Love Us My Husband

Love Us My Husband
kilas waktu



..........


"Bukannya neror lagi!! mereka bahkan hampir setiap hari mendatangi rumah gue. Apalagi laki - laki yang diutus suami lo itu." curhat Bira sebal diiringi senyum tipis di wajahnya.


Dara heran melihat bira. ia sedang mengungkapkan kekesalannya justru raut wajahnya terlihat senyum - senyum, membuat Dara iseng memegangi Dahi wanita itu.


"Gak panas." gumam Dara tepat didepan wajah Bira.


"Ehh kenapa nih tangan nemplok di dahi gue, mana bau terasi lagi." pekik Bira segera memencet hidungnya dan segera menjauh.


Dara reflek menarik tangannya dan segera mengendus nya." Ehh ia bener." ucap Dara garuk - garuk kepala. bagaimana tidak bau? tadi mereka membuat sayur asam, ditemani sambal terasi. tanpa sadar dara mencolek sambal itu hingga lupa diri karena terlalu lahap sebab Rasanya memang benar - benar mantap.


"Lagian lu itu aneh, tiba - tiba senyum sendiri. sebenarnya lu itu senang apa bahagia sihh? Cerita nya sebal tapi yang gue liat malah kaya orang kasmaran. mana senyum nya misterius banget." sahut Dara pura - pura judes.


"Misterius apaan Ra..? gue itu lagi inget tangan kanan suami lo itu. serius dehh Ra ganteng banget." ucap Bira seraya menangkupkan tangan ke dada dengan tatapan berbinar.


"Ya.. ya..!! semua lelaki yang lo liat selalu di bilang genteng. Lo kan ga bisa liat laki - laki, bawaannya kelenjotan mulu."


"Diihhh kalo ngomong suka bener."


"Ngomong - ngomong lo gak pengen tau kabar suami lo." tanya Bira. karena sudah sekian tahun Dara tidak pernah menanyakan kabar suaminya.


Dara menoleh, dia mendudukan diri di atas pagar balkon yang terbuat dari kayu itu.


Dara menarik nafas panjang. sebenarnya ia malas membahas tentang laki - laki yang sudah tidak ingin dia ketahui apapun tentang nya itu.


"Jangan ngebahas dia Bi. gue gak mau tau apapun tentangnya. terlalu sakit bila inget perlakuan laki - laki itu." gumam Dara.


Bagaimana tidak sakit? Semua kata - kata yang terlontar dari bibir Dion saat itu menyiratkan ia masih ingin kembali dengan wanita itu, lalu Dara dan anak - anak nya dianggap apa? bahkan Dion tidak segan - segan mendorongnya hanya karena tidak ingin niat nya di halangi. biarlah seperti ini, sampai lelaki itu menangis Darah pun Dara tidak sudi memaafkannya.


........


Bos kami mendapatkan laporan kalau teman baik istri anda berangkat ke kalimantan menggunakan Kapal C208 tujuan kota S." ucap seseorang dari seberang telepon.


"Bagus. pantau terus !! kirim seseorang untuk menyisir wilayah itu."


"Baik bos."


.


.


Dion menatap lalu lalang kendaraan yang melintas dari balkon kamar. dia sangat berharap ada suatu keajaiban istrinya akan datang barang sekali saja.


Sepucuk Rokok bertengger diantara dua jarinya. asap mengepul keluar dari bibir yang sudah tidak pernah merasakan kecupan selama empat tahun belakangan itu.


Setelah ditinggal pergi, Dion menerapkan kebiasaan buruk mulai jadi perokok hingga jadi seorang peminum.


Dion mengingat kembali kilas waktu yang telah dia lalui selama empat tahun belakangan. dimana saat itu dia sangat hancur dan akhirnya kembali bangkit dengan tekat harus menemukan dimana keberadaan istri dan anak - anaknya.


........


flashback


Setelah berhasil mendapatkan tiketnya. Dion harus kembali menunggu hingga pagi esok, karena jadwal penerbangan dilakukan hari esok.


Beliau meraih ponsel dari tas mahalnya dan menekan nomor sang anak.


Nyonya Diana semakin histeris dan bergetar setelah mengetahui keadaan menantu nya Dara. Tanpa membuang waktu Nyonya Diana segera mendatangi satpam yang membantu membawa Dara kerumah sakit untuk menanyakan di rumah sakit mana Menantunya di rujuk.


Nyonya Diana menghubungi Tuan David suaminya Agar segera menyusulnya ke sana.


.


.


Mulai pagi hingga malam Dion tidak ingin memakan apapun, Semua hidangan yang tersaji didepan Matanya membuatnya tidak berselera. sepanjang hari ia hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa - apa. apalagi ponsel sang istri sudah tidak aktif semenjak beberapa hari yang lalu, terlihat dari terakhir kapan dia memegangnya.


"Dara maafkan mas." kata - kata itu sudah terlontar hampir ribuan kali.


........


Pagi tiba, Dion sudah memasuki kabin pesawat. dia pulang tanpa Mengabari mantan kekasihnya itu.


Pesawat itu lepas landas meninggalkan Amsterdam menuju indonesia.


.........


Empat belas jam lima menit kemudian


Pesawat yang membawa Dion landing di bandara Soekerno Hatta.


Dion membawa langkah lebarnya, terlihat sang Ayah dan Ibunya sudah menunggu dengan wajah yang pucat,lesu bahkan sayu.


"Mom ."seru Dion menghambur ke pelukan wanita yg pernah melahirkannya itu. tubuh tinggi itu menggulung badan kecil ibunya hingga hampir tak terlihat.


Nyonya Diana menyambut anaknya, Rasa bersalah juga ikut menyertai dirinya. walau bagaimana pun beliau turut andil dalam masalah ini karena mengijinkan anaknya menemani Mirra tanpa memikirkan perasaan menantu nya itu.


"Cepat naik." Seru tuan David malas dengan Drama ibu dan anak itu.


Tuan David satu - satu nya orang tua yang sudah melarang keputusan Dion. ia takut apa yg ditakutkan terjadi,dan lihat sekarang apa hasil dari perbuatan istri dan anaknya?


Nyonya Diana dan Dion segera memasuki Mobil. Sepanjang jalan mereka hanya diam tanpa membicarakan apa - apa. Apalagi Tuan David seperti Mode batu saja, terlihat dari wajahnya yang keras seperti menahan sesuatu untuk di hantam.


Mobil yg membawa Dion berhenti di Apartemen tempat tinggalnya selama ini.


Dion membuka pintu itu. mata nya memanas melihat bekas yang ada di lantai itu. Dion berjongkok di tempat istrinya terdampar. Tangisan menggema di Apartemen itu, sepanjang malam Dion tdk beranjak dari tempatnya.


........


Keesokan pagi Dion ditemani Nyonya Diana mendatangi makam anaknya.


Dion berjongkok menggosok nisan itu dengan lembut menggunakan tangannya.


Didalam hatinya tengah menangis Darah yang diliputi penyesalan. hanya air mata yg mampu ia teteskan karena suaranya tenggelam bersamaan dengan kepahitan.


........