
...........
jakarta 23:00.
Dara membolak balikan tubuhnya diatas kasur king size itu. berbagai posisi ia ambil demi mencari kenyamanan yang dia harapkan agar terlelap,tapi sayang matanya menolak untuk terpejam.
Merasa kasur yang bergelombang dan bergerak membuat Bira mengerjapkan mata karena merasa tidurnya terusik.
"Ra...." panggil Bira parau khas orang bangun tidur.
Dara berbalik menoleh kearah Bira, Ia tumpukan tangan dibawah kepalanya.
"Iya Bi, kenapa??" tanya Dara tanpa rasa bersalah.
"Ini sudah jam berapa? Lo itu Ngeronda atau apa...?" Ucap Bira sewot dengan menguap lebar.
"Maaf Bi,, gue ganggu tidur lo ya?" sahut Dara tidak enak
Bira memejamkan mata kembali namun hanya sementara karena dia bergegas duduk lalu menyandarkan bahunya di dinding.."Ehh ngomong apa lu. ini sudah jam sebelas loh ! kenapa lu belum tidur? jangan begadang terus Ra, gak baik buat kesehatan lo serta janin lo." terang Bira, karena setiap malam dia menjumpai pemandangan seperti ini.
Dara ikut duduk,menatap Bira penuh arti." Maaf." ucapnya lirih.
Bira menghembuskan nafas kasar." ya udah tidur gih, besok lagi kalau mau kangen-kangenan. malam waktunya istirahat, jangan karena mikirin suami lo, yang gak lo ketahui mikirin lo apa tidak itu membuat lo mengabaikan kesehatan. lo lupa apa kata dokter tadi siang??."nona tekanan darah anda sangat tinggi. bukankah sudah saya katakan hindari stres dan berfikir keras. jangan menyepelekan kesehatan, usahakan menjaga asupan bergizi, jangan begadang karena dapat menurunkan sistem imun anda sehingga membuat anda mudah sakit . anda mengandung tiga bayi sekaligus,jadi kebiasaan yang saya sebutkan tadi harus dihindari. kandungan anda rentan sekali, jika terus dibiarkan anda bisa melahirkan prematur." ucap Bira panjang, seraya menirukan kata-kata Dokter dengan suara mendayu tapi terkesan tegas.
Dara menundukan kepala merasa bersalah. tapi bukan kemauannya berada dalam posisi seperti ini. bayi-bayinya itu kurang kerjaan membuat Mimi mereka susah tidur.
"Iya gue tidur. tapi gue boleh minta tolong gak Bi??.. gue gak bisa tidur kalo enggak di eluskan perut. tangan gue sama tangan orang itu beda efeknya." pinta Dara malu.
Bira berdecak." Ckk.. kalau itu permasalahannya kenapa gak bilang dari tadi si, gue bisa kok bantuin lo! Ayo rebahan biar gue elus. Heyy Anak Dion kalian ini bener-bener ya ." omel Bira kepada bayi-bayi Dara.
Dara segera mengatur posisi,dia bergeteng ke sebelah kiri dengan bantal hamil sebagai penyangga pinggangnya. lalu Bira memutar ke sebelah kanan tepatnya menghadap kearah Dara.jika dia elus dari belakang ada rasa iyeyy gitu lah seperti suka sesama jenis.
Dara memejamkan mata,meskipun belaian Bira diperutnya tidak seperti suaminya, tapi setidaknya dia sedikit merasa enakan.
Lima belas menit berlalu akhirnya Dara benar-benar terlelap, dia telah jumpa sang mimpi dan Bira ikut menyusulnya agar mereka bisa berlarian disana . wkwkwkw
............
Sedangkan dibelahan dunia sana. setelah terbangun dari tidurnya, Mirra memaksa Dion untuk membawanya kembali ke indonesia. dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri jika apa yg dikatakan Dion itu benar atau tidak.
"Aku mau pulang Paman! jadi jangan halangi aku." pinta Mirra menghiba masih dalam dekapan sang paman.
"Apa kamu merasa sudah siap dengan perjalanan jauh. kami hanya khawatir takut terjadi apa-apa lagi sama kamu." sahut paman pada keponakannya itu.dia membelai rambut Mirra dengan sayang.
