Love Us My Husband

Love Us My Husband
belum siap melepas dan berpisah



...........


Sudah beberapa kali Dion menekan tombol panggil ke nomor istrinya,tapi masih saja belum ada sambutan membuat Dion hampir menyerah. hingga detik terakhir ia akan menekan tombol akhiri, tiba-tiba sambungan itu terhubung.


" Hallo." sahut Dara dari seberang telepon dengan suara sedikit lesu.


Dion berucap syukur akhirnya istrinya menyambut panggilan darinya.


"Hallo sayang,kamu darimana? kenapa Mas telpon berapa kali gak diangkat."tanya Dion tidak sabaran.apalagi saat mendengar suara istrinya yang terkesan lemah itu membuatnya khawatir.


Dara menggosok pelipis nya yang terasa pening." Maaf mas!! tadi aku dari kamar mandi, kebetulan kepalaku pusing banget." sahut Dara.


"Kenapa bisa, jangan-jangan kamu ada salah makan..?" Ucap Dion khawatir.


"Enggak tau. perasaan aku gak makan yang aneh-aneh deh,, Mas ada apa nelpon??"


"Loh kok nanyanya gitu.emang nya gak seneng bila Mas nelpon kamu??" Celetuknya


"Bukannya gitu. maksud aku gak kaya gitu Mas!! bagaimana keadaan Mirra, apakah sudah ada perkembangan??" Tanya Dara mengubah topik pembicaraan yang menjurus ke perdebatan itu.


"Hemm. alhamdulillah akhirnya dia sadar juga sayang!! dan sekarang lagi istirahat." sahut Dion antusias.


Dara ikut senang mendengarnya. namun dia merasa ada yang gimana gitu." Syukurlah kalau begitu,aku turut senang. sampaikan salam ku padanya ya Mas." Ucap Dara tulus.


"Hmm pasti. Oh ia sayang Mas cuma mau bilang kalo kepulangan kali ini aku tunda dulu ya.." Ujar Dion enteng. berjalan santai dengan memasukan tangan ke saku celana.


"Di tunda !! kenapa??" seloroh Dara


"Emm kebetulan aku harus menunggu sampai kondisi Mirra stabil. kamu taukan dia belum mengetahui kabar tentang Orang tuanya. jadi Mas akan menjelaskan dengannya perlahan agar tidak mengejutkannya ,,"


Dara fokus mendengarkan penjelasan suaminya. Kalau di pikir-pikir ada benarnya juga, apalagi Mirra baru saja tersadar.jika dikejutkan dengan kabar yg tidak enak bisa saja sewaktu-waktu dia drop kembali.


"Ya sudah,gak papa. Hmm Mas juga harus jaga kesehatan,jangan lupa makan." cetus Dara seraya memejamkan mata.


"Kebalik sayang !! seharusnya aku yang ngomong begitu. jaga kesehatan,jangan lupa makan, susu hamilnya diminum.."


"Iya, Mas tenang saja." sahut Dara seadanya. karena semua sudah dia lakukan hanya saja selama ditinggal suaminya keluar negri membuat Dara kesulitan tidur. biasanya Dion akan membelai perutnya sampai Dara benar-benar terlelap.


..........


Tiga hari berlalu itu artinya sudah enam hari Dion di negeri orang. baik Dara maupun Dion sama-sama saling memberi kabar serta perhatian kecil.walaupun terpisahkan benua tidak menjadi halangan untuk mereka berkomunikasi serta saling memberi kehangatan.


Begitupun dengan Mirra. keadaannya berangsur pulih, terlihat wajahnya tidak se-pucat sebelumnya. Dion juga sudah siap untuk menjelaskan beban yang berapa hari ini membelenggunya.


Dion mendekati Mirra. dia mendaratkan bokongnya dikursi yang terlelak disamping brankar Mirra.


Mira mengehentikan suapan di mulutnya. melihat Dion tengah menatapnya buru-buru dia menaruh mangkuk bubur itu ke nakas.


"Ada apa, kenapa kamu terlihat gelisah." seru Mirra


"Habiskan dulu makanannya." jawab Dion.


Mirra menggeleng,karena dia juga tidak berselera memakannya.


Dion menegakkan tubuhnya setelah mendengar gerutuan Mirra tentang orang tuanya sendiri.


