Love Us My Husband

Love Us My Husband
Sebuah Roti



.........


Sementara itu, Dion baru saja terbangun dari tidur nya. rasa lapar sangat membuncah membuat perutnya seakan terlilit dan teramat perih. bayangkan saja terakhir dia makan tengah hari kemarin, itupun setelahnya tidak ada lagi makanan yg di konsumsinya.


Dion melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. pukul menunjukan sembilan pagi, yang artinya memasuki tengah hari.


"Greeookkk.. ooeekk." Cacing di perut Dion demo. sebelah tangan ia gunakan untuk menekan perut, satu tangan lainnya mengucek mata takut ada e'ek nya.


"Akh,, gerah juga. Mandi di mana ya?" Dion meneliti sekitar, Namun yg terlihat hanya rumah yang jarang-jarang. Jika dia jalan, hal yang ditakutkannya Dara akan pergi lagi. Mau tidak mau Dion harus standby disitu, dan harus terus memantau pergerakan Dara.


Dua anak buah yang kemarin di bawa Arya sudah kembali ketempat mereka masing-masing. karena tugas mereka untuk mengintai sudah berakhir, dan sisanya diambil alih oleh Dion.


Tatapan Dion terfokus di sebuah bangunan yang berisikan Dara dan anak-anaknya. Senyum terbit dari bibirnya, meskipun bangun tidur tetapi tidak mengurangi kadar ketampanan ayah beranak tiga itu. Dion berniat turun menuju rumah itu, bukan untuk membuat keributan tetapi ingin membeli sebuah roti untuk mengganjal perutnya.


Sebelum turun, dia mengambil sisa air mineral yang tinggal seperapat untuk dibasuhkan ke wajah, dan berkumur. lalu melihat penampilannya di cermin agar terlihat o.k


"Ternyata aku Tampan."Ucapnya Narsis seraya menunjuk wajahnya di cermin.


"Ra"


"Ra" Dion menapaki teras yang tersusun aneka dagangan yang di rintis Dara.


"Duhh Bi, mau apa dia ya?"tanya Dara kepada Bira yang berdiri di sampingnya. kedua orang itu sembunyi di balik dinding seperti buronan yang takut tertangkap


"Yah kok nanya aku, samperin lah takut aja dia minta sumbangan."canda Bira


"Isshh ada-ada aja lo."sahut Dara cemberut."Lo aja deh yang datangi, gue ogah." putus Dara


"Ya sudah lo disini, biar gue yang keluar. tapi kalo dia nanyain lo, gue harus jawab apa?"


"Hah, gak tau. jawab sebisa lo aja dehh."


Raut wajah Dion berubah masam saat orang yang ditunggu tidak datang. Harapan bertemu istri dan anaknya buyar karena wanita yang di cap Arga Dwipangga sebagai wanita jadi-jadian itu yg keluar.


"Ada apa Tuan?"tanya Bira dingin. tidak bisa dipungkiri, hati Bira berdesir melihat ketampanan Dion. Wajah tampan, tubuh tinggi, dada bidang dengan warna kulit putih bersih itu menjadi daya tarik tersendiri, membuat kaum hawa seperti dirinya pasti meleleh. namun jauh dalam lubuk hatinya, tidak pernah terniat memiliki bahkan menginginkan suami sahabat baiknya itu.


"Saya mau Roti."sahut Dion, lebih dingin


"Maksud nya anda minta Roti? ohh tidak bisa, kita di sini jualan. lagian anda ini orang kaya, masa roti saja harus minta."


Dion menautkan kedua alis nya. dan sedetik kemudian dia menggeram."Anda pikir saya ngemis heh? Berikan saya roti atau apapun yang bisa dimakan, jangan lupa minumannya."Ucap Dion, lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah kepada Bira."Tuh ambil kembaliannya buat jajan permen."


Perdebatan sengit terjadi diteras itu, membuat kuping Dara gatal mendengarnya. Meskipun yang sedari tadi mengajak Dion berdebat itu Bira sendiri.


Sedangkan laki-laki itu dengan santainya duduk di teras sembari memakan Roti, dan mengabaikan ucapan Bira yang seperti tikus terjepit karena kesal Dion tidak mau pergi.


ini kenapa sih ribut-ribut? diliat orang kan malu." Sungut Dara menengahi, apalagi perdebatan itu terdengar oleh kedua anaknya.


