
........
"Keluar dari rumah saya. dasar gadis Gila, tidak punya sopan santun."
Nyonya Diana menunjuk pintu gerbang, berharap Mirra segera pulang. karena wanita itu berani memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.
"Tante saya mohon!!! izinkan saya bertemu dengan Dion."pinta Mirra bersimpuh di kaki Nyonya Diana.
"Sudah saya katakan dia tidak di sini, mau berapa kali lagi harus saya tegaskan.lagipula untuk apa kamu terus-terusan mengejar anak saya? seperti tidak laku saja kamu ini."pekik nyonya Diana
"Saya cinta sama Dion tante, please tante kasih tau dimana Dion..hiks..hikss."
Hilang sudah urat malu wanita itu. Selama bertahun-tahun penantiannya menunggu Dion, berharap laki - laki itu mau membuka hati nya. Namun bukanya dekat,justru semakin lama semakin menjauh.
Sepulang dari Belanda, tidak pernah sekalipun Dion menjenguk Mirra bahkan hanya untuk menanyakan kabar pun tidak pernah lagi ia lakukan.
Mirra terkejut saat mengetahui bahwa Dion lebih dulu pulang ke Tanah Air tanpa memberi tahu nya, membuat wanita itu cepat-cepat menyusul dan mengabaikan pemeriksaan lanjutannya.
"Ya tuhan wanita ini. bukan cinta yang kamu miliki, melainkan hanya obsesi semata."Nyonya Diana menepuk jidat, tidak habis pikir.
.........
Sedangkan Di Pulau Kalimantan
Tiinn
Tiinn
Tiinn
Bunyi klakson mobil Dion memekikan telinga rombongan Dara. Membuat kedua wanita itu mengepinggirkan motor mereka.
Dion buru-buru keluar dengan dengan tampang bertanya-tanya
"Ada apa dengan Motor kalian?"Dion bertanya, padahal mata nya sudah melihat bahwa ban motor Dara kempes.
Dara memutar bola mata malas, tidak seorangpun yang menyahut pertanyaan Dion.
Dion yang di abaikan tak di buat patah semangat, Menghampiri kendaraan Dara dan memeriksa nya. dia mengitari sekeliling mencari kalau saja ada bengkel terdekat.
"Ban-nya kempes parah, dan disini tidak ada bengkel. Kalau tidak keberatan izinkan aku mengantar kalian." ujarnya, sembari menetap si kembar dengan intens menyiratkan kerinduan yang mendalam.
Zain dan Zelin membalas tatapan ayahnya dengan semburat polos. Ingin sekali Zelin menghampiri laki-laki itu dan mengatakan kenapa wajah paman sangat mirip dengan Kakaknya.
"Terima kasih tawarannya Tuan, tapi itu tidak perlu karena kami tidak membutuhkannya. Silahkan kalau Tuan mau jalan."sahut Dara, mengkode keras
Dion kembali berucap dengan berjongkok di hadapan kedua anaknya, dia belai surai hitam milik zelin dan mengusap lembut rambut Zain.
Tatapan teduh ia perlihatkan agar kedua anaknya tidak takut
"Mau tidak pulang nya di antar paman?Enak loh naik mobil !!"
"Ini Pipi kalian sayang."batinnya lagi
Kedua bocah itu hanya saling pandang, entah mengapa perasaan mereka di liputi bahagia meskipun tidak tau apa sebab nya.
Hanya merasakan sebuah sentuhan yang tidak pernah mereka dapatkan selama empat tahun membuat kontak bantin antara mereka terasa nyata.
Tanpa sadar kedua bocah itu mengangguk, seakan mereka terhipnotis dengan perlakuan ayahnya."Mau."sahut Zain dan Zelin bersamaan, membuat seutas senyum terbit dari bibir Dion.
Dara menghembuskan nafas lelah. ingin marah rasanya tidak mungkin sebab ada anak-anak di dekatnya
"Kita ikut, asal Mimi ikut." ucap Zelin tiba-tiba sembari memegang jemari ibunya
"Ra, please !! ini hampir magrib bahaya membawa anak-anak kalau malam-malam."bujuk Dion penuh harap
"Apa peduli mu."batin Dara
"Begini Tuan! kami hanya perlu mencari bengkel dan mengisi anginnya kembali, jadi Tuan tidak perlu khawatir karena saya bisa menjaga anak-anak saya."
