
........
Zain dan Zelin saling pandang mendengar tuturan ibu nya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka,tidak pernah sekali pun ibu nya meninggikan suara di hadapan mereka berdua.
"Mimi."Seru Zain dan Zelin bersamaan
Dara tersadar dari amarah yang sempat menguasainya. lalu secepat kilat dia menggandeng kedua bocah itu untuk segera pergi.
Melihat pergerakan Dara seperti ingin meninggalkannya, membuat Dion sigap menahani pergelangan tangan wanita beranak tiga itu.
Dara yg ditarik menghentikan langkahnya. menarik nafas perlahan lalu di hembuskan agar tidak emosi."Hufpp."
"Sayang,jangan pergi lagi. kita perlu bicara berdua! Apa kamu tidak lelah terus lari seperti ini?" ucapnya sendu. ingin sekali Dion mendekap Dara dan anak-anaknya, Namun otak waras nya masih bekerja untuk tidak mengagetkan putra-putri nya apalagi mereka baru bertemu, sudah pasti kedua bocah itu akan terkejut dan tidak siap menerima orang asing seperti dirinya.
Dara diam tanpa ekspresi, menatap anaknya dengan tatapan tak terbaca."baiklah kita bicara."batin Dara
"Sayang, kalian susul tante Bira ya! mimi mau bicara sama om ini dulu."pinta Dara sembari mengusap rambut Zain dan Zelin
"Tapi, nanti paman ini jahat sama mimi."tunjuk Zelin dengan wajah cemas. karena menurutnya Dion itu kejam, terlihat dari postur tubuhnya yang tinggi besar. meskipun wajahnya tampan tetap saja membuat kedua bocah itu siaga satu
"Hmm!! sayang mimi tenang saja, disini banyak orang jadi paman ini tdk akan berani macam-macam." bujuk Dara
Dion Miris mendengar ucapan anaknya. apakah dia terlihat seperti penjahat sehingga kedua bocah itu seakan ngeri menatap nya.
Zain mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, lalu di arahkan ke mata nya dan ke mata Dion. Mengode bahwa dia memantau dari jauh, lalu meninggalkan para orang tua itu.
Dara dan Dion duduk di kursi tempat Dion dan Arga memantau Dara tadi. lokasi nya tertutup dan bersekat kaca membuat privasinya sedikit terjaga.
"Tentang apa."tanya Dara to the point, setelah berhasil mendaratkan bokongnya dengan sempurna.
Dion belum mengeluarkan suara. dia memindai pahatan wajah Dara yang semakin sempurna.
Wajah istri nya itu semakin cantik saja setelah melahirkan. bahkan bentuk tubuhnya semakin bohay, ditambah rambut yang kian panjang setelah empat tahun tidak pernah di gunting.
Dara risih melihat tatapan Dion yang nakal itu, membuatnya meraba dada takut saja ada yang terlihat.
Dion tersenyum manis melihat tingkah Dara yang malu-malu.
"Mau ngomong apasih? katanya mau bicara?" gerutu Dara sengaja di nyaringkan.
"Kenapa istriku sekarang tidak sabaran?mas hanya ingin memperbaiki hubungan kita."
"Hubungan? gak salah? bukannya diantara kita sudah tidak ada apa-apa?" tanya Dara tegas
Dion menggeleng."Apa maksud kamu?"
Dara mengedikan bahu, memandang Dion dengan mencemooh."Bukannya anda memilih kekasih anda itu, lalu hubungan yang mana lagi perlu di perbaiki? jika sudah tidak ada yang di bahas, saya mau pergi."Dara hendak beranjak, jujur dia malas melihat wajah Dion.
"Apa dengan lari, masalah kita akan selesai?"ucap Dion dingin. mendengar ucapan Dara tadi membuatnya terpancing
Dara menaruh kembali tas nya di atas meja, menghunus Dion dengan tawa sumbang
"Hahahaha."dia bertepuk tangan. sungguh lucu bukan? apa laki-laki itu lupa, dulu ia berlari meninggalkan Dara dalam keadaan sekarat?
