
.........
Beberapa hari kemudian
Dion tengah dibuat kesal oleh panggilan sang Asisten yang menurutnya mengganggu itu. bagaimana tidak? saat itu Ia tengah enak - enak menyantap masakan sang Istri di temani kedua buah hatinya
amenurut lidah Dion, masakan Dara tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. hingga Ia pun takabur menyumpal apa saja yg terhidang didepannya. Namun bukannya ketenangan yang Ia dapat, justru ada saja manusia iseng yang begitu getol ingin mengganggu, membuat nafsu makannya berkurang
Drrtt..
Drtt..
drrt..
"Ckckck.. mau apa sihh manusia satu ini?" Ia berdecak tidak suka. sudah empat belas kali panggilan itu Ia abaikan, namun si penelpon tak kunjung berhenti juga.
Dion yang sudah terlanjur kesal menggeser tombol on,"Ada apa menggangguku hah..?"Hardiknya tidak sabaran tanpa melihat lebih dulu siapa yang baru saja menelpon
Seseorang di seberang telepon mengaduh memegang kuping kanannya yang terasa mendengung setelah mendengar suara sarkas bagai bom atom dari mulut putranya
"Dasar anak durhaka!! orang tua nelpon bukannya kasih salam, malah dibentak. mau buat mommy jantungan ha?" omel Nyonya Diana tak kalah sengit. Hingga Tuan David yang duduk setia di sampingnya terkena imbas oleh cubitan maut sang Istri
Dion membulat seketika menjauhkan ponsel itu demi melihat siapa yang memanggilnya. alangkah terkejutnya lelaki itu sebab bukannya Arga yang menghubungi namun wanita yang melahirkannya lah yang menelpon
"Maaf mom,"
"Maaf, maaf.." Nyonya Diana menjeda ucapannya sebentar,"Kenapa telponnya gak diangkat - angkat sih Nak?"
"Aku pikir itu Arga,"
"Terus kalau Arga yang nelpon kenapa?" tanya Nyonya Diana masih nyolot
Dion mendengus sangat pelan, Sungguh sebal mendengar pertanyaan sang Ibu. apa beliau tidak mengerti juga bahwa Ia disini tengah memperjuangkan Rumah tangganya
"Bagaimana keadaan cucu mamah Di? apa mereka baik - baik saja? apa mereka hidup dengan layak disana?apa Istrimu mau diajak pulang?jawablah nak,mommy nanya loh ?" pungkas nyonya Diana dengan pertanyaan beruntun
Dion menggaruk kening tanda jengah mendengar pertanyaan sang Ibu yang menurutnya sangat - sangat tidak sabaran. lalu yang mana harus Ia jawab terlebih dahulu
"Santai dong mom, pelan-pelan kan bisa ngomongnya,"
Zain dan Zelin hanya geleng - geleng kepala tanda tak mengerti. mereka juga tidak bisa mendengarkan siapa seseorang di balik telepon itu. tapi mereka sempat terkejut saat ayahnya bicara nyaring, karena seumur - umur mereka belum pernah mendengar sang Ibu bicara sarkas seperti ayahnya.
.
.
Perbincangan antara orang tua dan anak itu sudah berakhir sekitar tiga menit yang lalu. saat akan menyuap kembali, sendok yang hampir sampai ke gua mulut Dion kembali mengambang. Dion menggeram murka sampai ke ubun-ubun
"Sialan!! sekarang siapa lagi ini Tuhan??"Dengusnya sembari melihat siapkan si penelpon kali ini. dan dugaannya benar, sang Asisten lah orangnya
"Hallo.."
"Hallo tuan, kenapa anda susah sekali dihubungi..?" omel Arga keceplosan, secepat kilat lelaki itu menepuk mulutnya sendiri
"Berani sekali kau meninggikan suara padaku hah..?"
"Ampun tuan, maafkan saya!!"
"Untuk apa menelpon? bukannya sudah kukatakan jangan pernah menghubungiku kalau tidak ada hal yang penting,"
"Maaf tuan! justru kabar yang ingin saya sampaikan ini sangatlah penting."
Mendengar kata penting yang meluncur dari mulut sang Asisten. Dion pun membawa telepon itu sedikit menjauh dari anak - anaknya
"Cabang Industri makanan kita yg berada di kota s mengalami kebakaran hebat," Arga menjeda ucapannya sebentar sembari menarik oksigen dengan lembut demi menghalau rasa bersalah yg bersarang di benaknya,karena teringat beberapa jasad korban yang hangus terbakar menyisakan tulang - tulang saja."Beberapa pekerja kita yang berada dalam bangunan itu menjadi Korban MD dalam insiden ini. kebakaran itu sangat cepat, pemadam pun kewalahan menangani besarnya api. Tuan, Nyonya dan Tuan besar masih belum tau perihal masalah ini karena saya takut kedua orang tua itu akan terkejut dan tidak siap untuk mendengar semuanya
"Kenapa bisa? bukankah tempat itu sudah terjamin keamanannya?lalu kenapa hal seperti ini bisa terjadi? apa sudah kau cek langsung keadaan di Tkp?"
