Love Us My Husband

Love Us My Husband
Cemas



..........


Di antara Dion yang tengah merindukan sosok Dara dan anak-anaknya.


Dara justru merasakan perasaan asing yang hinggap.bulu kuduk nya tiba-tiba berdiri,seakan itu firasat tapi Ia tidak tahu tentang apa.


"Kenapa jantungku tiba - tiba berdebar?" gumam Dara dalam hati. dia memegangi sebelah dada nya! demi mengurangi perasaaan cemas itu.


"Ya allah hamba mohon, tolong jaga keluarga hamba di sana! semoga mereka baik-baik saja."batin Dara


Dara terjingkat kaget mendengar suara seseorang memanggil nama nya.


Orang yang ada diluar celingak-celinguk, mencari keberadaan si pemilik rumah.


Si kembar sigap berdiri mendatangi arah suara itu, lalu tidak seberapa mereka kembali masuk dan memberitahukan ibu mereka bahwa ada pembeli yang datang.


"Mimi ada mina Tati."lapor kedua bocah itu,lalu kembali mewarnai sebuah lukisan.


........


Sedangkan di atas ketinggian 15.000 kaki. Heli yang Dion tumpangi sedikit oleng karena kencangnya terpaan angin di sertai badai kecil di sekitar mereka. jarak pandang sang pilot sedikit berkurang disebabkan oleh curah hujan lebat.


"Tuan sepertinya cuaca sedang buruk!!" Ucap pilot yang mengemudikan helikopter itu, menekan tuas agar tetap stabil. berniat mencari tempat pendaratan sementara


"fokus saja!" sahutnya Dingin.


Sang pilot meneguk ludah kasar." tapi tuan, keadaan cuaca sedang buruk saya takut heli ini tidak sanggup melewatinya." terang sang pilot


"Turuti perintah saya, atau ku lempar kau keluar." gertak Dion geram. ia tidak pernah bermain-main dengan ucapannya


"Ya tuhan tuan! saya hanya punya satu nyawa, apa anda tidak takut akan terjadi apa - apa kepada kita? saya belum siap mati." Batin sang pilot, menurunkan perlahan Heli itu, demi mengurangi resiko yang akan terjadi.


........


Dara, Bira, beserta si kembar tengah bersiap untuk berangkat ke kota.


Kedua wanita beranjak dewasa itu berbagi tugas.


Dara mengunci pintu, sedangkan Bira mengeluarkan sebuah sepeda motor matic dari bagasi kecil di samping rumah.


Bira menengadah ke atas langit. melihat gumpalan awan hitam di arah barat.


"Ra cepetan, sudah siap nih !!" teriak Bira dari depan. wanita itu khawatir, takut saja mereka kehujanan di jalanan bila berlambat - lambat. bisa gagal acara jalan - jalannya.


"Iya.. iya duh bawel banget sih!! gak sabaran bener." omel Dara kesusahan menyunduk gembok itu,efek longgar mungkin.


.


.


Beberapa pria yang tengah mengawasi Dara di buat penasaran.


"Mau kemana bu bos?" gumamnya.


Salah satu orang itu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Tuan Mereka.


"Ckk.. gk aktif lagi." gumam Orang itu.


"Bagaimana Bos?" tanya salah satu nya.


"Entahlah! sepertinya tuan masih diperjalanan. begini saja, kita ikuti mereka. tapi ingat !! jangan terlalu mencolok." perintah Arga.


"Siap Bos!" kedua anak buah yg di pimpin arga menunggangi motor nya masing - masing. sedangkan lelaki itu mengemudikan mobilnya sendiri.


.


.


Setelah mereka semua menggunakan helm, Motor yang membawa Dara beserta kedua anaknya melaju perlahan.


Bukan Bira namanya kalau tidak bar-bar. wanita itu menambah kecepatan motornya hingga mereka melaju dengan kencang. Terpaan angin di wajah membuat bibir Dara sedikit terbuka hingga mulutnya sedikit mengembung dan bergelembir karena lajunya Motor itu.


"Bi! jangan kenceng - kenceng, jantung gue sakit." keluh Dara. karena memang dia sedikit phobia kecepatan.


