
...***...
Dion menggoyang bahu Dara,lalu memutar tubuhnya agar sejajar dengan dirinya.
"Sayang! kamu kenapa?" tanya Dion,ia heran melihat istrinya tidur gelisah dan berkeringat.padahal malam sedang dingin bahkan Ac dikamar itu menyala.
"Ehh gak! kamu udah balik." sahut Dara seraya menormalkan penglihatannya.
Dion tidak membalas pertanyaan Dara, ia menyusup ke pelukan istrinya dan menempelkan pipi ke perut Dara.
"Maafin pipi ya triplets, udah buat mimi kalian nangis. tolong bilangin mimi jangan merajuk sama pipi lagi, soalnya pipi gk bisa tidur bila masih marahan sama mimi."
Tidak terasa tangan Dara terulur dan membelai rambut suaminya.Dara menarik nafas pelan seraya ber-ucap. " Aku gak marah ya Mas, yang ada kamu duluan sewot sama aku. emangnya Mas lupa tadi ngata-ngatain aku."
"Jangan diungkit lagi sayang! aku minta maaf. pliss maafin suamimu yg bodoh ini."
"Huusstt ngomong apasih kamu? ya udah tidur lagi yukk! aku ngantuk banget ini." ajak Dara.
"Kamu sudah makan malam?"
"Gak nafsu, mau bobo langsung."
"Sebentar. Mas bikin susu dulu, jangan tidur ok ."
Dion bergegas keluar kamar,ia setengah berlari agar cepat sampai ke dapur.
setelah sampai ia menyiapkan gelas lalu dituangkan beberapa sendok susu rasa coklat lalu di campurkan air hangat hingga aduk-aduk dan beres.
Dion membawa kembali kekamar,dan terlihat Dara masih bersandar menunggunya.
"Ayo diminum sayang ." Dion mengulurkan gelas itu lalu Dara menerimanya,dan ia teguk hingga tandas.
"Terima kasih Mas." ucap Dara lalu menaruh gelas itu ke nakas.
"Apa sekarang kita bisa tidur,mata aku berat banget Mas." seru Dara manja.
Dion tidak tega bila memaksa agar istrinya terjaga.
"Baiklah,tapi jangan membelakangi mas ya."
"Hmmm."sahut Dara seadanya.
...........
keesokan hari.
Dara dan Dion akan langsung kembali ke Apartement mereka. bahkan tidak ada Cuti selepas acara itu.
Apalagi sekarang Dion kembali mengurus pekerjaan seorang diri sebab tidak ada yg akan membantunya.
Mobil itu membawa Dara dan Dion ke kediaman mereka. tidak sampai 30 menit mereka telah sampai. Dion mengantar Dara sampai ke dalam Apartement.
"Mas berangkat dulu. kamu hati-hati dirumah.ingat jangan bukakan pintu sebelum mas pulang kecuali bila sudah janji pada seseorang.
"Ia inget ko. hati-hati ya Mas, cupp." Dara mengecup sekilas bibir suaminya namun sayang Dion justru menahan tengkuknya hingga ciuman itu semakin dalam.Dara ikut terhanyut dalam permainan suaminya ,ia ikut memejamkan mata. Dion membawanya berjalan mundur hingga Dara terbaring di sofa ruang tengah.
Dara tersadar dari kegilaan mereka ia mencoba mendorong tubuh suaminya,tapi lagi lagi tenaganya tidak sebanding dengannya Dion.
Dion menatapnya dengan pandangan berkabut. "Masih ada waktu, mas mau sarapan kamu dulu."
Tanpa membuang waktu atau pesetujuan Dara. Dion melepas penghalang diantara ia dan sang istri lalu penyatuan itu terjadi hingga ia tumbang disamping istrinya.
"Nahkan jadi mandi dua kali, nanti telat loh."
"Haha ya gak masalah,kan aku bos nya. ya sudah mas mandi dulu atau kita mandi bareng."ajak Dion kepada istrinya yg tengah memasang kain yg ia lepas tadi.
"No. mas saja,aku kapok ." sahut Dara merona.
...****...
Dikantor.
"Ehh ada Daddy."seru Dion senyum-senyum tidak jelas
Tuan David meangkat pandangannya jengah.ia melihat jam yg melingkar ditangannya.