Kamu mau tau mereka kemana? tapi janji dulu jangan syok!!." Ucap Dion serius.


Mirra bingung dengan ucapan Dion." memangnya mereka kemana,kenapa aku harus syok. kamu jangan nakut-nakutin aku deh Yon!!" sahut Mirra cemas.


Ini yang Dion takutkan,bagaimana bila keadaan Mirra drop lagi.tapi mau sampai kapan dia harus ngeles setiap kali Mirra menanyakan orang tuanya.apalagi jika dia sampai mengumpati Mami Papi nya.


"Oke aku ngomong.tapi ingat jangan dipotong biarkan aku menyelesaikan ucapan ku dulu.."


"Ia janji.."


Dion Menarik nafas Melalui hidung lalu menghembuskannya perlahan.


"Kamu ingat terakhir kamu datang saat pesta dirumahku, meminta untuk bicara berdua denganku di taman dan setelahnya kamu jatuh pingsang, tiba-tiba kritis lalu koma. kami semua setuju untuk membawamu ke sini untuk berobat. Rencananya pagi itu kalian, maksudku kamu mami papi kamu berangkat. tapi Naasnya saat kedua orang tuamu diperjalanan mengalami kecelakaan, dan Maaf aku harus bilang semua ini kalau orang tuamu meninggal ditempat kejadian." ujar Dion menjelaskan,bahkan dia mengucapkannya dengan perasaan sedih teringat jasad orang tua Mirra yang rusak itu.


Degg..


"Kamu ngomong apa Dion,jangan membuat lelucon seperti ini. gak lucu tau gak " pekik Mirra berapi. mendorong kuat bahu Dion.


"Akkhh " Mirra meringis memegangi perutnya.


"Heyy jangan gerak,kamu masih Le..."


"Diam!." potong Mirra cepat seraya mengacungkan tunjuk.


Dion duduk kembali ke kursinya. tatapan matanya sendu.." Aku mengatakan kebenaran. kamu sudah lihat sendiri dalam berberapa hari ini mereka tidak muncul. kami sepakat memberi tahumu setelah keadaan kamu membaik. maaf jika kami tidak jujur sebelumnya." Ucap Dion lirih.


"Dion plisss jangan ngomong kaya gitu. Mereka tidak mungkin ninggalin aku sendiri. Mami Papi dimana kalian??" teriak Mirra histeris lalu menyibak selimut yg menutupi kakinya,lalu dia beranjak turun tanpa memperdulikan jahitan di perutnya."


Dion menekan tombol darurat yang menempel di dekat brankar itu. kebrutalan Mirra sulit dijinakan jika sedang ngamuk begini.


"Mirra tenang Lo. ayo duduk lagi, gue Mohon Ra .." pinta Dion yang menahan tubuh Mirra agar tidak berlari.


"Lepasin aku Yon. jangan halangi aku menemui mereka,, ya tuhan gak mungkin mereka ninggalin aku sendiri." Raung Mirra histeris, bahkan jantungnya sakit sekali mendengar kenyataan tentang Orang tuanya.


Figure seorang ayah dan ibu tidak akan didapatkan dari siapapun. apalagi jika anak itu mendapatkan perhatian penuh sehingga akan terjalin kasih yang mendalam. dia belum siap kehilangan dan dia tidak siap dengan perpisahan itu.


Dokter melihat keributan itu meminta Dion untuk mengunci pergerakan Mirra. Dokter itu mendekati Mirra dan Menyuntikan obat penenang agar dia istirahat sementara.


Tidak butuh waktu lama Mirra lemas, tubuhnya limbung dalam dekapan Dion. ternyata reaksi obat itu berjalan cepat.


Dion merebahkan tubuh Mirra ke atas brankar, di gosoknya wajah yang penuh air mata itu.


Dion ikut terpukul melihat kondisi Mirra. sebagai seorang anak tentu dia merasakan bagaimana jika hal yang di alami Mirra menimpanya. apakah dia akan tegar?? seperti dia mengatakan pada orang lain agar sabar dan tenang


"Maaf gara-gara perbuatanku kamu sakit. maaf karena penyakit kamu hingga mereka berniat membawamu berobat. secara tidak langsung akulah penyebab semua yang terjadi ini." Cicit Dion ikut menangis.


...........