"Ra, bener kata suami lo. Lo jangan egois lah."bisik Bira, karena perkataan Dion ada benarnya.
Perjalanan untuk kembali ke kampung menghabiskan waktu 1-2 jam. jika Dara dan anak-anaknya mendorong motor lagi akan memperlambat kepulangan mereka. lagipula tidak baik membawa kedua bocah itu bersenjaan hari, ditakutkan masuk angin atau hal yang lain.
.........
Dion berencana untuk tidur di mobil yang terparkir di seberang jalan. dia takut Dara akan kabur karena kehadirannya di sini
.
.
Drrt..
drrtt
"Hallo."Ucap Arga di seberang telepon
"Ya."
"Apa sebaiknya anda menginap di hotel saja tuan."
"Tidak."
"Tapi Tuan, Anda akan sakit bila tidur di mobil."
"Kamu pikir saya selemah itu Heh?"
"Maaf Tuan bukan seperti itu maksud saya."
"Tidak perlu memesankan penginapan untuk saya. dengar, hari ini juga kembalilah ke jakarta! selama saya disini handle semua pekerjaan beberapa waktu ke depan. Tidak perlu menghawatirkan saya di sini, saya tidak akan kembali sebelum membawa anak istriku pulang bersama."
Telepon itu dimatikan. lagipula mana ada Hotel di perkampungan, tempat remang-remang mungkin ada pikir Dion.
Dion kembali menatap bangunan yang menjadi tempat tinggal anak istrinya selama ini.Senyum bahagia selalu terukir sepanjang malam membuat laki-laki itu tidak bisa tidur teringat wajah Dara yang menahan sebal kepada nya.
"Kamu cantik sekali sayang. Apa jangan-jangan di desa ini ada laki-laki yang berani menyukai kamu? ahh awas saja bila ada yang berani menyukai istriku."gumam Dion menatap lurus. hanyut kantuk membuai nya sehingga tanpa sadar ia tertidur dengan damai dan tenang,tidak seperti dulu yang selalu gelisah dalam tidurnya.
.........
Pagi tiba.
Kicau burung bersahutan diantara pepohonan rindang yang ada di sekitar. 60% di daerah itu masih Asri dengan hutan belantara. embun sejuk di pagi hari membuat Dion masih lelap dengan damainya.
Dara mengintip dari tirai kamar lantai dua, memperhatikan seperti belum ada tanda-tanda Dion akan terbangun.
"Hehh apa peduliku."gumamnya.
.
.
.
Dara bergegas turun untuk membuat sarapan, sudah ada bira dibawah setelah selesai membuka warung berharap ada pembeli yang datang.
"Masak apa kita Ra?"tanya Bira ikut membuka kulkas
"Masak yang enak-enak!!"sahut Dara cekikikan
"Yeee,"Bira mencebik sembari membawa jantung pisang untuk di bersihkan
"Btw Ra, Suami ternista lo masih setia di sana! emangnya lo gak kasihan?"
"Kasihan, buat apa? lagipula itu kemauan dia."sahutnya cuek
"Gue penasaran deh, kenapa anak-anak lo gak pernah nanyain bapak nya sih?"
Dara menoleh sekilas lalu kembali memotong daging ayam yang akan ia goreng itu
"Kalau menurut gue sih wajar Bi. lagian mereka jarang main di luar itupun hanya sesekali doang jadi tidak memperhatikan anak-anak lain bermain dengan ayah mereka. Makanya rasa iri,dan kepo dengan keberadaan ayah mereka itu belum ada. Nah mungkin bila waktunya sekolah nanti gue gak tau gimana? Oh ya satu minggu lagi kita ke jakarta ya, gue udah pesan tiket nya. Mungkin ini saat nya gue ziarah makam Zayn, rindu gue Bi.." gumam Dara.
..........