjuk di dahi.
"Apalagi?" Cerca Dara menahan tawa melihat tingkah anaknya yang mencoba berfikir keras.
"Pasti paman tadi Ayah kita, Pipi kami. iyakan Mi?" tanya Zelin to the point. bocah cantik dengan Mata bulat rambut berkepang dua itu selalu bicara blak-blakan tanpa tahu dengan situasi.
"Ha.." Dara dan Bira terkejut mendengar ucapan Zelin. darimana bocah itu tahu? sedangkan Dara ataupun Bira belum pernah mengatakan siapa Pipi mereka.
.........