Love Us My Husband

Love Us My Husband
menemukan



.........


"Plakk.." Tuan David menampar keras wajah Dion hingga kepala laki - laki itu terputar ke samping.


Amarah tuan David meluap karena berani - berani nya Dion menyalahkannya karena tidak menjenguk Dara di Apartemen.


Tuan David menatap nyalang Nyonya Diana dan Dion. beliau mengacungkan tunjuk nya." Siapa yang ingin kamu salahkan haa? bukannya sudah saya katakan jangan coba - coba mengurusi sesuatu yg bukan tanggung jawabmu.kamu terlalu bodoh, terlalu tolol sebagai seorang suami Dion. saya benar - benar kecewa kepada kalian berdua." Sarkas tuan David.


"Dan untukmu Mom!!." tuan David menjeda ucapannya." Seharusnya sebagai seorang ibu dan seorang wanita kamu tahu bagaimana perasaan menantumu. tapi kamu justru mendorong anakmu sendiri ke jurang kehancuran. lihat perbuatan anakmu yang tega nya mendorong istrinya sendiri sehingga membuatnya kehilangan satu anaknya. apa ini yg kamu mau Mom? apa tidak ada penyesalan di hatimu?" Ucap tuan David lelah.


Nyonya Diana menangis tertunduk. beliau sangat menyesal, sungguh bukan seperti ini kemauannya. awalnya dia mengijinkan Dion karena permintaan Mirra yang sangat memelas saat menemuinya. beliau tidak tega karena wanita yg menjadi mantan kekasih anaknya itu terlihat masih lemah apalagi beberapa kali kondisi Mirra tidak stabil.


Bahkan saat Dion pergi. Nyonya Diana tidak sempat menjenguk Dara karena ibu - ibu sosialita sepertinya sangat sibuk dengan dunianya sendiri.


flashback off.


...**...


Keesokan pagi.


"Tuan kami menemukan titik dimana keberadaan istri anda." ucap seseorang di balik telepon. ya orang itu ialah Arga Dwipangga pria berusia dua tahun sembilan tahun, yang memiliki postur tubuh tinggi hampir sama seperti Dion. bahkan wajahnya dikategorikan termasuk pria tampan khas indonesia.


Arya sendiri dulu nya hanyalah seorang petugas keamanan di sebuah Bar yang sering Dion kunjungi.


Dia di angkat menjadi seorang asisten berkat jasa nya yang hampir setiap malam mengantarkan Dion pulang ke Apartemennya. Apalagi selama berada di Bar, Dion kerap membuat keributan yang berimbas jatuhnya perkelahian sehingga salah satu pengunjung hampir menacapkan benda tajam ke tubuh Dion, jika saja tidak ada Arga disana apakah yang akan terjadi dengan seorang ayah beranak tiga itu.


Tuan David dan Nyonya Diana kewalahan menangani tingkah Dion yg menjadi - jadi. apalagi anaknya itu tidak pernah mau menginap di rumah utama.


Dion mendengarkan seluruh informasi yang disampaikan Arya kepadanya. jantungnya berdebar kencang saat mendengarkan dimana letak istrinya berada saat ini. bahkan sebuah bangunan yang ada Dara didalamnya sudah diabadikan sang asisten dan dikirimkan kepada atasannya itu.


"Akhirnya kami menemukanmu sayang.aku tidak habis pikir, padahal kita tinggal di negara yang sama tapi aku mencarimu jauh - jauh sampai keluar Negri." Batin Dion.


"Baikalah. hari ini juga saya akan kesana." Telepon itu dimatikan. Dion meninggalkan ruang kerja nya dan memerintahkan sang sekretaris untuk menghandle pekerjaan sementara.


Sembari berjalan menuju lobby perusahaan. Ia menghubungi pilot yang biasa mengantarkannya bolak balik keluar kota dan Negri supaya segera datang dan standby di helipad.


Selama tiga tahun penuh Dion mengembangkan Usaha nya. hingga Dia mampu membeli sebuah helikopter jenis bell seharga Rp 2,5 Miliar. untuk mempermudahnya berangkat kemana - mana. karena pengalaman membuatnya jera dan menjadikannya seseorang yg penuh ambisi.


.........


Sedangkan di tempat lain.


Dara beserta penghuni rumah itu baru saja menyelesaikan sarapan mereka. saat ini kedua anaknya sedang bermanja di dekat sang Mimi mereka.


