
..........
"Jangan menangis Cintaku. maafkan mas sayang karena masih belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. tapi mas berusaha untuk tidak lagi sering menemuinya, apalagi sekarang Mirra sudah mendingan dan siap memulai hidup barunya. Kamu tau sayang selama ini mas tersiksa jauh dari kamu dan triplets? apa kamu tau hampir setiap malam triplets mimpiin aku. katanya pipi jahat sama mimi,katanya pipi gk sayang sama mereka bertiga." Ucap Dion sembari memeluk sang istri.
"Masa sihh? emang iya " tanya Dara bercampur kaget.
"Sumpah sayang gak bohong. padahal aku cinta banget sama kamu, apalagi dengan anak-anak kita." sahut Dion serius dan menjeda ucapannya." Sekarang Mas mau fokus ngantor lagi. lama juga membiarkan Daddy kerja sendiri. kasian juga soalnya Daddy harus bolak balik keluar kota."
"Hmm kalau gitu Mas mandi gih. aku siapkan airnya sebentar. Mas lepas dulu tangannya, aku susah gerak ini." rengek Dara manja. dari tadi Ia mencoba melepaskan belitan suaminya namun Dion tetap pada posisinya.
"Cium dulu lah, kangen soalnya." Dion mengetuk-ngetuk tunjuk di bibirnya.
"Cium apa? baru bangun juga, nanti mulutku bau naga. Mas bakal nggak tahan" sahut Dara polos, hingga membuat Dion terbahak - bahak mendengar kelakar istrinya itu.
...........
Sepuluh hari berlalu. tidak ada lagi Dion yang stanbay disamping Mirra seperti janjinya pada sang istri.
Bahkan dalam sepuluh hari itu, ia full ngantor dan memanjakan Dara dengan perhatian yang dicurahkannya, tidak jarang Ia malah pulang untuk makan siang dirumah bersama Istrinya.
..
"Hati - hati dijalan ya Suamiku. jangan ngebut biar pelan asal selamat." nasehat Dara kepada suaminya yang akan berangkat kerja itu.
"Iyyaa sayangku. kamu juga. istirahat saja dirumah jangan kemana-mana." Ucap Dion membelai rambut istrinya.
Dara melambai kepergian sang suami. ia tersenyum smirk penuh arti.
"Tunggu aku Mas ku sayang.." Gumam Dara dihiasi senyum manis, karena ia tengah merencanakan sesuatu.
.........
Karel Corpration.
.
"Apa saja yang kalian kerjakan?? Ha... liat ..!! lihat Nominal kerugian kita." Pekik Dion menghentak Dokumen didepan para staf nya..
"Maaf pak!! sungguh kami tidak tau mengapa bisa Data pemasaran kita bisa jatuh ketangan orang lain. kami sudah bekerja sesuai prosedur ."Ucap salah satu yang berani bersuara.
"Saya tidak minta pembelaan kamu. saya tidak mau tahu pokoknya dalam bulan ini jika kasus ini belum diselesaikan saya tidak segan-segan memecat kalian tanpa hormat." tunjuk Dion kepada mereka yang tengah menundukan kepala.
Dion meninggalkan tempat metting dan kembali ke ruangan kebesarannya.
Saat membuka pintu tiba-tiba.
"Surpriseeeeeee.." Seru Nyonya Diana, Dad David , Mirra serta para karyawan dan staf dikantor itu yang sudah menunggu Dion.
"Ha kalian semua disini. ada apa??" tunjuk Dion pada orang-orang disana
"Happy birthday Dion.. happy birday Dion.. happy birthday happy birthday .. happy birthday Dion." lagu dipersembahkan oleh Mirra seraya menenteng Kue besar milik orang tua Dion.
Sedangkan di lantai bawah, Dara datang dengan penampilan yang anggun . perut besar dipadukan Dress bergelombang ditambah rambut di gulung tinggi sedikit bervolume membuatnya terlihat sangat Manis. Ia menenteng paperbag berisi Kue Ulang tahun berbentuk bundar yang Ia buat sendiri dengan tangannya karena ingin mempersembahkan yang spesial untuk sang suami.
Dara heran melihat kantor sepi, bahkan pintu masuknya saja tertutup setengah. ditambah Meja Resepsionis kosong semakin membuat Dara bertanya - tanya.