Dion menghentikan kunyahannya, membuat sedikit selai roti itu blepotan di pinggir bibir


"Hehh lo pergi sana."usir Dion pada Bira, dan segara menangkap pergelangan tangan Dara membuat wanita yang menjadi istrinya tersebut terkejut.


"Lap dulu selai di mulutnya. jorok banget sih."pungkas Bira


Dion menghunus Bira dengan mata tajam, membuat wanita cerewet itu menciut.


"Yang please, aku mau ngomong sama kamu."pinta Dion menaruh asal roti yang dipegangnya tadi.


"Mau ngomong apa? bukannya kemarin udah."Dara berusaha melepas tautan tangan Dion


"Sayang please. aku masih sah suami kamu, pipi anak-anak kita."


Deg


"Suami. masih pantaskah dia di sebut dirinya sebagai seorang suami? bahkan untuk memaafkan pun rasa nya sangat tidak mungkin."


"Pipi."beo kedua bocah yang tidak sengaja mendengan ucapan ayahnya.


"Bi, jaga anak gue ya. jangan biarkan mereka turun sebelum gue selesai bicara." pinta Dara, lalu mengikuti Dion ke dalam mobil nya.


.


.


Anggap saja Dara bodoh karena mengikuti permintaan Dion. namun di balik semua itu dia meminta agar di lepaskan dari ikatan yang dia anggap sudah berakhir lama.


"Clakkkk "pintu Mobil itu terkunci sempurna, membuat Dara panik.


"Kenapa harus dikunci?"tanya Dara dengan nafas naik turun efek gugup, takut akan diperkosa Dion lagi seperti dulu


"Agar kamu tidak pergi sebelum masalah kita selesai."jawab Dion dengan pandangan lurus ke depan.


"Baik. bicaralah, akan saya dengarkan."


"Apa kamu tidak merindukan ku sayang?"


"Hahh, pertanyaan macam apa itu?"ucap Dara


"Aku sangat merindukanmu."


"Tidak perlu bicara yang tidak - tidak. Tuan saya minta, lepaskan saya dari ikatan ini


"Jangan katakan itu!!"


"Lepaskan saya dari ikatan ini Tuan, tidak ada lagi rasa di hati saya untuk anda."ucap Dara membohongi hati nya.


"Aku tau kesalahanku sangat fatal. tapi jangan meminta untuk lepas dariku! sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istriku, sampai ajal sendiri memisahkan."


"Huh, sejak kapan anda begitu puitis. tidak cocok sekali."Dara mencibir


"Maaf."


"Stop!! saya maafkan, tapi tolong dengan sangat lepaskan kami Tuan. Saya hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan dari anda."


Dion mengubah posisi dari awal menatap kedepan, kini berganti dengan seringai liar yang terpatri di wajahnya.


"Tidak akan."


Lope - lope berterbangan di bola mata Dion. tanpa sadar laki-laki itu segera merengkuh Dara ke dalam pelukan, membuat Dara sesak bahkan terpojok dipintu mobil


"Apa yang anda lakukan Tuan, tolong lepaskan saya."Dara meronta


"Aku suamimu Ra, tidak benar jika kau memanggilku seperti orang lain."Dion semakin mendalami pelukannya. Membalas seluruh rasa rindu yang selama ini dipendamnya.


"Akkhhh,, jangan Tuan. Ku mohon jangan."


Dara berusaha menggelengkan kepala kiri dan kanan, menghindari sosoran Dion di lehernya.


Dion menahani kedua tangan Dara ke atas, sehingga Dara sulit berkutik.


Kaca mobil itu berwarna hitam yang membuat orang lain dari luar tidak mampu melihat apa aktifitas mereka di dalam.


"Saya pastikan, akan semakin membencimu Dion.. akkhhhh."


Dion tidak peduli dengan ancaman Dara. saat ini dipikirannya hanya ingin merasakan kembali bibir manis sang istri yang sekian tahun tidak pernah lagi dia rasakan.


Sekian banyak wanita yang selama ini menggodanya, tidak ada satupun yang berhasil naik di ranjangnya. bahkan wanita itu terhempas sebelum sempat memegeng ujung bajunya sekalipun.


Tubuhnya hanya Milik Dara, apapun yang ada dalam dirinya hanya milik Dara. dia berusaha menjaga citra sebagai seorang suami dan seorang ayah.


"Pppfftttt aakhh." Dara hampir kehabisan nafas, akibat ulah Dion


Dion ******* bibir ranum istrinya. rasa manis itu menjalar menjadi Mood booster, yang akan menemaninya meraih kembali sang istri.


.........