Love Us My Husband

Love Us My Husband
Duka



............


"Akkkhhhh...." Dara terhentak keras dilantai dengan posisi duduk." Ya ampun pinggangku.. aahhh perutku .." Perut Dara seketika bergejolak. dadanya sesak karena pergerakan bayi-bayinya yang berputar bahkan bergerak tidak beraturan hingga membuat jantungnya seakan ditumbuk.


Dara menengok kebawah melihat rembesan air bercampur darah,, ia panik bahkan tenaga mulai berkurang ditambah lututnya gemetaran tidak bisa berdiri.


Dara mengesot mendekati sofa. dia menyeret tubuhnya yang banjir darah itu menuju sofa. Dara tertatih - tatih hingga Ia sampai juga. Ia mengulurkan tangannya keatas tempat duduk itu namun badannya tdk bisa diangkat membuat setengah badan Dara mengambang diantara sofa itu.


"Tolong..!! siapa pun tolong aku, Bayiku..." lirihnya seperti berbisik, matanya sayu karena semakin banyak darah yang keluar.


Pagi itu hingga sore menjelang Dara tidak dapat kemana - mana, karena Ia tdk memiliki kekuatan untuk bergerak. jangankan mengambil makan dan minum sekedar meraih telepon rumah didekat lemari kaca dipojok situpun dia tak sanggup.


"Tolong.. tolong aku.. Ya allah bayiku!! Bi tolong aku..." teriakan Dara sangat lirih, bahkan pergerakan bayinya yang aktif tadi kian melambat.


..........


Bira menemani proses operasi yang dijalani Dara. dalam ruangan itu terdapat Enam petugas yang terlibat, terdiri dari..


- Dokter operator/ dr obsygn, Dokter anestesi, perawat anestesi, perawat bedah , Dokter spesialis anak, dan perawat perinatologi. Semua petugas mempunyai perannya masing - masing.


Dokter mulai membedah perut Dara setelah menyuntikan anestesi beberapa menit yang lalu


Dara tidak sadarkan diri karena obat itu berjalan begitu cepat. padahal sebelumnya dia masih sadar saat dibawa kerumah sakit.


Tangan dengan sarung tangan itu berhasil mengangkat bayi dengan lengkingan tangis yang cukup nyaring .


" Catat waktu dan tanggalnya sus, bayi pertama berjenis kelamin laki - laki." perintah Dokter itu.


Lalu Dokter itu berusaha lagi untuk mengeluarkan bayi yang kedua. setelah berhasil diangkat dan keluar tapi tidak didapati tangisan? Dokter itu menyerahkannya kepada Dokter spesialis anak untuk memeriksanya.


Dokter itu berusaha lagi untuk mengeluarkan bayi yang ketiga hingga terdengar kembali suara yang sama dengan kenyaringan yang sama." Catat waktu dan tanggalnya sus, Bayi ketiga berjenis kelamin perempuan." Perintah sang Dokter lalu menyerahkan bayi itu keperawat yang lain. Beliau menjahit luka sayatan diperut Dara hingga selesai.


Sepuluh menit berlalu, lima belas menit berlalu , hingga teng.. tepat tiga puluh menit Dokter yang menangani bayi kedua tadi geleng - geleng kepala tanda menyerah.


Mereka saling tatap, lalu..." Buat riwayat meninggalnya bayi kedua ." perintah Dokter itu menyesal.


..


flashback on


Seperti Biasa bira akan mampir setelah pulang bekerja. tadi malam dia sempat chat an dengan Dara, karena wanita hamil itu berpesan ingin makan futomaki yang sering diceritakan Bira.


Bira beberapa kali menekan bel tapi Dara tak kunjung membukakan membuat Bira penasaran dan mencoba menelponnya beberapa kali. hampir puluhan kali Bira menghubungi nomor yang sama tapi tidak ada sambutan membuat Bira khawatir dan nekat memencet sendiri barcode Apartemen itu. Ia sangat berharap kalau Dara atau Dion belum mengganti password nya.


Dan benar saja pintu itu terbuka membuat Bira lega lalu melenggang masuk.


Bira tertegun melihat lantai ruang tamu itu terdapat darah yang hampir mengering bahkan terseret hingga beberapa meter, membuatnya panik dan berlari mengikuti kemana Darah itu


Degg


"Ya tuhan.... Dara !! Lo kenapa ??" Bira reflek melepar makanan yang dibawanya, lalu mengangkat Dara membalikannya menjadi rebahan di paha.


Dara tersenyum akhirnya sang sahabat yang ditunggu datang." Bi tolong.. bawa gue kerumah sakit, Anak gue tid..ak ber..gerak." Ucapnya tersendat - sendat dan lirih.


*B*ira bingung harus apa. dia meraih bantal sofa untuk alas kepala Dara, lalu dia berlari keluar meminta pertolongan. hingga Apartemen itu gempar heboh dengan seorang wanita hamil yang dalam keadaan mengenaskan. Bira dibantu satpam membawa Dara kerumah sakit. namun sebelum itu Dara meminta Bira mengambil tasnya yang ada dikamar untuk membawa kartu pemberian suaminya yg belum pernah digunakan sekalipun. takut saja kalau pihak rumah sakit mempersulitnya karena tidak memenuhi administrasi. karena dia teringat pengalaman waktu kecil masuk rumah sakit dipersulit gara gara tdk punya biaya hingga sang nenek terpaksa menjual harta warisan yg seharusnya dibagi untuk orang tuanya untuk biaya Dara berobat.