"Sudah tuan. saat ini saya sudah berada di kota S, dan saya harap anda bisa segera hadir untuk menangani hal ini. karena pihak kepolisian meminta agar tuan selaku petinggi perusahaan untuk hadir
"Kau urus lah dulu, kau taukan keadaanku sekarang?"
"Maaf Tuan! kali ini saja, saya mohon!!"pinta Arga penuh harap. sebab banyak yang mesti mereka lakukan untuk membereskan masalah ini.
"Baiklah. jangan buang - buang waktu, suruh mereka segera menjemput ku."titahnya
.
.
Dion segera menemui Dara untuk bicara dati hati ke hati. wanita itu juga terkejut setelah tau masalah apa yang menimpa suaminya. Namun untuk menerima ajakan sang Suami untuk ikut pulang ke kota asal mereka, tentu Dara tidak mau. mau berbicara padanya, bukan berarti Dara telah memaafkan kesalahan sang suami apalagi berfikir untuk kembali bersama. semua yang Ia lakukan hanya semata Iba dan demi anaknya saja
Mendengar penolakan demi penolakan yang di ucapkan Dara, menjadi pukulan terdalam untuk Dion.
"Setidaknya bila tidak mau Ikut mas. jangan pernah pergi lagi, Mas mohon sayang!!!"pungkasnya dengan menggosok setitik air di sudut matanya. banyak hal yang menjadi pertimbangan, namun tanggung jawabnya di sana tak mungkin Ia abaikan begitu saja
Dara hanya tersenyum tanpa memberikan anggukan. Ia juga belum tau apa yang mesti dilakukan nanti, biarlah takdir yang akan menuntunnya kemana. Ia hanya bisa pasrah untuk saat ini
Dion mempersiapkan dirinya, tak lupa memberi pengertian untuk kedua buah hatinya. memang benar Ia akan pergi, tapi sudah ada beberapa orang yang bertugas untuk mengawasi anak istrinya disini
.
.
"Zelin masih kangen sama Pipi,"ucap gadis kecil itu dengan suara serak. Ia tidak rela melepas sang ayah untuk pergi. sungguh Ia takut ayahnya itu tak akan kembali lagi kepada mereka
"Pipi hati - hati ya! kalau sudah sampai di rumah jangan lupa telpon aku sama adik, hiks.." Zain memeluk leher Dion dengan menempelkan pipinya di pundak sang ayah
"Pipi pulang sebentar,pipi janji akan datang lagi. sementara Pipi pergi ,kalian harus bujuk Mimi oke.. Agar kita bisa kumpul bareng, sama Pipi, mimi dan kedua anak pipi ini!!! gimana, mau kan bantu Pipi?"
"Iya kita janji," sahut mereka serempak tanpa melepas pelukan dari ayahnya.
.
.
Beberapa waktu berlalu, helikopter yang menjemput Dion telah menghilang dari pandangan.
Dara bersandar tanpa memutus penglihatannya dari besi terbang yang telah membawa suaminya tadi. Air matanya menganak sungai membanjiri pipi mulus itu. hatinya sangatlah mencintai lelaki itu, namun segala kejadian demi kejadian yang pernah dilaluinya menjadi benteng kokoh untuk tidak menerima lelaki itu kembali.
"Aku Cinta kamu Mas, tapi aku belum sembuh.. hiks, hiks.." batinnya.
Dara berjalan keluar untuk menemui kedua anaknya, dan alangkah terkejutnya saat mendengar.....
"Ayo kak kita Do'akan semoga Pipi kita selamat.. hiks.. hiks Zelin takut Pipi gak pulang kesini lagi. bagaimana kalau pipi jatuh, pasti pipi kesakitan.. hiks..hiks
"Ade gak boleh ngomong gitu!! Ayo De, buka tangannya begini. kita minta sama Allah buat jaga Pipi. kakak juga sayang sama Pipi, makanya kakak gak nangis supaya Pipi gak kepikiran.. hiks"
Zain merangkul sang adik, mencoba menenangkan gadis cantik itu. katanya Ia tidak menangis, nyatanya malah menangis tanpa suara. kedua bocah itu saling memeluk menumpahkan tangisnya, tanpa menyadari bahwa sang Ibu dan Tantenya telah berdiri tak jauh dari mereka
.
.
"Apa kita pergi aja dari sini Bi, gue takut bakal gak tahan. gue takut akan terulang lagi, gue gak siap kalau kali ini kedua anak gue ikut terseret?"
"Jangan Konyol lo Ra! apa lo gak liat terlukanya kedua anak lo saat ayahnya pergi? bisa - bisanya lo mikir buat misahin mereka lagi.. ckk ckk Sinting lo!!" Ucap Bira meninggalkan Dara dengan jengkel