
..........
Sesuai janji yang Ia ucapkan kepada Mirra. Dion melenggang meninggalkan Apartemen setelah melalui perdebatan kecil dengan istrinya.
Dara meminta agar Dion jangan kemana-mana dulu. bahkan dia memohon agar Suaminya itu membantalkan niatnya sementara.
Apa Dion tidak merasa lelah setelah perjalanan jauh?
Apa Dion tidak merindukannya setelah beberapa hari terpisah.
"Lihat pipi kalian nak. dia lebih memilih menemui wanita lain daripada menemani kita. " keluh Dara kepada bayi-bayinya. bahkan dadanya sesak menahan kecewa.
Dara berdiri di tempat favoritnya yaitu balkon. dia memperhatikan kendaraan Dion yang sudah menjauh dan berjalan di jalan raya itu.
Ada rasa kesal di hati nya, dia merasa suaminya datang hanya karena menginginkan tubuhnya saja. Dia merasa seperti ******, bedanya mereka diikat oleh pernikahan.
..........
Dion tiba di Mansion keluarga Morgana. penjaga gerbang segera membukakan pintu untuk dilewati sang Tuan Muda.
Mirra menunggu kedatangan Dion di taman. dia menyempatkan diri untuk berjemur sebagai pengisi waktu.
Menyadari kedatangan Dion. Mirra menggeret kursi roda nya. Menyapa lelaki yang beberapa hari merawatnya itu, sampai-sampai lelaki itu lupa ada tanggung jawab besar yg ia abaikan.
"Hayy Yon!! aku disini..." Sapa Mirra. Ia melambai-lambai kan tangannya.
Dion mendekati Mirra, lalu mengambil alih kursi roda itu didorong nya dengan pelan.
"Bagaimana kabarmu hari ini? apakah merasa lebih baik." Ucap Dion basa-basi.
Mirra menggangguk saja. tentang perasaan jangan ditanya lagi, dia tentu masih terpukul dengan kejadian yang menimpa orang tuanya.
"Sudah mendingan. Apa kita bisa langsung ke makam Oraang Tua ku..?"
"Hemm,, kamu yakin sudah siap?" Sahut Dion masih mendorong kursi roda itu hingga hampir mendekati mobilnya.
"Tidak ada alasan untukku tidak siap. semua sudah terjadi ,, dan aku harus bisa menerimanya." tukas Mirra berusaha tegar, seraya menggerakkan bola matanya kesana-kemari agar tidak menangis.
Dion salut pada wanita didepannya ini. disaat orang lain meraung tdk terima ditinggalkan. justru Mirra kebalikannya dia sangat tegar bahkan masih bisa bicara bijak.
Tanpa sadar Dion berani mengagumi wanita lain selain istrinya.
...........
Mobil mereka berhenti dipinggir jalan, tepatnya disamping pagar pembatas antara makam dan jalan.
Dion menurunkan kursi roda lalu membantu Mirra untuk duduk di kursi rodanya. Dion mendorongnya hingga sampai di ke-dua gundukan tanah yang mencolok diantara yang lain. terlihat dari bunga yang masih segar dan tidak terlalu layu karena Tuan David dan Nyonya Diana rutin mendatangi makam itu untuk mengganti bunga-bunga nya.
Mirra turun dengan tertatih dan duduk bersimpuh diantara kedua pusara yang bertuliskan ADAM DZORDI DAN KALILA VIOLETA.
Ketegaran yang dia ungkap sewaktu dirumah tidak berlaku lagi sekarang.
Isakan tangis menggema diantara kedua pusara itu, hingga Dion menyetuh bahu Mirra memintanya untuk tenang.
"Kenapa kalian pergi secepat itu? Mami Papi aku masih butuh kalian. kenapa kalian ninggalin aku saat aku terbaring tidak berdaya? bahkan aku tidak sempat melihat kalian untuk yang terakhir kalinya.kenapa Mi? kenapa Pi? kenapa tega sekali kalian kepadaku.." cerca Mirra dengan tangan yang asik mencengkram tanah coklat itu.
Dion membawa Mirra kedalam pelukannya, Ia angkat tangan yang mencengkram tanah tadi agar berhenti.
Mirra limbung dalam dekapan Dion. dia tidak mampu menjaga kesadaran hingga jatuh pingsan.