Sepanjang jalan Bira menyemangati Dara bahwa anaknya pasti baik - baik saja.


"Bi .. anak gue pasti selamat kan?" Ucap Dara lirih.


"Lo harus yakin Ra.. jangan putus asa." Bira tergagu.


"Gue siap menukar nyawa gue buat anak gue bi.." sambung Dara lagi, mencoba selalu tersadar meskipun tdk berhenti mengoceh.


"Jangan ngomong begitu Ra.. istighfar." Bira lupa menanyakan kemana Dion? karena Dara tidak menyinggung suaminya itu sama sekali.


............


Bira linglung dengan apa yang dilihat dan didengarnya." Apa yang terjadi Dokter?? ada apa dengan keponakan saya??" Cerca Bira khawatir setengah bergetar.


Dokter itu melepas kacamatanya dan menghadap Bira dengan menyesal.


"Maaf kami sudah berusaha semampu kami. bayi kedua nyonya Dara sepertinya sudah meninggal dari dalam kandungan. maafkan kami karena gagal membantunya, kami tidak dapat berbuat banyak . sekali lagi mohon maaf,, mungkin ini sudah garis takdir dari yang maha kuasa." Ucap Dokter itu turut berduka cita.


Bira langsung menangis melihat jasad bayi yang terbujur kaku itu ditutup dan dibawa keruangan penyimpanan jenazah. karena akan dikuburkan setelah ibunya sadar.


Suster membawa dua bayi yang sehat tadi untuk dibersihkan. kedua bayi itu tidak perlu ditaruh di inkubator karena keadaannya stabil bahkan suhu tubuhnya normal.


Bira tidak beranjak dari sisi Dara, semalaman suntuk ia tidur dengan posisi duduk memegang tangan Dara.


........


Sedangkan dibelahan dunia lain.


tepatnya pukul 16:00 ( Belanda ). 22:00 (Indonesia).


Mereka langsung mengunjungi Amsterdam Big Hospitals.


Dion memang tdk mengaktifkan ponselnya,, lagipula Ia sedang tdk ingin diganggu karena Mirra langsung dilarikan kerumah sakit untuk menjalani kemotrapinya.


Dion kelelahan dan mencari tempat istirahat untuk tidur apalagi hari hampir petang bahkan memasuki malam hari.


Dion tertidur lebih awal karena lagi - lagi dia mengalami jet leg.


Malam itu berlalu begitu saja tanpa ada mengabari istrinya sama sekali.


............


"Eng.. " Dara mengerjapkan mata kerena cahaya memasuki retina nya. di bergerak sedikit sehingga membangunkan Bira yang tengah tidur itu.


"Ra.. lo udah bangun.." Ucap Bira sembari mengucek kedua mata takut ada eek nya.


"Hm. bagaimana anak - anak gue Bi.." tanya Dara lemah, dia mencoba untuk duduk.


"Ra jangan gerak - gerak. jahitan lo masih basah.


"Akhh ssshh. " Dara merasakan sakit hebat di perutnya. dia meraba lalu tersenyum simpul." Lihatlah sayang kalian sudah keluar dari perut mimi." batinnya.


" Bi tolong ambilin anak gue ya. gue gak sabar mau liat anak - anak gue " Dara memohon menangkupkan tangan di dada.


Bira tidak kuasa menahan kesedihan, dia mengambil tangan dara lalu menggenggam memberi kekuatan.


"Sebentar !! gue ambil mereka dulu, ingat jangan banyak gerak ok." Ucap Bira lalu keluar meminta suster untuk membantunya membawa si kembar.


Bira masuk keruangan Dara dengan menggendong dua bayi bersebelahan ditangannya, dan menyerahkan salah satu kepada Dara.


"Selamat Ra lo punya dua orang putra dan seorang putri." cicitnya pelan. karena saat ini Bira ingin teriak tidak sanggup menyampaikan duka kepada wanita yang berstatus menjadi seorang ibu itu.


"Benarkah?? wah alhamdulillah.. sini Bi gue mau gendong si tunggal dulu." pinta Dara berbinar.


Bira menyerahkan putri Dara, dan wanita itu menerimanya . Dara bahagia anak - anak nya selamat . dia melihat wajah putrinya yang ternyata sangat manis apalagi tidak bisa dipingkiri wajah putrinya adalah fotocopyan pipinya.


"Welcome to the world babby girl ." Dara menghadiahi putrinya ciuman dipipi membuat bayi itu menggeliat .


Lalu Dara meminta putranya lagi dan melakukan hal yang sama. hingga Dara menengok mencari anaknya yang ketiga


"Bira kenapa cuma dua? si boy mana??" Dara cekingak - celinguk mencari yang satu." Bi.. dede mana? anakku yang satunya lagi mana..??" tanya Dara bergetar, karena dia melihat Bira seperti menyembunyikan sesuatu.


.............