"Kenapa kantor ini sepi? kemana mereka semua? " gumam Dara bingung lalu menekan liff untuk mengantar keruangan suaminya.
Dara menarik nafas dalam lalu dihembuskan agar mengurangi rasa gugupnya. karena untuk pertama kalinya ia membuat kejutan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Tiup lilinnya .. tiup lilinnya.. tiup lilinnya sekarang juga.. sekarang juga.. " mereka bersorak meminta Dion untuk meniupnya.
Dion nyengir karena malu diperlakukan seperti anak kecil namun dia menuruti..
"ffyuuuhhh " lilin bernyala api yg berukir angka 24 dibawahnya itu padam seiring terpakunya seorang wanita yang berdiri tepat di tengah pintu itu.
"Selamat ulang tahun putraku. semoga panjang umur dan semakin sukses." Ucap tulus Nyonya Diana kepada putra semata wayang nya itu.
"Selamat ulang tahun Son." Tuan David merangkul pundak anaknya.
"Selamat ulang tahun Yon." Ucap Mirra tersenyum lebar merentang tangan minta dipeluk.
Dion sigap menerima uluran Mirra sehingga tubuh wanita itu bersemayam didada nya. bahkan sebelum berpelukan Mirra mengadiahi Dion cepika-cepiki di kira dan kanan pipinya itu.
"Kalian semua membuat kejutan ini? lalu tadi..." Dion melepas pelukan itu sembari menunjuk ruang Metting dengar alis terangkat.
"Ahhh kalian sengaja mengerjai ku..." Sambung Dion tertawa masam bercampur sebal.
Mereka semua tidak menyadari kehadiran Dara, karena Riuhnya suara dari dalam hingga tepak sendal Dara tidak terdengar.
Dara mundur selangkah melihat kebersamaan mereka tanpa ada dia di sisi suaminya.
hati Dara hancur dengan semua yang dilihatnya, bagaiman Cara Dion memandang dan memeluk wanita itu, bagaiman mertuanya yg tidak memberi tahunya sama sekali tentang rencana yang mereka susun untuk Suaminya bahkan yang lebih parah justru wanita masa lalu suaminya turut hadir merayakan sedangkan dia istrinya tdk dikabari atau diberitahu sama sekali. tak terasa air mata nya luruh membasahi pipi.
Dara melihat kue yang Ia ukir sedemikian Cantik itu dengan tatapan nanar dan terluka.
"Aku membuatkan ini spesial untukmu Mas,, tapi sekarang aku merasa semua usahaku sia-sia karena kamu telah merayakannya lebih dulu bersama mereka.. Aku ingin masuk, tapi aku malu." gumam Dara bergegas pergi meninggalkan kantor suaminya, sebelum ada orang lain yang melihat wajah penuh air matanya.
...
"Istriku mana Mom..?"
"Sengaja Gak Mommy kasih tau sayang. kamu kan tau Istrimu itu sedang hamil besar, yang ada nanti dia kecapean." sahut nyonya Diana sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
Staff dan karyawan yang berkerumun tadi sudah keluar semua, bahkan khusus hari ini mereka diperintahkan pulang lebih awal, serta Tuan David mentraktir mereka untuk makan-makan diresto yang dekat dengan kantor mereka.
"Lalu kenapa Mirra bisa ada disini." Bisik Dion pelan di dekat telinga sang ibu.
"Gak tau. tiba-tiba datang kerumah katanya mau ikut kekantor kamu buat ngasih kejutan. padahal dia belum benar-benar sembuh loh." jawab sang ibu tak kalah berbisiknya
"Ya begitulah Mirra. dia tidak pernah lupa dengan hari penting ku." sahut Dion datar.
"Ayo sayang kita susul Daddy mu. eh nanti dulu.. nanti dulu.. !! mana lagi Mirra tadi? kenapa ke toilet nya lama sekali.." gerutu Nyonya Diana.
"Tunggu sebentar lah mom!! paling sebentar lagi keluar."
Tidak lama setelahnya Mirra datang menhampiri mereka. sepanjang kaki melangkah tidak henti-hentinya wanita itu menebar senyum.
"Maaf lama tante."
"Iyyaa tidak masalah. ayo kita susul ayahnya Dion, takut mereka kelamaan menunggu." ajak Nyonya Diana dan diikuti Mirra dan Dion dibelakangnya.
...........