
.........
Sudah beberapa hari Dion berada di kota s, namun masalah yang mereka hadapi belum juga tuntas. bukan belum tuntas, tepatnya hampir selesai
Terlalu banyak yang mereka urus, hampir menyita semua waktu Dion. dimulai dari masalah penyelidikan, Asuransi dan jaminan untuk para Korban, bahkan jaminan pekerjaan untuk para pekerja nya yang selamat dari peristiwa itu
.
.
Dara menyandarkan pundaknya ditemani sebuah handphone. tempat duduk favoritnya saat malam hari adalah balkon kamar. kedua tangannya memegang sisi hp yang Tengah menayangkan vidio kedua anaknya bersama ayah mereka. Rekaman itu Ia abadikan diam - diam saat Dion sedang lengah. Angin sepoy - sepoy menyapu kulit wanita itu, hingga rambut yang tergerai ikut terbang mengikuti arah angin.
Tanpa sadar, handphone itu Ia letakan di dada seakan mencari kehangatan di sana.
Bohong bila Ia tidak rindu kepada sang suami, nyatanya bukan hanya kedua anaknya yang merasakan itu semua. tetapi Ia sendiri tidak memungkiri bahwa kehadiran sang suami pun menjadi pelengkap jiwanya yang kosong
Tengah terlena dalam dunianya sendiri, tiba - tiba suara langkah kaki kecil saling beradu mendekati tempat duduk Dara. Dua buah telapak tangan tengah menyentuh pundaknya, membuat wanita cantik itu sadar dan tersenyum manis
"Mimi sedang apa? Zain temani ya," Zain lah yang berbicara lebih dulu, tanpa mengalihkan pandangannya kepada sang Ibu
Dara menggeser tubuh demi memberi ruang untuk kedua anaknya."Cup.. cup..cup anakku sayang,,Kenapa kalian belum tidur nak? apa kalian butuh sesuatu?" tanya Dara sembari membelai rambut kedua bocah yang memakai baju samaan itu
Kedua bocah itu menggeleng samar.
Zelin mengucek matanya, terlihat gadis kecil itu menahan kantuk. awalnya Ia hampir tertidur, namun saat merasakan pegerakan disampingnya membuat Ia terjaga hingga ikut menyusul kakaknya
Merasa angin malam tidak baik untuk kedua bocah itu, Dara memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dengan menggendong mereka berdua sekaligus
Dara membenarkan posisi anak - anaknya, agar tidak saling mengusik. Ia tarik selimut sebatas dada sang anak, lalu mulai senandungkan lagu pengantar tidur untuk mereka. Saat asyik bersenandung, sepintas Ia teringat akan orang tuanya yang sudah empat tahun tidak pernah Ia temui..
"Apakah aku pernah merasakan kasih sayang dari mereka setulus ini? saat aku membelai rambut putra putriku, mengapa aku merasa miris dengan kehidupanku saat kecil? Tuhan, dulu aku sangat memimpikan hal seperti ini. bagaimana rasanya dipeluk saat aku menangis. bagaimana rasanya di manja saat aku membutuhkan perhatian mereka. bagaimana rasanya saat makan tidak harus merasa takut. Ya Tuhan, pantaskah aku mengeluh seperti ini..? tapi aku hampir tidak pernah merasakan itu semua .. apa aku salah? aku tidak butuh materi, aku tidak membutuhkan hidup kaya! aku hanya ingin diperlakukan adil seperti saudara - saudaraku yang lain. Ayah, Ibu , aku kangen kalian." Dara membatin, mengusap bulir air mata di pipinya
Merasa kedua anaknya telah terlelap, Dara pun beranjak dengan pelan. Ia berniat menemui sang Sahabat, yang tengah menonton televisi di lantai bawah
.
.
Dara mendaratkan bokong montok nya di kasur berbulu tepat samping Bira
"Bi.."
"Hmm, apa Ra?"jawab Bira seadanya tanpa mengalihkan pandangan dari televisi
"Gue kangen deh sama keluarga gue, rasanya gue mau pulang buat jenguk mereka. sudah lama gue gak pulang, gue kangen banget sama mereka.."
"Serius lo mau pulang? bagus dong kalau gitu? gue ikut ya, ogah kalau gue ditinggal sendiri,"seru Bira antusias
"Kok jadi lo yang bersemangat? curiga gue, Jangan - jangan.."