"Mimi ulang tahun kami masih lama ya??" tanya si kembar polos khas bahasa anak - anak.


Dara menoleh. dia tersenyum seraya mengusap kedua pipi anaknya.


"Lumayan lama. memangnya kenapa sayang?" tanya Dara lembut.


Dua bocah itu saling pandang. mengintrupsikan salah satu harus angkat bicara


Raut wajah Dara tiba - tiba berubah pias. Baru pagi ini ia lupa, justru sekarang kembali di ingatkan oleh anak - anaknya.


"Hmm memang nya mau apa kerumah Zayn sayang?" tanya Dara selembut sutra, meskipun saat ini perasaannya campur aduk. jika setiap kali membahas Zayn, ia langsung teringat waktu memegang jasad almarhum anaknya dimana saat itu keadaan bayi nya sangat kecil,pucat,bahkan sedingin es.


"Mau ketemu Zayn Mimi, kata mimi kalau kita ulang tahun hadiahnya kerumah Zayn. kita mau liat seperti apa rumah Zayn, iyakan Zelin?" Zain mengode sang adik untuk membantunya.


"Masa cuma itu?" tanya Dara heran.karena tidak biasanya anak - anaknya mempertanyakan hal seperti ini.


"Sini sayang,peluk mimi."Dara membawa keduanya ke dalam dekapan. "kalian benar rindu dengan Zayn, apakah subuh tadi sudah kirim Doa buat Zayn??" ucap Dara lembut.


Si kembar mengangguk."Sudah mi."sahut mereka bersamaan.


"Ya sudah. Nanti kita cari tiket kapal dulu ya, kalo sudah dapat baru bisa berangkat buat ziarah ke makam Zayn ok."


Kedua bocah itu keluar dari dekapan ibu mereka. keduanya berdiri sejajar dengan mata yang berbinar bahagia.


"Waa mimi beneran. yeyy kak kita datang Zayn ye.. ye.. ye..ye.." Zelin bersorak senang sedangkan abangnya bersikap coll tidak ingin terlihat berlebihan di hadapan kedua wanita yang hampir dewasa itu.


"Abang Zain kenapa gak lompat kaya Zelin?" tanya Dara dan Bira bersamaan. apalagi kedua wajah wanita itu terlihat menyebalkan karena menaik turun kan kedua alis nya.


Zain mendelik. dia gelisah seperti menahan kencing, kakinya gatal ingin melompat. dan akhirnya lepas sudah pertahanan bocah laki - laki itu. sikap coll dan seorang kaka berwibawa hilang sudah bersamaan lompatan memantul yg diperagakannya.


"Hahahaha Yeyy, datang Zayn,datang Zayn. mau main lato - lato, ye ye ye ye." Zain tak kalah heboh. justru sorakan nya melebihi Zelin.


Dara dan Bira saling pandang. kedua wanita hampir dewasa itu terkejut mendengar tuturan Zain. bukankah sangat sering Dara mengatakan kepada bocah itu bahwa adik nya sudah di surga, sedangkan rumahnya hanyalah sebuah gundukan tanah. memang selama ini Dara tdk pernah menyembunyikan hal tentang Zayn, selain tentang ayah mereka.


.........


"Ahh lupa." Dion menepuk jidatnya dan segera mehubungi kedua orang tua nya, menyampaikan kabar yang dia dapatkan hari ini. Nyonya Diana diseberang telepon berkaca - kaca mendengar titik terang yang disampaikan anaknya itu.


.


.


Satu jam kemudian.


Dion berjalan menunduk mendekati badan Helikopter itu, karena kencangnya downwash bisa menjadikan bahaya.


Setelah benar - benar naik. tidak lupa laki - laki itu menggunakan sabuk pengaman serta memakai Headset untuk meredam suara bising dari mesin, Headset juga digunakan untuk komunikasi antar penumpang dengan pilot.


.


Helikopter itu lepas landas meninggalkan Helipad yang berada di atap gedung paling tinggi diatas perusahaan milik keluarganya.


Dion memejamkan mata. menempelkan layar ponsel yg terdapat foto istrinya ke dada. bibirnya bergetar menahan Rindu kepada istri tercinta serta anak - anaknya. dia memegangi sebelah Dada sembari bergumam dalam hati." Dara, Mas datang sayang. jangan kemana - mana sayang, aku jemput kamu dan anak - anak. Semoga kamu mau menerima ku, sudah cukup empat tahun ini mas tersiksa. Mas janji tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Mas janji sayang." Batin Dion.


........