Mirra mengangguk pasti. tidak ada lagi air mata yg keluar karena semua sudah habis ia tumpahkan dari beberapa jam yang lalu. hanya menyisakan isakan kecil dan mata bengkak saja.
Paman dan Bibinya tidak bisa berbuat banyak. Mereka juga mempunyai anak yang harus diurus. apalagi Mirra juga sudah besar, berumur lah pokoknya. sudah pasti bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
Harta peninggalan orang tuanya sudah pasti jatuh ketangannya, jadi mereka tdk perlu khawatir dengan keberlangsungan hidup keponakannya itu.
"Baiklah jika itu menjadi keputusanmu.paman hanya bisa mendukung dan berdoa semoga hidupmu bahagia. Nak Dion kapan kalian akan kembali..?" tanya Paman beralih pada Dion yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Carilah tiket penerbangan segera,aku mau cepat pulang." sahut Mirra lirih.
"Baiklah.." sahut Dion lalu meraih ponsel yang terletak disampingnya. Menscrol beberapa aplikasi untuk memesan tiket. dan fix besok mereka bisa kembali ke tanah air.
...........
keesokan hari.
Pukul 06:00
Pesawat yang membawa Dion dan Mirra lepas landas (take-off)
meninggalkan bandar udara internasional Schiphol Amsterdam.
Perkiraan mereka sampai ke tanah air pukul 20:05. atau bisa dikatakan pukul 02:05 subuh karena indonesia lebih cepat Enam jam dari Belanda.
Mereka memesan kelas bisnis yang menyediakan pelayanan serta kenyamanan selama perjalanan berlangsung.
Tidak masalah budget yang dikeluarkan menguras kantong selagi mereka sangat mampu untuk membayarnya, apalagi memang Mirra perlu tempat khusus untuknya istirahat.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Dion menggapai bahu Mirra yang terlihat sedang tiduran dengan tangan menutupi mata itu.
"Mirra mengerjapkan mata,menggosok pipi takut ada iler yang keluar." Tidak,aku hanya ingin istirahat sebentar.." sahut Mirra.
"Baikalah." ujar Dion tidak lagi menanyakan, dia kembali ke kursinya. berniat untuk tidur kebetulan matanya ikut mengantuk. lalu Dion merenggangkan kaki nya menjadi membujur dan membenarkan posisi badannya.
Dion sengaja tidak memberi tahukan istrinya kalau dia pulang lebih cepat dari perkiraan yang dia katakan beberapa waktu lalu." Mas pulang sayang!! pipi pulang triplets." Gumam Dion samar dengan senyum tipis diwajahnya.
..........
Dara berulang kari me-cek ponselnya.tidak biasanya suaminya itu belum memberikan kabar, apalagi yang diketahuinya di negara tempat suaminya singgah itu pasti sudah terbit mataharinya.
"Kenapa mas Dion belum ada kabar. ah mungkin dia lagi sibuk,atau belum bangun.ya sudahlah ditunggu saja deh " gumam Dara sendirian.ditaruhnya ponsel tadi diatas meja, lalu dia kedapur ingin membuat jus.
.
Waktu bergulir begitu cepat.bahkan teriknya matahari berganti malam yang dingin. wanita berbadan empat itu kembali merenung dibalkon kamar. tidak pernah bosan dia mengulangi kebiasaan itu.
Jantung Dara tiba-tiba berdebar. ia mersakan angin tengah memberi tahunya sesuatu, tapi dia tidak dapat memahami kode itu.
Dara memegangi Dadanya,bahkan bayi-bayinya ikut bergerak tidak karuan.terlihat sekali beberapa pergerakan yang ke kiri dan kanan dibalik baju longgar yang dipakainya, seperti mereka tengah mendorong meminta untuk di keluarkan.
Suara panggilan Bira hanya ia sahut sesekali tanpa beranjak dari tempatnya.
"Sayang kalian kenapa,jangan gerak terus nak.." bujuk Dara kepada sang janin. karena dia merasa menyengkel ulah anaknya yang menekan dan bergerak ke bagian dadanya.
...........