"Ra... Mirra bangun." tepuk Dion dikedua pipi Mirra.
Dion panik lalu segera membawa tubuh lunglai Mirra kedalam mobil. dikemudikannya Mobil itu dengan kencang agar cepat sampai kerumah sakit.
Setelah tiba di rumah sakit. Dion meminta para Dokter untuk menangani Mirra.
Dion menunggu Mirra dari kursi besi yang terletak diluar ruangan tempat pemeriksaan. Di tumpukannya genggaman tangan dibawah dagu, serta matanya menatap lurus kedepan. Dion rela mengesampingkan urusan istrinya, hanya karena ingin menebus rasa bersalah yang mendalam kepada Mirra.
...........
Malam semakin larut dan Dion baru menginjakan kakinya didalam Apartemen itu.
Dion memasuki ruangan itu dengan langkah lebar. Di dorongnya pintu kamar perlahan dan mencari sosok sang istri.
Dion menggaruk dahinya bingung, karena tidak menemukan Dara dimanapun. Ia datangi satu persatu ruangan yang ada di dalam, namun sama saja hasilnya Nihil.
"Dara.... sayang !!!." panggil Dion keras. Dion menyambar ponsel yang ditaruhnya dinakas tadi.lalu menekan tombol panggil ke nomor istrinya.
Nomor Dara tidak aktif. bahkan terlihat terakhir kali ia memegang hp tengah hari tadi.
"sayang kamu dimana? kenapa ponselmu tidak aktif." Dion menyugar rambutnya.
Dara sengaja mematikan ponsel agar sekalian suaminya itu tdk bisa menghubunginya. dia pergi dari Apartemen itu menggunakan ojek online dan ingin menginap dirumah orang tuanya saja.Meskipun Dara tau bila kehadirannya tidak akan disambut baik ditempat itu di, tapi ia tetap berusaha abai karena malas berjumpa sang suami.
Dion menyambar kunci Mobil dan meninggalkan Apartemen itu. dikemudikannya mobil itu kerumah mertuanya, karena Dion yakin istrinya ada disana.
Tidak butuh waktu lama dia sampai dirumah sederhana mertuanya. Dion melihat beberapa pasang sandal yang ada di teras, dan benar saja salah satu diantaranya ada milik istrinya.
Sedangkan didalam rumah. Dara sudah terlelap dari jam tujuh tadi. Ia tidur diruang tamu ber-alaskan kasur tipis.
tidak ada bantal hamil untuk penyangga pinggang, hanya berbekal sebuah bantal dan selimut itupun berbau apek karena lama tidak digunakan
Kamar milik Dara sudah direnovasi oleh ayahnya. hanya saja ia tidak berani meminta untuk tidur dikamar itu karena sudah ditempati kakaknya yang Nomor dua.
Dion mengintip dari sela-sela tirai melihat apakah ada aktifitas orang didalam.
Alangkah terkejutnya Dion melihat istrinya berbaring dalam keadaan yang menurutnya begitu menyedihkan.
"Ya tuhan istriku sayang!" Cicit Dion beranjak mengetuk pintu.
tok.. tokk ..tokk..
Dara terlonjak kaget mendengar pintu diketuk tidak sabaran. siapa pikirnya yg bertamu malam-malam hari. tidak tahukan orang sedang sitirahat.
"Siapa sihh,kokk ngetuknya kaya orang kesetanan."gerutu Dara berdecak. lalu mendekati jendela,disingkapnya tirai itu.
Dara membuang pandangan setelah matanya bersiborok dengan sang suami.
"Malas sekali membukakan!! terpaksa..terpaksa." Gumam Dara pelan.tapi beranjak juga membuka kunci pintu itu.
Setelah terbuka Dion langsung menarik tangan Dara,dan membawanya keluar menjauhi pintu ." Maksud kamu apa tidak pulang" Tanya Dion geram sekaligus jengkel
Dara menepis cekalan Dion ditangannya,karena ia merasa ke sakitan. tubuhnya itu rentan bila tertekan sesuatu yg keras karena mudah sekali membiru bahkan akan terlihat lebam.
"Apaan sih main tarik-tarik aja? sakit tau gak. memangnya masih ingat sama Aku? aku pikir udah lupa.." ketus Dara enggan menatap suaminya.
...........