"Wah.. wah Tuan Dion Morgana Pewaris Kerajaan Karel Corpration. Saya sungguh terharu mendengarnya, anda sangat bijaksana dengan berbicara seperti itu."Dara menjeda ucapannya
"Apakah anda melupakan sesuatu..? atau selama ini anda tidak menyadari apapun..? Ingat Tuan, saya berdiri di sini berkat anda tinggalkan, Anda meninggalkan kami di saat kondisi saya sedang tidak baik-baik saja. Lihat perbuatan anda Tuan Dion Morgana, putraku kehilangan nyawanya berkat anda. Bahkan berhari-hari kami menunggu, berharap Tuanku yang terhormat ini menghubungi kami. Lalu apa alasan saya tidak lari? untuk apa menunggu laki-laki plin plan seperti anda? Oh apakah Mantan kekasih anda sudah mati sehingga Tuan datang menemui kami?"pungkas Dara
"Ra."seru Dion bersedih. jelas teringat sekali tragedi di Apartemen itu. justru selama ini rekaman dalam video itu menjadi kaset rusak yang selalu berputar di memori ingatannya.
"Jangan sebut nama saya Tuan!! sungguh saya sangat jijik mendengar nama saya di sebut oleh laki-laki tak bertanggung jawab seperti anda."
Dara meraih tas nya tadi, berbalik meninggalkan Dion setelah puas menyampaikan unek-unek nya.
Dion sungguh syok mendengar ucapan yang terlontar dari bibir wanita yang di puja-pujannya itu. Dion menggiring langkah Dara dengan tatapan nanar."Maafkan mas cintaku, sebegitu bencinya dirimu dengan Mas. tapi tidak semudah itu kamu pergi, karena mas tidak akan melepaskanmu lagi."
.........
"Ra !! sayang."panggil Dion tanpa malu di lihat orang
"Mimi, kenapa paman itu memanggil mimi sayang?"tanya Zelin pura-pura polos.
Bira langsung tahan nafas mendengar pertanyaan keponakan cantik nya. Apalagi Zain seakan menanti jawaban dari nya juga.
"Suttt!! jangan ngomong begitu Nak, Paman itu hanya salah sebut."sahut Dara asal
"Ra, dia ngejar kita."bisik Bira
Dara mengangguk." Sudah jalan saja."pinta nya dengan langkah lebar, membuat kedua bocah itu ikut berlari menyamai langkah para orang tua.
Zain menoleh ke belakang,dimana ayahnya mendekati mobil untuk menyusul mereka.
"Kenapa wajah paman itu mirip adik?"batinnya.
Jangan heran dengan insting Zain, karena dia bukan bocah sembarang bocah. keturunan pintar mengalir dalam darahnya karena dipadukan antara Dion dan Dara.
"Ra, ban motornya kempes!!"pekik Bira panik. Memencet kedua ban itu bergantian.
Dara ikut meneliti, sudah dapat di pastikan ini ada sangkut pautnya dengan Ayahnya si kembar.
"Dasar licik."batin Dara yakin.
"Ya sudah, kita cari bengkel saja! mungkin hanya kempes biasa."Ucapnya, membantu Bira mendorong buritan Motor.
.
.
Dion keheranan melihat Dara tidak jadi menunggangi Motor mereka.
"Kenapa di dorong?"gumam nya sembari menjalankan mobil itu mendekati Dara.
........
Arga menatap luar dengan senyum tipis. dia adalah pelaku utama dalam pengempesan ban Motor milik Dara.
Ide itu muncul begitu saja setelah melihat respon Dara kepada Tuan nya tadi.
"Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin Tuan. saya harap anda bisa mengambil sedikit simpati anak istri anda. Semoga Tuhan membantu segala usaha mu, karena saya tau selama ini tidak ada seorangpun yang dapat singgah di hatimu selain istrimu sendiri."Batin Arga.
..........
...Suamiku....
...Aku menyandarkan kepala di bahumu berharap kau akan menjaga ku setelah aku pergi dari masa lalu ku yang kelam....
...Suamiku...
...Aku menyerahkan Cinta,jiwa dan raga untukmu berharap kau akan membalas seluruh pengorbanan ku dengan Cinta mu juga....
...Aku terluka bahkan sangat kecewa disaat kau Ucapkan aku lah penyebab sakitnya mantan kekasihmu....
...Kamu Tidak tega menyakiti mantan kekasihmu, tetapi tega menyakitiku Istrimu Sendiri...
...Kamu tidak enak menolak permintaan mantan kekasihmu, tetapi mudah mengecewakanku Istrimu sendiri...
...Aku pergi agar kau tidak perlu repot membagi waktu mu. biarkan akau bahagia dengan lembaran cerita yang ku buat sendiri....
^^^*Suara Hati Dara Nur Safira*^^^
..........