"09:15, jadi kamu telat sekitar 45 menit.apa yg kamu lakukan dirumah.bukannya cepat kekantor malah nyatai.bukannya kamu tau hari ini kita akan kembali membahas pertemuan dengan perusahaan GZM itu." ucap tuan David. ia tidak habis pikir apa saja yg dilakukan anaknya itu. padahal mereka pulang dari mansion pukul 07:30 pagi tadi.
"Maaf Dadd! dinas dulu soalnya." sahut Dion tanpa perasaan bersalah
"Whattt !!!!! Diioooonnnn...." pekik tuan David.
.............
Sementara di Apartemen .
Dara bingung karena tidak ada aktifitas yg bisa dikerjakannya.bolak balik main hp tapi bosan itu-itu saja yg dilihat.
"Huuffff gini amat nasib gue. sepi elahh mana gak ada orang selain gue. " Dara membelai perutnya.. " hayy sayang mimi lagi apa kalian didalam,kokk tadi malam mimpiin mimi sihh?"gumam Dara kepada si jabang bayi.
Dara kembali meraih ponselnya,tidak ada pesan atau telepon dari siapapun. suaminya juga bila sudah ngantor jarang menghubunginya .
"Mau nelpon bira takutnya dia lagi repot.hmm ngapain ya yg bisa ilangin jenuh." Dara mengetuk dahi seraya berfikir.
...........
"Apa?" pekik tuan David terkejut.
"Baiklah kami akan segera kesana... tutt!"
"Ada apa Dadd? kenapa Daddy panik?."tanya Dion ikut cemas.
Tuan David menatap anaknya dengan tatapan nanar. tuan David menyugar rambutnya kebelakang
"Kita punya kabar buruk Nak. kedua orang tua Mirra tewas kecelakaan lalu lintas pagi tadi.kita harus secepatnya kesana.karena kerabat mereka tidak ada yg tinggal di Indonesia." sahut tuan David sendu.
Dion reflek menjatuhkan ponselnya namun ia sigap menangkap Sebelum benar-benar menyentuh lantai.
"Ya tuhan cobaan apalagi ini.baiklah kita kesana sekarang."
Tuan David berjalan cepat diiringi Dion di belakangnya.
"tolong laporan hari ini kirim lewat email saja.kami akan keluar, jika ada kendala minta petugas yg lain membantu kalian." perintah Dion.
"Baik pak."
............
Rumah sakit internasional
Kedua mayat yang terbujur kaku itu selesai dimandikan, bahkan polisi sudah menggelar tkp. tewasnya dua orang itu murni akibat kecelakaan lalu lintas karena kurangnya ke hati-hatian ayah Mirra dalam mengemudikan mobilnya.
Jasad mereka disemayamkan dipemakaman umum, karena baik Dion dan keluarga mereka sudah sepakat untuk melaksanakan pemakaman secepatnya.
Tuan David dan Dion kembali kerumah sakit demi menjenguk keadaan Mirra.
Dion menitikan air mata teringat nasib wanita setengah hidup itu, bagaiman jika ia sadar dan mengetahui orang tuanya sudah berpulang ke pangkuan ilahi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Dadd? lihatlah dia,seharusnya hari ini di bawa ke Belanda untuk pengobatannya tapi hari ini juga ia telah kehilangan orang tuanya."
Tuan David juga bingung. beliau keluar menemui dokter demi mencari jalan keluarnya.
..........
"Apa tidak ada jalan lain selain membawanya keluar negri Dokter?" tanya tuan David.
"Sebenarnya kita bisa merawat pasien disini. hanya saja mungkin waktunya akan sangat lama. sudah saya katakan fasilitas kesehatan kita dengan disana jauh berbeda sekali. saya tidak memaksa jika kalian keberatan,hanya saja saya menyarankan agar membawanya keluar negri agar ditangani oleh para ahli dan semua itu juga berpengaruh pada kesembuhannya nanti. apa selain kalian ada anggota keluarganya yang lain?"
Tuan David menggeleng"Mereka tidak menemukan tiket untuk penerbangan hari ini. baiklah Dokter, akan saya tanyakan pada putra saya dulu ."
...........