"Tapi harinya mulai mendung Ra! kalo gk ngebut takutnya kita gak nyampe, bisa keujanan dijalan malah." Sahutnya dengan sedikit berteriak.


"Gue takut Bi,ingat ada Zain, Zelin juga." teriak Dara.


"Kurang ajar wanita itu! berani sekali mengemudikan motornya ugal - ugalan. awas saja sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anak bos kami. Akan saya ikat usus nya." gerutu Arga tidak habis pikir.


........


Beberapa jam kemudian.


Helikopter yang Dion tumpangi mendarat di sebuah lapangan luas milik penduduk. Kedua lelaki dewasa itu turun untuk meminta ijin memarkirkan kendaraan Mereka.


Setelah mendapatkan ijin dari warga setempat, Dion meng-aktif kan ponsel nya. dan terlihat ada beberapa sisa panggilan yang masuk.


"Arga." gumam Dion berjalan perlahan mencari tempat bernaung.


Dion menelpon balik nomor Arga, namun beberapa kali panggilan masih tidak ada jawaban.


"****!" Dion meninju angin didepannya, menyalurkan rasa kesal nya.


Sekali lagi Dion menekan nomor sang asisten, berharap kali ini ada sambutan.


tuutt


tuutt


tuutt


"Hallo." sahut Arga di seberang telepon.


"Kemana saja kau Hah?" Ucap Dion berapi.


"Maaf tuan! saya tidak mendengar suara panggilan dari anda. kami sedang mengikuti kendaraan Nyonya Dara." sambung Arga,mulai melambat karena motor yg membawa Dara singgah di sebuah pusat perbelanjaan.


"Apa maksudmu?" tanya Dion heran.


Arga menghembuskan nafas pelan,takut suara dengusannya terdengar." Kami sedang tidak dikampung. Nona Bira membawa istri dan anak anda kekota, dan sekarang kami sedang membuntutinya. kalau Tuan ingin kesini akan saya Shareloc !" pungkasnya.


"Whatttt!!."pekik Dion


Arga mendengar keterkejutan Dion menjauhkan ponselnya dari kuping." Maaf tuan, saya sudah ingin mengabari anda tadi, tapi sayangnya ponsel tuan tidak bisa dihubungi." Ucap Arga apa adanya.


Dion memijat pelipisnya yang terasa pening. dia sudah kelelahan akibat perjalanan udara yg memabukan ditambah mendengar kabar bahwa istri dan anak-anaknya tiada di tempat, membuat kepalanya seakan mau pecah. padahal mereka berani menerjang badai demi segera sampai ke kampung dimana istrinya tinggal, justru semuanya malah tidak sesuai harapan.


"Tuan! ini kopi buat anda." Pilot itu mengulurkan segelas kopi hitam, yang di pesannya tidak terlalu jauh dari lapangan.


Dion hanya melirik sekilas tanpa mengambil dari lelaki itu. Mendapat respon tidak mengenakan itu membuat sang pilot tetap setia memegangi gelas tadi.


"Duh pengen gue sikat ni Bos belagu." batin pilot kesal.


.........


Dara yang merasa seperti di ikuti, berulang kali menengokan kepala nya ke belakang.


"Kaya ada yang ngikutin kita deh!" gumamnya seraya mengusap kedua pergelangan tangan.


"Ra,ayoo!!" ajar Bira meraih tangan wanita beranak tiga itu.


"Iya." sahutnya.


"Zain, Zelin pelan-pelan sayang." seru Dara,karena kedua anaknya sangat aktif berjalan kesana kemari.


Kedua Bocah itu sigap berhenti hingga saling bertubrukan satu sama lain."Aww Zelin, sakit hidung abang." pekik Zain kesal sembari mengusap hidungnya yang lumayan sakit.


"Abang napa di belakang adek!" sahutnya tak kalah judes.


"Nah mulai lagi." kode Dara dengan cebikan bibir.


"Maaf mimi."Ucap mereka serentak.


"Dah,dah ayu jangan mewek disini nanti diliatin orang." pungkas Bira menengahi.


Dara sigap menggadeng kedua anaknya. tanpa mereka sadari ketiga pria juga tengah mengikuti mereka. mereka menyamar sebagai konsumen disitu sehingga tidak ada yang mencurigainya.


.........