"Jangan - jangan apa? ya seneng lah kalau lo berniat untuk pulang. lagian terlalu lama lu mengasingkan diri, seakan - akan udah gak punya orang tua aja." jawabnya Nyeleneh, tanpa sadar kata - kata itu membuat Dara melotot tajam
"Awwww sakit Ra!!! lo kejam banget tau gak?? lama - lama gue laporin lu ke polisi, dengan Pasal 44 atas KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA.." kesalnya sembari meringis setelah mendapatkan hadiah geplakan di paha
"Lagian tu mulut kayak gak ada filternya. pengen gue iket pake karet tau gak!!! tapi gue serius Bira Cantik.. Bira bohay.. Bira anaknya pak Haris dan Ibu Inggit, dua hari lagi gue mau pulang kampung.."
"Apa!!!!!! dua hari lagi?? lo yang bener aja Ra, masa mendadak sih? baru dipikirkan, langsung buat keputusan. ckk ckk ckk, lo yah bener - bener deh!! berarti kita gak punya waktu banyak dong?"
"Hmm bagaimana lagi, lebih cepat lebih baik. bukannya sesuatu yang baik itu gak boleh ditunda! masa gitu aja gak ngerti Hahahaha,," tawa Dara terbahak - bahak. sudah di duga reaksi Bira akan seperti ini. sebagai sahabat yang kenal bertahun - tahun , tentu mereka hapal dengan watak masing - masing
"Ya engga lah ogeb! gue males kabur - kaburan. lagian gue mau pulkam sekalian ziarah makan anak gue juga,"
.
.
.
Sedangkan jauh di belahan kota lain, keluarga yang dirindukan Dara akan merayakan hari bahagia keesokan hari yaitu dengan berlangsungnya pernikahan dari Kakak laki-laki Dara yang pertama. Pernikahan itu tergolong meriah sebab Dana yang digunakan hasil dari pemberian Dion setiap bulan. Sebagai menantu, Dion merasa wajib memberikan jatah untuk mertuanya karena baginya dengan mencintai Putri mereka, ia wajib menyenangkan mertuanya juga.
Namun satu hal yang menjadi kekeliruan lelaki itu, dimana Ia tidak pernah tau kalau pemberiannya selama ini mereka kumpulkan untuk menikahkan putra kebanggan sang Mertua
.
.
.
Malam semakin larut, suara binatang kecil saling bersahutan menjadi pengisi kesunyian malam. merasa ngantuk, Dara dan Bira pun memutuskan untuk tidur
Baru saja terlelap, dering handphone mengagetkan Dara.
"Ehh suara telepon," Ia raih handphone itu demi melihat siapa yang sudah menghubunginya
"Nomor siapa? males ah, gak kenal.." deliknya menaruh kembali hp itu ke nakas. tak lupa Ia non-aktifkan deringnya terlebih dahulu.
Dara kembali memejamkan mata. namun benda kecil itu terus bergetar, membuatnya penasaran juga
"Siapa sih?"gerutunya sembari menggeser tombol on
"Hallo,"
"Sayang aku di bawah," Terang seseorang hingga Dara yang mendengarnya terpaku dengan seksama mengingat - ingat siapakah gerangan pemilik suara tak asing ini
"Maksudnya? siapa dibawah?"
"Ya Suami kamu lah, Pipi dari anak - anak kita.."
Dara memekarkan hidungnya mendengar ucapan laki - laki itu. Sekarang Ia sadar, bahwa si penelpon adalah suami yang beberapa waktu lalu habis dirindukan..
Buru - buru Ia turun ke bawah. mengintip sebentar dari sela lubang, takut Dion hanya mempermainkannya
Saat mengarahkan matanya ke sela lubang, pandangan Dara tertutup seolah sesuatu tengah menghalangi. merasa semakin penasaran Ia naik turunkan kepalanya
Dion yang merasa lucu dengan tingkah sang Istri, lalu berinisiatif memundurkan sedikit tubuhnya itu
Merasa jalan penglihatannya jelas, Dara dibuat terkesima saat Buket bunga yang begitu besar tengah melambai - lambai minta di dekap
"Surprise............"
.
.
.